We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label active citizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label active citizen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2020

LES: Ruang Pertukaran Pengetahuan Pangan Lokal Lintas Benua


Learning English Session (LES) bersama Randi Tamelan menjadi salah satu program yang lahir di akhir tahun 2020. Randi adalah salah satu warga aktif, relawan dan ikut mengembangkan komunitas Lakoat.Kujawas sejak tahun 2016. Sempat pergi studi ke Sydney hampir 2 tahun dan kini kembali dan memberi dirinya untuk tanah Timor, untuk komunitas tempat kami bertumbuh bersama.

LES melibatkan orang muda dan bapa mama. Bagi Randi kegiatan ini bukan murni ingin menjadikan bapa mama dan orang muda di desa Taiftob jago Bahasa Inggris tapi lebih ke bagaimana platform Bahasa Inggris, medis sosial dan hal kekinian lainnya bisa jadi alat atau sarana untuk berekspresi, berkomunikasi, mengembangkan rasa percaya diri teman-teman di komunitas. Lakoat.Kujawas kini telah menjadi ruang bertemu antar warga dengan warga, warga dengan relawan, seniman, aktivis, dengan tamu yang mengakses program ekowisata kami, dsb. Paham cara berkomunikasi lintas budaya tentu penting. LES membantu untuk menjembatani kebutuhan itu. Rasa percaya diri memang modal penting dalam interaksi dan berkomunikasi. Lantas bagaimana LES dibangun dan dieksekusi?

Randi pernah mengagas kelas Bahasa Inggris sejenis juga untuk anak-anak Lakoat di tahun awal komunikasi kami berdiri, juga dengan misi yang sama dan berhasil. Bukan soal anak fasih berbahasa Inggris tapi karena desain programnya yang asyik, bermuatan seni budaya dan interaktif anak-anak tidak merasa jadi beban untuk bisa fasih berbahasa Inggris. Dari pengalaman dan semangat yang sama, Randi mencoba mengembangkan itu untuk orang dewasa.

Makanan Adalah Identitas Budaya

Tiap pertemuan, mereka akan membahas makanan sebagai bagian dari identitas sebuah kebudayaan. Kuliner memang sedang jadi fokus dalam kerja-kerja kreatif di Lakoat.Kujawas yang melibatkan orang-orang dewasa dua tahun terakhir. Kami aktif mengarsip pengetahuan lokal terkait pangan, kuliner, gastronimi dan pertanian lokal, juga kaitannya dengan seni budaya, sejarah dan ekologi. Bahwa benar dari makanan kita bisa melihat kebudayaan Mollo, manusia, cara mereka merespons alam dan kehidupan. Bagaimana mereka orang Mollo bisa bertahan hidup di musim yang tak menentu. 

Seru kalau LES kemudian membahas hal-hal yang dekat dan dilakukan setiap hari oleh teman-teman di Lakoat. Randi dengan jaringannya, juga melibatkan kawan-kawan semasa kuliah Development Studies dan juga kawan-kawan dari Kelas Berbasis Forum SoE Peduli. Kesempatan berjumpa secara virtual dengan teman-teman dari luar Indonesia juga bisa membangkitkan rasa percaya diri.

Dari pengamatan kami, rasanya keterbatasan Bahasa tidak menjadi hambatan dan persoalan serius selama kita bisa saling paham maksud lawan bicara. Kami rasa dari situlah kekuatannya program ini untuk mematahkan asumni yang selama ini tumbuh bahwa belajar Bahasa asing itu sulit dan kalau tidak bisa berbahasa asing maka sulit bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman langsung selama ini bertemu dengan para tamu Lakoat dari berbagai suku bagsa (ada dari Jornadia, India, Hongkong dan Australia) juga lewat kelas kreatif seperti LES kemudian semakin meyakinkan mereka bahwa pada akhirnya, manusia itu punya keunikan yang menjadikan mereka bisa bersosialisasi dengan siapapun dengan Bahasa Tarzan sekalipun. LES bahkan semakin menguatkan kesadaran identitas, kebangaan akan pangan lokal, misalnya. Ketika di ruang virtual LES, bapa mama dan orang-orang muda bisa bercerita tentang makanan lokal mereka, kebudayaan mereka dengan bangga, kami kira itulah keberhasilan lain yang dibangun bersama Lakoat.Kujawas dan kawan-kawan relawan.

Dalam semangat #BeingIndigenous dan #BecomingIndigenous, kami sadar bahwa kawan-kawan di Mollo hari ini sudah sangat terbuka dan terhubung dengan banyak sekali orang, komunitas dan kelompok. Pada titik ini, kesadaran akan indentitas budaya, rasa bangga akan kampung halaman dan kekayaan alam dan budayanya menjadi sangat penting. Bahwa kadang perlu apresiasi dan dorongan dari pihak luar untuk mengingatkan kita bahwa sejatinya kita ini luar biasa.

 

Tony Oematan, orang muda Mollo, sarjana pendidikan Bahasa Inggris, bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawas. Fasilitator lapangan program Being and Becoming Indigenous






Jumat, 17 Mei 2019

Mnahat Fe'u Heritage Trail #3: Mempertemukan Komunitas, Pangan dan Ekologi


Desa Taiftob, 6 Juni 2019

Selamat datang di Komunitas Lakoat.Kujawas. Hampir tiga tahun berjalan, kami menciptakan banyak kesempatan dan ruang-ruang kreatif. Kami melihat perubahan itu menyentuh anak-anak, orang muda, kelompok perempuan, para petani, sekolah, Gereja dan tokoh adat. Dengan semangat kerja kolaborasi dan kerja jaringan, kami senang dan bangga bisa terhubung dengan Anda sekalian. Terhubung untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi kreatif bagi warga desa, ruang dan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan diri mereka. Berkolaborasi dengan warga aktif desa Taiftob kami mengembangkan perpustakaan, komunitas kesenian, kewirausahaan sosial dan ruang arsip seni, budaya dan sejarah Mollo. Termasuk program heritage trail yang sedang Anda baca ini: Mnahat Fe’u, sebuah perayaan sepanjang musim panen tahun 2019. Mnahat Fe’u adalah salah satu jenis tarian bonet yang dirayakan ketika musim panen. Mnahat Fe’u kami berisi serangkaian lokakarya tarian bonet musim panen, lokakarya pengolahan buah menjadi selai, wine, liquor dan manisan. Heritage trail ini sekaligus sebagai upaya kami melakukan pengarsipan informasi sejarah, budaya dan kesenian serta merevitalisasi kampung kami. Semua yang menyenangkan ini terjadi di musim panen, terlebih bahwa inisiatif program ini datang dari warga sendiri.


Dampak

Sebagian besar keuntungan program ini kami investasikan untuk membiayai kegiatan pengembangan diri warga desa Taiftob khususnya kelas menulis kreatif dan kelas tenun bagi remaja. Pelatihan-pelatihan bagi kelompok orang muda dan kelompok petani perempuan. Anda sudah ikut mendukung komunitas Lakoat.Kujawas mengembangkan model kewirausahaan sosial warga aktif, mendorong ekonomi kreatif di desa Taiftob bertumbuh serta ikut menyadarkan warga Taiftob bahwa kekayaan alam dan sebi budaya yang mereka punyai penting untuk diapresiasi, dijaga dan dilestarikan. Program ini ikut mempromosikan dan meningkatkan kesadaran semua pihak terkait kelestarian lingkungan, misalnya dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pupuk kimia.


Jenis Kegiatan

Kami mengajak Anda untuk mengeksplor pasar tradisional di Kapan, berkunjung ke situs batu, hutan dan mata air. Mengikuti lokakarya seni tradisi bernama BONET khusus musim panen. Mencoba berbagai jenis pangan lokal sehat bebas MSG dan minyak sawit yang diolah dengan resep leluhur. Sharing pengalaman komunitas lakoat.kujawas membangun ekosistem warga aktif dengan pendekatan kewirausahaan sosial, untuk keberlanjutan berbagai program seni budaya dan pertanian di desa Taiftob.

Mnahat Fe’u Heritage Trail direncanakan berlangung pada hari Kamis, 6 Juni 2019, bertepatan dengan hari pasar tradisional di Kapan. Acara berlangsung mulai jam 7 pagi dan berakhir jam 4 sore. Untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini setiap peserta membeli paket seharga Rp. 250,000 /orang dewasa, sudah termasuk:
1. Pengalaman belajar bersama komunitas warga, belajar budaya dan sejarah desa Taiftob (terutama relasi orang Mollo dengan batu (fatu) dan air (oe), termasuk mendukung upaya revitalisasi kampung yang digagas oleh lakoat.kujawas. Eksplor pasar tradisional.
2. Satu kali makan siang pangan lokal sehat dari hasil pertanian organik warga.
3. Dua kali snack pangan lokal sehat.
4. Satu paket oleh-oleh produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas (produk spesial: manisan kulit jeruk, sagu dan kerupuk labu pempung/pumpkin).
5. Guide lokal.

Jika membawa sopir dan ingin ikut makan besar dan kudapan tanpa ikut agenda trail yang lain, dikenakan biaya Rp. 75,000/ orang.

Bagi peserta diharapkan untuk membawa botol minum/tumbler, obat-obatan pribadi, sepatu kets atau sandal gunung yang cocok untuk trekking. Lokasi kami ada di jalan Kampung Baru No. 2 desa Taiftob, Kapan, Mollo Utara. Kurang lebih 18 km ke utara kota SoE atau 130 ke arah timur kota Kupang. (google maps komunitas lakoat.kujawas). Kami menyediakan penginapan sederhana di rumah warga, kuota terbatas. Mohon reservasi terlebih dahulu. Jika membutuhkan jasa travel/sewa mobil dan ojek, silakan kontak ke Nando Ojek 081290528451 dan Hendrik Travel (mobil Avanza) 081210999432.



Info dan Pendaftaran

Info lebih lanjut dan pendaftaran silakan kontak email dickysenda@gmail.com atau whastapp 081338037075 (Dicky). Paling lambat Selasa, 4 Juni 2019. Terbatas hanya untuk 15 orang. No. Rekening BRI 473201013229535 an Christianto Senda.

Lampiran Agenda Lengkap

1. Jam 7 – 9: Eksplor pasar tradisional Kapan
2. Jam 9.30 – 10.30: Welcome ceremony: natoni, dilanjutkan sarapan pagi.
3. Jam 10.30 – 12.00: Trekking ke situs batu, hutan dan mata air di desa Taiftob. Mengenal lebih dekat project revitalisasi mata air. Tanam pohon di situs mata air Oelpuah
4. Jam 12.00 – 13.30: Makan siang pangan lokal dengan tatacara ala orang Mollo tempo dulu. Menu penutup spesial: es krim, laru dari nira pohon aren dan minuman farmentasi buah (liquor dan wine).
5. Jam 13.30 – 15.30: Workshop tari dan tradisi tutur khusus musim panen: bonet.
6. Jam 16.00: Ngopi sore menu pangan lokal, bagi-gai oleh-oleh produk lokal kewirausahaan sosial Lakaot.Kujawas
7. Jam 17.00: Sayonaraaa…





Kami sengaja mengumumkan kabar baik ini jauh hari bagi teman-teman di luar NTT. Heritage trail terakhir di musim panen tahun ini akan berlangsung tanggal 16 Agustus 2019. Highlightsnya: permainan tradisional Mollo, kere-kere, karnaval komunitas dan menu Cina Mollo peranakan. Catat tanggalnya, booking tiket pesawat sekarang, kami tunggu di Mollo.











Senin, 07 Januari 2019

Intip Agenda Kreatif di Komunitas Lakoat.Kujawas di Awal Tahun 2019

Sebagai komunitas dengan model warga aktif dan kewirausahaan sosial, salah satu yang kami kerjakan adalah menghidupkan kembali kebiasaan menenun yang hampir ditinggalkan karena kelesuan pasar. Kami coba yakinkan kembali para mama dengan memperkenalkan platoform penjualan online (via Instagram @lkjws.co). Pelan-pelan rasa percaya itu muncul. Initiatif untuk membuat lokakarya pewarnaan benang kemudian dilakukan secara swadaya melibatan mama-mama yang lain termasuk para orang muda desa. Dua tahun bertumbuh bersama, insiatif lain kemudian muncul yakni menyelenggarakan kelas memenun bagi beberapa remaja desa, berkolaborasi dengan salah satu sekolah yang ada di desa kami, SMPK Santo Yoseph Freinademetz Kapan (dengan memanfaatkan jam ekstrakurikuler sekolah di hari Sabtu). Sebagai komunitas dengan model social enterprise, kami mulai belajar bukan saja menggali kembali potensi pertanian dan seni budaya seperti tenun untuk dipasarkan. Keuntungan dari semua itu kami sisihkan 10-15 % untuk menghidupi komunitas dengan berbagai kegiatan kreatif dan pemberdayaan warga. Salah satunya kelas menenun bagi remaja desa.
Mama Mety dan Mama Nati
Senang sekali mama Mety menjadi inisiator kemudian mengajak mama Nati yang jago membuat tenun ikat juga mama Aser yang biasanya menenun dengan teknik lotis/sotis. Kolaborasi ketiganya sebagai pengajar kami harapkan bisa meneruskan berbagai pengetahuan kepada generasi muda desa Taiftob untuk belajar tenun, pewarnaan benang hingga ikat benang. 

Doakan semoga program ini berjalan lancar. Tahun 2019 ini ada beberapa program kreatif yang akan kami selenggarakan di komunitas kami. Kelas menulis kreatif masih dengan agenda workshop menulis puisi tentang batu dan menulis dongeng berkolaborasi dengan para orang tua. Ada juga workshop ilustrasi untuk melengkapi naskah buku puisi dengan cerita karya anak-anak. Ada beberapa relawan ilustrator yang akan datang mengajar secara sukarela mulai akhir pekan ini. 

Untuk donasi silakan kontak lakoatkujawas@gmail.com atau whatapp 081338037075. 

Mama Nati

Foto oleh Deztro/Armin Septiexan/SkolMus untuk Praktik Cerdas -Yayasan BaKTI

Sabtu, 05 Januari 2019

Lentera Indonesia - Generasi Mandiri Tanah Timor

Lakoat Kujawas adalah sebuah komunitas yang berjalan dalam tiga bidang yaitu kewirausahaan, literasi, dan kesenian. Pada awal merintis Lakoat Kujawas, Dicky memilih untuk membangun sebuah perpustakaan warga di desa Taiftob. "Karena orang yang banyak membaca pasti juga punya potensi untuk menulis. Saya juga coba ajak mereka untuk misalnya menulis tidak usah jauh-jauh menulis dulu dari sekitar," tambah Dicky. Dicky beranggapan jika menulis bisa menjadi salah satu sarana atau media bagi anak-anak untuk mengenal identitas dan budaya mereka sebagai orang timur. Tak hanya menulis, Dicky juga kerap mengajarkan anak-anak tentang kesenian. Salah satunya dengan membuat lokakarya teater. Disetiap kegiatannya dalam memajukan daerah, Dicky selalu melibatkan para generasi muda. Karena menurutnya, para generasi muda akan lebih mudah untuk membuat sebuah gerakan baru dan menularkannya kepada masyarakat lain. “Saya selalu di sini melibatkan orang muda. Karena ini kesempatan saya untuk menumbuhkan rasa solidaritas, rasa bahwa ini harus di lakukan swadaya oleh kita. Dan saya pikir dengan begitu gerakan baru akan muncul,” ungkapnya.

Lakoat.Kujawas: Dari Pendidikan Karakter ke Kewirausahaan Sosial

Artikel ini pernah dimuat di website BaKTI tanggal 27 November 2018

Kawasan Timur Indonesia, telah lama  hidup menyandang stigma miskin dan bodoh.
Lalu bagaimana bisa sebuah komunitas, jauh di tengah pulau Timor, berdiri dengan semangat yang tak pernah padam
 Untuk mencapai sekretariat Lakoat.Kujawas kita harus melalui jalan sempit dengan tikungan tajam. Pemandangan September yang memasuki musim kering menjadi sangat membosankan. Daun sedang gugur. Pohon sedang sekarat.
Tapi, pemandangan berbeda akan nampak jika Anda menyusurinya pada Januari hingga Juli, kawasan itu akan nampak hijau dan asri. Sungai Netmetan, yang lebar akan membawa arus kuat. Tidak seperti saat musim kering, bagian tengah badan sungai menumpuk batuan membentuk pulau.
Ratusan tahun silam, Mollo adalah negeri subur. Masyarakatnya hidup dengan rukun. Kawasan ini pula lah yang mendapat julukan The Heart of Timor – jantungnya pulau Timor. Puncak tertingginya adalah Gunung Mutis.
Mutis dengan ketinggian 2.427 meter di atas permukaan laut, ibarat ibu dari bukit-bukit di sekitarnya. Mengalirkan 12 sumber mata air, menuju kota Kupang hingga ke negara Timor Leste.
Di kawasan inilah, di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Lakoat.Kujawas berdiri bersama keceriaan dan kegembiraan anak-anak. Di antara tapak kaki warga yang kuat. Di dalam hangat rumah Ume Kbubu (rumah bulat). Dan tentu saja keriuhan canda.
Lakoat.Kujawas adalah sebuah komunitas yang berdiri 10 Juni 2016. Lima orang penginisiasinya tergerak untuk menemukan kembali cerita petualangan masa kecilnya. Pulang sekolah lalu, masuk ke hutan berburu buah Lakoat dan Kujawas. “Mungkin bagi banyak orang tua, buah itu tidak begitu penting, karena bukan jenis buah yang bernilai untuk bisa dijual. Tapi bagi anak-anak, dua buah ini menjadi salah satu memori paling penting dalam perjalanan,” kata Dicky Senda, salah seorang pendirinya.
Lakoat dalam bahasa indonesia adalah buah Biwa. Kujawas adalah jambu biji.
Dicky seorang sastrawan. Ia menulis buku tentang Timor, merekam resep kuliner, dan mengangkat hubungan sosial. Dia mencintai kampungnya, yang setiap orang tak bisa mengukurnya. “Saya sudah selesai dengan urusan diluar sana. Saya ingin menetap di Taiftob. Di desa ini,” katanya.
Gudang di rumah keluarga Dicky kemudian disulap menjadi sebuah perpustakaan. Rak buku ditempatkan di dalamnya menjadi rumah bagi beragam bacaan. Komik, novel, cerpen, hingga pelajaran umum. Setiap anak dapat membawa buku ke rumahnya. “Harus baca e. Ada buku yang hilang? Kaka Dicky tidak marah. Tapi harus melapor. Jadi besok, buku yang sudah di pinjam diletakkan di keranjang itu, lalu catat sendiri,”
“Ini sudah jam 5 (17.00), sudah. Ayo siap-siap pulang. Pulang langsung ke rumah e. Hati-hati,”
Anak-anak itu membubarkan diri. Beberapa dari mereka berasal dari desa tetangga. Jarak tempuh berjalan kaki bisa mencapai 30 menit hingga 1 jam. Di Lakoat-Kujawas akhirnya, tim BaKTI menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak di pelosok Indonesia, punya minat baca yang tinggi. Mereka hanya tak punya akses, tak ada fasilitas.
“Sejak ada Lakoas.Kujawas, setiap minggu saya pinjam buku. Kalau saya suka cerita bukunya, saya habiskan bacaan sekitar 200 halaman dalam tiga hari,” kata Yoneta Silfana Pantola, siswa Kelas 8 SMPK St. Yoseph Freinademetz.
Membangkitkan Rasa Percaya Diri
 Di Taiftob, ada dua Sekolah Dasar (SD), tiga Sekolah Tingkat Pertama (SMP), dan satu Sekolah Menengah (SMA).  Desa ini dihuni oleh sekitar 170 KK dan sekitar 1.000 jiwa.
Randiano Tamelan  adalah salah seorang relawan Lakoat.Kujawas. Seperti pemuda Timor lainnya, ia penuh kehangatan dan canda. Di Lakoat.Kujawas, ia mengajar anak-anak bahasa Inggris. Bagi Randi, sapaan akrabnya, anak-anak adalah bagian penting dari perkembangan wilayah.  “Pada awal kami membuat kelas, ada banyak anak-anak yang sangat pemalu. Atau bahkan ketakutan dan tak ingin bicara,” katanya.
“Saat disentuh atau dielus kepalanya, mereka bisa menangis. Saat dipanggil, mereka malah lari. Saya sedih dengan itu,” lanjutnya.
Menularkan Semangat Belajar
Tahun 1998, ketika kirisis moneter melanda Indonesia, menumbangkan Orde Baru, dampaknya hingga ke Tiaftob, banyak anak muda meninggalkan kampung. Seperti yang banyak terjadi di desa-desa di NTT,  kebanyakan anak muda memilih pergi ke Kalimantan dan Malaysia menjadi buruh demi mendapatkan fresh money.
Padahal, leluhur orang Timor, sejatinya bukan bangsa perantau. Leluhur Timor bertahan hidup mengelola alam dengan mengandalkan keuletan. Mereka tidak mengeluhkan kondisi kering gersang yang kerap dialami di musim kemaru. Bagi orang Timor, tanah yang mereka pijak adalah tanah yang memberi kedamaian.
Namun sore itu, ada keramaian di pekarangan rumah Om Willy – Richardus Willy Brodus Oematan. Di samping rumah, ada yang menumbuk, ada yang mencacah, dan mencampur. Orang-orang itu sedang praktek pembuatan pupuk organik. Mereka adalah para orangtua dari anak-anak yang menggabungkan diri ke dalam Komunitas Lakoat.Kujawas.
“Waktu dengar pertama kali Lakoat.Kujawas ini, saya acuh saja. Tapi saya ada dua anak yang selalu berkunjung ke sana. Kalau pulang selalu bawa buku. Saya tanya-tanya, lalu dia cerita dan anak saya gembira sekali,” kata Willy.
Akhirnya, berlalu waktu, dia melihat perubahan pada anaknya. Semakin rajin belajar dan suka membaca. Anak-anak desa juga sudah mulai berani tampil di sebuah pementasan desa. “Saya bangga sekali sekaligus haru,” katanya. Perubahaan-perubahan itu mendorong Willy untuk bergerak melihat Lakoat.Kujawas dan membangun diskusi, membangun mimpi bersama.
Merambah Kewirausahan Sosial
 Di tempat ini, di Timor secara umum, orang-orang menemukan resep dan adaptasi pangan dalam cuaca yang sangat eskstrim adalah bagian dari upaya bertahan hidup. “Ini adalah tradisi yang agung dan kami sedang beradu untuk menyelamatkan dan mengenalkannya kembali agar menjadi semangat,” kata Dicky.
Orang Timor sebagian besar hidup sebagai petani musiman, padi pada musim hujan dan jagung saat musim kering. “Pengetahuan-pengetahuan membaca alam. Merencanakan pertanian, acapkali dianggap hal yang tradisional, padahal ini lah yang menyelamatkan Timor sejak awal,” katanya.
Karena tuntutan ekonomi dan saringan informasi yang kurang baik, kebanyakan warga Taiftob merasa imperior terhadap warga kota. “Saya mendapati beberapa hal yang sangat menyedihkan. Jika ada tamu dari kota, warga menghidangkan mie instan, karena itu dianggap makanan dari kota. Ubi, singkong, jagung, sudah tidak. Ada ungkapan bilang begini, ‘malu hati kita kalau kasi tamu makanan orang kampung,” kata Dicky.
“padahal makanan, adalah identitas. Makanan adalah proses penemuan manusia.” , lanjut Dicky.
Di Lakoat.Kujawas anak-anak dan orang dewasa kembali mendalami akar budaya yang sempat menghilang dari kehidupan bermasyarakat di Taiftob.  Selain mempelajari kembali Natoni tradisi berbalas pantun saat menyambut atau melepas tamu, mereka kembali menekuni tenun dan anyaman bambu yang telah lama ditinggalkan karena dahulu dianggap sebagai aktivitas ekonomi yang terlalu lambat menghasilkan uang.
Bersama, mereka membuat Sambal Lu’at – sambal khas Timor. Sambal Lu’at produksi Lakoat.Kujawas adalah ketakjuban. Rasanya gurih, kecut, dan pedas. Sambal ini dapat bertahan lama, berminggu-minggu. Lembaga ini membuat sambal setiap 2 minggu sekali. Mereka mangambil pasokan cabe dari desa sekitar. Namun tetap mengutamakan hasil pertanian cabe dari desa Taiftob.
Rata-rata produksi Sambal Lu’at mencapai 15-20 kg per dua pekan. Lakoat.Kujawas menjualnya secara online lewat akun media sosial milik komunitas. Sambal Lu’at dikirim ke berbagai penjuru tanah air, dengan permintaan pasar paling tinggi dari Jakarta. Harganya bervariasi antara 15-25 ribu per botol.
Selain Sambal Lu’at mereka juga memproduksi dan menjual Jagung Bose dan kain tenun. Keuntungan bersih hasil penjualan akan dimasukkan ke lembaga sebesar 10 persen, untuk kepentingan bersama. Inilah yang mereka sebut sebagai skema kewirausahaan sosial.
Skema ini, menjadi tempat membangun hubungan sosial agar semua pelaku ekonomi saling terhubung. Prinsipnya, semua pilar kehidupan akan berjalan seiring dan saling mendukung. Semua potensi ekonomi saling terkait.
Taiftob kini menjadi desa yang aktif. Kekuatan bersama sedang bertumbuh. Ibarat petani yang giat bekerja di kebun, sore hari kembali ke rumah yang hangat, memetik viol dan bernyanyi.

Husa sele le,le le hao
Neno hena maeb, neno hena maeb
Ae bijo le natu sa’ne bae
Helem aela lo lo sai sa’
Sa’ ne bae
Saat senja hari,
selepas bekerja merasa lelah,
sambil menatap senja,
bangkitkan semangat
menyambut hari berikut.

Ana-Ana Desa Taiftob Ju Bisa

Artikel ini pernah dimuat di website Skolmus 23 Agustus 2017
Bangga rasanya melihat 15 remaja dari Desa Taiftob, Mollo, TImor Tengah Selatan berhasil memamerkan karya fotografi mereka.
Akhirnya, setelah mengikuti workshop fotografi bersama SekolahMUSA dan Gadgetgrapher NTT, 15 anak remaja dari Komunitas Lakoat Kujawas, desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan memamerkan karya mereka di Pameran Foto dan Arsip perpustakaan bergerak Komunitas Lakoat Kujawas, di Kantor Camat Mollo, 12 – 19 Agustus 2017. Dalam catatan, pameran ini dikunjungi 800 kali, untuk pameran selama 6 hari.
Pameran foto bertemakan “Pulang” ini juga bagian dari Festival warga desa Taiftob, Festival ‘Pau Kolo” yang diselenggarakan oleh Komunitas Lakoat Kujawas. Refleksi “Pulang” adalah melihat kembali sejarah Mollo, melihat kembali kampung halaman dengan segala potensinya.
Sebelumnya, anak-anak remaja ini belajar bersama SekolahMUSA tentang fotogarfi selama 4 kali workshop dan bersama warga desa mereka merekam aktivitas harian mereka ke dalam medium foto lalu memamerkannya. Peserta dipinjamkan kamera poket selama 2 minggu dan mereka bebas bercerita terkait diri mereka, keseharian dan lingkungan mereka melalui medium foto.
Selain workshop dan pameran foto jugda ada workshop tari, teater, kelas bahasa Inggris, workshop sains (membuat robot sederhana) hingga presentasi teater oleh anak-anak Komunitas Lakoat Kujawas. Festival ini juga adalah ajang kolaborasi antara komunitas di Kupang dan Kapan, TTS.
Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas yang menyediakan wadah bagi anak dan orang muda, relawan dari berbagai disiplin ilmu, kelompok perempuan dan para petani, yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan komunitas kesenian, perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan homestay di desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan.  Informasi lain terkait Lakoat.Kujawas bisa diikuti di Instagram @lakoat.kujawas dan toko online kami di @lkjws.co
Foto-foto hasil karya 15 Anak ini dapat dilihat dibawah ini:
Karya Nesta Banfatin

Karya Rani Laka

Karya Resi Nati

Karya Santi Banoet

Karya Petra Sisilia Tafui

Karya Dino Sesfaot

Karya Elen Talan

Karya Endiko Tapatab

karya Findy Lengga
Karya Alma Gabe

Karya Angky Sanam

Karya Asry Banoet

Karya Calista Oematan


Membuai Ratu Lebah Demi Lestarinya Madu Mollo

pernah dipublikasi di laman tutur tanah air edisi 4 Juli 2017
Tautan antara hasil alam dan tradisi yang melebur, membuat sebotol madu dari Mollo menjadi istimewa. Bukan soal harga dan bagaimana rasanya, tetapi kisah memanen dan prosesnya yang membuat madu ini berharga.
Mollo, sebuah daerah berlokasi di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Selain tenun, biasanya traveler juga mencari madu di sini.
Dicky Senda namanya, ia seorang penggiat Komunitas Lakoat Kujawas. Komunitas ini digandrungi muda-mudi yang bersemangat membuka layar wisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka selalu memperkenalkan madu dari desa adat yang ada di kabupaten tersebut. Dicky menekankan, bukan madu yang dijual, tetapi kisah bagaimana pengambilan madu.
Tidak sembarang orang bisa mengambil madu. Meo Oni, seorang yang terpilih secara khusus untuk mengambil madu. Salah satu ritual yang Meo Oni lakukan ialah membuai Ratu Lebah dengan syair dan pujian. Ucapan ini ibarat doa yang memiliki kekuatan kuat. Seperti istri lain, kata Dicky Senda, proses panen madu ini dilakukan agar Meo Oni tidak diserang lebah.
“Orang membeli madu dari Mollo, karena cerita di balik proses pengambilan madu, yang di satu sisi madu ini masih sangat terjaga karena ini diambil dari hutan tanah-tanah Ulayat atau hutan adat,” tutur Dicky Senda.
Ternyata, Meo Oni yang terpilih perlu menjalani beberapa pantangan dan ketentuan adat istiadat wilayah setempat. Beberapa hari sebelum panen, ia tidak boleh memiliki pikiran negatif, salah satu caranya dengan bersemedi. Bila ada ritual yang terlewatkan, Meo Oni bisa jatuh, bisa meninggal, atau dia sakit.
Dicky Senda dan kawan-kawan selalu menerakan potongan cerita ini dan alamat pada kemasan madu yang dijual, sehingga konsumen tak hanya bisa membeli madu Mollo, tetapi juga bisa menelusuri kisah di balik madu yang direguknya.

Penulis: Manda Mandes | Eddy Prayitno

Reading for The Future

published on Tempo English Weekly Magazine 21 February 2018 
TEMPO.COJakarta - Indonesians appear to have a low interest in reading, at least according to the World’s Most Literate Nations study published by the Central Connecticut State University in 2016, which ranked Indonesians at 60 of the 61 nations studied. The lack of interest in reading has encouraged literacy movements in a number of regions to take action. The Lakoat.Kujawas community has opened a library in the Taiftob village, East Nusa Tenggara, where English and writing classes are also made available for children and teenagers. Meanwhile, youths in Enrekang, Southeast Sulawesi, and in Agam, West Sumatra, have opened libraries to help foster a culture of reading among villagers. To commemorate International Mother Language Day on February 21,Tempo English reports. 
Celebrating Literacy
The Lakoat.Kujawas community has stirred a love for books and learning among North Mollo locals through the community’s library and art activities. 
I want to become a pastor," said Markus Aldino Sesfaot. "But also want to be like my idol, Detective Conan." Dino, short for Aldino, is still an eighth grader at the St. Yoseph Freinademetz Catholic Middle School in the Taiftob Village, North Mollo, South Central Timor Regency. The village is about 130 kilometers away from Kupang, the capital of Nusa Tenggara Timur (NTT). But although the capital is quite far from his village, about a four-hour trip by car, the 13-year-old is already working to make his dream a reality. 
Conan is no real-world person. The detective is a manga character created by Japanese author Aoyama Gosho. Conan is intelligent, has a sharp eye for clues, is kind and loves to help others. Dino discovered Conan about two years ago when he was in sixth grade. Since then, he has read around 72 volumes in the Detective Conan series, now in its 92nd volume. Dino has not read all 92 because the Lakoat.Kujawas Library only has the first 72 volumes. 
Apart from Conan, Dino has also devoured series of Doraemon, a manga by Japanese author Fujiko F. Fujio and fairy tale books, not to mention the numerous natural sciences encyclopedia volumes he found in the library. He loves reading so much that last year he borrowed 126 books from the library. "I always read after I’ve studied and done my homework," he said. 
As it happens, the Lakoat.Kujawas Library is only about a 15-minute walk from Dino’s home. Besides reading, he’s also taking writing classes as well as theater and English classes with other children from the Taiftob Village. 
His eagerness to learn with Lakoat.Kujawas has led Dino to begin writing. But because he doesn’t own a computer, he writes his short stories in notebooks. There are stories about a struggling samurai, a kind-hearted parrot, and a battle between mankind and aliens on Earth. He wishes to publish books when he has become a pastor. 
It looks like part of Dino’s plans will be fulfilled sooner than he thought. The library’s administrators are now in the process of selecting one of his short stories to be published along with 14 other works of fiction written by children in the village. Next month, the anthology will be published by an independent publisher. "This book is our library’s long-term product," said Dicky Senda, founder of the Lakoat.Kujawas. Dicky himself recently published a work of fiction titled Sai Rai. 

Lakoat.Kujawas: Comfort Food And Literature From The Heart Of Timor

Writer: Grace Tan Johannes, published on Indo Expat April 11, 2017

Munching on shrimp dumplings fried in lard (babi oangke) at lively garden weddings, dipped in a tangy chili sauce bursting with flavours of Timorese cilantro, mint and lemon zest (sambal lu’at). Christmas morning aromas of savoury lard biscuits (biskuit asin) fresh out of the casuarina pinewood oven, dipped in a hot brew of homegrown coffee or washed down with a refreshing glass of homemade raspberry cordial (istaroop). A simmering pot of white creamed corn porridge (jagung bose) with slices of wild honey roast beef and spicy tomato eggplant stew.
These are not your typical flavours of Indonesia. These are the flavours that remind Christian Dicky Senda of his family home in Taiftob, a village in the highlands of Mollo – also known as “The Heart of Timor.”



For the 30-year-old novelist and food activist, Timorese cuisine was never just about sentimental home-cooked meals he learned from his mother. Behind the thankless mundane chores of growing and preparing food, stories that bond families and communities in a powerful cognizance of their natural world await to be discovered. The vision to keep these stories alive in the next generation through literature, cultural activities and a sheer appreciation for Timorese home cooking and agriculture culminated in the founding of his social enterprise Lakoat Kujawas in June of 2016.
Lakoat Kujawas (“loquat and guava”) is a homestay and community library in Taiftob, which produces local food products to market on social media. It also hosts food- and literature-themed cultural programmes for local children.
“Loquat and guava are about the sweet (childhood) memories of the harvest season in Mollo, representing the dreams and fresh eyes young people see the world with,” explained Senda, who has a bachelor’s degree in psychology.
He gave up promising careers as a school counselor in Yogyakarta and Kupang to start Lakoat Kujawas in his parents’ provincial home.
Senda’s cooking is among the most memorable and satisfying I’ve enjoyed throughout my travels in Indonesia: hearty red beans in pork bone broth and lard sautéed bittermelon over a generous serving of jagung bose and a fiery dash of sambal lu’at. In addition to the fresh homegrown ingredients unique to Mollo, Senda attributes the flavours in his kitchen to diverse multicultural influences.
“My mother’s parents sent her to live with a local Chinese family for one purpose: to learn cooking,” Senda recalled. “There is a variant of sambal lu’at which uses bamboo shoots – it tastes very good. I believe that’s one manifestation of Chinese influence.”
Senda said Dutch influences are also apparent in Mollo cuisine – especially in baked goods. Nearby Kapan (North Mollo’s district capital) happens to be the first town the Dutch ever built in the highlands of Central Timor. The Bugis diaspora out of South Sulawesi has also been influencing Mollo cuisine since their arrival in the 1950s. Additionally, Senda’s grandmother who is from Magelang added some Javanese heritage to the Senda kitchen.
Throughout March, Lakoat Kujawas hosted Mnahat Fe’u, a harvest festival named after a Timorese poetic circular dance traditionally performed as a harvest thanksgiving ritual. “The artistic traditions of Mollo – poetry, circular dances and songs – are devoted to our agrarian heritage,” said Senda, who designed the Lakoat Kujawas version of the celebration in a modern format while preserving its original philosophical meanings. He said he intended to make Mnahat Fe’u an annual event.
Lakoat Kujawas’ Mnahat Fe’u consisted of English classes for children, film screenings, field trips for learning about medicinal herbs, creative writing classes, interactive discussions on Mollo culture and history, poetry performances, a theatre production, music and dancing. The festival closed on March 26 with local children contributing harvest from their family gardens, and a communal cookout of local delicacies in the Lakoat Kujawas kitchen.
In addition to the recent harvest festival, in early January Lakoat Kujawas hosted the Elaf Dame “festival of peace” right after the Ephiphany feast closing the Christmas season.
“Christmas, in our faith, celebrates the birth of the Prince of Peace. Elaf Dame attempts to convey a universal message of peace. For children in Taiftob this means honouring solidarity, respect and human rights through arts and literature,” said Senda, adding that many children here have parents working outside Timor as migrant workers.
“Even when one has vast lands and fertile gardens, when access to profitable markets are difficult and farmers have no cash, this pushes people to take migrant work,” said Senda, clarifying that Timorese migrant workers often work under questionable conditions. “I am sad to hear many Mollo migrant workers coming home with HIV/AIDS after working in Kalimantan’s palm oil plantations.”
Senda wishes there were vocational schools in Mollo for agriculture, but instead there are two in informatics. “This is very strange. What we need is a young generation empowered to manage Mollo’s agricultural potential while staying rooted to our identity as highland farmers and guardians of our natural world.”
He added that vocational education in agriculture, combined with serious government policies to facilitate Mollo farmers’ access to sustainable and profitable markets, is crucial for keeping the local economy alive and preventing Timorese families from being torn apart by migrant work. Unfortunately, the government has demonstrated little concern for making local education and marketplaces relevant for Timorese rural communities.
To run its programmes, Lakoat Kujawas collaborates with academics, Indonesian university students, non-governmental organizations, Timorese historians, the local church, Mollo indigenous associations and thespians and dancers from Kupang.
In the future, Senda aspires to run a residency for Indonesian and foreign writers, artists, academics, filmmakers and photographers.


This residency would establish a space for knowledge exchange between foreigners and locals in Mollo, map Mollo’s cultural and natural resources for relevant development strategies and build a library that documents the heritage of Mollo ancestral knowledge systems.
“In addition to good education, young people in Mollo also need a broad range of real world knowledge and a strong sense of local identity in order to readily embrace the challenges of their generation and be perceptive of local opportunities,” said Senda. “This is why we need to prepare the children with English. Tourism and economic development will make Mollo more open to expat presence. By being prepared, we instill confidence and authority in the young generation to be the hosts of their own homeland.”
Lakoat Kujawas sells Mollo food products (sambal lu’at, jagung bose, wild honey, pineapple jam), is open to expat volunteers for running workshops or English classes and accepts donations of cash and books. It is currently raising funds to buy an LCD projector for bi-weekly film screenings. To donate or volunteer, contact Christian at lakoatkujawas@gmail.com or +628138037075. Lakoat Kujawas is @lakoat.kujawas on Instagram.

Fast Facts
Country:                                  Indonesia
Province:                                Nusa Tenggara Timur (NTT)
Land area:                               208,22 square kilometres (North Mollo district)
Largest city:                           Soe (TTS Regency)
Population:                           24,352 (2015 estimate of North Mollo district)
How to get there:              Flights into international airport at Kupang
Car rental or shared “travel” shuttle to Kapan via Soe.
Tell your driver to look for Pak Polisi Senda’s house in Jalan Baru, Taiftob.
What to bring:                     Camera, hat, sunscreen, insect repellent.
Hiking shoes, swimming costume, and daypack – ask Christian about tours to Mount Mutis or picnics at the Serbau River Valley.
                                                      Flashlight, extra batteries, power bank, no-frills cellphone (non-smartphone).
Books to donate to the Lakoat Kujawas library
Cash for transactions – draw cash in Soe or Kupang.