We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Rabu, 30 Maret 2022

Warga Aktif Desa Taiftob: Iren Tapatab



Hai, perkenalkan beta pu nama lengkap Laurensius Tapatab. Biasa beta dipanggil Iren. Saat ini beta duduk di bangku SMA kelas XI.
Beta bergabung di Lakoat.Kujawas sejak tahun 2017 pada saat kelas VII SMP. Kala itu beta dengar di Lakoat.Kujawas ada banyak sekali kegiatan positif. Mendengar hal itu beta sangat senang karena bagi beta bergabung di Lakoat bisa mendatangkan banyak pengalaman baru. Awalnya beta ikut kelas menulis di SMPK St.Yoseph Freibademetz yang berkolaborasi dengan Lakoat.
Pada saat ikut kelas menulis, beta merasa sangat senang karena di kelas kami belajar menulis puisi, cerpen, opini masih banyak lai. Beta juga senang karena tulisan kami dibukukan juga. Banyak pengalaman baru akhirnya memang beta dapat. Kelas menulis kami kedatangan banyak sekali tamu, baik penulis, aktivis dan seniman. Kelas menulis kami juga pernah berkeliling ke Kupang membicarakan buku cerpen kami Dongeng dari Kap Na'm To Fen.
Beta merasa semenjak ikut Lakoat.Kujawas beta mengalami banyak perubahan. Beta jadi lebih percaya diri, wawasan beta juga terbuka dan jadi luas. Beberapa buku yang didalamnya ada karya-karya beta antara lain Dongeng dari Kap Na'm, Dongeng dari Nunuh Haumeni dan Tubuhku Batu Rumahku Bulan.

Senin, 21 Maret 2022

Mengenal Konsep Warga Aktif A la Lakoat.Kujawas




Selamat datang di komunitas Lakoat.Kujawas. Sebuah inisiatif warga yang lahir tahun 2016 dari sekumpulan orang muda yang setelah pergi merantau menemukan bahwa kampung mereka tidak mengalami banyak perkembangan, bahkan cenderung stagnan. 

Adalah Dicky Senda yang bertemu dengan beberapa kawan di Dusun Flobamora, Forum SoE Peduli, Komunitas Blogger NTT dan Kupang Bagarak, dan merasa bahwa munculnya banyak gerakan orang muda di perkotaan di NTT pada dekade 2010an harusnya terjadi juga di wilayah pedesaan atau perkampungan. Memang fakta berkata demikian bahwa banyak orang muda usia produktif memilih untuk merantau ke kota. Sedikit yang merantau karena bersekolah, banyak yang merantau karena harus bekerja di usia muda belia. Pada saat itu isu putus sekolah, human trafficking dan malnutrisi sedang meningkat tajam di wilayah NTT, khususnya di Timor. 

Di sisi lain, pengalaman berkarya dan bekerja kolektif di perkotaan berhasil menumbuhkan rasa solidaritas sehingga tercipta jaringan yang kuat. Jaringan atau modal sosial yang pada akhirnya menjadi bensin bagi gerakan-gerakan swadaya dari orang muda hingga hari ini. 


Bagaimana bisa mewujudkan mimpi itu? 

Pulang ke kampung sendiri tentu akan terasa lebih mudah sebab tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengenal orang-orang di kampung. Tantangan lain tentu ada. Nilai hidup masyarakat kita memang sudah banyak berubah. Sebagai wilayah yang kata kak Ben Laksana, kota tengah, mau dibilang kota dan modern banget juga tidak. Mau dibilang kampung tradisional yang kental dengan sistem adat juga tidak. Nilai yang dimaksud adalah soal gotong royong atau semangat kerelawanan. Kami merasa sulit membangun jaringan dan gerakan di awal sebab paradigma orang-orang di kampung, kalau ada kegiatan sosial seperti ini, yang mereka pikirkan adalah LSM dan bicara tentang LSM, berarti ada dananya. Ada uang!

Jika dulu orang kebanyakan bisa bekerja bersama bersihkan kebun dan menanam, saat ini polanya sudah bergeser, harus mampu bayar orang untuk bekerja di kebun. Uang memang menjadi prioritas dan kebutuhan utama, meninggalkan nilai kolektif a la masyarakat adat, a la masyarakat desa/kampung. 

"Kegiatan di Lakoat ada uang duduk tidak?"

"Berapa isi amplop pengganti transportasi kalau kita bergiat di Lakoat?"

"Dapat dana dari mana bisa bikin perpustakaan dan kegiatan literasi setiap akhir pekan?"

"Itu kakak-kakak yang mengajar bahasa Inggris dan kesenian digaji berapa sama Lakoat?"

"Masuk jadi anggota Lakoat.Kujawas bayar pendaftaran berapa? Ikut kelas Bahasa Inggris bayar berapa?"

Terlalu banyak pertanyaan yang datang ke kami di tahun awal berdiri. Kami berefleksi, kami berpikir keras. Mengapa masyarakat kita berubah menjadi sesgala sesuatu diukur dengan uang? Kami merantau dan tanpa sadar kampung kami sudah berubah begitu cepatnya. 

Memang sulit di tahun awal tapi ketika dijalani dengan serius dan penuh komitmen, selalu saja ketemu banyak orang baik yang mau membantu kami. Ternyata modal sosial itu sangat penting, membantu kami yang bergerak dengan modal semangat, punya kawan dan jaringan, punya pengalaman, uang mah nol hehe. 

Tapi di tahun pertama kami belajar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk untuk menyentuh hati para orang tua. Setahun melangkah dengan tekun dan konsisten, kami bertemu orang-orang yang awalnya apatis, yang awalnya bertanya-tanya dan mengukur kami dengan segala materi. Mereka adalah orang tua dan para guru di sekolah yang kemudian memberi testimoni karena dengan sendiri melihat ada banyak perubahan pada diri anak-anak dan siswa mereka. 

"Anak yang berada di Lakoat berbeda dengan yang tidak bergabung di Lakoat," cerita mama Mety, orang tua pertama yang join di komunitas kami. Mereka jauh lebih percaya diri dan berani. Itu adalah kunci dasar untuk bertumbuh dan berkembang. Sikap, karakter dan cara membawa diri, cara berbicara, bagaimana hormat dan respek pada orang lain, ternyata terbentuk dengan begitu alamiah. Kok bisa? Di Lakoat, kami membiarkan setiap anak menjadi dirinya sendiri. Mereka boleh memilih dan berbicara apa saja tanpa harus takut salah, takut dicela, takut dimarahi. Di Lakoat, kami hanya membangun ruang bermain dan belajar, ruang setiap anak menjadi diri mereka sendiri. Mungkin yang membuatnya berbeda dan menarik hanya karena kami desain dengan gaya yang lebih santai. Lewat aktivitas menari, berpuisi, menulis, bermain, nonton, diskusi, main ke hutan, makan bersama, gitaran bersama, karaoke dan banyak lagi. 

Pada titik ini kami sadar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk sekaligus kunci yang baik. Mereka membawa banyak perubahan bagi Lakoat dan orang tua, mereka menghubungkan komunikasi orang-orang dewasa yang cenderung kaku dan serius. Mereka mengajari kami bahwa bikin perubahan dan gerakan besar, bisa juga dilakukan dengan cara fun, bersama mereka anak-anak. 

Kami akhirnya sampai pada titik bahwa ekosistem yang mulai terbangun ini harus menempatkan anak sebagai titik tengah dari gerakan. Di sekeliling anak ada lapisan-lapisan: orang tua, keluarga, guru, sekolah, gereja, pemerintah desa, tokoh adat, perempuan penenun, petani, orang muda, dst. 

Di tahun pertama, kami sudah bisa menggandeng guru, sekolah dan gereja. Kami senang bertemu dengan pastor dan pendeta muda yang progresif. Kami bertemu guru dan orang tua yang antusias karena melihat sendiri banyak perubahan pada diri anak-anak mereka. Lantas bagaimana dengan pemerintah desa? Kami mengalami pasang surut hubungan yang lumayan panjang bahkan hingga beberapa bulan terakhir, ketika semuanya membaik karena salah satu kader dan aktivis dari komunitas kami terpilih menjadi kepala desa. 

Bersama sekolah kami punya semacam MoU untuk program kolaborasi komunitas dan sekolah. Pilot projectnya adalah menyelenggarakan kelas menulis kreatif yang terintegrasi dengan perpustakaan komunitas dan kelas ekstrakurikuler di sekolah. Kami bertemu tokoh adat dan beberapa orang tua yang rindu akan ruang-ruang seni budaya di kampung yang pernah ada di masa kecil atau masa muda mereka dulu. Ruang ketika segala lapisan umur dan gender bisa duduk setara untuk saling berbagi hal baik lewat acara kesenian dan ritual kampung. 

Kami akhirnya bersepakat untuk selain bergiat bersama anak-anak, kami memakai medium seni budaya untuk masuk dan menggandeng lebih banyak orang untuk bikin perubahan. Mengapa? Ya sederhana saja karena ruang seni budaya itu pernah eksis, bukan hal yang asing dalam memori kolektif warga. Dan itu pernah dianggap punya peran dan pengaruh dalam kehidupan mereka. Kami optimis. 

Memasuki tahun ke-6, ekosistem itu berhasil kami bangun. Ekosistem yang kami sebut, ekosistem warga aktif. Bahwa seluruh lapisan masyarakat di kampung, baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, anak dan remaja, semua punya kesempatan yang sama dan setara untuk mempelajari pengetahuan adat, pengetahuan lokal. Warga aktif artinya setiap kita punya peran penting untuk mendorong perubahan di kampung. Ibarat mesin, satu roda berputar akan mempengaruhi roda-roda lainnya. 

Ketika pandemi melanda, kami terputus hubungan dengan para relawan, seniman residensi atau tamu yang kerap mengikuti program heritage trail kami. Kami akhirnya menyelenggarakan model pendidikan adat, pendidikan kritis dan kontekstual, namanya Skol Tamolok. Melengkapi pendidikan formal yang didapat di bangku sekolah. 

Program ini semakin menegaskan posisi dan visi kami dalam gerakan warga aktif. Mengangkat semangat kolaborasi dan solidaritas, menggantikan individualisme kembali kepada kolektivisme yang sejak lama menjadi roh gerakan masyarakat adat. 

Kini kami fokus ke isu pangan lokal selain terus mengarsip pengetahuan adat. Pangan menjadi potensi dan kekuatan tanah dan manusia Mollo sejak lama. Pangan lokal harusnya bisa menjadi solusi dasar dan sentral bagi segala persoalan ekonomi, pendidikan, politik maupun sosial. Pangan lokal yang erat kaitannya dengan nilai dan semangat ekologi orang Mollo dalam berelasi  dengan alam dan merawatnya. Tentu bahwa ekologi juga menjadi isu penting hari ini ketika iklim berubah dan bencana terkait perubahan iklim itu juga menyentuh kita semua, termasuk yang tinggal di kampung. 

Sudah saatnya lewat konsep warga aktif ini, kesadaran dan nilai kolektif tentang keberlanjutan manusia dan sumber daya alam bisa terus tumbuh. Sumbernya tidak jauh, ada dan kuat di dalam pengetahuan adat kita. Kami yakin bahwa pengetahuan adat bisa menjadi solusi, daya resiliensi, daya adaptasi warga aktif di kampung. Minimal untuk menjawab tantangan lokal, problem di tingkat kampung. 

Untuk warga desa yang aktif dan mandiri, untuk kampung yang lebih baik, Kampung Katong.

#kampungkatong

Profil Warga Aktif: Mama Fun



Beta Marlinda Nau. Sering di panggil mama Fun. Beta bergabung di Lakoat.Kujawas dari tahun 2017. Beta tertarik bergabung di Lakoat saat itu karena terinspirasi dari anak beta, Fun, yang juga bergabung di Lakoat sejak awal Lakoat berdiri. Beta sering dengar cerita dari Fun kalau mereka sering kedatangan relawan-relawan dari Soe dan Kupang. Bahkan dari Jakarta, Bandung, Makassar dan luar negeri.

Fun mulai tumbuh sebagai anak yang penuh percaya diri dengan teman teman baru dan kakak relawan yang berkunjung di Lakoat. Beta melihat banyak sekali perubahan pada diri Fun dan anak anak lain di Taiftob dan sekitarnya yang bergabung di Lakoat.Kujawas.

Waktu itu beta tertarik juga dengan beberapa produk yang di jual di Lakoat. Seperti sambal luat, jagung bose dan kopi Mollo. Beta berpikir bahwa ada peluang dan kesempatan untuk beta bisa bekerja sama dengan Lakoat.

Akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada saat itu di bulan Juni 2017 beta bersama beberapa teman mengikuti kegiatan pelatihan pertananian di Paroki Kapan. Setelah itu kami langsung membentuk 1 kelompok kecil yaitu kelompok tani perempuan dengan beranggotakan 10 orang.

Akhirnya kami juga sepakat untuk ketemu kak Dicky dan meminta untuk bergabung dengan Lakoat. Dengan senang hati kak Dicky menerima kami. Dan setelah itu kami mulai berproses. Dengan berjalannya waktu dan teman teman yang lain sudah mempunyai kesibukan masing masing akhirnya kami pun berkurang dan berkurang hingga saat ini kelompok tani kami sudah bubar.

Beta masih tetap berharap akan ada hal baik yang beta dapat di Lakoat. Akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2018 beta salah satu yg diutus mewakili teman kelompok ikut dalam Festival Kawasan Timur Indonesia di makasar. Dan itu semacam langkah awal dan penting dalam hidup beta. Beta mulai berproses dan bertumbuh bersama Lakoat.

Beta berusaha untuk bisa bicara di depan banyak orang walaupun beta gugup dan kadang merasa tidak percaya dengan keterbatasan SDM yang beta miliki. Sering merasa, siapa beta? Beta kan sonde sekolah tinggi.

Tapi beta tetap belajar dengan motivasi dan dorongan dari kak Dicky yang selalu memberi kesempatan kepada beta untuk tetap belajar.

Awal tahun 2019 kami mulai memulai dengan kegiatan heritage trail Mnahat Fe'u. Beta diberi satu kesempatan lagi untuk bersama teman teman mengurus bagian makanan dengan memasak pangan lokal.

Kami mulai dengan berinovasi dan bereksperimen dengan bahan lokal yang ada untuk membuat makanan enak dan berbagai resep. Bukan soal makanan enak saja yang kamu buat, kami juga berusaha untuk mencari tahu narasi atau cerita di balik setiap bahan makanan atau resep makanan itu sendiri. Atau jika ia adalah resep baru yang kami ciptakan, kami belajar untuk memberi narasi kepada resep baru itu. Menurut saya makanan itu harus punya cerita, karakter dan ciri khasnya.

Kami bikin heritage trail sebulan sekali. Dalam proses ini kami merasa bahwa bahan pangan lokal sebenarnya banyak sekali namun susah untuk kami dapat. Ada banyak faktor. Hutan dan tanah ulayat sebagai sumber pangan semakin sempit karena penduduk semakin padat atau alih fungsi lahan meluas. Benih-benih lokal juga hilang berganti benih dari toko. Orang enggan bahkan malu makan pangan lokal karena dianggap rendah, miskin, tidak berkelas.

Akhirnya masuk tahun 2020 kami sepakat untuk mulai menulis resep dari pangan lokal, mengidentifikasi, bereksperimen dan berinovasi dengan bahan pangan lokal dan beta diberi satu kesempatan lagi untuk mengkoordinir kegiatan ini.

Tahun 2020-2021 beta juga terlibat dalam program Being and Becoming Indigenous. Sebuah program yang mendorong orang muda adat membincangkan kembali identitas adat mereka di arus modernitas saat ini. Kami belajar bersama dua komunitas di Banten (Kasepuhan Pasir Eurih) dan Filipina (masyarakat adat Dumagat Remontado).

Isu pangan menjadi salah satu fokus dalam program itu. Program ini berlanjut dengan nama Kampung Katong, berkolaborasi dengan Simpasio Institute (Larantuka) dan Kolektif Videoge (Labuan Bajo). Masih didukung RMI dan Voice Global.

Di tahun 2021 beta terpilih mewakili komunitas untuk melakukan residensi seni di Jogja selama 14 hari. Awalnya beta bingung, apa itu residensi? Beta mulai membuka Google dan mencari tahu tentang residensi. Beta akhirnya melewati pengalaman itu dengan sangat baik. Mendapat banyak pengalaman dan kawan baru selama di Jogja. Berjejaring dengan banyak aktivis, seniman dan pegiat pangan. Beta mendapat kesempatan berkunjung dan belajar ke Murakabi, Bumi Langit, Sekolah Pagesangan, Panen Apa Hari Ini, Bakudapan, Papermoon dan Kalanari.

Beta beruntung bahwa beta dikelilingi banyak sekali orang yang mendukung dan memberi kesempatan kepada beta, perempuan dan ibu rumah tangga untuk meraih Beta pung mimpi. Termasuk didukung suami (bapa Fun) dan anak-anak. Beta belajar, semua orang harus memperoleh hak dan kesempatan. Siapapun dia, laki-laki dan perempuan tua atau muda, atau anak-anak, kita semua layak untuk maju dan setara. Sonde ada yang tertinggal di belakang.

Sampai hari ini beta tetap yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang ketong lakukan dengan hati yang ikhlas dan hati senang akan memperoleh hasil yang baik pula. Tantangan bukan penghalang untuk beta tetap berproses. Yang penting mau mencoba dan mau belajar. Kalau ada kegagalan, jangan menyerah. Bangkit dan perbaiki, coba lagi. O ya, kesempatan sonde datang dua kali. Kalau ada kesempatan, ambil dan lakukan dengan riang gembira.

Mama Fun tinggal di desa Taiftob, aktif di program pangan lokal komunitas.

Jumat, 18 Maret 2022

Bagaimana Menyikapi Kasus Kekerasan Seksual di Sekitar Kita?

Vita Seran

Kegiatan kali ini lebih banyak membahas mengenai jenis-jenis kekerasan,terutama jenis yang ke tujuh yakni kekerasan seksual.kegiatan ini juga di ikuti oleh beberapa orang tua dan tokoh masyarakat . Materi yang dibawakan oleh kak @lindatagie dan kak @tiaraymg sangat membantu dan memberikan wawasan tentang ketimpangan relasi gender dan kekerasan seksual. Apa yang harus dilakukan jika terjadi kekerasan seksual dan yang harus dihindari atau dicegah saat terjadinya kekerasan seksual. Saat materi disampaikan ternyata hal kecil yang tidak dipandang atau dianggap remeh ternyata itu adalah bentuk kekerasan seksual. Setiap perbuatan yang melecehkan, menyerang fungsi reproduksi, menghina dan merendahkan merupakan kekerasan seksual.

Dalam materi yang disampaikan sangat banyak poin-poin penting, pertama, contoh-contoh kekerasan seksual yang dibagi dalam 15 jenis. Beberapa contoh jenisnya seperti prostitusi paksa, pemerkosaan, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, pemaksaan aborsi, perbudakan seksual, pemaksaan kehamilan dan lain sebagainya.

Kedua, pencegahan kekerasan seksual, seperti adanya tanggapan dari remaja, orang tua, komunitas, masyarakat, pemerintah, sekolah dan guru. Banyak tanggapan yang diberikan mulai dari cara bergaul, mencari pengetahuan dan lainnya.

Ketiga, advokasi seperti mendukung korban, mencari rumah aman bagi korban, pemetaan kebutuhan korban, mitigasi risiko (memberikan pemahaman kepada korban bahwa harus menanggung risiko jika ingin pelaku dilaporkan), cari bantuan, membuat kronologi (jangan menyertakan nama lengkap korban/hanya menggunakan inisial, namun boleh menyertakan nama lengkap pelaku) mengumpulkan bukti,mendukung pengesahan RUU TPKS. Pada stigma yang besar ketika laki-laki yang mengalami kekerasan seksual maka cara mengadvokasinya tetap sama.

Keempat, dampak seperti kehilangan percaya diri, diasingkan dari pergaulan, kehamilan tidak direncanakan, depresi, keinginan bunuh diri, gangguan psikis, putus sekolah dan lain sebagainya.

Poin penting yang dapat di ambil dari diskusi mengenai kekerasan seksual adalah tentang keamanan korban, kerahasiaan identitas dan cerita korban, sikap tidak boleh menghakimi, tidak boleh memberikan nasehat (karena itu lebih cenderung pada menyuruhnya), tidak boleh memaksakan kehendak dan menghargai keputusan korban. Dari poin penting tersebut merupakan hak privasi dari korban.


Foto bersama kak Linda Tagie dan kak Tiara Mondolang 

Profil Warga Aktif: Erlis Talan


Pertama kali beta bergabung di Komunitas Lakoat.Kujawas pada tanggal 15 Agustus 2019. Saat itu beta diajak oleh salah satu anggota komunitas Lakoat.Kujawas untuk ikut nonton pameran foto "Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu" karya anak-anak Lakoat.kujawas berkolaborasi dengan Skol Mus dan SMPK St.Yoseph Freinademetz Kapan yang bertepatan dengan acara peluncuran Buku Puisi mereka yang berjudul "Tubuhku Batu, Rumahku Bulan".
Besoknya beta diajak lagi untuk ikut program Mnahat Fe'u Heritage trail yang merupakan salah satu program ekowisata atau wisata minat khusus yang mempertemukan budaya, pangan dan ekologi, yang digerakan oleh warga Desa Taiftob yang bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawas dengan model kewirausahaan sosial. Sorenya beta bergabung dengan Lakoat.kujawas ikut Pawai 17-an tingkat Kecamatan. Dari situ akhirnya beta mulai aktif berkegiatan di Komunitas Lakoat.Kujawas sampai saat ini.
Beta memilih bergabung di Komunitas Lakoat.Kujawas karena beta merasa hidup beta kosong. Beta sudah pernah bekerja dan bepergian ke beberapa tempat, yang menurut orang lain beta sudah punya banyak pengalaman di luar, meskipun begitu rasanya hidup beta tetap kosong, mungkinkah karena beta memang kehilangan identitas sebagai orang Timor?
Dari program Skol Tamolok, sekolah budaya sebagai model pendidikan kritis dan kontekstual warga, beta banyak belajar tentang adat dan budaya Timor, beta juga lebih mengenal identitas beta sebagai orang Timor yang dari zaman dahulu sudah memiliki relasi yang baik dan kuat dengan alam.
Program di food Lab Ume Fatumfaun dan Mnahat Fe'u heritage trail atau gastronomi tour membuat beta lebih tau tentang pangan lokal yang ada di daerah beta, lengkap dengan nilai dan narasinya. Beta banyak tau makanan-makanan orang Timor dengan narasi yang berbeda beta juga punya kesempatan makan makanan khas orang Timor yang beta yakin sonde akan beta makan di tempat lain pada zaman modern ini. Banyak eksperimen menggunakan bahan pangan lokal yang sudah katong lakukan bersama yang tentunya membuat beta semakin punya pengetahuan tentang pangan lokal.
Beta juga bergabung dalam program Kelas Menulis To the Lighthouse yang biasanya dilakukan seminggu sekali diakhir pekan. Jujur beta sonde ada pengalaman sebelumnya tentang menulis, baik itu menulis artikel, esay, puisi, cerpen, ataupun dongeng. Di kelas menulis beta mulai belajar menulis, meskipun awalnya beta sangat kesulitan merangkai kata, tapi Puji Tuhan saat ini sudah mulai bisa. Yang paling berkesan untuk beta di kelas menulis adalah saat beta diberi kesempatan menulis kembali kenangan indah masa kecil beta dengan keluarga.
Di Lakoat.Kujawas beta bertemu banyak orang yang selalu menyebarkan hal baik, beta lebih dewasa, tenang dan sabar menghadapi masalah, lebih kritis dalam berpikir dan berbicara (terlebih kritis melihat ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar), tahu cara menghargai orang lain, lebih mencintai diri sendiri, juga mencintai dan menjaga adat dan budaya sendiri. Singkatnya di Lakoat.Kujawas beta mengalami banyak perubahan yang membuat beta semakin baik dari sebelumnya.
Dua kata untuk menggambarkan Lakoat.Kujawas "Rumah dan Keluarga".


Erlis Marlina Talan, bergiat di Lakoat.Kujawas sebagai bendahara program Kampung KatongKatong kolaborasi Lakoat.Kujawas dengan Simpasio Institute dan Kolektif Videoge, didukung RMI dan Voice Global.

Senin, 14 Maret 2022

Profil Warga Aktif: Any Naben





Saya @anynaben. Saya salah satu orang muda yang bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawass di waktu luang. Sehari-hari saya bekerja sebagai perawat di Puskesmas Kapan. Saya bergabung di Lakoat.Kujawas mulai tahun 2019. Waktu itu saya ikut dalam program Mnahat Fe'u Heritage Trail, sebuah program ekowisata yang menghubungkan pangan lokal, seni budaya dan ekologi. Sejak saat itu saya selalu ikut dalam setiap kegiatan komunitas. Tahun 2020-2021 saya terlibat dalam program Being and Becoming Indigenous @bnbindigenous kolaborasi Lakoat.Kujawas dengan @rmi.id dan @kompak_pasireurih juga @asianfarmers.afa @pakisamaofficial. Saya belajar membuat program, menjadi pengelola program, berkolaborasi dengan orang muda di desa mengerjakan isu-isu orang muda, modernitas dan masyarakat adat.

Dulu saya biasanya tidak berani untuk berbicara apalagi berbicara depan banyak orang. Selalu saja ada rasa gugup dan takut salah bicara. Ketika ada tamu yang datang residensi di Lakoat, saya selalu ambil bagian, tetapi untuk memberi kata sambutan atau sekadar mengobrol dengan tamu residen, saya tidak berani.

Bulan lalu saya dipercaya mewakili komunitas untuk menjadi pembicara Festival Sastra Santarang komunitas Dusun Flobamora di sesi yang berbicara tentang gerakan komunitas. Itu kali perdana saya berbicara di event yang serius dan besar. Meski saya tidak tampil maksimal di situ namun saya merasa bangga bisa mengambil kesempatan itu.

Berangkat dari pengalaman itu kami berinisiatif dan meminta kak @dicky.senda untuk mengadakan workshop bagaimana cara presentasi yang baik, bagaimana teknik dan seni berbicara di depan umum, bagaimana menyusun materi presentasi yang menarik. Menurut saya ini kesempatan yang baik untuk terus belajar. Dengan berkomunitas saya bisa mengembangkan diri saya, mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang saya punya.



Jumat, 11 Maret 2022

Kekerasan Seksual di Media Sosial

Resi Nati

Akun medsos adalah tubuh digital kita,  selain menjaga tubuh kita ada tubuh lain yang perlu dijaga yaitu akun medsos yang kita gunakan. Itu adalah kata yang saya dapat saat mengikuti kegiatan di Lakoat Kujawas pada tanggal 12 dan 13 Februari 2022, tentang kesetaraan gender dan kekerasan seksual pada sesi pembahasan jenis-jenis kekerasan. Materi itu dibawakan oleh kak Linda Tagie dan kak Tiara Mandolang. 

Pada saat menggunaan media sosial, ada banyak sekali kekerasan yang bisa terjadi, seperti komentar jahat, sebar foto atau video pribadi tanpa izin, menyebarkan berita bohong, unggah foto orang lain tanpa izin, memaksa minta password media sosial tanpa izin orang, membuka media sosial teman tanpa izin. 

Hal-hal yang kita anggap baik dan biasa saja, misalnya bertukar password akun dengan sahabat atau kekasih, membuka akun orang lain tanpa izin adalah kekerasan karena tanpa disadari privasi kita terbuka atau foto kita bisa diedit sembarang lalu diposting. Selain itu, memposting foto teman yang jelek saat dia berulang tahun adalah kekerasan karena itu dapat membuat orang itu sakit hati dan tidak suka.

ilustrasi: suara.com


Dari kegiatan itu saya belajar banyak dalam menggunakan media sosial dan menjaga tubuh digital saya. Menjaganya agar saya tidak menjadi korban dan pelaku kekerasan dalam bermedia sosial.

Pembahasan pada sesi selanjutnya lebih mendalami tentang  jenis kekerasan, yakni kekerasan seksual.

Setiap perbuatan yang melecehkan dan menyerang fungsi reproduk serta menghina dan merendahkan adalah bentuk dari kekerasan seksual. 

Dalam sesi ini ada beberapa hal yang dibahas bersama dengan kak Linda Tagie dan kak Tiara. Contoh -contoh dari kekerasan seksual. Terdapat  15 contoh yaitu pemerkosaan, prostitusi paksa, perbedaka seksual, pemaksaan kehamilan, pelecehan seksual dan sebagainya. Setiap individu berpotensi menjadi korban dan pelaku. Pelaku dan korban dari kekerasan seksual biasanya memiliki hubungan yang dekat, seperti hubungan keluarga, teman. Cara pencegahan kekerasan seksual dari tanggapan remaja, cara bergaul yang baik.

Apa yang akan kita lakukan pada korban yang mengalami tindakan kekerasan sesual? Mendengarkan tanpa menghakimi, bertanya tentang apa yang dibutuhkan korban(yang paling tahu tentang kebutuhan korban adalah korban sediri) serta advokasi seperti, mendukung korban, pemetaan kebutuhan korban, mitigasi risiko, cari bantuan, cari rumah aman buat korban.


Resi Nati adalah penggerak muda di komunitas Lakoat.Kujawas. Bergabung sejak tahun 2016 di awal berdirinya komunitas. Kini duduk di bangku kelas 1 SMA Kristen di Kapan.