We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label community. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label community. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Mei 2021

Urun Dana Pembangunan Food Lab dan Ruang Arsip Benih Komunitas Lakoat.Kujawas

Lakoat.Kujawas adalah komunitas warga di desa Taiftob, pegunungan Mollo, Timor, yang mengembangkan perpustakaan warga, kelas menulis kreatif dan ruang arsip seni budaya masyarakat adat Mollo sejak tahun 2016. Dari kerja pengarsipan pengetahuan lokal itu kemudian lahir Skol Tamolok, sekolah budaya dan Mnahat Fe’u Heritage Trail, sebuah model ekonomi kreatif yang inklusif dengan fokus pada pangan lokal dan ekologi. Komunitas ini juga aktif mengumpulkan benin-benih lokal, mempromosikan kuliner Mollo, mengarsip resep dan narasi tutur tentang makanan. 


Tahun 2021 ini Lakoat.Kujawas ingin mewujudkan mimpi membangun food lab, sebuah ruang arsip benih lokal sekaligus dapur tradisional tempat meramu dan merawat pengetahuan pangan masyarakat adat Mollo. Ini juga akan jadi cafe kecil untuk mendukung program ekonomi kreatif yang inklusif bersama kelompok orang muda, petani perempuan dan keluarga disabilitas. Ini akan menjadi ruang belajar warga Taiftob dan Mollo dalam menghidupkan pengetahuan preservasi pangan dan kekayaan biodiversitas sekaligus menjawab tantangan dan persoalan krisis pangan dan iklim, malnutrisi dan pendidikan yang tidak kontekstual. 


Untuk mewujudkan semua itu kami ingin melakukan pengumpulan dana publik dengan target Rp. 30,000,000 (TIGA PULUH JUTA RUPIAH). Donasi dibuka mulai tanggal 10 Mei 2021 dan akan berakhir tanggal 10 Juni 2021.  Info rekening BRI 0277 01010910 50 5 an CHRISTIANTO SENDA. Konfirmasi transfer bisa via whatsapp 081338037075 atau email lakoat.kujawas@gmail.com


Donasi di atas 1,000,000 akan mendapatkan buku kumpulan cerpen Dongeng dari Nunuh Haumeni dan buku Surat-Surat dari Mollo, sekumpulan cerpen dan resep kuliner Mollo. Keduanya adalah karya warga desa Taiftob yang begrint di Lakoat.Kujawas. 

Selasa, 19 Januari 2021

Terima Kasih Untuk Kado Natal 2020

 


Selamat tahun baru. Salam sejahtera. Pertama-tama komunitas Lakoat.Kujawas mau mengucapkan banyak terima kasih untuk semua pihak yang sudah memberikan donasi untuk program reward kado Natal sebagai ucapan terima kasih kepada seluruh warga aktif dan relawan di komunitas Lakoat.Kujawas yang sudah selalu setiap pada komitmen bersamanya untuk bikin banyak perubahan bersama komunitas. Kadonya berupa baju kaos yang sudah kami distribusikan kepada seluruh warga aktif yang bergiat di komunitas.

Adapun dana yang terkumpul sebesar Rp. 8,730,000 dan kami pakai untuk membuat baju kaos komunitas sebanyak 135 pcs dengan ongkis pembuatan di El Rock Kupang sebesar 10,355,000. Dari harga tersebut kami mendapat potongan harga Rp. 500,000. Sehingga total dana yang kami pakai sebesar Rp. 9,855,000. Kekurangan sebesar 1,125,000 menjadi beban komunitas Lakoat.Kujawas. Daftar donator dan bukti kwitansi juga laporan foto pembagian hadiah bisa dilihat di tautan drive INI. 

 

Salam!























Sabtu, 09 Januari 2021

Mimpi 2021

 

Selamat tahun baru untuk teman-teman sekalian. Terima kasih selalu ada bersama kami sepanjang 4 tahun bertumbuh. Tahun 2021 kami hadir lagi dengan beberapa informasi baru.

  1. Tahun 2020 kami memilih 10 anak dengan pembaca buku terbanyak (di atas 25 eksemplar). Meski tahun lalu adalah tahun yang cukup sulit karena pandemi kami cukup bangga dengan progress dan konsistensi mereka. Kami ingin memberikan reward/hadiah tas sekolah kepada mereka. Kalian bisa ikutan dengan mengirim tas sekolah yang bisa dipakai oleh laki-laki maupun perempuan usia SD dan SMP. Kontak email: lakoat.kujawas@gmail.com untuk informasi lebih lanjut. 

  2.  Kami juga memberikan beasiswa pendidikan untuk 10 siswa kelas menulis di komunitas yang berprestasi dan aktif berkegiatan di sekolah adat Skol Tamolok di komunitas. Kalian yang ingin terlibat silakan kontak email lakoat.kujawas@gmail.com 
  3. Tahun 2021 ini kami berencana menerbitkan ulang buku perdana dari kelas menulis kreatif #ToTheLigthouse: Dongeng dari Kap Na’m To Fena, sebuah kumpulan cerita. Untuk edisi ini kami ingin menambahkan ilustrasi isi. Kami mengajak teman-teman illustrator buku dan desain grafis untuk mengerjakan isi dan layout buku sebagai relawan. Silakan kirim contoh karya kalian ke email lakoat.kujawas@gmail.com. Tahun ini kami ingin membangun integrasi ruang arsip benih, dapur komunitas, food lab dan bulk store. Buku-buku yang akan dicetak ulang ini akan dijual untuk penggalangan dana pembangunan ruang arsip benih dan dapur tersebut. 

  4.  Kami membuka kesempatan juga bagi teman-teman yang ingin terlibat mendukung kerja-kerja baik komunitas yang bergiat bersama masyarakat adat di pegunungan Mollo untuk terlibat sebagai relawan desainer grafis untuk mengerjakan materi-materi publikasi untuk media sosial komunitas Lakoat.Kujawas. Kirim contoh karya ke lakoat.kujawas@gmail.com. Selain relawan desainer grafis untuk materi publikasi dan kampanye di medsos, kami juga membutuhkan bantuan relawan untuk edit video pendek terkait aktivitas komunitas untuk media sosial dan YouTube komunitas. 

  5. Bagi yang ingin mendonasikan buku-buku bacaan (prioritas buku fiksi) untuk perpustakaan kami, silakan kontak lakoat.kujawas@gmail.com atau kirim langsung bukunya ke Perpustakaan Komunitas Lakoat.Kujawas Jalan Kampung Baru, No. 2 Desa Taiftob Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT 85552 Telepon 081 338 037 075. Jenis buku: buku fiksi, buku cerita, buku puisi baik untuk anak-anak, remaja maupun dewasa. Mohon paket buku dikirim menggunakan jasa Pos Indonesia sebab hanya jasa itu yang bisa menjangkau desa kami.
  6.  Karena pandemic, program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat kami masih pending dulu, belum tahu akan buka kapan lagi. Residensi ini terbuka untuk teman-teman seniman musik, film, video, penulis, teater, fotografi dan tari. Terbuka juga untuk petani, chef dan food activist dan arsitek komunitas silakan kirim proposalnya ke dickysenda@gmail.com.
  7.  Skol Tamolok adalah salah satu program baru di komunitas, semacam ruang pendidikan kontekstual dan kritis, sekolah adat bagi warga pegunungan Mollo, khususnya anak, remaja dan kaum muda. Teman-teman dengan latar penulis, arsitek komunitas, petani, pegiat pangan, peneliti seni budaya, seniman bisa terlibat sebagai relawan pengajar. Atau teman-teman bisa terlibat sebagai donator untuk mendukung kelas-kelas kreatif di program Skol Tamolok ini bisa terus dilakukan bersama dengan tokoh adat, budayawan, penenun dan petani lokal. Kontak lakoat.kujawas@gmail.com atau transfer ke Rek BRI 0277 – 01010910-50-5 an CHRISTIANTO SENDA. Konfirmasi pengiriman ke alamt email tadi. Semester ini kami akan bikin kelas Membaca Tatoo. 


  8. Sejak eksis Juni 2016 kami banyak melakukan kerja-kerja pengarsipan dan pendokumentasian pengetahuan lokal Molo dengan harapan kelak pengetahuan itu bisa diakses siapapun khususnya generasi muda Mollo sendiri. Lalu tahun 2019 kami mulai menggunakan hasil kerja pengarsipan tersebut untuk berbagai kegiatan kreatif lintas media. Misalnya menyelenggarakan lokakarya dan pameran fotografi bertema ekologi, bikin pameran arsip di kota kecamatan dan di paroki, mengembangkan produk tenun dan olahan hasil pertanian, hingga bikin heritage trail bertema pangan lokal dan Skol Tamolok, sebuah model pendidikan kritis dan kontekstual, sekolah adat bagi generasi muda Mollo yang ingin belajar mengenai sejarah, budaya dan kesenian lokal (hal-hal yang tidak banyak ada di sekolah formal kita saat ini). Tahun 2021 kami ingin mewujudkan satu mimpi lama kami yakni membangun sebuah dapur tempat segala eksperimen resep pangan lokal dilakukan bersamaan dengan gastronomi tour, sekaligus tempat menyimpan aneka benih lokal/ruang arsip benih/perpustakaan benih dan bulk store. Aha. Kami sangat senang bereksperimen dengan aneka bahan pangan lokal dan aktif mengkampanyekan isu kedaulatan pangan. Ingin rasanya olahan dan preservasi pangan itu bisa juga dipajang-dijual di rumah bersama tersebut. Kami sedang menyusun RABS dan desain arsitekturalnya. Sebelum akhirnya akan melakukan penggalangan dana dari publik mulai bulan Februari 2021, target pembangunan Juni -November 2021. 


Sabtu, 05 Januari 2019

Ana-Ana Desa Taiftob Ju Bisa

Artikel ini pernah dimuat di website Skolmus 23 Agustus 2017
Bangga rasanya melihat 15 remaja dari Desa Taiftob, Mollo, TImor Tengah Selatan berhasil memamerkan karya fotografi mereka.
Akhirnya, setelah mengikuti workshop fotografi bersama SekolahMUSA dan Gadgetgrapher NTT, 15 anak remaja dari Komunitas Lakoat Kujawas, desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan memamerkan karya mereka di Pameran Foto dan Arsip perpustakaan bergerak Komunitas Lakoat Kujawas, di Kantor Camat Mollo, 12 – 19 Agustus 2017. Dalam catatan, pameran ini dikunjungi 800 kali, untuk pameran selama 6 hari.
Pameran foto bertemakan “Pulang” ini juga bagian dari Festival warga desa Taiftob, Festival ‘Pau Kolo” yang diselenggarakan oleh Komunitas Lakoat Kujawas. Refleksi “Pulang” adalah melihat kembali sejarah Mollo, melihat kembali kampung halaman dengan segala potensinya.
Sebelumnya, anak-anak remaja ini belajar bersama SekolahMUSA tentang fotogarfi selama 4 kali workshop dan bersama warga desa mereka merekam aktivitas harian mereka ke dalam medium foto lalu memamerkannya. Peserta dipinjamkan kamera poket selama 2 minggu dan mereka bebas bercerita terkait diri mereka, keseharian dan lingkungan mereka melalui medium foto.
Selain workshop dan pameran foto jugda ada workshop tari, teater, kelas bahasa Inggris, workshop sains (membuat robot sederhana) hingga presentasi teater oleh anak-anak Komunitas Lakoat Kujawas. Festival ini juga adalah ajang kolaborasi antara komunitas di Kupang dan Kapan, TTS.
Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas yang menyediakan wadah bagi anak dan orang muda, relawan dari berbagai disiplin ilmu, kelompok perempuan dan para petani, yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan komunitas kesenian, perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan homestay di desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan.  Informasi lain terkait Lakoat.Kujawas bisa diikuti di Instagram @lakoat.kujawas dan toko online kami di @lkjws.co
Foto-foto hasil karya 15 Anak ini dapat dilihat dibawah ini:
Karya Nesta Banfatin

Karya Rani Laka

Karya Resi Nati

Karya Santi Banoet

Karya Petra Sisilia Tafui

Karya Dino Sesfaot

Karya Elen Talan

Karya Endiko Tapatab

karya Findy Lengga
Karya Alma Gabe

Karya Angky Sanam

Karya Asry Banoet

Karya Calista Oematan


Lakoat.Kujawas Gagas Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat

Artikel ini pernah dimuat di Victory News edisi 21 November 2017

Lakoat.Kujawas, sebuah komunitas orang muda di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, komunitas kesenian, ruang arsip dan homestay ini kembali membuat gebrakan.
Untuk kesekian kalinya, Lakoat Kujawas menyelenggarakan kegiatan kesenian, kewirausahaan dan literasi di tingkat desa secara swadaya dan melibatkan inisiatif warga desa yakni Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat.
Lakoat.Kujawas didukung SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan dan Koalisi Seni Indonesia (KSI), sebuah lembaga yang kerap mendukung kegiatan kesenian berbagai komunitas di Indonesia sukses melaksanakan kegiatan tersebut secara bertahap. Seperti apa Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat ini dan bagaimana menggiatkan semua pihak menyukseskan kegiatan ini, kita simak penjelasan Lakoat.Kujawas ini lewat siaran pers yang diterima VN, Minggu (19/11).

Mengapa memilih model program residensi?
Model residensi ini menarik sebab selama dua pekan atau lebih, seorang seniman diajak untuk tinggal bersama warga, membuat sebuah program kesenian bersama, menciptakan sebuah kesempatan untuk belajar bersama dan saling transfer pengetahuan antara seniman dari luar dan warga lokal. Khusus untuk tahun ini kami fokus pada seni teater, dengan mengundang seniman teater asal Makassar, Shinta Febriany yang sudah tinggal di desa Taiftob sejak tanggal 10 Novomber lalu dan akan berakhir tanggal 23 November 2017.
Selama hampir dua pekan ini, Shinta yang adalah seorang sutradara di kelompok teater bernama Kala di kota Makassar, tidak saja belajar tentang kesenian dan kebudayaan Mollo, namun diajak untuk membuat sebuah lokakarya seni teater bersama anak dan remaja desa Taiftob yang bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawas. Lakoat.Kujawas bahkan mengajak serta seorang seniman lokal asal Mollo, bapak Oktovianus Sunbanu yang adalah seorang penutur seni bonet dan natoni untuk berkolaborasi di proyek residensi kesenian Apinat-Aklahat.

Mengapa Membuat Residensi Kesenian Apinat-Aklahat?
Sejak setahun bergiat bersama warga desa Taiftob, kami telah memberikan kesempatan kepada ratusan anak desa Taiftob untuk mengakses bahan bacaan yang beragam, juga kesempatan untuk belajar bahasa Inggris, fotografi, tari dan teater bersama dengan puluhan orang muda dari SoE, Kupang bahkan dari luar NTT yang mau bekerja sukarela sebagai fasilitator. Orang muda dan orang tua di Mollo diajak untuk giat bertani dan menenun sebagai sebuah prospek ekonomi yang baik.
Kami menggunakan internet untuk memperkenalkan potensi lokal: wisata alam, madu hutan, kopi Mollo, tas tenun (alkosu) dan sambal lu’at. Dan pelan-pelan mulai mengajak komunitas dan pemangku desa untuk mengembangkan community based tourism. Secara mandiri berkreasi membuat festival kecil-kecilan di tingkat kampung yakni Festival Elaf Dame (Desember 2016), Festival panen Mnahat Feu (Maret 2017) dan Festival Pau Kolo (Agustus 2017). Warga juga mulai dilibatkan untuk mengarsipkan motif tenun, cerita rakyat, foto sejarah dan berbagai dokumen lainnya. Bahkan dari hasil arsip yang dikumpulkan itu, pernah sekali kami pamerkan untuk publik di tingkat kecamatan Mollo Utara. Dengan model integrasi seperti ini, kami rasa akan bisa punya dampak besar dan semua yang terlibat mendapat manfaat, khsusunya generasi muda Mollo. Mollo akan bisa dilihat sebagai tanah harapan, bukan tanah ketidakpastian.

Teater asal Makassar, Shinta Febriany sedang membimbing peserta Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat tentang teater. Foto: Dicky Senda
Seniman teater asal Makassar, Shinta Febriany sedang membimbing peserta Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat tentang teater. Foto: Dicky Senda

Mimpi kami adalah desa Taiftob bisa hidup dan menjadi contoh bagaimana sebuah desa bisa menjadikan kesenian, kewirausahaan dan literasi sebagai tiga titik yang mempertemukan warga yang aktif, berdaya dan mandiri.
Kesenian, literasi dan kewirausahaan kami percaya bisa menjadi solusi baru untuk memperkuat kembali kekuatan kita yang sebenarnya sudah ada dan tertanam lama, sembari terus kritis dan berinovasi menjawab tantangan masa kini. Kami melihat bahwa ada masalah dengan rasa percaya diri dan identitas generasi muda Mollo. Ada informasi seni budaya yang terputus, ada jarak antara generasi muda dengan generasi tua. Modernitas yang bergerak cepat hingga ke pelosok dan sistem pendidikan yang kurang memberi ruang bagi kearifan lokal untuk dekat dengan generasi muda, adalah dua problem yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya.
Menjadi tantangan bagi orang Mollo sekarang, setelah generasi para budayawan, seniman dan penutur yang sekarang sudah sepuh, apakah orang Mollo masih akan sekuat dan sekritis dulu? Siapa yang kelak akan berdiri dengan penuh percaya diri di atas tanahnya? Sementara angka putus sekolah terus naik, migrasi orang muda besar-besaran masih terjadi ke Kalimantan dan Malaysia, dan ketrampilan serta pengetahuan yang rendah memicu human trafficking di Timor Tengah Selatan.

Mengapa program residensi keseniannya dinamakan Apinat-Aklahat?
Apinat-Aklahat adalah salah satu karakter yang diberikan suku Dawan kepada penguasa alam semesta (Uis Neno). Apinat-Aklahat artinya yang bercahaya dan yang membara. Proyek ini diharapkan bisa menjadi seberkas cahaya baru bagi Mollo, bisa menjadi pembawa semangat dan motivasi bagi generasi muda desa Taiftob. Seni teater, kami rasa bisa menjadi salah satu kunci penting bagaimana rasa percaya diri dan identitas lokal itu diperkokoh, bagaimana jarak dan informasi yang terputus itu bisa dilekatkan kembali. Proyek seni ini dibuat atas inisiatif warga dan mengandalkan sumber daya yang ada, dengan semangat kerja kolaborasi dan solidaritas warga.

Anak-anak Desa Taiftob peserta lokakarya teater bersama Kak Shinta Febriany, sutradara teater Kala Makassar. Foto: Dicky Senda
Anak-anak Desa Taiftob peserta lokakarya teater bersama Kak Shinta Febriany, sutradara teater Kala Makassar. Foto: Dicky Senda


Kapan program residensi kesenian ini dilakukan?
Program residensi kesenian Apinat-Aklahat dilakukan di desa Taiftob mulai tanggal 10 November 2017 dan akan berakhir tanggal 23 November 2017.

Mengapa memilih bulan November?
Pertama, bulan November dipilih sebab ini masa awal musim tanam di Mollo, momen yang baik juga untuk mengenal lebih dekat tradisi pertanian warga. Kedua, bulan Desember tahun ini bagi sebagian besar warga desa Taiftob diperingati sebagai 50 tahun masuknya gereja Katolik di Mollo. Lakoat.Kujawas sebagai ruang arsip warga, ikut membantu mengarsipkan foto dan berbagai dokumen sejarah terkait serta menyiapkan buku kenangan 50 tahun gereja Katolik di Mollo. Hasil lokakarya teater anak-anak desa Taiftob juga akan dipresentasikan dalam agenda menjelang pesta emas gereja santa Maria Immaculata di Kapan.
Selain Agenda Lokakarya teater, agenda apa saja yang ada di program residensi kali ini?
Untuk pertama kalinya komunitas Lakoat.Kujawas mengajak serta seniman lokal, bapak Okto Sunbanu, seorang penutur kesenian tradisional natoni dan bonet. Beliau selama sepekan memberikan lokakarya bonet dan natoni kepada anak-anak desa Taiftob yang bergiat di Lakoat.Kujawas.

Lokakarya bonet dan natoni, dua seni tradisi bertutur orang Mollo bersama anak-anak Desa Taiftob yang bergiat di Komunitas @lakoat.kujawas dan seniman Mollo, Bapak Okto Sunbanu.
Lokakarya bonet dan natoni, dua seni tradisi bertutur orang Mollo bersama anak-anak Desa Taiftob yang bergiat di Komunitas @lakoat.kujawas dan seniman Mollo, Bapak Okto Sunbanu.

Agenda lainya adalah mengajak seniman bertemu dengan kelompok penenun yang selama ini berkolaborasi dengan Lakoat.Kujawas, berkunjung ke kampung adat di Fatumnasi dan mengadakat diskusi bersama orang-orang muda Kapan dan SoE dengan tema Pulang Kampung. Hadir dalam diskusi ini tiga orang narasumber, Sarlota Sipa seorang sejarawan perempuan asal Mollo yang akan berbagi hasil risetnya terkait tarian dan seni bertutur, Bonet. Shinta Febriany akan berbagi cerita tentang seni pertunjukan di kota Makassar dan pater Ferry Seran SVD, seorang anak desa Taiftob yang kini bertugas sebagai misionaris di Ekuador, akan berbagi pengalamannya di tanah misi Amerika Latin. Acara diskusi Pulang Kampung akan berlangsung di perpustakaan Lakoat.Kujawas, Minggu, 19 November 2017 jam 16.00 WITA.
Apa saja hasil yang diharapkan dari program residensi kesenian Apinat-Aklahat ini? Dan apa tanggapan pihak-pihak yang mendukung program residensi ini?
Ketua program kesenian di Komunitas Lakoat.Kujawas Randi Tamelan berharap proyek Apinat-Aklahat akan menghasilkan kesempatan diskusi, belajar, melakukan pemetaan, penelitian, lokakarya kesenian, merekam atau mendokumentasikan serta mengarsipkan berbagai tradisi bertutur, dongeng, dan kesenian lokal bersama warga, teman-teman seniman dan relawan. Ini akan menjadi awal yang baik untuk mewujudkan mimpi Lakoat.Kujawas dan desa Taiftob sebagai pusat kesenian warga, terintegrasi dengan kewirausahaan sosial. Seni yang menumbuhkan sekaligus memberdayakan warga.

Para remaja desa Taiftob yang bersekolah di SD Yaswari III dan SMPK St. Yoseph Freinademetz ini sedang membaca dua puisi Rendra yang diadaptasi menjadi sebuah pentas teater yang disutradarai Shinta Febriany Sjahrir. Dari puisi kemudian tercipta gerak, ekspresi, imajinasi baru dan bunyi. Dan mereka terlibat aktif dalam menciptakan semua itu. Menarik sekali mengikuti lokakarya bersama 4 hari terakhir.
Para remaja desa Taiftob yang bersekolah di SD Yaswari III dan SMPK St. Yoseph Freinademetz ini sedang membaca dua puisi Rendra yang diadaptasi menjadi sebuah pentas teater yang disutradarai Shinta Febriany Sjahrir. Dari puisi kemudian tercipta gerak, ekspresi, imajinasi baru dan bunyi. Dan mereka terlibat aktif dalam menciptakan semua itu. Menarik sekali mengikuti lokakarya bersama 4 hari terakhir.

Keuntungan lain dari program ini, menurut Randi Tamelan adalah masyarakat semakin terpapar dengan kegiatan seni yang menonjolkan kearifan budaya setempat. Melalui pendampingan yang berkesinambungan, diharapkan dapat membentuk desa Taiftob sebagai desa seni yang dapat menarik perhatian publik untuk berkunjung.
Secara khusus di akhir program residensi kesenian ini, anak-anak desa Taiftob akan mempresentasikannya di hadapan teman-teman, orang tua dan warga desa Taiftob secara umum di aula paroki Santa Maria Immaculata Kapan tanggal 22 November 2017 sore.
Sementara seniman yang mengikuti program residensi kali ini, Shinta Febriany, mengungkapkan rasa gembiranya bisa datang ke Mollo.
“Menyenangkan sekali saya bisa mendapatkan satu pengalaman baru, ketemu suasana baru dan saya belajar banyak dari pengalaman ini. Menurut seniman yang baru saja menyelesaikan sekolah pascasarjananya di Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa diUniversitas Gadjah Mada, residensi itu sebaiknya berjalan dua arah, seniman yang datang residensi bisa memberikan pengetahuan baru bagi warga, dan warga juga bisa memberikan pengetahuan baru bagi seniman. Residensi menjadi menarik dan penting karena ada proses belajar bersama.
Lebih lanjut, Shinta berharap komunitas Lakoat.Kujawas semakin bertumbuh dan tetap mengambil peran seperti yang sudah dilakukan selama ini.
“Saya pikir tidak banyak pilihan bagi orang-orang untuk membangun komunitas di tempat yang jauh, dengan akses yang serba sulit. Ini sama sekali bukan pilihan yang mudah. Tapi teman-teman muda di Lakoat.Kujawas mau mengambil peran itu. Semoga tetap eksis dan terus mengambil peran dalam pemberdayaan masyarakat Mollo,” ungkap perempuan yang pernah menerima penghargaan Celebes Award di bidang teater dari pemerintah Sulawesi Selatan tahun 2007.

Ketua Komunitas Lakoat.Kujawas Dicky Senda (kiri) bersama salah satu pengunjung komunitas Devi. Foto: Dickly Senda
Ketua Komunitas Lakoat.Kujawas Dicky Senda (kiri) bersama salah satu pengunjung komunitas Devi. Foto: Dickly Senda

Elen Talan, salah satu peserta yang mengikuti lokakarya teater di program residensi ini mengungkapkan kegembiraan dan sukacitanya mengikuti kegiatan ini.
“Saya sudah mendengar tentang program ini sejak lama dan saya terus menunggu dengan tidak sabar. Saya bahkan tidak bisa tidur di malam sebelum lokakarya berlangsung karena terlalu bersemangat. Ini akan jadi kesempatan besar bagi kami anak Desa Taiftob untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang kesenian.
Sementara Dicky Senda, selaku Ketua Komunitas Lakoat.Kujawas mengungkapkan pentingnya program residensi ini bagi Desa Taiftob.
“Apinat-Aklahat berhasil memperkuat jaringan komunitas kami dengan pemerintah desa, tokoh agama, warga dan sekolah-sekolah yang ada di desa Taiftob,” ungkap Dicky.
Menurut Dicky menceritakan, hal-hal positif pun terjadi melalui proyek ini. Misalnya adanya keterbukaan pemerintah desa untuk mengajak Lakoat.Kujawas terlibat dalam perumusan anggaran desa, warga secara swadaya mengirim ubi, pisang dan sayuran untuk konsumsi para relawan dan fasilitator. Atau kisah lain kerjasama Lakoat.Kujawas dengan SMPK St. Yoseph Freinademetz yang mengagas program kelas menulis kreatif To The Lighthouse.
Romo Jimmy Kewohon, Pr, selaku kepala sekolah juga yang secara penuh mendukung program lokakarya teater anak dan remaja desa Taiftob, lanjut Dicky. (bev/ol)

Kamis, 04 Oktober 2018

Sepatu Untuk Anak dan Remaja Lakoat.Kujawas

Hingga Desember 2018 kami membuka program donasi sepatu sekolah untuk 137 anak dan remaja di desa Taiftob yang bergiat aktif di komunitas lakoatkujawas khususnya mereka yang setahun terakhir ini aktif meminjam dan membaca buku di perpustakaan kami di desa Taiftob. Seperti program tahun lalu, donasi sepatu sekolah kami rasa paling pas sebagai hadiah atau reward untuk mereka yang selalu aktif mengikuti berbagai lokakarya kesenian hingga aktivitas membaca buku. Supaya tetap semangat sekolah untuk mewujudkan cita-cita untuk hidup lebih baik di Mollo kini dan nanti. Syarat:
1. Sepatu sekolah warna hitam, merek apa saja.
2. Ukuran dan jumlah tertera di poster.
3. Sepatu bisa dikirim atau diantar langsung ke komunitas lakoatkujawas Jalan Kampung Baru No. 2 Desa Taiftob Kecamatan Mollo Utara Kabupaten Timor Tengah Selatan 85552 NTT tlpn 081338037075.

Latihan Teater "Kebahagiaan Yang Pergi Dari Rumah"

Lakoat.Kujawas 6 Juni 2018


November 2017 seniman asaesa Taiftob dan bergiat dengan 25 anak Mollo yang bersekolah di SMPK St Yoseph Freinademetz dan SDK Yaswari III. Mereka belajar teknik dasar teater. Setahun juga, mereka belajar menulis cerita pendek dan puisi di kelas yang kami namai To The Loghthouse. Selasa nanti mereka akan meluncurkan buku cerpen perdana mereka, Dongeng dari Kap Na'm To Fena di Aula Paroki Kapan. Di acara yang sama, mereka akan membaca penggalan cerpen mereka dan mementaskan sebuah teater kecil berjudul Kebahagiaan yang Pergi dari Rumah. Naskahnya kami tulis bersamasama, kami adaptasi dari puisi kak Shinta dengan judul yang sama. Bagaimana prosesnya? Ilmu yang mereka pelajari November lalu ternyata sangat membekas. Imajinasi dan tubuh dipakai maksimal. Mereka menciptakan gerak dan bebunyiannya sendiri. Penasaran? Selasa tanggal 12 jam 9 pagi bisa hadir di acara peluncuran buku mereka di Kapan. Yang berminat beli buku Dongeng dari Kap Na'm To Fena berisi 48 cerita pendek l Makassar Shinta Febriany pernah tinggal lebih dari sepekan di komunitas @lakoat.kujawas dmereka, silakan order via whatsapp 081338037075. #lakoatkujawas #mollo #desataiftob#homestay #artspace #community #coworkingspace#library bit.ly/lakoatkujawas


Kunjungan Komunitas Mai Fali E Ke Lakoat.Kujawas

Komunitas Lakoat.Kujawas, 12 Agustus 2018

Dua hari terakhir komunitas @lakoat.kujawas di desa Taiftob Mollo Timor Tengah Selatan kedatangan teman-teman Komunitas Mai Fali E (PK - 126, Penerima beasiswa LPDP) dari Jakarta, Soe, Kupang dan Atambua. Kami sedang dalam proses kerja kolaborasi pembangunan perpustakaan dan art centre di desa Taiftob. Semalam bikin FGD, mengevaluasi perjalanan komunitas @lakoat.kujawas di bidang literasi, tantangan, perencanaan dan rencana tindak lanjut pembangunan perpustakaan dan pusat kesenian warga. Terima kasih Randi, Olin, Calista dkk. Terima kasih bapa mama perwakilan warga aktif desa Taiftob dan relawan. Romo Jimmy Kewohon, frater No Maumabe, Suster Floriani CIJ dan om Unu Aplugi. #lakoatkujawas #driverforchange#community #coworkingspace #artspace #homestay#library #desataiftob #mollo #timor#socialentrepreneurship #activecitizens#KapanKeKapa