We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label east nusa tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label east nusa tenggara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2019

Mnahat Fe'u Heritage Trail #3: Mempertemukan Komunitas, Pangan dan Ekologi


Desa Taiftob, 6 Juni 2019

Selamat datang di Komunitas Lakoat.Kujawas. Hampir tiga tahun berjalan, kami menciptakan banyak kesempatan dan ruang-ruang kreatif. Kami melihat perubahan itu menyentuh anak-anak, orang muda, kelompok perempuan, para petani, sekolah, Gereja dan tokoh adat. Dengan semangat kerja kolaborasi dan kerja jaringan, kami senang dan bangga bisa terhubung dengan Anda sekalian. Terhubung untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi kreatif bagi warga desa, ruang dan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan diri mereka. Berkolaborasi dengan warga aktif desa Taiftob kami mengembangkan perpustakaan, komunitas kesenian, kewirausahaan sosial dan ruang arsip seni, budaya dan sejarah Mollo. Termasuk program heritage trail yang sedang Anda baca ini: Mnahat Fe’u, sebuah perayaan sepanjang musim panen tahun 2019. Mnahat Fe’u adalah salah satu jenis tarian bonet yang dirayakan ketika musim panen. Mnahat Fe’u kami berisi serangkaian lokakarya tarian bonet musim panen, lokakarya pengolahan buah menjadi selai, wine, liquor dan manisan. Heritage trail ini sekaligus sebagai upaya kami melakukan pengarsipan informasi sejarah, budaya dan kesenian serta merevitalisasi kampung kami. Semua yang menyenangkan ini terjadi di musim panen, terlebih bahwa inisiatif program ini datang dari warga sendiri.


Dampak

Sebagian besar keuntungan program ini kami investasikan untuk membiayai kegiatan pengembangan diri warga desa Taiftob khususnya kelas menulis kreatif dan kelas tenun bagi remaja. Pelatihan-pelatihan bagi kelompok orang muda dan kelompok petani perempuan. Anda sudah ikut mendukung komunitas Lakoat.Kujawas mengembangkan model kewirausahaan sosial warga aktif, mendorong ekonomi kreatif di desa Taiftob bertumbuh serta ikut menyadarkan warga Taiftob bahwa kekayaan alam dan sebi budaya yang mereka punyai penting untuk diapresiasi, dijaga dan dilestarikan. Program ini ikut mempromosikan dan meningkatkan kesadaran semua pihak terkait kelestarian lingkungan, misalnya dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pupuk kimia.


Jenis Kegiatan

Kami mengajak Anda untuk mengeksplor pasar tradisional di Kapan, berkunjung ke situs batu, hutan dan mata air. Mengikuti lokakarya seni tradisi bernama BONET khusus musim panen. Mencoba berbagai jenis pangan lokal sehat bebas MSG dan minyak sawit yang diolah dengan resep leluhur. Sharing pengalaman komunitas lakoat.kujawas membangun ekosistem warga aktif dengan pendekatan kewirausahaan sosial, untuk keberlanjutan berbagai program seni budaya dan pertanian di desa Taiftob.

Mnahat Fe’u Heritage Trail direncanakan berlangung pada hari Kamis, 6 Juni 2019, bertepatan dengan hari pasar tradisional di Kapan. Acara berlangsung mulai jam 7 pagi dan berakhir jam 4 sore. Untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini setiap peserta membeli paket seharga Rp. 250,000 /orang dewasa, sudah termasuk:
1. Pengalaman belajar bersama komunitas warga, belajar budaya dan sejarah desa Taiftob (terutama relasi orang Mollo dengan batu (fatu) dan air (oe), termasuk mendukung upaya revitalisasi kampung yang digagas oleh lakoat.kujawas. Eksplor pasar tradisional.
2. Satu kali makan siang pangan lokal sehat dari hasil pertanian organik warga.
3. Dua kali snack pangan lokal sehat.
4. Satu paket oleh-oleh produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas (produk spesial: manisan kulit jeruk, sagu dan kerupuk labu pempung/pumpkin).
5. Guide lokal.

Jika membawa sopir dan ingin ikut makan besar dan kudapan tanpa ikut agenda trail yang lain, dikenakan biaya Rp. 75,000/ orang.

Bagi peserta diharapkan untuk membawa botol minum/tumbler, obat-obatan pribadi, sepatu kets atau sandal gunung yang cocok untuk trekking. Lokasi kami ada di jalan Kampung Baru No. 2 desa Taiftob, Kapan, Mollo Utara. Kurang lebih 18 km ke utara kota SoE atau 130 ke arah timur kota Kupang. (google maps komunitas lakoat.kujawas). Kami menyediakan penginapan sederhana di rumah warga, kuota terbatas. Mohon reservasi terlebih dahulu. Jika membutuhkan jasa travel/sewa mobil dan ojek, silakan kontak ke Nando Ojek 081290528451 dan Hendrik Travel (mobil Avanza) 081210999432.



Info dan Pendaftaran

Info lebih lanjut dan pendaftaran silakan kontak email dickysenda@gmail.com atau whastapp 081338037075 (Dicky). Paling lambat Selasa, 4 Juni 2019. Terbatas hanya untuk 15 orang. No. Rekening BRI 473201013229535 an Christianto Senda.

Lampiran Agenda Lengkap

1. Jam 7 – 9: Eksplor pasar tradisional Kapan
2. Jam 9.30 – 10.30: Welcome ceremony: natoni, dilanjutkan sarapan pagi.
3. Jam 10.30 – 12.00: Trekking ke situs batu, hutan dan mata air di desa Taiftob. Mengenal lebih dekat project revitalisasi mata air. Tanam pohon di situs mata air Oelpuah
4. Jam 12.00 – 13.30: Makan siang pangan lokal dengan tatacara ala orang Mollo tempo dulu. Menu penutup spesial: es krim, laru dari nira pohon aren dan minuman farmentasi buah (liquor dan wine).
5. Jam 13.30 – 15.30: Workshop tari dan tradisi tutur khusus musim panen: bonet.
6. Jam 16.00: Ngopi sore menu pangan lokal, bagi-gai oleh-oleh produk lokal kewirausahaan sosial Lakaot.Kujawas
7. Jam 17.00: Sayonaraaa…





Kami sengaja mengumumkan kabar baik ini jauh hari bagi teman-teman di luar NTT. Heritage trail terakhir di musim panen tahun ini akan berlangsung tanggal 16 Agustus 2019. Highlightsnya: permainan tradisional Mollo, kere-kere, karnaval komunitas dan menu Cina Mollo peranakan. Catat tanggalnya, booking tiket pesawat sekarang, kami tunggu di Mollo.











Senin, 26 September 2016

Kabar Baik Dari Perpustakaan Lakoat.Kujawas

Perkenalkan, kami Lakoat.Kujawas sebuah gerakan anak-anak muda di NTT di bidang kewirausahaan sosial, dirintis di desa Taiftob, kecamatan Mollo Utara, kabupaten Timor Tengah Selatan. Mengapa dimulai dari desa? Melihat berbagai tren yang terjadi dewasa ini, orang-orang, terutama generasi muda cenderung untuk meninggalkan desa atau kampung dan mengadu nasib di perkotaan. Di saat yang sama, banyak sekali potensi di kampung yang masih kurang tergarap dengan baik bahkan ditinggalkan begitu saja. Beberapa diantara kami kemudian memutuskan untuk pulang kampung dan mencoba melakukan usaha-usaha di bidang ekonomi kreatif di kampungnya. (Baca Kisah Dibalik Lahirnya Lakoat.Kujawas). 


Di Mollo kami menemukan banyak sekali potensi di bidang pertanian, ekowisata, sejarah dan budaya (Baca: 5 Fakta Menarik Tentang Mollo). Di sisi lain, kita semua juga tahu bahwa permasalahan pendidikan, kesehatan, atau buruh migran ilegal ada dan terjadi di depan mata. Ini pekerjaan semua orang, bukan saja pemerintah namun bagaimana masyarakat juga berperan secara aktif, saling dukung dan saling membangun. (Baca: visi misi Lakoat.Kujawas).

 Lakoat.Kujawas memilih jalan kewirausahaan sosial sebab kami percaya, ini model yang pas dan cocok untuk Mollo. Pas dengan prinsip 3P, peple, profit dan planet. Lakoat.Kujawas adalah kewirausahaan yang melibatkan petani dan penenun lokal, anak-anak dan kaum muda. Kami mengutamakan sharing economy, dimana semua pihak yang terlibat punya akses juga untuk peningkatan ekonomi. Dan sejalan dengan peran Mollo sejak dulu kala sebagai penjaga gunung, mata air dan hutan. Karena Mollo adalah jantungnya pulau Timor. 

Lakoat.Kujawas mengintergasikan desa wisata dengan workshop tenun, dapur pangan lokal, perpustakaan kampung, rumah produksi oleh-oleh khas Mollo (bekerjasama dengan petani dan penenun), homestay yang dikelola warga (termasuk guide lokal), ruang kerja kolaborasi dan diskusi. (Baca: Lakoat Kujawas dan Kerja Pengarsipan). Ke depan mimpi kami adalah membangun radio komunitas, punya koperasi yang beranggotakan anak-anak muda, serta punya program residensi seni dan lingkungan bagi seniman, peneliti, dosen, aktivis sosial budaya, mahasiswa, dll. Sejuah ini kami sudah mulai membangun jaringan dengan pemerintah desa Taiftob dan Desa Bosen. Berkolaborasi dengan kelompok tenun desa Taiftob dan desa Bosen. Juga melakukan ujicoba paket trekking, wisata pangan lokal dan kelas tenun bekerjasama dengan petani dan penenun di kampung Manesat Anin dan Noebesi di Mollo Selatan. (Artikel Tentang Paket Ekowisata di Mollo)

Berbicara Perpustakaan kampung, kami merintisnya di desa Taiftob. Dari pengalaman Dicky Senda, penulis sastra yang bergabung di Lakoat.Kujawas dan tinggal di desa Taiftob, ada hal menarik terkait minat baca ia dan teman-temannya di tahun 90an dan minat baca anak-anak di tahun 2016. Dicky melihat bahwa minat dan kerinduan itu masih sama, namun seiring berkembangnya zaman, akses ke perpustakaan atau ruang membaca bukannya semakin membaik malah hampir tidak ada. Perpustakaan yang dibangun pemerintah di sekolah-sekolah hanyalah ruang kosong, sedangkan ruang membaca yang tahun 90an dirintis oleh para pastor/misionaris sudah tidak ada lagi. Sebagai penulis, Dicky kemudian berinisiatif membangun perpustakaan kampung di bekas gudang rumahnya. Perpustakaan yang tidak hanya sebagai tempat pinjam atau baca buku saja, melainkan bisa jadi ruang diskusi, belajar melukis, menulis kreatif, matematika atau bahasa asing, menonton film, dan latihan teater atau tari, bekerjasama dengan teman-teman yang sudah bersedia jadi relawan pengajar. Didukung Komunitas Buku Bagi NTT, Donasi Buku ID, teman-teman relawan dari Perkumpulan Pikul, dan pribadi-pribadi yang juga punya perhatian besar pada dunia membaca di NTT, akhirnya perpustakaan ini dibuka bulan Agustus 2016. Awalnya hanya mengandalkan koleksi buku sastra dan satu buah rak milik keluarga Dicky. Sejauh ini sudah ada donatur yang membantu mengadakan satu unit rak buku baru dengan buku bacaan anak, meski itu masih minim. Kami mencoba untuk terus menggalang buku bacaan, alat tulis, alat menggambar, white board, rak buku, meja membaca dan karpet, dll. 

 Kami senang dan bangga, karena lokasi perpustakaan yang strategis di tengah kampung, dikelilingi 2 TK, 2 sekolah dasar, 3 SMP, 1 SMA dan 1 SMK menjadikan perpustakaan Lakoat.Kujawas selalu ramai setiap sore. Jumlah anggota aktif 65 orang, mayoritas pembaca setia adalah anak usia SD dan SMP dan dibantu 3 relawan penjaga perpustakaan. Kami optimis bahwa ruang kreatif ini bisa menjadi satu alternatif kegiatan/aktivitas baru bagi warga Mollo. 

 Apa Saja yang Bisa Anda Donasikan?

1. Buku yang kami butuhkan: buku bacaan anak, majalah anak, buku dongeng, cerita rakyat, dsb. Buku cerpen atau novel untuk remaja dan dewasa. Majalah ilmu pengetahuan seperti National Geographic dan ensiklopedia. Buku terkait pertanian dan teknologi pertanian. Majalah pertanian (Trubus, dsb). Buku resep masakan, buku panduan ketrampilan menjahit, menganyam, bordir. Buku terkait ekonomi kreatif.
2. Tenaga. Berminat jadi relawan pengajar bahasa asing, matematika, lukis, tari, teater? Whatsapp 081338037075.
3. Donasi rak buku, karpet, meja belajar, white board dan LCD/proyektor (untuk keperluan nonton film dan diskusi).
4. Buku tulis, alat tulis, alat melukis dan mewarnai

Kami ada di Jalan Kampung Baru No. 2 Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT 85552. No Telpon 081338037075. Donasi bisa dikirim langsung ke alamat tadi. Atau ditransfer ke Rekening Bank BRI No. 0277 01010910 50 5 atas nama CHRISTIANTO SENDA (No. Kontak 081338037075). 


Untuk donatur buku di wilayah Kupang, buku bisa didrop ke relawan Buku Bagi NTT Regio Kupang. Saudara Ellen Bataona (No Hape 085228415720). Alamat Jalan Bundaran PU Gang II NO. 1 (Belakang Apotek Karona Farma Oebufu), Oebufu Kupang. Dari arah Bundaran PU, gang di sebelah kanan setelah cabang jalan Soverdi.

Terima kasih. Salam #LakoatKujawas

#Mollo #Timor #LKJWS #socialenterprise #creativeeconomy #library #homestay #coworkingspace #donasibuku #bukubagiNTT #bukubagiMollo


Anak-anak Mollo

workshop tenun bersama mama Via di Noebesi




Produksi kopi kerjasama wirausahan muda Mollo dengan petani lokal

Aktivitas di Lakoat.Kujawas social enterprise

Mama Via, petani dan penenun di kampung Noebesi





Kamis, 15 September 2016

Knowing More Than Just Mollo


Lakoat.Kujawas Homestay is located on Jalan Kampung Baru, No. 2 Taeftob Village North Mollo, Southern Central Timor, East Nusa Tenggara. It is located 130 km away from Kupang or 18 km north of SoE City, lakoat.kujawas offers more than just a house to stay, enjoying the typical fresh air of the mountains, a wealth of history and tradition, the hospitality of Mollo people, cooking and enjoying a variety of local food directly from the community houses. Managed by Christian Dicky Senda, a short story writer who has a great interest in arts and culture of Mollo with his farmer parents and have a great interest in the culinary world. Dicky is currently researching the diversity of Mollo local food along with its processing recipes for the purposes of writing literature. (Mollo, Selayang Pandang, can be readhere)
the host: Dicky, Mama Rika and Bapa Senda

We offer a number of special activities. If you're in lakoat.kujawas on Thursday, you will be invited by Dicky to explore traditional markets in Kapan, the capital district of Northern Mollo. There, you will find vast organic agricultural products from the community, including food ingredients that are rarely found in markets. You can shop and cook them together with Dicky and Mama Rika in lakoat.kujawas kitchen. Another excitement that we offer is trekking to several villages surrounding Tafetob Village, meeting with the weavers and eating local food in Bosen Village (weaving class with Mama Yakobeth and friends is a special offer for you), interacting with oranges and betel farmers in Lelokasen. Or, you can choose to do the trekking, further and more challenging to Manesat Anin and Noebesi village as far as 8 km, round trip on crystal clear Sebau River from Mutis Mount, heading to the south coast of Timor. In Noebesi and Manesat Anin, you can visit the weaver and community garden, harvesting sweet potatoes and vegetables, learning to make bose corn and cooking with local residents. There are several special menus, such as bose corn, boiled yellow cassava and roasted sweet potatoes, all of which can be enjoyed with grilled chicken and gala-gala (turi) flowers lu'at chutney.Don't forget to bring books or make some fun activities with children there. 
Kapan traditional Market

Lakoat.Kujawas Homestay is integrated into social entrepreneurship project tried to be developed by Dicky Senda tried together with his native Mollo friends with the mission of ecotourism development in Mollo. Those integrated include co-working space with library and discussion room as a platform for various employment opportunities in achieving and collaboration work with Mollo community in arts, literacy, culture, agriculture and creative economy. Lakoat.Kujawas is also pioneering an online store on Instagram, selling several typical products of Mollo, such as typical organic lu'at chutney of Mollo, Mollo homemade coffee, organic corn bose, Mollo honey forest and woven fabrics of Mollo. So when visiting Mollo, you will not only stay and enjoy the richness of nature and culture of Mollo, but you can also try a brand new experience in interacting and exchanging experiences with the locals, learning local wisdom and contributing anything, moral and material for the development of local resources. (See also 5+1 Things You Needto Know about Mollo).

Below are several other tourist destinations that you can visit while staying at Lakoat.Kujawas.

1.      Oehala Waterfall, located in the region of Central Mollo. It takes about 20 minutes by private vehicles leased from local people to reach this cascading waterfall. You can enjoy sunset with a view Mollo Mount and Noelmina Valley from Bolaplelo altitude, stopping by orange and vegetable plantations Oelbubuk and Netpala. Netpala Village itself is one of the oldest indigenous villages in Mollo.
Oehala waterfall

2.      Fatumnasi, it has natural forests and rivers. It is one of the entrances to Mutis Mount, which is considered sacred by people Mollo. In protected forest near Fatumnasi, you can see Ampupu trees, a type of flourishing eucalyptus, even a part of forest had been dwarfed, and forming a natural bonsai. In Fatumnasi, you can stay at Lopo Mutis Homestay, run by Anin family. The host, Father Matheos Anin is friendly figure and is one of the elders of Fatumnasi. Staying in Lopo Mutis in the form of ume kbubu, a traditional house of Dawan tribe, that will provide an amazing experience. For you who are interested in learning the culture and history of Mollo people, Father Anin is one of proper speakers. If you come to Fatumnasi on Monday, you can go to traditional markets and shop for local food ingredients to be cooked with family of Father Anin. In the afternoon, it can be an opportunity for trekking to the carrot, potato, leek and garlic plantation owned by community or bathing in the river of which springs originated from the slopes of Mount Mutis. Do not forget to buy woven fabrics created by women in Fatumnasi as souvenirs. On the way to and from Fatumnasi, there are several attractive points that you can visit, including Fatukoto Lake, and drop by to one of the important sites of Mollo people, namely Fatunaususu which has become a symbol of opposition of the residents who refused marble mining, a dozen years ago. 
Netpala Village
3.      Promenade in Kapan Town, the capital district of North Mollo. It is one of the old towns in Timor, built by the Dutch when they desired control over the sandalwood trade route in Timor, reportedly it was once called Midden Timor, for it became a halfway point in the territory controlled by the Dutch, before being moved to SoE, into Zuid Midden Timor, a level equals to regency and remains until today. Prior to the Dutch entry, Kapan itself was still a part of Oenam kingdom, led by King Sonbai, and there were many Chinese who came to trade and married to local residents. The traces of Chinese descents in Mollo can still be found today in Chinatown, O'besi Village to remote areas in mountain slopes of Mollo. Since the 1950s, the people from Bugis and Sabu also entered Kapan, from initially traded every day in markets, to finally settle down and form its own community. Bugis Village in the old market areas (nearby Embun Mollo VIllage and Chinatown) and the village settlement of Sabu people in new markets. In Embun Mollo Village, Rest house was once built, and is highly popular as a guest house for important officials and guests visiting Timor, including General Nasution. Unfortunately, the historic building was torn down and rebuilt for a new structure, thus losing its historical value. In Kapan, if you are interested in learning the art and culture, you can meet two key figures, some kinds of physicians who master various Mollo traditional treatments, and one the other one is speaker of indigenous languages, especially in the field of marriage which is increasingly rare to encounter. Of course, in Kapan, there is also a platform for creative economy or social entrepreneurship called Lakoat.Kujawas which is seeking to collect local potentials into a new force in the hope of being managed by community for common interest.
4.      Kote Fortress in Sebau, was one of the royal bastions in Mollo once upon a time. Currently, the ruins of the bastion and traditional houses are in preservation efforts by the next generation. Nearby the castle, there is a river flowing throughout the year, crystal clear water flowing from Mutis Mount towards the south beach. There are several points of camping on the riverbank that can be your choice to spend the night and enjoy the cool air of Mollo Valley.
Fatumnasi
For more information, you can contact us:
Telephone: 081338037075 (Dicky Senda)
Or see our profile on Instagram @lakoat.kujawas, Twitter @lakoatkujawas, blog www.lakoatkujawas.blogpspot.co.id and Page www.facebook.com/lakoat.kujawas

NB: Currently, lakoat.kujawas provides 2 bedrooms with a capacity of 2 people per room, and we are currently building two units of ume kbubu (traditional house of Dawan tribe) with a capacity of 3 people per ume kbubu in Taeftob Village. In the near future, lakoat.kujawas will also be integrated with other homestays run by residents in Taeftob Village and in other villages in the region of Mollo. The tariff per room is IDR 75,000/night, including breakfast. The price is not included lunch and dinner, public transportation (taxibikes or shuttle) to several location points and local tourist guide services.
the Hill in Netpala Village
How to reach Lakoat.Kujawas?
Our location in on Jalan Kampung Baru, No. 2, Taeftob Village, North Mollo, TTS, NTT.
From Kupang:
1.      Take Kupang - Kapan travel service. Depart from Kupang between 1-3 pm. It takes around 3 hours. Phone Number of Travel Service 081210999432 (Hendrik Travel). The tariff is IDR 50,000 / person (shuttle).
2.      Take busses from Kupang-SoE or Kupang-Kefa or Atambua-Kupang from Oesapa Kupang. Get off in Kapan branch. Bus fares IDR 30,000/ person. In  Kapan branch, take a taxibike to Ibu dan Anak Hospital, it costs IDR 5,000. Take yellow public transportation from the junction next to Ibu dan Anak Hospital Nonohonis, it costs 15,000/ person.
Mama Mina, the weaver, our parner di LKJWS
 How to reach Lopo Mutis homestay in Fatumnasi (if you want to go to Mount Mutis or Mutis forest) from Lakoat Kujawas:
. Use ojek, it costs IDR 35,000, or use public trasportation (kind of pick up car) it costs IDR 20,000. You can also rent a pick up, it costs IDR 200,000 for one way.  

Souvenirs from Mollo:
Lakoat.Kujawas produces lu'at organic chutney (original and beef liver), Mollo homemade coffee, jagung bose, and Mollo forest honey and sells woven fabric produced by weaver group of Noebesi. They can be ordered via Instagram @lakoat.kujawas.

Mollo typical woven fabric can also be found in Kapan traditional market (every Thursday), Fatumnasi traditional market (every Monday) and Tobu traditional market (every Saturday).

Translated by Yustin Liarian
Lakoat.Kujawas Homestay


Organic Mollo Coffee

Minggu, 11 September 2016

Aneka Produk Pangan Organik dan Tenun Khas Mollo di Toko Online Lakoat.Kujawas

Beberapa produk oleholeh khas Mollo, Timor Tengah Selatan yang jadi unggulan desa Taiftob di proyek kewirausahaan sosial @lakoat.kujawas segera bisa dibeli. Kain tenun karya artisan tenun Mollo, madu hutan Mollo, jagung bose organik dari kampung Manesat Anin, sambal lu'at organik khas Mollo dan satu lagi yang sedang dalam proses pengepakan yakni kopi Mollo. Silakan mampir ke Instagram @lakoat.kujawas untuk beli beberapa produk kami sekaligus support petani dan penenun lokal di Mollo. #kerjabarengwarga #kerjakolaborasi#mollo #timor #LKJWS #lakoatkujawas #community#coworkingspace #ecotourism #homestay #library#socialenterprise #creativeeconomy #kainmollo#tenunmollo www.lakoatkujawas.blogspot.co.id

Untuk pembelian produk organik khas Mollo, silakan via Instagram/lakoat.kujawas atau WA 081338037075

Selasa, 30 Agustus 2016

Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?


Hari ini saya merasa seperti tersesat dalam banyak pertanyaan yang belum mampu saya jawab ketika hadir di sebuah festival budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten tempat lahir saya, Timor Tengah Selatan. Saya datang tanpa rencana dan tertawan begitu saja oleh banyaknya kain tenun dengan ratusan motif yang menandakan keanekaragaman subetnis kabupaten TTS. Ada cerita dari masing-masing lembar kain. Ada nilai, roh dan makna yang dalam di sana. Menenun adalah wujud pemikiran dan rasa tertinggi dari perempuan Timor Tengah Selatan. Saya lantas memikirkan hal ini...

Coba Anda perhatikan kain-kain berikut.



Indah, ajaib, super, fantastik, entah kata apa lagi. Pernahkah berpikir lebih  jauh, tentang daya imajinasi, kreatifitas, pemaknaan yang dalam, kemampuan matematis, daya ingat, dan hal kompleks lainnya?

Pernahkah sejenak berpikir lebih jauh dari sekadar kagum, bahwa kain-kain ini diciptakan oleh perempuan-perempuan luar biasa dari TTS? Dengan melibatkan segala bentuk olah pikir-olah rasa. Perhitungan yang begitu cermat dan cinta yang dalam. Kawan, kekayaan ini, harta karun ini, diciptakan oleh perempuan-perempuan TTS.

TTS, Timor Tengah Selatan.

Kabupaten yang harus kita akui, dengan sedih, masih menyumbang begitu banyak problem TKI tak berdokumen lengkap, human trafficking hingga dugaan korban penjualan organ tubuh? Perempuan yang dikepalanya tersimpan harta karun tadi. Mereka yang terbujuk rayu mencari hal-hal semu di luar sana. Ada yang salah. Lalu apa?

Terus terang, saya masih terus merinding ketika pulang dan menjauh dari ribuan lembar kain beraneka motif luar biasa di festival tadi. Begitu luar biasanya kekayaan intelektual perempuan TTS. Tapi di motor saya terus diingatkan, bahwa hingga detik ini saudara-saudara perempuan kita dari TTS masih saja menjadi korban perdagangan orang.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang salah? Menutup pertanyaan refleksi ini, saya teringat cuplikan wawancara aktivis yang gigih mengadvokasi korban human trafficking, Romo Leo Mali, Pr, kepada ucanews.com.

"Terlalu banyak orang yang belum melihat masalah human trafficking atau perdagangan manusian sebagai sebuah isu serius, termasuk warga Gereja. Belum banyak yang peduli, termasuk Gereja itu sendiri."

Semoga dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal seperti di atas, terus mendorong kita juga untuk peduli dengan lingkungan sekitar dan mulai untuk melalukan sesuatu, meski kecil, untuk orang lain.

Salam

Dicky Senda

Minggu, 07 Agustus 2016

Ketika Kaum Muda Kerja Pengarsipan Bersama Petani

Dicky Senda dari Lakoat.Kujawas bersama para mahasiswa magang dari Univ, Nusa Cendana

Kami memulai menggarap project Lakoat.Kujawas ini dengan sukacita sejak bulan Juni 2016. Dengan niat bahwa di kampung kami harusnya sudah ada ruang yang produktif melakukan berbagai kerja kreatif antar sesama warga sendiri maupun antara warga dengan orang dari luar kampung. Bicara Mollo yang kaya akan potensi pertanian, salah satu yang menurut kami menarik untuk dikerjakan, melibatkan tentu saja para petani lokal dan orang-orang muda yang tertarik. Beberapa dari kami sudah mengalami proses bekerja di komunitas kreatif di Kupang dan SoE lebih dari 5 tahun terakhir ini. Kami merasa bahwa dalam komunitas, banyak hal positif bisa dilakukan bersama. Kerja kolaborasi kalau istilah kekiniannya.

Dengan melihat begitu banyak potensi sumber daya alam dan manusia di Mollo yang terabaikan, bahkan tak tersentuh sama sekali, kami semua yang terlibat dalam proyek kecil ini merasa perlu merintis sebuah komunitas untuk melakukan kerja kolaborasi yang produktif dan kreatif. Jejaring di media sosial telah banyak membantu, misalnya, ketika kami akhirnya dipertemukan Perkumpulan Pikul yang punya perhatian ke pengembangan model kewirausahaan sosial (social enterprise) dengan British Council dan banyak sekali pelaku SE di berbagai daerah di NTT. Mereka yang juga melakukan hal yang sama atau mirip dengan kami: semangat untuk membangun komunitas-komunitas kecil di kampung dengan memadukan antara bisnis (profit) dan penmbangunan manusia/komunitas (people) tanpa terlepas dari tanggungjawab untuk melestarikan lingkungan hidup (planet). Ini nilai yang kami rasa sangat penting dan cocok sebagai pedoman di Lakoat.Kujawas.

Dari Perkumpulan Pikul akhirnya kami dipercaya untuk melakukan kerja kolaborasi, yang kami sebut #kerjabersamawarga. Sebuah upaya untuk mengajak anak-anak muda dari perkotaan entah mahasiswa, dosen, peneliti, seniman, penulis, dll untuk datang secara sukarela, tinggal dan melakukan kerja produktif bersama warga. Harapannya bahwa akan ada proses interaksi, diskusi, transfer ilmu, kerja bersama dan saling belajar antar warga/komunitas dengan para relawan tentu saja dengan mengutamakan nilai dasar people, profit dan planet tadi.

#KerjaBersamaWarga kali ini bersama 4 orang mahasiswa, Sara Atupah, Luis Sir, Yenni Dodo dan Yulius Kelen dari Prodi Komunikasi Antar Budaya Universitas Nusa Cendana yang kebetulan sedang magang selama sebulan di Perkumpulan Pikul. Pikul sendiri sedang berkutat dengan isu ketahanan pangan dan pemetaan potensi pangan lokal bersama dengan warga adalah hal yang sedang dikerjakan oleh mereka. Dengan kesamaan nilai dasar tadi, kami bersedia dan merasa senang keempat mahasiswa tersebut datang untuk melakukan survey potensi pangan lokal di beberapa desa di Mollo, Timor Tengah Selatan sekaligus membantu kami yang sementara juga sedang melakukan pemetaan potensi ekowisata dan resep kuliner lokal yang sedang kami lakukan sebagai sebuah dokumentasi awal kami dalam gerakan kecil ini. 

Kami menyadari betul bahwa para mahasiswa ini memang masih dalam proses belajar, tapi lebih dari itu, menarik juga untuk belajar memahami anak muda masa kini, dari daerah perkotaan. Bagaimana cara pandang mereka terhadap isu ketahanan pangan, informasi tentang keberagaman bahan pangan di kampung, cara mengolah, bagaimana kondisi para petani di Timor, bagaimana anak muda seperti mereka melihat desa dengan segala potensinya bisa dikembangkan tanpa keluar dari nilai yang sudah kita bahas di atas. Ketika bertemu mbak Ari Sutanti dari British Council, ada satu pernyataan beliau yang menurut kami penting. Pertama soal bagaimana warga lokal diberdayakan untuk mengelola sendiri potensi kampungnya jika kita bicara ekowisata. Kedua, penting untuk memahami perilaku anak muda perkotaan yang memang lagi tren untuk berwisata tapi kok masih berjarak ya dengan warga lokal. Menurut Ari, kita yang harusnya dengan kreatif bisa menarik simpati kelompok anak muda ini untuk masuk, kenal dan peduli dengan lingkungannya. Jika sudah hadir, memahami dan ikut berpartisipasi, tentu hal itu yang sangat kita harapkan. Dengan keempat mahasiswa magang ini pun demikian. Misalnya, kami ingin kemampuan fotografi dan videografi mereka bisa ikut terkontribusi dalam upaya pengarsipan potensi desa yang sementara dilakukan Lakoat.Kujawas. Dalam proses penggarapan itulah mereka bisa kenal dan memahami isu-isu sosial yang ada di sekitar mereka. Dan alangkah lebih baik lagi ketika kemudian mereka bisa menjadi agen informasi baru tadi kepada teman-teman muda lainnya di kota. 

Selama 4 hari, kami mengajak mereka untuk melihat keragaman bahan pangan lokal di pasar tradisional Kapan. Belanja dan memasak bersama di dapur Lakoat.Kujawas (beberapa resep menu pangan lokal akan kami bagi di blog ini). Treking dan panen daun mint (onat lao) ke Kampung Baru di desa Taeftob, panen jeruk dan trekking di kebun sirih warga kampung Lelokasen di desa Eonbesi. Hari berikutnya, berjalan sejauh 14 km menyusuri kali Sebau menuju kampung Manesat Anin untuk belajar bikin jagung bose dan melihat langsung bagaimana warga Mollo berkebun. Apa saja isi lumbung dan kebun mereka. Banyak hal tak terduga ditemui di sini, termasuk resep baru pembuatan sambal lu'at menggunakan daun gala-gala (kembang turi). Sambal yang luar biasa ketika dinikmati dengan singkong kuning rebus, ubi kapuk bakar dan jagung bose. Di lokasi yang sama, para mahasiswa ini memberikan sumbangan buku tulis, alat tulis dan beberapa buku pelajaran untuk anak-anak kampung Manesat Anin. Sebuah kerja kolaborasi (transfer pengetahuan) yang luar biasa dan memang perlu ada ruang interaksi seperti ini. 

Dua hal yang bisa kami petik dari pengalaman survey ini adalah, pertama, ada kesan dan pengakuan langsung dari mereka, orang-orang muda perkotaan ini tentang keanekaragaman pangan lokal yang mengeyangkan selain nasi. Kesadaran untuk meninjau kembali paradigma bahwa dikatakan 'makan' kalau sudah mengonsumsi nasi atau ubi itu cuma 'snack' (untuk makan main-main saja). Bahwa tak konsumsi nasi sama dengan kelaparan. Sementara di kebun masih ada ubi, jagung, sorgum, singkong, kacang, pisang, dsb. (Catatan: ketika kami survey sebenarnya sebagian warga sedang pergi ke kantor desa untuk mengambil jatah raskin. Beras untuk orang miskin. Kami jadi bertanya-tanya kembali tentang definisi 'miskin'. Di Indonesia, beras masih jadi ukuran, kawan).

Kedua, sebagai orang muda, ini adalah pengalaman pertama terlibat dalam sebuah kerja kolaborasi secara sukarela dengan warga. Berharap ini bisa memberikan cara pandang baru, bagaimana setiap orang punya tanggungjawab untuk melibatkan diri dalam usaha/kerja bersama, untuk kepentingan banyak orang.

Pada akhirnya, kami mau bilang bahwa ini sebuah langkah baru, kecil dan sedang dalam proses. Semua yang membaca tulisan ini bisa berkontribusi, secara langsung maupun lewat dunia maya. Secara moril maupun materil. Ide, tenaga, donasi buku dan uang untuk proyek kerja kolaborasi di bidang literasi, kesenian, kebudayaan, pertanian, ekonomi kreatif, dll masih terbuka lebar. Kontak kami di lakoat.kujawas@gmail.com, atau telpon ke 081338037075. Kami sedang berpikir untuk membuat program residensi bagi seniman, penulis, atau peneliti untuk tinggal dalam waktu lebih lama dan membuat kerja kolaborasi lebih intens. Ada yang berminat?

Beberapa produk SE kami kerjasama dengan penenun dan petani lokal bisa dibeli di Instagram @lakoat.kujawas. Like dan simak juga progres kami di page www.facebook.com/lakoat.kujawas. Kamu orang berikut yang terlibat di #kerjabersamawarga? Salam hangat dari desa Taeftob, Mollo Utara.


Dicky Senda
Director 
 
Belajar bikin jagung bose bersama mama Via

Sambal lu'at terong baakr dengan ubi kapuk bakar

Yenni dan Sara ikut memasak bersama mama Adel dan mama Tia

ubi kapuk tumbuh rimbun menjalar di pohon turi

bapa Tobias Kamlasi di lumbung jagung dan kacang miliknya

bahan untuk membuat sambal lu'at bunga turi

Bersih, hujau dan alami, penampakan desa Manesat Anin