We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Jumat, 19 November 2021

tfua pah mencari ilustrator dan penerjemah

 


tfua pah hadir di lakoat.kujawas merespons musim tanam yang sedang berlangsung di desa taiftob. tfua pah sendiri adalah serangkaian ritual yang biasanya dilakukan dimulai dari menyiapkan lahan dan bibit hingga tanam dengan meminta restu uis pah, penguasa tanah. ritual ini berangsur hilang sejak masa kolonialisme hingga sekarang dengan berbagai faktor seperti agama, revolusi hijau, sistem dan kebijakan pangan/pertanian dan modernitas. tfua pah mengajarkan tentang relasi dan keseimbangan antara manusia dan alam, hal-hal yang kerap diperbincangkan manusia modern hari ini ketika dihadang berbagai isu krisis iklim, pangan dan malnutrisi. padahal praktik dan nilai itu sudah eksis sejak lama namun dipaksa untuk hilang. 

tfua pah menjadi asing bagi generasi muda hari ini yang tak bisa dipungkiri lebih banyak mengenal dunia luar. sistem pendidikan kita masih saja mengajarkan orang-orang di desa/kampung untuk pergi bukannya untuk tinggal. menghadirkan kembali konsep ini, memperbincangkan, mengarsip tuturnya, mereka ulang beberapa bagiannya sembari dirayakan dengan lokakarya fotografi, teater, penerjemahan dongeng, ilustrasi kuliner, pidato kebudayaan hingga menenun dan musikalisasi puisi. sebagai komunitas yang sedang giat mendokumentasikan pengetahuan lokal, tfua pah kami rakayakan dengan serangkaian lokakarya hingga pentas virtual. ada buku kumpulan cerpen dan resep pangan lokal, juga buku kumpulan dongeng dalam tiga bahasa (mollo, indonesia dan inggris) yang juga sedang kami persiapkan. seperti ritual tfua pah yang mengiringi musim tanam, serangkaian lokakarya dan pentas virtual ini juga ingin mengiringi semangat mengarsip pengetahuan adat di desa taiftob. 

kalian semua diundang untuk terlibat dalam lokakarya (para ilustrator dan penerjemah) juga membeli buku-buku terbitan kami sembari menonton pertunjukan mollo: perempuan dari gunung (info ini bisa kalian simak di media sosial patjar merah). 

untuk teman-teman ilustrator dan penerjemah yang ingin terlibat bersama warga desa taiftob khususnya para army cabang mollo untuk kerja pengarsipan pengetahuan adat, silakan kontak wa 081338037075 atau email lakoat.kujawas@gmail.com. 

Senin, 04 Oktober 2021

Tiang Bife Ainaf

 


Tiang di kanan belakang ini disebut tiang bife ainaf, tiang mama. Ini adalah area privat mama, termasuk tangga dekat tangga ini yang akan terhubung ke loteng. Tiang ini mewakili elemen air (oe)

 

Benih Lokal

 Salah satu yang hilang dari peradaban orang Mollo hari ini adalah kekayaan benih pangan lokal. Rumah tradisional sebagai tempat menyimpan dan mengawetkan benih yang ditinggalkan karena diberi standar miskin turut ambil bagian dalam menghilangnya banyak benih lokal. Sudah begitu kehadiran benih GMO sekali tanam sekali konsumsi semakin mendesak semua itu. Lakoat.Kujawas dengan semangat revitalisasi kampung mulai menginisiasi program kolektif dengan membangun ruang arsip benih yang diharapkan akan jadi contoh dan semangat bagi warga untuk kembali menanam buka’ (sorgum), sone (jali), sain (jewawut), laok fui (uwi), belasan jenis kacang lokal yang berhasil dikumpulkan dan ditanam kembali.


Tuke’

Tuke’, tempat menyimpan sambal lu’at. Lu’at adalah sambal fermentasi yang enak disantap setelah berusia di atas satu bulan. Lu’at akan dibawa laki-laki Mollo untuk bekerja di kebun atau berburu ke hutan dan jadi pelengkap untuk ubi dan daging bakar. Di permukaan tuke’ motif dan narasi tentang simbol marga (malak) dan sapaan (otes) dihidupkan. Ada simbol bintang (kfun), buaya (besimnasi), jejak kaki anjing (aos nobi) dan tob (masyarakat). 


Se’i

Dulu ketika tanah dan hutan ulayat masih luas dan dikelola masyarakat adat, orang-orang Mollo melepas sapi dan kuda di padang dan hutan. Ketika masa panen mereka akan memilih satu sapi terbaik sebagai korban dan syukur untuk para leluhur, Uis Neno (penguasa langit) dan Uis Pah (penguasa bumi). Orang Mollo akan membunuh sapi terbaik di hutan atau padang, memercikkan darah ke tanah dan batu untuk para leluhur dan tuhan lalu dagingnya akan diasap biar awet dan bisa disimpan lama. Mengapa dilakukan tidak di kampung? Mereka menganggap, di hutan atau padang akses ke kayu bakar seperti kosambi (Schleichera oleosa) dan kabesak (Acacia leucophloea) mudah. Kedua kayu itu juga turut memberi citarasa yang khas pada hasil daging asap. Ketika pulang ke kampung, orang-orang Mollo akan menyimpan daging asap itu di loteng uem bubu sehingga akan terus terkena asap dan awet, jadi stok protein untuk beberapa bulan bahkan beberapa tahun mendatang. Orang Mollo tidak membuat se’i babi. Se’i hanya terbuat dari daging sapi dan kerbau karena kering dan bisa bertahan lama. Pengawetan daging babi adalah babi makao, dipengaruhi orang Cina Mollo. Daging dimasak dan direndam bersama dengan minyaknya di dalam periuk tanah.

 

Oko’ Mama

Bisa dibilang oko’ mama adalah media komunikasi sosial bagi orang Mollo. Secara harfiah, oko’ artinya hadiah dan mama artinya sirih pinang. Di oko’ mama ada pinang, kapur, buah sirih atau daun sirih. Ketika digunakan untuk menyelesaikan masalah, meminta maaf atau membayar denda, maka di dalam oko’ mama akan diselipkan juga sebuah koin perak atau kini diganti dengan selembar uang.  

Ada anggapan yang berkembang, jika mengundang seseorang dengan oko’ mama, nilainya jauh lebih tinggi daripada dengan surat undangan. Namun kini fungsinya banyak disalahgunakan ketika sudah menambahkan uang atau mengganti sirih pinang dengan uang, salah satunya adalah dipakai oleh para calo ketika hendak merekrut anak di bawah umur di kampung-kampung untuk pergi menjadi TKW/TKI yang kemudian ikut menaikkan angka human trafficking secara signifikan. Calo atau agen biasanya mengisi oko’ mama dengan sejumlah uang ketika hendak mengajak seseorang untuk pergi bekerja. Hal ini tentu menggiurkan sekaligus menjebak sebab penipuan dan pemerasan sudah dimulai sejak saat itu.  

 

Jagung Kering (pena’)

Di uem bubu, semua bahan pangan diperlakukan dengan sangat terhormat. Disimpan dengan penuh perhitungan, tidak bisa sembarang orang menurunkan jagung dan kacang dari lumbung. Di uem bubu ada bife ainaf, ibu yang mengepalai dapur dan lumbung pangan. Ia yang paling bisa memprediksi ketahanan dan kedaulatan pangan di rumah itu satu dua musim ke depannya. Ketika ibu pergi dalam seminggu, jagung akan diturunkan untuk stok makan seminggu. Ketika ibu lupa meninggalkan jagung maka orang rumah tidak boleh mengambil apa pun dari lumbung yang posisinya ada di loteng uem bubu. Solusinya? Pinjam dulu untuk sementara di uem bubu tetangga. Perhitungan yang ketat, arif dan hormat itulah yang membuat orang Mollo yang masih memperhatankan tradisi ini bisa tetap mandiri, bertahan dan berdaulat dengan makanannya ketimbang orang Mollo yang hari ini tidak punya uem bubu.

Contoh perhitungan jagung kering di Mollo: 1 suku = 36 puler jagung, 1 aisat = 6 puler jagung, maka 1 suku = 6 aisat.

 

Jagung Bose dan Sagu

Sebagai makanan pokok jagung diawetkan dengan cara diikat dan digantung juga disimpan di loteng persis di atas tungku. Asap sepanjang hari membantu mengawetkan daging, gaplek, jagung, padi ladang dan kacang-kacangan sepanjang tahun. Jagung akan diambil dan ditumbuk dengan sedikit percikan air menjadi bose.

Bose hasil tumbuk akan dipisah antara yang halus (leot) dan besar (temef). Leo ana yang halus direndam lalu ditumbuk menjadi tepung yang disebut sagu campur dengan kelapa parut lalu disangrai. Sagu jadi bekal orang Mollo ketika melakukan perjalanan jauh.

Bose terbaik ditumbuk dan dimasak saat itu juga.


Taka’

Tempat sambal. Jika laki-laki punya tuke’ (tabung bambu untuk menyimpan lu’at), maka perempuan punya wadah sendiri namanya taka’, sebuah anyaman dari daun lontar berbentuk bulat dan diisi wadah dari tempurung kelapa untuk menyimpan lu’at. Perempuan punya tak unus, laki-laki punya tak unus. Unus di sini adalah cabai, bahan baku sambal lu’at.

Bicara tentang lu'at atau sambal yang telah melewati proses fermentasi, bahan dasarnya adalah cabai rawit, garam, air jeruk nipis atau jeruk asam, bawang putih. Keempat bahan diulek hingga halus lalu dimasukin ke stoples atau botol kaca. Sebagai bahan tambahan bisa mencampurkannya dengan daun kemangi, daun mint, sipa (sejenis peterseli), daun bawang, kulit jeruk nipis. Di Mollo varian sambal lu'at juga menandai musim dan keragaman tanaman, hal yang berbeda dengan wilayah Timor yang lain. Di Mollo ada sambal lu'at rebung ketika musim bambu muda, sambal lu'at kulit jeruk ketika musim jeruk. A


Faot Beku (Batu Pelat, Batu Ceper)

Batu pelat (faot beku) biasanya ditaruh di tengah kandang persis di atas jejak kaki binatang yang ada di dalam kandang itu. Dengan rapalan tutur adat maka binatang di dalam kandang tidak akan kabur. Kalau pergi pun dia akan pulang kembali ke kandang yang ada faot beku. Konsep faot beku pun berlaku ketika ada pencuri masuk ke uem bubu atau di kadang hewan, orang Mollo akan menaruh faot beku persis di atas jejak kaki pencuri itu. Dijamin setelah ritual si pencuri akan kembali mencari jejak kakinya.

Batu untuk ritual biasanya ditaruh di dalam uem bubu di tiang ibu (bife ainaf), tiang kanan belakang atau di tiang tengah jika di rumah adat atau ditaruh di depan rumah bersama dengan hau monef, kayu ritual yang punya dua cabang.

Terkait faot beku, ada juga cara lain untuk menjinakkan hewan selain dengan menindih jejak kakinya dengan faot beku, yakni dengan cara mengajak binatang itu mengelilingi faot beku sambil merapalkan tutur adat. Nanti ketika musim panen, binatang peliharaan di kandang yang akan menikmati hasil panen duluan sebelum manusia. Sebuah penghormatan manusia kepada hewan peliharaan.  

 

Epilog

Pameran arsip ini hadir dari kelas-kelas yang dilakukan Lakoat.Kujawas sepanjang pandemi 2020-2021 di program sekolah adat Skol Tamolok. Ada kelas membaca tenun, kelas membaca rumah, kelas membaca langit dan kehidupan dari lahir hingga kematian. Skol Tamolok adalah sistem pendidikan adat yang mencoba membangun kembali ruang-ruang seni budaya sebagai sarana edukasi pengetahuan adat lintas generasi di Mollo. Skol Tamolok hadir.

Pintu yang rendah mengajak manusia untuk selalu merendahkan hati kepada alam semesta di dalam dan di luar, membawa diri dan pikiran sejajar dan setara dengan hutan, mata air, batu, tanah, hewan dan benda-benda langit. Sebab alam telah merawat dan membesarkan dan rumah bertugas melindungi dan menjaga  (Pah Afatis, Sonaf Aneot).


Jangan lupa follow akun Instagram kami @lakoat.kujawas untuk simak dan dukung kerja-kerja pengarsipan pengetahuan lokal di pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan. 

 

Tiang An Feto

 Kalau tiang 1 dan 2 itu area laki-laki, tiang-tiang di belakang adalah area perempuan. Kami menggambarkan tiang ketiga sebagai tiang anak perempuan (an feto). Ia mewakili elemen hutan (nasi).

 

Tais


Tais adalah sebutan untuk sarung yang biasanya dipakai perempuan (kebalikannya, laki-laki memakai selimut atau beti). Ini adalah tais yang diciptakan oleh mama Anaci Anin, salah satu pejuang lingkungan dari Tune untuk menggambarkan masa kecilnya ketika pertama kali bersama orang tuanya masuk ke hutan Mutis dan mendapat inspirasi untuk tidak saja menenun dengan warna monokrom (hitam putih) namun juga membuat kain dan motif tentang hutan yang beragam warna. Tais ini ditenun dengan Teknik ikat (fitus) untuk membentuk mitif bunga dan daun, serta teknik lotis (songket) untuk membentuk motif garis-garis. 

Generasi Alfa dan Tenun


Di Skol Tamolok, sekolah adat di Lakoat.Kujawas ada kelas menenun sebagai salah satu pelajaran yang ditawarkan. Empat kain ini adalah hasil belajar Desi Mnasu, Ensy Mnanu, Putri Leki, Iren Seran dan Elen Talan. Setelah terlibat dalam kelas membaca langit, membaca rumah adat dan tenun juga kelas yang mempelajari kelahiran hingga kematian, mereka mendesain motif baru, mewarnai benang dan menulis narasi sendiri untuk setiap kain. Dari kanan ke kiri, ada motif tentang tanah, warna-warna tumbuhan di mata air Oelpuah yang ditanam Nenek Kaunan, batu Napjam (situs batu marga Oematan di desa Taiftob) dan juga motif kacang kot laso, kacang beracun namun jika diolah dengan baik akan menghasilkan makanan enak. Semua bahan pewarna diambil dari hutan di sekitar desa Taiftob. 


Tanduk Sapi (Bijae Sunaf) dan Gigi Babi (Faef Nisin)


Fungsi sebagai obat penawar bisa ular cara penggunaanya tanduk digaruk/dikerok dengan pisau lalu dikunyah dan disemburkan ke bekas gigitan ular. Baik tanduk maupun gigi hewan di dalam rumah menjadi semacam benda memorabilia, tanda untuk mengingat dan menjaga rasa bangga bahwa pemilik rumah pernah mendapat buruan atau pernah memelihara hewan terbaik dan sebesar itu. Tanduk hewan juga dipercaya orang Mollo mampu mengusir angin badai. Ketika ada angin besar, tanduk hewan diambil dan dibakar.

 

Pauk Moba

Sebelum ada listrik bahkan sebelum mengenal lampu dari minyak tanah (pelita, lampu gas, petromaks), orang Mollo menggunakan pauk moba. Cara bikinnya mudah, tumbuk biji damar kering (Agathis dammara) atau dalam bahasa Mollo disebut pauk tob. Bisa juga menggantinya dengan kemiri (fenu). Tumbuk bersama kapas (aba’ mataf). Lalu lilit menggunakan batang rumput namanya kafi (baunya seperti kemangi). Pauk moba akan jadi penerang uem bubu sepanjang malam.

 

Cendana (hau meni)


Untuk menghasilkan cendana terbaik butuh waktu hingga 40-50 tahun tumbuh. Ketika panen pun ada perhitungan letak bulan dan perlakuan khusus dari manusia.

Kayu cendana dipercaya mampu mengusir energi jahat. Dulu ketika sepulang dari perang, para meo (serdadu perang) akan dikerubungi dengan asap cendana untuk melepaskan energi buruk yang ada di tubuh. Ini disebut kasu’, kasih dingin tubuh sepulang perang. Cendana juga dipakai untuk mengharumkan jenazah, caranya dengan menaruh kayu cendana bakar di kolong tempat tidur jenazah. Cendana mulai hilang dari peradaban orang Mollo ketika menjadi barang komoditas sejak kolonial Belanda hingga pemerintah Orde Baru dengan pemutihan cendana. Dekade 90-an adalah puncak dari pembabatan hutan cendana dan pencurian besar-besaran ketika negara mengontrol kepemilikan cendana dengan cara represif. Cendana berubah dari kayu yang berharum surga menjadi kayu penuh trauma dan masalah (hau mamalasi). Orang takut atau ogah memelihara cendana karena nanti toh akan dicap milik negara. Cendana hilang dan dilupakan dari kebudayaan orang Mollo hari ini. 

 

Buku Foto Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu


Ini adalah buku foto dan puisi karya kolaborasi anak-anak yang bergiat di Lakoat.Kujawas dalam proses belajar menulis puisi, fotografi sekaligus melakukan kerja pengarsipan mandiri—memetakan mata air, hutan dan batu-batu milik marga (faut kanaf) yang ada di Mollo, dimulai dari desa Taiftob. Foto-foto dalam buku ini pernah dipamerkan kepada publik di pegunungan Mollo tahun 2019. Buku ini dikerjakan kolektif dengan dukungan Sekolah Musa (pengajar fotografi), Will (desain sampul) dan Kania Pradipta (tata letak).

 

Buku cerpen Dongeng dari Nunuh Haumeni


Berisi kumpulan cerita pendek yang terinspirasi dari narasi-narasi tentang pohon yang ada di Mollo. Nunuh artinya beringin dan haumeni artinya cendana. Banyak cerita dalam buku ini datang dari dongeng yang biasa dituturkan setiap hari oleh orang tua. Buku ini terbit tahun 2021 sebagai upaya agar anak-anak Mollo bisa mengenal dan terhubung dengan hutan di dekat mereka lewat narasi.

 

Periuk Tanah dan Kain Motif Nenek Kaunan

Nenek Kaunan adalah salah satu legenda di desa Taiftob tempat Lakoat.Kujawas lahir. Beliau dikenal sebagai seorang yang punya kemampuan menanam mata air. Kaunan sendiri artinya ular, sapaan untuk perempuan yang menikah dengan laki-laki Oematan. Ritual tanam air hanya dilakukan saat malam karena pantangannya adalah harus berjalan dalam keadaan telanjang dan tidak boleh bertemu siapa pun. Bibit air akan dibawa menggunakan periuk tanah dari sebuah mata air ke tempat baru yang akan ditanami air. Ada rapalan khusus terkait ini dan mereka pastilah sosok yang punya relasi kuat dengan alam semesta. Sayang hari ini profesi ini hampir hilang. Kalau pun ada yang masih melakukannya tapi sangat dirahasikan. Setelah tahun 65 banyak orang Mollo yang punya keahlian khusus seperti penanam air, cenayang dan mnane (seperti tabib), semakin menyembunyikan identitasnya karena ada begitu banyak ketakutan dan trauma. Dulu ada kewajiban masuk Kristen kalau tidak akan sama dengan komunis dan atheis. Kami menulis kembali narasi tentang nenek Kaunan, membuat pentas teater dan membuat syal tentangnya sebagai bentuk penghormatan. Mata air hasil tangannya dipakai oleh banyak orang di desa Taiftob. Namanya oelpuah atau air pinang.

 

Biji Kusambi

(Dari Pohon Ritual, Pemberi Kelezatan Se’i Higga Obat Luka Paling Mujarab)

Pohon kusambi selain jadi tempat ritual adat juga jadi tempat bermusyawarah-mufakat antara para tetua adat. Di celah batangnya orang-orang Mollo dulu menaruh periuk tanah berisi air-ari bayi. Pohon ini dipercaya memberi energi baik bagi si manusia. Jelas saja, kayu kusambi juga memberi aroma dan warna yang menggiurkan bagi daging se’i (daging asap) dan bijinya adalah obat luka paling mujarab jauh sebelum manusia modern di Mollo mengenal betadine.

Selain sebagai obat luka paling ampuh, biji kusambi (Schleichera oleosa) juga dipakai untuk mengawetkan aneka kacang arbila. Caranya tumbuk biji kusambi sampai mengeluarkan minyak, campur dengan kacang-kacangan kering, simpan di taka’ dan akan aman dari serangan kutu (fufuk).

 

Ritual Jaga Alam di Mollo di Pohon Kusambi

Ketika bertemu para tetua adat buat satu pagar susunan batu bentuk bulat di bawah sebuah pohon kusambi. Persembahan yang dibawa yaitu, seekor babi putih dan seekor kerbau putih. Masing-masing perwakilan akan mengambil sedikit darah dari jari kelingkingnya dan sedikit tanah yang telah digaris dengan kelewang membentuk huruf X, ditaruh ke dalam tuke’ berisi sopi (arak lokal dari penyulingan nira enau atau lontar). Darah, tanah dan sopi diaduk rata dan diedarkan untuk diminum bersama sambil menghunuskan pedang/kelewang.

Isi perjanjiannya antara lain:

-          Harus pelihara fungsi sosial air dan tanah (ka musik pah ma nifu). Sumpahan sumpah ini berlaku untuk manusia, hewan dan tumbuhan.

-          Harus pelihara fungsi sosial manusia (ka musik to ma tafa).

-          Harus pelihara hubungan antara manusia dan alam (ana tobe ana mnes)

-          Pelihara perdamaian dalam segala hal ihwal.

-          Harus bersatu dalam segala hal ihwal.

-          Yang utama/pertama harus memelihara hubungan baik dengan bumi dan langit.


Jangan lupa follow akun Instagram kami @lakoat.kujawas untuk simak dan dukung kerja-kerja pengarsipan pengetahuan lokal di pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan. 

Tiang An Mone


Dalam uem bubu, tiang kedua (tiang di kiri depan) disebut tiang kolo manu. Kolo manu bisa diartikan sebagai tamu atau bisa juga diartikan sebagai anak. Kami menggambarkan tiang dalam pameran ini sebagai tiang anak laki-laki (an mone). Tiang ini mewakili elemen batu (fatu)

 

Kain Betmuti: Paukolo


Ada ungkapan turun temurun dalam bahasa Timor “Niun
oel panat he naekan te tepas, meuk homan panat he naekan te balat” yang menjadi dua pedoman turun temurun: airnya boleh diminum tapi dijaga sehingga tidak tenggelam dan hilang dan rumputnya boleh dimakan tetapi dijaga sehingga tidak sampai di akar.

Atau “Fatu, nasi, noel, afu afatis neu monit mansian”, batu, hutan, air dan tanah bagai tubuh manusia. Batu diibaratkan sebagai tulang, hutan sebagai rambut, air sebagai darah dan tanah sebagai kulit. Jika salah satunya hilang, bagaimana manusia bisa hidup? Untuk mengingat dan mewariskan itu, selain diungkapkan dalam syair, narasi ini muncul juga dalam simbil-simbol di rumah bulat hingga hamparan kain tenun.

Betmuti (selimut laki-laki Mollo) menggambarkan air (noel) dengan garis besar berwarna putih, sementara hutan dan kebun hadir dalam simbol garis hijau dan kuning. Pemimpin muncul dalam simbol burung (kol matobe) atau simbol jejak kaki anjing (aus nobe). Sementara masyarakat (tobe) adalah keragaman warna dalam simbol berjejer di area putih. Pemimpin di Mollo bisa muncul dalam beragam simbol binatang selain burung dan anjing, ada juga simbol babi (fafi) dan buaya (besimnasi).

 

Malak

malak tualaka

Malak
adalah simbol dari marga atau klan yang menjadi idetitas tertentu dalam relasi sosial. Malak disebut cap ketika ia diberikan ke tubuh hewan yang dilepas liar di hutan dan tanah ulayat sebagai penanda kepemilikan. Malak juga muncul di tubuh manusia sebagai tato. Setelah mengenal huruf Latin ada yang mengganti malak dengan inisial huruf. Bagi sebagian orang Mollo dengan melihat malak kita bisa dengan mudah mengidentifikasi apa marga orang tersebut. Bagi orang muda dulu, malak jadi pengingat boleh tidaknya menikah dengan seseorang karena masih banyak kesepakatan antar suku, marga tertentu tidak boleh menikah dengan marga lainnya.

Praktik malak pada hewan (cap) mulai hilang ketika sapi Timor masuk ke dalam hewan yang diperdagangkan ke luar NTT. Salah satu syarat pengiriman sapi hidup yang akan dipotong adalah ia haruslah tanpa cacat. Cap pada tubuh sapi tidak akan masuk standar. Dengan sendirinya praktik malak hilang. Namun jauh sebelum itu, praktik malak mulai memudar ketika hutan dan padang ulayat semakin sempit atau diambil alih oleh negara untuk hutan tanaman industri, hutan lindung atau daerah penghijauan, tradisi melepas liar sapi-sapi dan hanya akan dikenali dengan malak di tubuh juga ikut hilang. Begitupun malak sebagai tato juga hilang karena pengaruh agama dan pendidikan formal.

Ini adalah malak-malak yang berhasil dikumpulkan warga desa Taiftob.

 

Malak: Tualaka 

Malak marga Tualaka bentuknya seperti jangkar kapal/payung terbalik

Malak: Toto dan Tanesib

Toto dan Tanesib jadi bagian dari 8 marga besar yang ada di kefetoran Netpala. Otes atau sapaan marga untuk Toto adalah Oki dan Tanesib adalah Kolo. Malak Toto dan Tanesib mirip, seperti bentuk hati dengan ekor dan dua tangkai, bedanya Toto tangkainya terpisah, Tanesib tangkainya menyatu dengan bentuk hati.

Malak: Tapatab dan Sunbanu


Tapatab adalah salah satu marga di lereng gunung Mutis. Mereka punya rumah adat namanya
Ume Ni’bon (Bonat) dan Ume Amamat. Ada dua Tapatab, Saieles. sang adik yang menjaga pintu air dan kakak, Amamat, yang menjaga pintu batu.  Batu marga mereka namanya Faut Lui dan Bais, ada di dekat gunung Mutis. Sapaan atau otes untuk marga ini adalah lali yang artinya ubi keladi. Marga ini pantang mak
an ubi keladi warna ungu juga jambu air hutan. 

Sementara Sunbanu adalah marga besar di kefetoran Nunbena, motif tenunnya adalah aos nobe atau jejak kaki anjing (tergantung di tiang 1).

 

Gong dan Giring-Giring

Sebagai rumah tinggal, dapur sekaligus lumbung, uem bubu juga punya fungsi sebagai ruang seni budaya. Gong, giring-giring, tambur dan nafiri digantung di tiang-tiang uem bubu sebagai dekorasi interior sekaligus dipakai saat pesta dan pengumuman penting. Giring-giring dipakai untuk menari dengan cara dililit di pergelangan kaki. Gong dimainkan saat pesta namun bisa juga berfungsi sebagai alat komunikasi, misalnya, saat ada pencuri, kebakaran atau pun kematian. Orang-orang bisa memahami pesan lewat bunyi.

Ada beberapa jenis gong antara lain, toluk (gong tunggal), kiko (pasangan, sopran), saeb (pasangan, tenor) dan bolo (tunggal, bas). Cara memainkan gong juga berbeda tiap klan dan suku, sama halnya ketika orang Mollo mampu membedakan bunyi gong ketika ada pencuri maupun bunyi ketika ada kematian. Ia bisa jadi sandi saat ada musibah.

 

Buku Tubuhku Batu, Rumahku Bulan


Kumpulan puisi ini direncakan akan jadi bagian dari 4 seri kumpulan cerpen dan puisi yang terkait dengan empat elemen alam yang berelasi spesial dengan orang Mollo: hutan, mata air, tanah dan batu. Ditulis oleh anak-anak desa setelah bersama-sama melakukan riset dan pemetaan narasi tentang batu-batu yang menjadi simbol bagi banyak marga di pegunungan Mollo. Hasil penelusuran itu kemudian diterjemahkan oleh anak-anak ke dalam medium puisi. Buku ini terbit tahun 2019.



Buku Dongeng dari Kap’nam To’ Fen

Buku ini adalah hasil perdana dari kerja pengarsipan narasi di desa Taiftob, berisi dongeng, legenda dan fabel yang ditulis anak dan remaja desa Taiftob yang bergiat di Lakoat.Kujawas. Kebanyakan adalah dongeng dari masa kecil yang ditulis kembali dengan perspektif baru, anak-anak. Buku ini terbit tahun 2018. 

 





Jangan lupa follow akun Instagram kami @lakoat.kujawas untuk simak dan dukung kerja-kerja pengarsipan pengetahuan lokal di pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan. 

Tiang Amaf

 Ruang-ruang dalam rumah dulu diberi sekat dengan kayu dan bambu lalu terjadi perubahan, rumah tanpa sekat meski tetap ada pembagian ruang. Dalam uem bubu, pertama ini disebut tiang bapak (amaf). Bapak akan duduk dan menerima tamu di tiang ini dan segala perlengkapannya seperti tas dan parang digantung di tiang ini. Ini adalah tiang yang merepresentasikan elemen tanah (afu).

 

Ume Mnasi Sun Isu

Ini adalah hasil kerja kolektif Lakoat.Kujawas merekonstruksi dalam bentuk miniatur uem bubu marga Oematan di desa Tune yang disebut sebagai klan pengawal atau ajaobe klalon ma beske klalon (pohon kasuari yang berjajar dan pohon kabesak yang bejajar seperti pagar) bersama dengan marga Sunbanu dan Tafui. Salah satu rumah adat tua yang masih dirawat dengan baik. Penjaga rumah ini kerap disapa ifo yang artinya tikus. Ifo adalah sapaan (otes) untuk perempuan marga Oematan, sementara sapaan untuk laki-laki Oematan adalah kaunan atau ular.



Ben’tapan

Ben’tapan adalah sarung parang atau sarung pisau yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau. Ben’tapan jadi salah satu perlengkapan wajib bagi laki-laki Mollo. Bagi orang Mollo, perkakas kebun seperti parang, linggis, kapak, harus diperlakukan baik dengan cara dibungkus, tidak boleh telanjang. Sebagai masyarakat agraris ini adalah bentuk hormat orang Mollo ke benda-benda yang kerap dipakai dalam setiap kebutuhan berladang. Pasangan yang selalu dibawa: bentapan, tiba, tuke, alkosu, pisau. Benda-benda ini akan digantung di tiang utama kanan depan yang disebut tiang bapak (amaf).


Tiba, Tuke, Kal Aob, Alkosu

Tiba’, tempat menyimpan sirih pinang, fungsinya sama dengan oko’mamaAlkosu tas dari kain tenun, semacam totebagKal’aob, tempat menaruh kapur. Ini adalah perlengkapan yang biasanya melekat dengan laki-laki Mollo bersama dengan parang (ben’tapan) dan feku, seruling kayu.

 

Bintang Faif Nome

Di Lakoat.Kujawas kami mengadakan lokakarya membuat motif tenun bintang setelah anak-anak diajak ikut kelas membaca langit bersama para tetua adat di desa. Temuan dari kelas itu antara lain mengenai bintang siang, bintang yang hadir mendahului terbitnya matahari, disebut faif nome atau faf ne nme (sinar atau cahata dari pangkuan bumi). Syairnya: man sam faif ne on timo sae na tut ok, faif ne on hake he man sen fin. Artinya matahari terbit menyusul terbitnya bintang siang, lalu bintang siang akan berhenti supaya matahari bisa lewat. Sudahkah kamu melihat bintang yang muncul sebelum matahari tebit? Motif faif nome adalah hasil karya Eva Mnanu, remaja dari Lakoat.Kujawas.

Di desa Fatumnasi rumah-rumah adat menghadap ke arah tenggara tempat salah satu bintang biasanya muncul jelang magrib. Maknanya kesuburan. Bintang juga bisa jadi penanda hujan. Ketika pada pukul 9 malam ada 7 bintang yang bergerak   ke bagian barat dan 3 bintang  hilang ke arah laut, disebut tamtasi—masuk ke laut. Orang Mollo menyebut bahwa tinggal 4 bintang berlari. Kemudian hilang lagi 2 bintang dari 4 tersebut, orang Mollo mengatakan bahwa akan ada curah hujan dua hari berturut-turut. Ketika semua bintang itu hilang berarti sudah masuk musim hujan.  Karena begitu pentingnya bintang maka benda langit ini pun muncul dalam kain tenun.

 

Betmuti: Ausnobe

 

Selimut laki-laki dari marga Sunbanu, salah satu marga dari wilayah Tobu - Tune yang bersama dengan Oematan dan Tafui disebut Ajaobe klalon ma beske klalonartinya pohon kasuari dan pohon kabesak yang tumbuh berjajar seperti pagar untuk menyebut marga-marga yang mendapat tugas sebagai pengawal (yang diibaratkan seperti pohon yang berjajar rapi).

Ausnobe artinya jejak kaki anjing adalah simbol bagi amaf Sunbanu dengan malak atau simbol mirip daun keladi dengan garis-garis di tengah.

 

Muti Salak dan Feku’

Muti salak adalah kalung dari batu berwarna kuning yang berfungsi sebagai asesoris bagi laki-laki maupun perempuan Mollo. Di muti salak biasanya akan digantung feku’, alat musik tiup yang terbuat dari kayu yang akan ditiup untuk menghibur diri ketika beternak sekaligus untuk menggiring hewan ternak pulang kembali ke kandang. Bagaimana cara mengenalkan bunyi feku’ ke sapi dan kuda? Orang Mollo melatihnya dengan mengikat hewan di bawah pohon kabesak, lalu orang itu akan naik dan memotong daun kabesak yang adalah makanan favorit hewan. Sambil daunnya dilempar dari atas, mereka akan meniup feku’. Sapi makan daun kabesak dan menandai bunyi feku’. Selanjutnya ketika dengar bunyi feku’ sapi akan berbaris rapi mengikuti si peniup feku’. Ingat teori Pavlov! Tiap suku punya teknik meniup feku’ yang khas dan menjadi identitas. 


Jangan lupa follow akun Instagram kami @lakoat.kujawas untuk simak dan dukung kerja-kerja pengarsipan pengetahuan lokal di pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan.