We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label timor tengah selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label timor tengah selatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Terima Kasih Seribu Dari #ElafDame

Salam sejahtera,
Terima kasih atas dukungan Anda sekalian bagi kami di Lakoat.Kujawas, desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan. Sejak lahir di bulan Juni 2016, kami konsisten untuk bergerak di bidang kewirausahaan sosial, literasi dan kesenian bersama warga desa khususnya anak-anak, kaum muda dan para mama penenun. Kami membangun perpustakaan yang bisa diakses warga desa dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang berkumpul, diskusi, membaca dan menonton film. Bulan November 2016, kami menggagas sebuah festival kesenian dan literasi, yang diawali dengan beberapa workshop terkait literasi dan kesenian, dan berakhir dengan presentasi atau pentas seni pada tanggal 7-8 Januari 2017. Festival itu kami namakan #ElafDame, dari bahasa Dawan Timor artinya pesta atau festival untuk menyuarakan pesan damai. Lewat kesenian dan literasi, kami ingin menumbuhkan rasa cinta dan damai kepada anak-anak sejak dini, bahwa kita semua adalah agen perdamaian, dimulai dari lingkungan terkecil kita (info: www.bit.ly/elafdame)
Elaf Dame sendiri berlangsung selama hampir sebulan penuh sejak tanggal 12 Desember 2016, diawali dengan 5 kali workshop teater, menulis cerita teater, dan workshop kartu natal, kostum dan dekorasi panggung. Workshop diakhiri dengan presentasi teater berjudul Kap Nam To Fena (bercerita tentang asal usul nama kota Kapan), festival permainan tradisional anak Mollo, Art Therapy: mewarnai bersama Dino, sesi sharing Cerita Dari Australia oleh dokter Sandra Frans (alumni Australia Awards 2016) dan nonton 3 film pendek karya sineas muda NTT di perpustakaan Lakoat.Kujawas. Acara ini melibatkan lebih dari 50 anak, orang muda dan relawan fasilitator dari kota SoE dan Kupang.
            Berkat dukungan dan partisipasi Anda sekalian, koleksi perpustakaan kami semakin beragam, anak-anak semakin antusias mengikuti berbagai program literasi dan kesenian, dan pada akhirnya festival kami berlangsung dengan meriah (laporan penggunaan dana bisa disimak di sini). Sekali lagi terima kasih sudah ikut bersama kami, mendukung potensi diri, kreativitas dan mimpi anak-anak dan orang muda desa Taiftob. Semoga kita bisa bekerjasama lagi di program Lakoat.Kujawas berikutnya.  

Dicky Senda
Project Director



Special thanks to:
  1. Persatuan Pelajar Indonesia Australia-ACT untuk lebih dari 50 kado peralatan sekolah
  2. Team Kece: Randi Tamelan, Norce Neonufa, Ari Saekoko, Edwin Boimau, Sisil Bouk, Sonya Manafe, Sandra Frans, Yosua Sriadi, Gery Pratama, Tata Yunita, Nansi Amu. Juga Semryd Neonufa dan Dinda Veska
  3.  Erita Buraen Sembiring untuk 38 t-shirt #elafdame
  4. Mas Dede Prabowo, Del Neonub, Sandra Frans, Alia Vital, Win Pitanuki, Resty Nona, Mila Moris Diak, Yanri Tauho dan Adi Nope. Donasi dari Anda sekalian sudah mendukung kelancaran acara, terutama konsumsi dan kebutuhan logistik mulai dari workshop 12 Desember 2016 hingga presentasi akhir tanggal 8 Januari 2017.
  5. Para partisipan Kado Natal untuk anak desa Taiftob: om Danny Wetangterah, Elen Bataona, Cornelius Selan, Siti Hajar, Dince Bunda, Aksi Untuk NTT, Rosna Bernadetha, dll
  6. Teman-teman komunitas di Kupang dan SoE: Solidaritas Giovanni Paolo, Kupang Bagarak, Komunitas Film Kupang, Sekolah Musa, Buku Bagi NTT regio Kupang, Forum Soe Peduli
  7. Orang Muda Katolik ParokiMaria Immaculata dan Pemuda GMIT Ebenhaezer Kapan.
  8. Tanta Yane, mama Meti, Mama Saubaki, Mama Lemu, Mama Oematan, Mama Rika dan para mama di desa Taiftob yang sudah mengirim kue, memasak untuk anak-anak selama festival berlangsung.
  9. Om Yohanes Manhitu yang telah memberi ide nama festival ini: #ElafDame
  10. Ayu Pello dan Dinda Veska untuk semua desain flyer #ElafDame
  11. Orang tua dari ke-52 anak yang sudah mempercayakan anak-anaknya bergiat bersama kami di Lakoat.Kujawas sejak perpustkaan kami rintis bulan Agustus 2016.
  12. Tiga orang sineas muda Kupang yang sudah mengizinkan film mereka diputar: kak Meli Hadjo, Aries Leo dan Rucita Putri.
  13.  Kak Welmince Davis, Angel Nalle, Cici Lassa, Onya Sanam dkk yang sudah bantu membelikan lebih dari 50 judul buku untuk menyemarakkan #ElafDame: Natal Baca Buku. 



Rabu, 16 November 2016

Bagaimana Caranya Donasi Buku Untuk Mollo?

Kawan, kami ada di jalan kampung baru no 2 desa Taiftob Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan 85552. Sejauh ini anggota aktif di perpustakaan kami sebanyak 88 orang. 60% siswa SD, 30 %siswa SMP dan sisanya siswa SMA. Semuanya warga desa Taiftob. Donasi satu buku pun dengan senang hati kami sambut. Saat ini kami juga sedang ikut membantu merintis dua perpustakaan warga di Sutual desa Nuapin kecamatan Fatumnasi dan desa Salbait di kecamatan Mollo Barat. Dukung gerakan NTT cinta baca, dukung generasi muda penerus Timor agar lebih baik lagi di masa yang akan datang.


Senin, 26 September 2016

Kabar Baik Dari Perpustakaan Lakoat.Kujawas

Perkenalkan, kami Lakoat.Kujawas sebuah gerakan anak-anak muda di NTT di bidang kewirausahaan sosial, dirintis di desa Taiftob, kecamatan Mollo Utara, kabupaten Timor Tengah Selatan. Mengapa dimulai dari desa? Melihat berbagai tren yang terjadi dewasa ini, orang-orang, terutama generasi muda cenderung untuk meninggalkan desa atau kampung dan mengadu nasib di perkotaan. Di saat yang sama, banyak sekali potensi di kampung yang masih kurang tergarap dengan baik bahkan ditinggalkan begitu saja. Beberapa diantara kami kemudian memutuskan untuk pulang kampung dan mencoba melakukan usaha-usaha di bidang ekonomi kreatif di kampungnya. (Baca Kisah Dibalik Lahirnya Lakoat.Kujawas). 


Di Mollo kami menemukan banyak sekali potensi di bidang pertanian, ekowisata, sejarah dan budaya (Baca: 5 Fakta Menarik Tentang Mollo). Di sisi lain, kita semua juga tahu bahwa permasalahan pendidikan, kesehatan, atau buruh migran ilegal ada dan terjadi di depan mata. Ini pekerjaan semua orang, bukan saja pemerintah namun bagaimana masyarakat juga berperan secara aktif, saling dukung dan saling membangun. (Baca: visi misi Lakoat.Kujawas).

 Lakoat.Kujawas memilih jalan kewirausahaan sosial sebab kami percaya, ini model yang pas dan cocok untuk Mollo. Pas dengan prinsip 3P, peple, profit dan planet. Lakoat.Kujawas adalah kewirausahaan yang melibatkan petani dan penenun lokal, anak-anak dan kaum muda. Kami mengutamakan sharing economy, dimana semua pihak yang terlibat punya akses juga untuk peningkatan ekonomi. Dan sejalan dengan peran Mollo sejak dulu kala sebagai penjaga gunung, mata air dan hutan. Karena Mollo adalah jantungnya pulau Timor. 

Lakoat.Kujawas mengintergasikan desa wisata dengan workshop tenun, dapur pangan lokal, perpustakaan kampung, rumah produksi oleh-oleh khas Mollo (bekerjasama dengan petani dan penenun), homestay yang dikelola warga (termasuk guide lokal), ruang kerja kolaborasi dan diskusi. (Baca: Lakoat Kujawas dan Kerja Pengarsipan). Ke depan mimpi kami adalah membangun radio komunitas, punya koperasi yang beranggotakan anak-anak muda, serta punya program residensi seni dan lingkungan bagi seniman, peneliti, dosen, aktivis sosial budaya, mahasiswa, dll. Sejuah ini kami sudah mulai membangun jaringan dengan pemerintah desa Taiftob dan Desa Bosen. Berkolaborasi dengan kelompok tenun desa Taiftob dan desa Bosen. Juga melakukan ujicoba paket trekking, wisata pangan lokal dan kelas tenun bekerjasama dengan petani dan penenun di kampung Manesat Anin dan Noebesi di Mollo Selatan. (Artikel Tentang Paket Ekowisata di Mollo)

Berbicara Perpustakaan kampung, kami merintisnya di desa Taiftob. Dari pengalaman Dicky Senda, penulis sastra yang bergabung di Lakoat.Kujawas dan tinggal di desa Taiftob, ada hal menarik terkait minat baca ia dan teman-temannya di tahun 90an dan minat baca anak-anak di tahun 2016. Dicky melihat bahwa minat dan kerinduan itu masih sama, namun seiring berkembangnya zaman, akses ke perpustakaan atau ruang membaca bukannya semakin membaik malah hampir tidak ada. Perpustakaan yang dibangun pemerintah di sekolah-sekolah hanyalah ruang kosong, sedangkan ruang membaca yang tahun 90an dirintis oleh para pastor/misionaris sudah tidak ada lagi. Sebagai penulis, Dicky kemudian berinisiatif membangun perpustakaan kampung di bekas gudang rumahnya. Perpustakaan yang tidak hanya sebagai tempat pinjam atau baca buku saja, melainkan bisa jadi ruang diskusi, belajar melukis, menulis kreatif, matematika atau bahasa asing, menonton film, dan latihan teater atau tari, bekerjasama dengan teman-teman yang sudah bersedia jadi relawan pengajar. Didukung Komunitas Buku Bagi NTT, Donasi Buku ID, teman-teman relawan dari Perkumpulan Pikul, dan pribadi-pribadi yang juga punya perhatian besar pada dunia membaca di NTT, akhirnya perpustakaan ini dibuka bulan Agustus 2016. Awalnya hanya mengandalkan koleksi buku sastra dan satu buah rak milik keluarga Dicky. Sejauh ini sudah ada donatur yang membantu mengadakan satu unit rak buku baru dengan buku bacaan anak, meski itu masih minim. Kami mencoba untuk terus menggalang buku bacaan, alat tulis, alat menggambar, white board, rak buku, meja membaca dan karpet, dll. 

 Kami senang dan bangga, karena lokasi perpustakaan yang strategis di tengah kampung, dikelilingi 2 TK, 2 sekolah dasar, 3 SMP, 1 SMA dan 1 SMK menjadikan perpustakaan Lakoat.Kujawas selalu ramai setiap sore. Jumlah anggota aktif 65 orang, mayoritas pembaca setia adalah anak usia SD dan SMP dan dibantu 3 relawan penjaga perpustakaan. Kami optimis bahwa ruang kreatif ini bisa menjadi satu alternatif kegiatan/aktivitas baru bagi warga Mollo. 

 Apa Saja yang Bisa Anda Donasikan?

1. Buku yang kami butuhkan: buku bacaan anak, majalah anak, buku dongeng, cerita rakyat, dsb. Buku cerpen atau novel untuk remaja dan dewasa. Majalah ilmu pengetahuan seperti National Geographic dan ensiklopedia. Buku terkait pertanian dan teknologi pertanian. Majalah pertanian (Trubus, dsb). Buku resep masakan, buku panduan ketrampilan menjahit, menganyam, bordir. Buku terkait ekonomi kreatif.
2. Tenaga. Berminat jadi relawan pengajar bahasa asing, matematika, lukis, tari, teater? Whatsapp 081338037075.
3. Donasi rak buku, karpet, meja belajar, white board dan LCD/proyektor (untuk keperluan nonton film dan diskusi).
4. Buku tulis, alat tulis, alat melukis dan mewarnai

Kami ada di Jalan Kampung Baru No. 2 Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT 85552. No Telpon 081338037075. Donasi bisa dikirim langsung ke alamat tadi. Atau ditransfer ke Rekening Bank BRI No. 0277 01010910 50 5 atas nama CHRISTIANTO SENDA (No. Kontak 081338037075). 


Untuk donatur buku di wilayah Kupang, buku bisa didrop ke relawan Buku Bagi NTT Regio Kupang. Saudara Ellen Bataona (No Hape 085228415720). Alamat Jalan Bundaran PU Gang II NO. 1 (Belakang Apotek Karona Farma Oebufu), Oebufu Kupang. Dari arah Bundaran PU, gang di sebelah kanan setelah cabang jalan Soverdi.

Terima kasih. Salam #LakoatKujawas

#Mollo #Timor #LKJWS #socialenterprise #creativeeconomy #library #homestay #coworkingspace #donasibuku #bukubagiNTT #bukubagiMollo


Anak-anak Mollo

workshop tenun bersama mama Via di Noebesi




Produksi kopi kerjasama wirausahan muda Mollo dengan petani lokal

Aktivitas di Lakoat.Kujawas social enterprise

Mama Via, petani dan penenun di kampung Noebesi





Selasa, 20 September 2016

Suatu Hari Minggu di Mollo


Sherly Indrayanti

Sebagai penghuni apartemen, setiap pagi saya bangun dengan bantuan bunyi alarm hp yg minimal saya snooze sebanyak 3x. Ketika bangun yang saya dengar seringnya suara klakson mobil-mobil yang antri mengantar anak-anak ke sekolah di seberang apartemen saya. Meskipun tinggal di lantai yang cukup tinggi, suara-suara dari jalan raya depan tetap terdengar sampai ke kamar tidur.

Pagi itu hari Minggu pertama di bulan September, bulan yang awalan katanya sama dengan nama saya. Bunyi ayam berkokok mendahului bunyi alarm hp yang sengaja saya pasang supaya saya tidak ketinggalan matahari terbit. Ayam pun berkokok bersahut-sahutan seperti bunyi alarm yang tidak bisa di snooze. Semesta memang selalu punya caranya sendiri untuk bersinergi dengan manusia.
Berjalan sedikit ke belakang rumah Dicky Senda tempat saya menginap, lalu kami nangkring untuk menyapa balik matahari yang setiap pagi tidak pernah absen menyapa kita (terkadang matahari mengalah pada awan dan hujan, bukan karena dia malas, tapi karena dia juga harus berbagi panggung).



Matahari pagi itu awalnya malu-malu tapi kemudian menyembul keluar dengan gagah berani. Seperti biasa, karena suka kurang preparasi dan mudah teralihkan, dengan batere kamera yang sekarat saya masih sibuk foto ini itu kayak anak norak (emang norak). Waktu matahari sedang gagah-gagahnya menampakan diri, batere kamera pun habis dan saya terpaksa untuk menggunakan kamera hp utk memotret momen yang ditunggu itu. Saat-saat seperti ini lah yang melatih kita untuk berdamai dengan diri sendiri termasuk memaafkan kebodohan sendiri.

Di desa ini, mayoritas warganya adalah Nasrani, sehingga di hari Minggu pagi sudah terdengar suara lonceng-lonceng gereja. Dicky ikut misa bersama Bapak dan saya ikut ibadah Minggu bersama Ibu di GMIT Ebenheizer, lima menit berjalan kaki dari rumah mereka. Ibadah berlangsung tertib dan hampir semua jemaat masih membawa Alkitab di tangannya, kecuali saya yang membawanya dalam bentuk aplikasi. Saya sangat menikmati suasana Ibadahnya dan merasa terberkati di tengah sebuah kesederhanaan.

Sepulang gereja, saya pun memulai petualangan bersama Dicky Senda, yang selain sebagai pemilik Lakoat.Kujawas, juga menjadi guide di hari itu. Kami jalan menyusuri sungai Sebau menuju Kampung Noebesi dan Manesat Anin, untuk bertemu dengan para mama penenun dan panen hasil kebun bersama warga.

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan diselingi sesi berfoto di beberapa spot dan makan siang di tepi sungai. Dicky ternyata masih sempat memasak pagi itu dan membawa bekal utk makan siang kami. Makan nasi dengan lauk pauk sederhana dan sambal luat, di bawah langit biru sambil diiringi suara aliran sungai. Inilah yang disebut sebagai kemewahan dalam hidup.
Belajar tenun
Kami pun tiba di desa Noebesi, di sambut Mama Mina yang kemudian menemani kami berjalan sampai ke tempat Mama Via. Salah satu ciri khas di Timor adalah membawakan sirih dan pinang untuk orang yang dijunjungi. Dicky juga berpesan supaya saya mau belajar makan sirih pinang kalau ditawari (sonde boleh menolak). Siang itu pertama kalinya mengunyah pinang diikuti sirih dan kapur. Menurut Dicky, kalau salah teknik mengunyahnya, pinang bisa memabukkan. Dan saya pun berhasil. Yeayy!! Belajar hal-hal baru memang selalu menyenangkan, sesederhana apa pun itu :)

Dari Noebesi kami lanjut ke Manesat Anin ditemani Mama Via, Mama Mina, dan anak-anak (saya sudah tanya satu per satu namanya tapi belum hafal semua) Di sana, kami dijamu dengan singkong kapok dan jagung bose yang dipanen langsung dari kebun warga setempat. Lalu siang yang mulai terik itu pun dilengkapi dengan sejuknya air kelapa yang dipetik langsung dari pohon. Jefry adalah jagoan kami hari itu, karena dia yang menyodorkan diri untuk memanjat pohon kelapa.

Menjelang sore, kami pamit untuk kembali ke Taeftob sebelum gelap menjemput kami di perjalanan. Tetiba saya membayangkan perjalanan menyusur sungai dengan jalan berbatu yang tadi kami lewati dan meragukan diri sendiri apakah masih sanggup menempuh jalan pulang. "Andai ada jalan pintas atau ada kendaraan yang menjemput ke sini", begitu gumam saya dalam hati. Sayangnya, tidak ada pilihan lain. Berani berangkat ya harus siap pulang. "Semua hal dalam hidup ini ada ongkosnya, toh? Termasuk kebahagiaan!"
Panen ubi kapok bersama mama Via
Namun rupanya, semesta mendengar gumaman saya itu. Empat bocah dari Noebesi menemani kami berjalan sampai ke mulut sungai yang adalah 97% perjalanan. Di jalan bertemu dengan beberapa anak remaja yang juga akan kembali ke asrama sekolah di Kapan. Perjalanan jadi ramai diiringi tawa riang para bocah. Sesekali (baca:sering) ketika saya kesusahan menyeberang sungai, mereka sibuk menata bebatuan supaya saya bisa menyeberang sungai tanpa harus membuka sepatu. Di saat lain ketika harus terpaksa membuka sepatu dan berjalan di bebatuan tanpa alas kaki karena berdekatan dengan titik menyeberang berikutnya, mereka dengan suka rela meminjamkan sandal nya buat saya. Meskipun berlagak bak petualang, tetap saja saya anak perkotaan yang cupu menghadapi alam. Beberapa kali oleng ketika salah memilih batu pijakan. Untungnya saya tidak sampai terjatuh karena selalu ada saja tangan yang sigap memegang saya. Seringnya tangan itu adalah tangan Jefry, yang memang usianya sedikit lebih besar dibanding adik2 yang lain. Anak-anak ini adalah helikopter saya dan lagi-lagi, Jefry menjadi jagoan saya hari itu.

Perjalanan pulang yang awalnya saya pikir akan terasa lebih lambat dan menghabiskan energi, ternyata terlalui dengan lebih singkat. Keceriaan, kepekaan, dan ketulusan anak-anak Noebesi dan Maesat Anin menyisakan kehangatan yang teramat dalam di hati saya.

Saya berharap mereka semua bisa sekolah sampai tinggi dan bisa membangun desa nya. Saya justru tidak berharap mereka buru-buru mengenal internet. Biarlah mereka tumbuh alami tanpa percepatan, bermain dengan alam nyata sehari-hari yang bukan virtual. Ya Tuhan, jagalah mereka dalam tangan Mu.

***
bersama Keluarga Senda
Lakoat.Kujawas Homestay terletak di Jalan Kampung Baru, No. 2 Desa Taiftob Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, NTT. Berjarak 130 km dari Kupang atau 18 km ke utara dari kota SoE. Untuk mencapai ke sini, Anda bisa naik travel dari Bandara El Tari, Kupang ke Kapan.

Berbeda dari Kota Kupang yang terik dan berdebu, Mollo merupakan daerah pegunungan yang sejuk dan asri. Tingkat polusi nya sangat rendah karena selain letaknya di pegunungan, alamnya hijau, sangat sedikit juga kendaraan yang lalu lalang sehari-hari. Air untuk mandi juga terasa sejuk di kulit. Setiba di sini, kepenatan (setelah hanya tidur 3 jam di malam sebelumnya, penerbangan 5 jam dari Jakarta, dan perjalanan 3.5 jam dari Kupang-Kapan dengan AC alam) seketika hilang.

Selama menginap, saya berkesempatan menikmati masakan rumah yang disiapkan langsung oleh Dicky Senda dan Mama Rika. Menu yang terhidang tidak pernah luput dari sayuran segar dan sambal lu'at. Campuran jeruk di setiap hidangan memberikan sensasi kesegaran tersendiri di lidah yang membuat saya selalu nambah dan lupa pada kata diet. Pilihan karbohidrat yang tersedia cukup bervariasi mulai dari beras merah, ubi atau singkong rebus, dan jagung bose kupas yang direbus bersama kacang-kacangan. Lauk yang cukup khas adalah lawar jantung pisang. Kebetulan Dicky senang berkreasi dengan bahan pangan lokal dan hasil olahannya selalu pas di lidah.

Mama Rika selalu bangun pagi-pagi dan langsung sibuk di dapur, sehingga begitu saya keluar kamar, di meja makan pasti sudah tersedia camilan ringan yang sangat pas untuk sarapan. Pisang goreng, kue cucur, sukun goreng, dan roti isi kelapa gula merah adalah aneka kreasi camilan buatan Mama Rika yang sempat saya nikmati. Selain pada bahan-bahan yang segar dan alami, kenikmatan makan di sini terletak pada sentuhan tangan Ibu yang membuat saya berasa di rumah.

Keramahan penduduk lokal juga merupakan salah satu faktor yang membuat saya betah di sini. Bukan sekedar ramah dan murah senyum, penduduk di sini selalu bertegur sapa satu sama lain ketika bertemu di jalan meskipun belum tentu hafal nama. "Mama! Bapa! Kakak!" Begitu kira-kira cara mereka saling menyapa. Cara bercakap-cakap dengan orang baru pun jauh dari kesan basa-basi sehingga menghadirkan keakraban tersendiri.
Ume Kbubu, rumah tradisional suku Dawan
Beberapa daya tarik wisata di Mollo antara lain Trekking Sungai Sebau menuju Desa Noebesi dan Manesat Anin, Belanja bahan pangan di Pasar Tradisional Kapan, Berkunjung ke Desa Fatumnasi, Air Terjun Oehala, dan Benteng Kote di Sebau. Mudah-mudahan saya berkesempatan datang lagi ke Mollo untuk menikmati tempat-tempat di atas.

Sebuah hari Minggu penuh makna, sebuah kado yang datang lebih awal di tahun ini. Terima kasih, Dicky Senda yang sudah memperkenalkan petualangan kecil ini. Dicky Senda, kawan baru saya ini, adalah seorang penggiat seni kelahiran Mollo yang memilih untuk pulang ke desanya untuk merintis kewirausahaan sosial di sana.

Penulis tinggal di Jakarta dan bekerja di UNDP

Mama Martha dari Noebesi

Anak-anak Kampung Noebesi


Belajar Makan Sirih Pinang
Anak-anak lembah Mollo

Bersama warga kampung Manesat Anin

Kamis, 15 September 2016

Knowing More Than Just Mollo


Lakoat.Kujawas Homestay is located on Jalan Kampung Baru, No. 2 Taeftob Village North Mollo, Southern Central Timor, East Nusa Tenggara. It is located 130 km away from Kupang or 18 km north of SoE City, lakoat.kujawas offers more than just a house to stay, enjoying the typical fresh air of the mountains, a wealth of history and tradition, the hospitality of Mollo people, cooking and enjoying a variety of local food directly from the community houses. Managed by Christian Dicky Senda, a short story writer who has a great interest in arts and culture of Mollo with his farmer parents and have a great interest in the culinary world. Dicky is currently researching the diversity of Mollo local food along with its processing recipes for the purposes of writing literature. (Mollo, Selayang Pandang, can be readhere)
the host: Dicky, Mama Rika and Bapa Senda

We offer a number of special activities. If you're in lakoat.kujawas on Thursday, you will be invited by Dicky to explore traditional markets in Kapan, the capital district of Northern Mollo. There, you will find vast organic agricultural products from the community, including food ingredients that are rarely found in markets. You can shop and cook them together with Dicky and Mama Rika in lakoat.kujawas kitchen. Another excitement that we offer is trekking to several villages surrounding Tafetob Village, meeting with the weavers and eating local food in Bosen Village (weaving class with Mama Yakobeth and friends is a special offer for you), interacting with oranges and betel farmers in Lelokasen. Or, you can choose to do the trekking, further and more challenging to Manesat Anin and Noebesi village as far as 8 km, round trip on crystal clear Sebau River from Mutis Mount, heading to the south coast of Timor. In Noebesi and Manesat Anin, you can visit the weaver and community garden, harvesting sweet potatoes and vegetables, learning to make bose corn and cooking with local residents. There are several special menus, such as bose corn, boiled yellow cassava and roasted sweet potatoes, all of which can be enjoyed with grilled chicken and gala-gala (turi) flowers lu'at chutney.Don't forget to bring books or make some fun activities with children there. 
Kapan traditional Market

Lakoat.Kujawas Homestay is integrated into social entrepreneurship project tried to be developed by Dicky Senda tried together with his native Mollo friends with the mission of ecotourism development in Mollo. Those integrated include co-working space with library and discussion room as a platform for various employment opportunities in achieving and collaboration work with Mollo community in arts, literacy, culture, agriculture and creative economy. Lakoat.Kujawas is also pioneering an online store on Instagram, selling several typical products of Mollo, such as typical organic lu'at chutney of Mollo, Mollo homemade coffee, organic corn bose, Mollo honey forest and woven fabrics of Mollo. So when visiting Mollo, you will not only stay and enjoy the richness of nature and culture of Mollo, but you can also try a brand new experience in interacting and exchanging experiences with the locals, learning local wisdom and contributing anything, moral and material for the development of local resources. (See also 5+1 Things You Needto Know about Mollo).

Below are several other tourist destinations that you can visit while staying at Lakoat.Kujawas.

1.      Oehala Waterfall, located in the region of Central Mollo. It takes about 20 minutes by private vehicles leased from local people to reach this cascading waterfall. You can enjoy sunset with a view Mollo Mount and Noelmina Valley from Bolaplelo altitude, stopping by orange and vegetable plantations Oelbubuk and Netpala. Netpala Village itself is one of the oldest indigenous villages in Mollo.
Oehala waterfall

2.      Fatumnasi, it has natural forests and rivers. It is one of the entrances to Mutis Mount, which is considered sacred by people Mollo. In protected forest near Fatumnasi, you can see Ampupu trees, a type of flourishing eucalyptus, even a part of forest had been dwarfed, and forming a natural bonsai. In Fatumnasi, you can stay at Lopo Mutis Homestay, run by Anin family. The host, Father Matheos Anin is friendly figure and is one of the elders of Fatumnasi. Staying in Lopo Mutis in the form of ume kbubu, a traditional house of Dawan tribe, that will provide an amazing experience. For you who are interested in learning the culture and history of Mollo people, Father Anin is one of proper speakers. If you come to Fatumnasi on Monday, you can go to traditional markets and shop for local food ingredients to be cooked with family of Father Anin. In the afternoon, it can be an opportunity for trekking to the carrot, potato, leek and garlic plantation owned by community or bathing in the river of which springs originated from the slopes of Mount Mutis. Do not forget to buy woven fabrics created by women in Fatumnasi as souvenirs. On the way to and from Fatumnasi, there are several attractive points that you can visit, including Fatukoto Lake, and drop by to one of the important sites of Mollo people, namely Fatunaususu which has become a symbol of opposition of the residents who refused marble mining, a dozen years ago. 
Netpala Village
3.      Promenade in Kapan Town, the capital district of North Mollo. It is one of the old towns in Timor, built by the Dutch when they desired control over the sandalwood trade route in Timor, reportedly it was once called Midden Timor, for it became a halfway point in the territory controlled by the Dutch, before being moved to SoE, into Zuid Midden Timor, a level equals to regency and remains until today. Prior to the Dutch entry, Kapan itself was still a part of Oenam kingdom, led by King Sonbai, and there were many Chinese who came to trade and married to local residents. The traces of Chinese descents in Mollo can still be found today in Chinatown, O'besi Village to remote areas in mountain slopes of Mollo. Since the 1950s, the people from Bugis and Sabu also entered Kapan, from initially traded every day in markets, to finally settle down and form its own community. Bugis Village in the old market areas (nearby Embun Mollo VIllage and Chinatown) and the village settlement of Sabu people in new markets. In Embun Mollo Village, Rest house was once built, and is highly popular as a guest house for important officials and guests visiting Timor, including General Nasution. Unfortunately, the historic building was torn down and rebuilt for a new structure, thus losing its historical value. In Kapan, if you are interested in learning the art and culture, you can meet two key figures, some kinds of physicians who master various Mollo traditional treatments, and one the other one is speaker of indigenous languages, especially in the field of marriage which is increasingly rare to encounter. Of course, in Kapan, there is also a platform for creative economy or social entrepreneurship called Lakoat.Kujawas which is seeking to collect local potentials into a new force in the hope of being managed by community for common interest.
4.      Kote Fortress in Sebau, was one of the royal bastions in Mollo once upon a time. Currently, the ruins of the bastion and traditional houses are in preservation efforts by the next generation. Nearby the castle, there is a river flowing throughout the year, crystal clear water flowing from Mutis Mount towards the south beach. There are several points of camping on the riverbank that can be your choice to spend the night and enjoy the cool air of Mollo Valley.
Fatumnasi
For more information, you can contact us:
Telephone: 081338037075 (Dicky Senda)
Or see our profile on Instagram @lakoat.kujawas, Twitter @lakoatkujawas, blog www.lakoatkujawas.blogpspot.co.id and Page www.facebook.com/lakoat.kujawas

NB: Currently, lakoat.kujawas provides 2 bedrooms with a capacity of 2 people per room, and we are currently building two units of ume kbubu (traditional house of Dawan tribe) with a capacity of 3 people per ume kbubu in Taeftob Village. In the near future, lakoat.kujawas will also be integrated with other homestays run by residents in Taeftob Village and in other villages in the region of Mollo. The tariff per room is IDR 75,000/night, including breakfast. The price is not included lunch and dinner, public transportation (taxibikes or shuttle) to several location points and local tourist guide services.
the Hill in Netpala Village
How to reach Lakoat.Kujawas?
Our location in on Jalan Kampung Baru, No. 2, Taeftob Village, North Mollo, TTS, NTT.
From Kupang:
1.      Take Kupang - Kapan travel service. Depart from Kupang between 1-3 pm. It takes around 3 hours. Phone Number of Travel Service 081210999432 (Hendrik Travel). The tariff is IDR 50,000 / person (shuttle).
2.      Take busses from Kupang-SoE or Kupang-Kefa or Atambua-Kupang from Oesapa Kupang. Get off in Kapan branch. Bus fares IDR 30,000/ person. In  Kapan branch, take a taxibike to Ibu dan Anak Hospital, it costs IDR 5,000. Take yellow public transportation from the junction next to Ibu dan Anak Hospital Nonohonis, it costs 15,000/ person.
Mama Mina, the weaver, our parner di LKJWS
 How to reach Lopo Mutis homestay in Fatumnasi (if you want to go to Mount Mutis or Mutis forest) from Lakoat Kujawas:
. Use ojek, it costs IDR 35,000, or use public trasportation (kind of pick up car) it costs IDR 20,000. You can also rent a pick up, it costs IDR 200,000 for one way.  

Souvenirs from Mollo:
Lakoat.Kujawas produces lu'at organic chutney (original and beef liver), Mollo homemade coffee, jagung bose, and Mollo forest honey and sells woven fabric produced by weaver group of Noebesi. They can be ordered via Instagram @lakoat.kujawas.

Mollo typical woven fabric can also be found in Kapan traditional market (every Thursday), Fatumnasi traditional market (every Monday) and Tobu traditional market (every Saturday).

Translated by Yustin Liarian
Lakoat.Kujawas Homestay


Organic Mollo Coffee

Sabtu, 13 Agustus 2016

Mengenal Lebih dari Sekedar Mollo




Lakoat.Kujawas Homestay terletak di Jalan Kampung Baru, No. 2 Desa Taeftob Mollo Utara, Timor Tengah Selatan NTT. Berjarak 130 km dari Kupang atau 18 km ke utara dari kota SoE, lakoat.kujawas menawarkan lebih dari sekedar rumah untuk menginap. Menikmati udara segara khas pegunungan, kekayaan sejarah dan tradisi, keramahan orang Mollo, memasak dan menikmati aneka pangan lokal langsung di rumah warga. Dikelola oleh Dicky Senda, seorang cerpenis yang punya minat besar pada kesenian dan kebudayaan Mollo bersama kedua orang tuanya yang petani dan punya minat besar pada dunia kuliner. Dicky saat ini sedang meriset keanekaragaman pangan lokal Mollo berikut dengan resep pengolahannya untuk keperluan menulis karya sastra. (Mollo, Selayang Pandang, bisa dibaca di sini). 

Sambal lu'at terong bakar dan ubi kapok bakar
Kami menawarkan beberapa aktivitas spesial. Jika sedang berada di lakoat.kujawas hari Kamis, Anda akan diajak Dicky mengeksplor pasar tradisional di Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Di sana Anda akan menemukan banyak sekali produk pertanian organik dari warga termasuk beberapa bahan pangan yang sudah hampir jarang ditemukan di pasar-pasar di perkotaan. Anda bisa berbelanja dan memasaknya bersama Dicky dan Mama Rika di dapur lakoat.kujawas. Keseruan lain yang kami tawarkan adalah treking ke beberapa kampung di sekitar desa Tafetob, bertemu dengan para penenun di desa Bosen, berinteraksi dengan petani jeruk dan sirih di Lelokasen. Atau Anda bisa memilih untuk melakukan treking yang lebih jauh dan menantang ke kampung Manesat Anin sejauh 12 km pergi pulang menyusuri sungai Sebau yang air jerninya mengalir dari gunung Mutis menuju pantai selatan Timor. Di Manesat Anin Anda bisa mengunjungi kebun warga, panen ubi dan sayuran, belajar bikin jagung bose hingga memasak bersama warga setempat. Ada beberapa menu spesial seperti jagung bose, singkong kuning rebus dan ubi kapuk bakar yang semuanya bisa dinikmati dengan ayam bakar dan sambal lu'at bunga gala-gala (kembang turi).

Bikin jagung bose bersama warga

Lakoat.Kujawas Homestay terintegrasi ke dalam proyek kewirausahaan sosial yang coba dikembangkan oleh Dicky Senda bersama dengan kawan-kawannya yang asli Mollo dengan misi pengembangan ekowisata di Mollo. Beberapa hal yang terintegrasi antara lain coworking space dengan perpustakaan dan ruang diskusi sebagai wadah untuk berbagai peluang kerja perngarsipan dan kerja kolaborasi siapa saja dengan warga Mollo di bidang kesenian, literasi, kebudayaan, pertanian dan ekonomi kreatif. Lakoat.Kujawas juga sedang merintis toko online di Instagram yang menjual beberapa produk khas Mollo seperti sambal lu'at organik khas Mollo dan kain tenun Mollo. Jadi ketika berkunjung ke Mollo, Anda tidak saja menginap dan menikmati kekayaan alam serta budaya Mollo tapi bisa juga mencoba pengalaman baru berinteraksi dan bertukar pengalaman dengan warga setempat, belajar kearifan lokal sekaligus memberikan kontribusi apa saja, moril dan materil untuk pengembangan sumber daya setempat. (Baca juga 5+1 Things You Need to KnowAbout Mollo).
Menuju Fatumnasi

Berikut adalah beberapa lokasi wisata yang lainnya yang bisa Anda kunjungi selagi menginap di Lakoat.Kujawas.
  1. Air Terjun Oehala, terletak di wilayah Mollo Tengah. Butuh waktu sekiat 20 menit dengan kendaraan pribadi atau ojek yang disewa dari penduduk lokal untuk bisa mencapai air terjun bertingkat ini. Anda bisa menikmati sunset dengan view gunung Mollo dan lembah Noelmina dari ketinggian Bolaplelo (Kilometer 12), mampir kebun-kebun jeruk dan sayur di Oelbubuk dan Netpala. Desa Netpala sendiri adalah salah satu desa adat tertua di Mollo.
  2. Fatumnasi, mempunyai hutan dan sungai yang masih sangat alami. Merupakan salah satu pintu masuk menuju gunung Mutis, yang masih dianggap keramat oleh orang Mollo. Di hutan lindung dekat Fatumnasi Anda bisa melihat pohon-pohon ampupu, sejenis eucalyptus tumbuh subur bahkan ada bagian hutan yang mengerdil membentuk bonsai alami. Di Fatumnasi Anda bisa menginap di Lopo Mutis homestay yang dikelola oleh keluarga Anin. Sang tuan rumah, bapa Matheos Anin adalah sosok yang ramah dan merupakan salah satu tetua adat di Fatumnasi. Tinggal di Lopo Mutis yang berupa ume kbubu, rumah tradisional suku Dawan, akan memberikan pengalaman luar biasa. Anda yang tertarik belajar budaya dan sejarah orang Mollo, bapa Anin adalah salah satu narasumber yang tepat. Jika datang ke Fatumnasi pada hari Senin, Anda bisa pergi ke pasar tradisional dan berbelanja bahan pangan lokal untuk dimasak bersama keluarga bapa Anin. Sorenya bisa digunakan untuk treking ke perkebunan wortel, kentang, daun bawang dan bawang putih milik warga atau mandi di sungai yang berasal dari salah satu mata air di lereng gunung Mutis. Jangan lupa beli kain tenun yang dikerjakan sendiri oleh para mama di Fatumnasi sebagai oleh-oleh. Dalam perjalan pergi dan pulang dari Fatumnasi, ada bebera titik menairik yang bisa Anda singgahi, antara lain danau Fatukoto dan mampir ke salah satu situs penting orang Mollo yakni Fatunaususu yang juga menjadi simbol perlawanan warga menolak penambangan marmer belasan tahun lalu. (Baca: Fantasi Fatumnasi, catatan traveler Valentino Luis). 
  3. Keliling kota Kapan, ibu kota kecamatan Mollo Utara. Ini adalah salah satu kota tua di Timor yang dibangun oleh Belanda ketika ingin menguasai jalur perdagangan cendana di Timor, konon dulunya dinamai Midden Timor, sebab ia menjadi titik tengah dalam wilayah Timor yang dikuasai Belanda, sebelum akhirnya dipindahkan ke SoE, menjadi Zuid Midden Timor, setingkat kabupaten dan bertahan hingga kini. Sebelum Belanda masuk, Kapan sendiri masih menjadi bagian dari kerajaan Oenam yang dipimpin oleh raja Sonbai, dan sudah banyak orang Cina yang datang berdagang sekaligus menikah dengan penduduk lokal. Jejak keturunan Cina di Mollo masih bisa ditemui hingga kini di kampung Cina, desa O’besi hingga di pedalaman di lereng gunung Mollo. Sejak tahun 1950an orang-orang dari Bugis dan Sabu juga masuk ke Kapan, awalnya berdagang setiap hari pasar, akhirnya menetap dan membentuk komunitasnya sendiri. Perkampungan orang Bugis di daerah pasar lama (dekat Embun Mollo dan Kampung Cina) dan perkampungan orang Sabu di pasar baru. Di kampung Embun Mollo, dulunya dibangun sebuah pesangrahan dan sangat populer sebagai rumah peristirahatan pejabat atau tamu penting yang berkunjung ke Timor, termasuk Jenderal Nasution. Sayangnya bangunan bersejarah itu dirobohkan dan dibangun kembali dengan bentuk baru, sehingga kehilangan nilai historisnya. Di Kapan, Anda yang tertarik belajar seni dan budaya, bisa menemui dua tokoh penting yakni seorang semacam tabib yang menguasai berbagai cara pengobatan tradisional Mollo dan seorang lagi adalah penutur bahasa-bahasa adat khususnya dalam bidang perkawinan yang semakin jarang kita temui. Tentu saja di Kapan juga ada sebuah wadah ekonomi kreatif atau kewirausahaan sosial bernama Lakoat.Kujawas yang sedang berupaya menghimpun potensi-potensi lokal menjadi sebuah kekuatan baru yang harapannya dikelola sendiri oleh warga untuk kepentingan bersama.
  4. Benteng Kote di Sebau, salah satu benteng pertahanan kerajaan di Mollo dulu. Saat ini sisa benteng dan bangunan rumah tradisional masih coba dilestarikan oleh generasi penerus. Di dekat benteng ada aliran sungai yang tak pernah kering sepanjang tahun, mengalirkan air jernih dari gunung Mutis menuju pantai selatan. Ada beberapa titik camping di pinggir sungai yang bisa menjadi pilihan Anda untuk bermalam dan menikmati udara sejuk lembah Mollo.
Suasana Pasar Tradisional Kapan
Informasi lebih lanjut bisa mengontak kami:

Telpon: 081338037075 (Dicky Senda)
Atau simak profil kami di Instagram @lakoat.kujawas, Twitter @lakoatkujawas, blog www.lakoatkujawas.blogpspot.co.id dan Page www.facebook.com/lakoat.kujawas

NB: Saat ini lakoat.kujawas menyediakan 2 kamar tidur dengan kapasitas 2 orang per kamar, dan sedang membangun dua unit ume kbubu (rumah tradisional suku Dawan) dengan kapasitas 3 orang per ume kbubu di desa Taeftob. Dalam waktu dekat lakoat.kujawas juga akan terintegrasi dengan homestay lain yang dikelola warga di desa Taeftob maupun di desa lain di wilayah Mollo. Tarif per kamar Rp. 75.000/ malam, sudah termasuk sarapan pagi. Harga tersebut di luar makan siang dan malam, transportasi umum (ojek atau pick up) ke beberapa titik lokasi wisata dan jasa guide lokal.  

Bagaimana cara menjangkau Lakoat.Kujawas?          

Lokasi kami ada di Jalan Kampung Baru, No. 2, Desa Taeftob, Mollo Utara, TTS, NTT.
Dari Kupang:

1.     Gunakan travel Kupang – Kapan. Berangkat dari Kupang antara jam 13-15 sore. Waktu tempuh 3 jam. No. Telpon Travel 081210999432 (Hendrik Travel). Tarif Rp. 50.000/orang (antar jemput).

2. Gunakan Bus Kupang –SoE atau Kupang – Kefa atau Kupang-Atambua dari Oesapa Kupang. Turun di Cabang Kapan. Tarif bus Rp.30.000/orang. Dari cabang Kapan dengan ojek ke RS Ibu dan Anak, tarif Rp. 5.000. Naik angkot berwarna kuning dari pertigaan samping RS Ibu dan Anak Nonohonis, tarif Rp. 15.000/orang.

3.  Tarif ojek Kapan - Fatumnasi antara Rp.30.000 - 50.000 sekali jalan, bisa nego. 

Bagaimana Caranya Menjangkau Lopo Mutis Homestay di Fatumnasi?

Dari Kapan Anda bisa menyewa ojek dengan tarif Rp.30.000-50.000 (bisa negosiasi). Atau menggunakan jasa angkutan umum jenis pick up dengan tarif Rp. 15.000/orang). Anda akan diantar langsung ke rumah bapak Matheos Anin, pemilik Lopo Mutis Homestay. No Telpon 085239890563.Sewa pick up dari Kapan ke Fatumnasi atau hutan lindung Gunung Mutis, Nus (082339962519), Jun (082341645353). Tarif Kapan-Fatumnasi 300.000-400.000,Pergi pulang, bisa nego.

Oleh-oleh dari Mollo

Lakoat.Kujawas memproduksi sambal lu’at organik (original dan hati sapi) juga menjual kain tenun produksi kelompok penenun dari Noebesi. Jagung bose dan kopi Mollo juga segera kami jual. Bisa dipesan via Instagram @lakoat.kujawas.

Kain tenun khas Mollo juga bisa diperoleh di pasar tradisional Kapan (setiap Kamis), pasar tradisional Fatumnasi (setiap Senin) dan pasar tradisional Tobu (setiap Sabtu).

Madu hutan Mollo bisa dibeli di Lopo Mutis homestay Fatumnasi, sebotol beer Rp. 50.000 

Cagar alam Mutis

Kopi di desa Taeftob

Perempuan Mollo

Lopo Mutis Homestay

Kain tenun di Pasar Kapan

Lumbung pangan warga Manesat Anin

Memasak pangan lokal bersama warga Manesat Anin