We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label ecotourism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ecotourism. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2019

Mnahat Fe'u Heritage Trail #3: Mempertemukan Komunitas, Pangan dan Ekologi


Desa Taiftob, 6 Juni 2019

Selamat datang di Komunitas Lakoat.Kujawas. Hampir tiga tahun berjalan, kami menciptakan banyak kesempatan dan ruang-ruang kreatif. Kami melihat perubahan itu menyentuh anak-anak, orang muda, kelompok perempuan, para petani, sekolah, Gereja dan tokoh adat. Dengan semangat kerja kolaborasi dan kerja jaringan, kami senang dan bangga bisa terhubung dengan Anda sekalian. Terhubung untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi kreatif bagi warga desa, ruang dan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan diri mereka. Berkolaborasi dengan warga aktif desa Taiftob kami mengembangkan perpustakaan, komunitas kesenian, kewirausahaan sosial dan ruang arsip seni, budaya dan sejarah Mollo. Termasuk program heritage trail yang sedang Anda baca ini: Mnahat Fe’u, sebuah perayaan sepanjang musim panen tahun 2019. Mnahat Fe’u adalah salah satu jenis tarian bonet yang dirayakan ketika musim panen. Mnahat Fe’u kami berisi serangkaian lokakarya tarian bonet musim panen, lokakarya pengolahan buah menjadi selai, wine, liquor dan manisan. Heritage trail ini sekaligus sebagai upaya kami melakukan pengarsipan informasi sejarah, budaya dan kesenian serta merevitalisasi kampung kami. Semua yang menyenangkan ini terjadi di musim panen, terlebih bahwa inisiatif program ini datang dari warga sendiri.


Dampak

Sebagian besar keuntungan program ini kami investasikan untuk membiayai kegiatan pengembangan diri warga desa Taiftob khususnya kelas menulis kreatif dan kelas tenun bagi remaja. Pelatihan-pelatihan bagi kelompok orang muda dan kelompok petani perempuan. Anda sudah ikut mendukung komunitas Lakoat.Kujawas mengembangkan model kewirausahaan sosial warga aktif, mendorong ekonomi kreatif di desa Taiftob bertumbuh serta ikut menyadarkan warga Taiftob bahwa kekayaan alam dan sebi budaya yang mereka punyai penting untuk diapresiasi, dijaga dan dilestarikan. Program ini ikut mempromosikan dan meningkatkan kesadaran semua pihak terkait kelestarian lingkungan, misalnya dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pupuk kimia.


Jenis Kegiatan

Kami mengajak Anda untuk mengeksplor pasar tradisional di Kapan, berkunjung ke situs batu, hutan dan mata air. Mengikuti lokakarya seni tradisi bernama BONET khusus musim panen. Mencoba berbagai jenis pangan lokal sehat bebas MSG dan minyak sawit yang diolah dengan resep leluhur. Sharing pengalaman komunitas lakoat.kujawas membangun ekosistem warga aktif dengan pendekatan kewirausahaan sosial, untuk keberlanjutan berbagai program seni budaya dan pertanian di desa Taiftob.

Mnahat Fe’u Heritage Trail direncanakan berlangung pada hari Kamis, 6 Juni 2019, bertepatan dengan hari pasar tradisional di Kapan. Acara berlangsung mulai jam 7 pagi dan berakhir jam 4 sore. Untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini setiap peserta membeli paket seharga Rp. 250,000 /orang dewasa, sudah termasuk:
1. Pengalaman belajar bersama komunitas warga, belajar budaya dan sejarah desa Taiftob (terutama relasi orang Mollo dengan batu (fatu) dan air (oe), termasuk mendukung upaya revitalisasi kampung yang digagas oleh lakoat.kujawas. Eksplor pasar tradisional.
2. Satu kali makan siang pangan lokal sehat dari hasil pertanian organik warga.
3. Dua kali snack pangan lokal sehat.
4. Satu paket oleh-oleh produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas (produk spesial: manisan kulit jeruk, sagu dan kerupuk labu pempung/pumpkin).
5. Guide lokal.

Jika membawa sopir dan ingin ikut makan besar dan kudapan tanpa ikut agenda trail yang lain, dikenakan biaya Rp. 75,000/ orang.

Bagi peserta diharapkan untuk membawa botol minum/tumbler, obat-obatan pribadi, sepatu kets atau sandal gunung yang cocok untuk trekking. Lokasi kami ada di jalan Kampung Baru No. 2 desa Taiftob, Kapan, Mollo Utara. Kurang lebih 18 km ke utara kota SoE atau 130 ke arah timur kota Kupang. (google maps komunitas lakoat.kujawas). Kami menyediakan penginapan sederhana di rumah warga, kuota terbatas. Mohon reservasi terlebih dahulu. Jika membutuhkan jasa travel/sewa mobil dan ojek, silakan kontak ke Nando Ojek 081290528451 dan Hendrik Travel (mobil Avanza) 081210999432.



Info dan Pendaftaran

Info lebih lanjut dan pendaftaran silakan kontak email dickysenda@gmail.com atau whastapp 081338037075 (Dicky). Paling lambat Selasa, 4 Juni 2019. Terbatas hanya untuk 15 orang. No. Rekening BRI 473201013229535 an Christianto Senda.

Lampiran Agenda Lengkap

1. Jam 7 – 9: Eksplor pasar tradisional Kapan
2. Jam 9.30 – 10.30: Welcome ceremony: natoni, dilanjutkan sarapan pagi.
3. Jam 10.30 – 12.00: Trekking ke situs batu, hutan dan mata air di desa Taiftob. Mengenal lebih dekat project revitalisasi mata air. Tanam pohon di situs mata air Oelpuah
4. Jam 12.00 – 13.30: Makan siang pangan lokal dengan tatacara ala orang Mollo tempo dulu. Menu penutup spesial: es krim, laru dari nira pohon aren dan minuman farmentasi buah (liquor dan wine).
5. Jam 13.30 – 15.30: Workshop tari dan tradisi tutur khusus musim panen: bonet.
6. Jam 16.00: Ngopi sore menu pangan lokal, bagi-gai oleh-oleh produk lokal kewirausahaan sosial Lakaot.Kujawas
7. Jam 17.00: Sayonaraaa…





Kami sengaja mengumumkan kabar baik ini jauh hari bagi teman-teman di luar NTT. Heritage trail terakhir di musim panen tahun ini akan berlangsung tanggal 16 Agustus 2019. Highlightsnya: permainan tradisional Mollo, kere-kere, karnaval komunitas dan menu Cina Mollo peranakan. Catat tanggalnya, booking tiket pesawat sekarang, kami tunggu di Mollo.











Sabtu, 10 Maret 2018

Liburan, Harpitnas dan Lakoat.Kujawas


Ada berapa tanggal merah termasuk harpitnas (hari kejepit nasional) di tahun 2018 ini? Sialakan cari sendiri, kami juga belum tahu. Hahaha bercanda. Ada 21 hari libur nasional dan cuti bersama di tahun ini. Sementara untuk hari kejepit silakan dijepit-jepitkan sendiri. 

Lalu apa hubungannya liburan, harpitnas dan lakoat.kujawas?

Kami adalah komunitas orang muda dari Timor Tengah Selatan yang sedikit berbeda dari komunitas kebanyakan di Pulau Timor. Eksis sejak Juni 2016 dan telah melampaui berbagai proses kerja kreatif di bidang kewirausahaan sosial, kesenian dan literasi, dengan begitu banyak jaringan komunitas, volunteer dan orang-orang spesial: seniman, mahasiswa, dosen, peneliti, aktivis, filmmaker, fotografer, dan masih banyak lagi, termasuk traveler. Yes, traveler! Teman-teman yang tertarik berkunjung ke Mollo, satu wilayah di lereng gunung Mutis, dataran tinggi sudah pasti, 130 dari Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur. Ada banyak hal yang bisa dieksplor di sini, ada banyak problem yang perlu ditanggulangi bersama. Untuk itu, lahirlah komunitas Lakoat.Kujawas, yang namanya terinspirasi dari dua jenis buah yang umum di Mollo, kujawas (guava, jambu biji) dan lakoat (loquat, biwa). Lakoat.Kujawas adalah mimpi generasi muda Mollo untuk hidup lebih baik di tanahnya sendiri. Ia adalah sebuah gerakan swadaya warga bersama banyak jaringan komunitas dan relawan. Ia menawarkan tradisi baru dalam berwisata: pariwisata yang dikelola oleh komunitas warga secara mandiri (community based tourism), memakai pendekatan kewirausahaan sosial dengan mengutamakan kerja kolabirasi, solidaritas dan sharing economy bagi warga. Ia memberi kesempatan spesial kepada traveler, turis, pelancong, tamu, atau apapun sebutannya untuk berwisata yang ‘tidak sekadar berwisata’. Karena ini adalah wisata berbasis komunitas warga, kami menawarkan ruang khusus bagi tamu yang tidak hanya tinggal langsung di rumah warga, namun juga terlibat langsung dalam berbagai rutinitas harian warga dan ikut berkontribusi langsung: berkegiatan dengan warga, berdiksusi, melakukan kegiatan produktif bersama, bertukar pengetahuan, dst. Kok susah ya? Kan maksudnya mau berwisata, buat senang-senang kok malah ikut memikirkan diri orang lain? 

Di sinilah keunikannya. Kami menawarkan sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru. Fenomena ini ada dan kami menciptakan ruangnya, untuk saling mendukung, memberdayakan, menginspirasi. Di Lakoat.Kujawas Anda bisa menikmati keunikan budaya, sejarah, tradisi, alam, di berbagai lokasi menarik yang bisa disimak lengkap di sini. Sekaligus, bisa ikut berpartisipasi dalam kerja-kerja kreatif dan kolaboratif di bidang kewirausahaan sosial, literasi dan kesenian bersama warga Mollo, khususnya kelompok perempuan penenun, orang muda, anak-anak dan kelompok petani. Untuk Anda para traveler, apapun latar pendidikan/pekerjaan/minat, kami menyediakan ruang diskusi, lokakarya, pelatihan, penyuluhan dan berbagai kegiatan pengembangan sumber daya manusia. Ruang untuk saling transfer ilmu. Karena pada prinsipnya, tamu tidak saja mendapat sesuatu dari warga dan alam lokal, namun juga sebaliknya, bisa berkontribusi bagi manusia dan alam setempat. 

Teman-teman yang tertarik dengan tawaran kami ini bisa mengintip progress kami dua tahun terakhir di Instagram @lakoat.kujawas, toko online kami di Instagram @lkjws.co dan blog kami bit.ly/lakoatkujawas

Tertarik mendiskusikan paket wisata, lokasi wisata, peluang kerja kolaborasi bersama warga, transportasi dan akomodasi plus harganya, termasuk mendiskusikan rencana program pengembangan SDM bersama warga di bidang kesenian, literasi, kewirausahaan sosial, atau lainnya selama Anda berwisata di Mollo, silakan kontak kami di Whatsapp 081338037075 atau email dickysenda@gmail.com. Dengan senang hati kami akan membantu mengorganisirnya.

Salam
Dicky Senda
Program Director Komunitas Lakoat.Kujawas

workshop farmentasi buah bersama Geger dari LIFEPATCH Jogja

sumbangan pisang dari warga setiap ada kegiatan di lkjws

kelas menulis kreatif To The Lighthouse bersama anak-anak desa Taiftob

workshop bonet bersama salah satu seniman lokal Mollo

Shinta Febriany, sutradara teater asal Makassar bersama penenun Mollo

Sinema Anak Mollo: acara nonton film bulanan ala anak desa Taiftob

lokakarya teater bersama Shinta Febriany

Rabu, 16 November 2016

Trekking and Team Building Activities with IOM Kupang in Mollo

Kami sangat bahagia ketika diminta oleh International Organization for Migration (IOM) Kupang untuk mengatur acara trekking dan team building bagi tim IOM Kupang yang berjumlah 13 orang di Mollo. Area yang dipilih dan dirasa sangat cocok untuk kegiatan ini antara lain sekitar danau Fatukoto, di Lopo Mutis Homestay Fatumnasi dan Hutan Lindung Mutis, Oenino hingga Leolfui di kaki gunung Mutis. Ini pengalaman pertama yang mengasyikan. Dicky Senda selaku fasilitator punya pengalaman tersendiri dengan kegiatan team building sebab ia pernah mempelajarinya ketika kuliah dulu di fakultas Psikologi (khusus mata kuliah psikologi pelatihan). Ilmu yang sudah lama mengendap itu akhirnya terpakai juga. Sebelumnya di Lakoat.Kujawas social enterprise kami sudah menawarkan beberapa paket wisata antara lain trekking ke hutan lindung Mutis atau ke lembah Mollo di Noebesi dan Manesat Anin, namun paket yang sebenarnya sungguh mengasyikan adalah kegiatan team building. Bagaimana lewat berbagai jenis permainan yang barangkali terlihat atau terkesan fun, mengundang gelak tawa, namun karena dilakukan bersama dalam tim, ada refleksi yang diharapkan bisa terjadi. Bagaimana seharusnya sebuah tim bekerja dan berkembang bersama. Terima kasih kepada kawan-kawan baru kami dari IOM Kupang. Semoga senang dengan pelayanan dan program team building yang sudah kita lakukan bersama. Tetap jadi tim yang hebat, keren, easy going (ini kesan pribadi saya. Sumpah ketemu pertama kali langsung akrab. Luar biasa!). Sampai ketemu di lain kesempatan. Terima kasih sudah support kewirausahaan sosial kami, sudah mengapresiasi kerja-kerja kreatif orang muda Mollo, termasuk juga sudah mau apresiasi budaya dan tradisi Mollo. Sungguh, kami belajar banyak hal dari kalian.
foto: Natalya Nainggolan/IOM Kupang

Selasa, 20 September 2016

Suatu Hari Minggu di Mollo


Sherly Indrayanti

Sebagai penghuni apartemen, setiap pagi saya bangun dengan bantuan bunyi alarm hp yg minimal saya snooze sebanyak 3x. Ketika bangun yang saya dengar seringnya suara klakson mobil-mobil yang antri mengantar anak-anak ke sekolah di seberang apartemen saya. Meskipun tinggal di lantai yang cukup tinggi, suara-suara dari jalan raya depan tetap terdengar sampai ke kamar tidur.

Pagi itu hari Minggu pertama di bulan September, bulan yang awalan katanya sama dengan nama saya. Bunyi ayam berkokok mendahului bunyi alarm hp yang sengaja saya pasang supaya saya tidak ketinggalan matahari terbit. Ayam pun berkokok bersahut-sahutan seperti bunyi alarm yang tidak bisa di snooze. Semesta memang selalu punya caranya sendiri untuk bersinergi dengan manusia.
Berjalan sedikit ke belakang rumah Dicky Senda tempat saya menginap, lalu kami nangkring untuk menyapa balik matahari yang setiap pagi tidak pernah absen menyapa kita (terkadang matahari mengalah pada awan dan hujan, bukan karena dia malas, tapi karena dia juga harus berbagi panggung).



Matahari pagi itu awalnya malu-malu tapi kemudian menyembul keluar dengan gagah berani. Seperti biasa, karena suka kurang preparasi dan mudah teralihkan, dengan batere kamera yang sekarat saya masih sibuk foto ini itu kayak anak norak (emang norak). Waktu matahari sedang gagah-gagahnya menampakan diri, batere kamera pun habis dan saya terpaksa untuk menggunakan kamera hp utk memotret momen yang ditunggu itu. Saat-saat seperti ini lah yang melatih kita untuk berdamai dengan diri sendiri termasuk memaafkan kebodohan sendiri.

Di desa ini, mayoritas warganya adalah Nasrani, sehingga di hari Minggu pagi sudah terdengar suara lonceng-lonceng gereja. Dicky ikut misa bersama Bapak dan saya ikut ibadah Minggu bersama Ibu di GMIT Ebenheizer, lima menit berjalan kaki dari rumah mereka. Ibadah berlangsung tertib dan hampir semua jemaat masih membawa Alkitab di tangannya, kecuali saya yang membawanya dalam bentuk aplikasi. Saya sangat menikmati suasana Ibadahnya dan merasa terberkati di tengah sebuah kesederhanaan.

Sepulang gereja, saya pun memulai petualangan bersama Dicky Senda, yang selain sebagai pemilik Lakoat.Kujawas, juga menjadi guide di hari itu. Kami jalan menyusuri sungai Sebau menuju Kampung Noebesi dan Manesat Anin, untuk bertemu dengan para mama penenun dan panen hasil kebun bersama warga.

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan diselingi sesi berfoto di beberapa spot dan makan siang di tepi sungai. Dicky ternyata masih sempat memasak pagi itu dan membawa bekal utk makan siang kami. Makan nasi dengan lauk pauk sederhana dan sambal luat, di bawah langit biru sambil diiringi suara aliran sungai. Inilah yang disebut sebagai kemewahan dalam hidup.
Belajar tenun
Kami pun tiba di desa Noebesi, di sambut Mama Mina yang kemudian menemani kami berjalan sampai ke tempat Mama Via. Salah satu ciri khas di Timor adalah membawakan sirih dan pinang untuk orang yang dijunjungi. Dicky juga berpesan supaya saya mau belajar makan sirih pinang kalau ditawari (sonde boleh menolak). Siang itu pertama kalinya mengunyah pinang diikuti sirih dan kapur. Menurut Dicky, kalau salah teknik mengunyahnya, pinang bisa memabukkan. Dan saya pun berhasil. Yeayy!! Belajar hal-hal baru memang selalu menyenangkan, sesederhana apa pun itu :)

Dari Noebesi kami lanjut ke Manesat Anin ditemani Mama Via, Mama Mina, dan anak-anak (saya sudah tanya satu per satu namanya tapi belum hafal semua) Di sana, kami dijamu dengan singkong kapok dan jagung bose yang dipanen langsung dari kebun warga setempat. Lalu siang yang mulai terik itu pun dilengkapi dengan sejuknya air kelapa yang dipetik langsung dari pohon. Jefry adalah jagoan kami hari itu, karena dia yang menyodorkan diri untuk memanjat pohon kelapa.

Menjelang sore, kami pamit untuk kembali ke Taeftob sebelum gelap menjemput kami di perjalanan. Tetiba saya membayangkan perjalanan menyusur sungai dengan jalan berbatu yang tadi kami lewati dan meragukan diri sendiri apakah masih sanggup menempuh jalan pulang. "Andai ada jalan pintas atau ada kendaraan yang menjemput ke sini", begitu gumam saya dalam hati. Sayangnya, tidak ada pilihan lain. Berani berangkat ya harus siap pulang. "Semua hal dalam hidup ini ada ongkosnya, toh? Termasuk kebahagiaan!"
Panen ubi kapok bersama mama Via
Namun rupanya, semesta mendengar gumaman saya itu. Empat bocah dari Noebesi menemani kami berjalan sampai ke mulut sungai yang adalah 97% perjalanan. Di jalan bertemu dengan beberapa anak remaja yang juga akan kembali ke asrama sekolah di Kapan. Perjalanan jadi ramai diiringi tawa riang para bocah. Sesekali (baca:sering) ketika saya kesusahan menyeberang sungai, mereka sibuk menata bebatuan supaya saya bisa menyeberang sungai tanpa harus membuka sepatu. Di saat lain ketika harus terpaksa membuka sepatu dan berjalan di bebatuan tanpa alas kaki karena berdekatan dengan titik menyeberang berikutnya, mereka dengan suka rela meminjamkan sandal nya buat saya. Meskipun berlagak bak petualang, tetap saja saya anak perkotaan yang cupu menghadapi alam. Beberapa kali oleng ketika salah memilih batu pijakan. Untungnya saya tidak sampai terjatuh karena selalu ada saja tangan yang sigap memegang saya. Seringnya tangan itu adalah tangan Jefry, yang memang usianya sedikit lebih besar dibanding adik2 yang lain. Anak-anak ini adalah helikopter saya dan lagi-lagi, Jefry menjadi jagoan saya hari itu.

Perjalanan pulang yang awalnya saya pikir akan terasa lebih lambat dan menghabiskan energi, ternyata terlalui dengan lebih singkat. Keceriaan, kepekaan, dan ketulusan anak-anak Noebesi dan Maesat Anin menyisakan kehangatan yang teramat dalam di hati saya.

Saya berharap mereka semua bisa sekolah sampai tinggi dan bisa membangun desa nya. Saya justru tidak berharap mereka buru-buru mengenal internet. Biarlah mereka tumbuh alami tanpa percepatan, bermain dengan alam nyata sehari-hari yang bukan virtual. Ya Tuhan, jagalah mereka dalam tangan Mu.

***
bersama Keluarga Senda
Lakoat.Kujawas Homestay terletak di Jalan Kampung Baru, No. 2 Desa Taiftob Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, NTT. Berjarak 130 km dari Kupang atau 18 km ke utara dari kota SoE. Untuk mencapai ke sini, Anda bisa naik travel dari Bandara El Tari, Kupang ke Kapan.

Berbeda dari Kota Kupang yang terik dan berdebu, Mollo merupakan daerah pegunungan yang sejuk dan asri. Tingkat polusi nya sangat rendah karena selain letaknya di pegunungan, alamnya hijau, sangat sedikit juga kendaraan yang lalu lalang sehari-hari. Air untuk mandi juga terasa sejuk di kulit. Setiba di sini, kepenatan (setelah hanya tidur 3 jam di malam sebelumnya, penerbangan 5 jam dari Jakarta, dan perjalanan 3.5 jam dari Kupang-Kapan dengan AC alam) seketika hilang.

Selama menginap, saya berkesempatan menikmati masakan rumah yang disiapkan langsung oleh Dicky Senda dan Mama Rika. Menu yang terhidang tidak pernah luput dari sayuran segar dan sambal lu'at. Campuran jeruk di setiap hidangan memberikan sensasi kesegaran tersendiri di lidah yang membuat saya selalu nambah dan lupa pada kata diet. Pilihan karbohidrat yang tersedia cukup bervariasi mulai dari beras merah, ubi atau singkong rebus, dan jagung bose kupas yang direbus bersama kacang-kacangan. Lauk yang cukup khas adalah lawar jantung pisang. Kebetulan Dicky senang berkreasi dengan bahan pangan lokal dan hasil olahannya selalu pas di lidah.

Mama Rika selalu bangun pagi-pagi dan langsung sibuk di dapur, sehingga begitu saya keluar kamar, di meja makan pasti sudah tersedia camilan ringan yang sangat pas untuk sarapan. Pisang goreng, kue cucur, sukun goreng, dan roti isi kelapa gula merah adalah aneka kreasi camilan buatan Mama Rika yang sempat saya nikmati. Selain pada bahan-bahan yang segar dan alami, kenikmatan makan di sini terletak pada sentuhan tangan Ibu yang membuat saya berasa di rumah.

Keramahan penduduk lokal juga merupakan salah satu faktor yang membuat saya betah di sini. Bukan sekedar ramah dan murah senyum, penduduk di sini selalu bertegur sapa satu sama lain ketika bertemu di jalan meskipun belum tentu hafal nama. "Mama! Bapa! Kakak!" Begitu kira-kira cara mereka saling menyapa. Cara bercakap-cakap dengan orang baru pun jauh dari kesan basa-basi sehingga menghadirkan keakraban tersendiri.
Ume Kbubu, rumah tradisional suku Dawan
Beberapa daya tarik wisata di Mollo antara lain Trekking Sungai Sebau menuju Desa Noebesi dan Manesat Anin, Belanja bahan pangan di Pasar Tradisional Kapan, Berkunjung ke Desa Fatumnasi, Air Terjun Oehala, dan Benteng Kote di Sebau. Mudah-mudahan saya berkesempatan datang lagi ke Mollo untuk menikmati tempat-tempat di atas.

Sebuah hari Minggu penuh makna, sebuah kado yang datang lebih awal di tahun ini. Terima kasih, Dicky Senda yang sudah memperkenalkan petualangan kecil ini. Dicky Senda, kawan baru saya ini, adalah seorang penggiat seni kelahiran Mollo yang memilih untuk pulang ke desanya untuk merintis kewirausahaan sosial di sana.

Penulis tinggal di Jakarta dan bekerja di UNDP

Mama Martha dari Noebesi

Anak-anak Kampung Noebesi


Belajar Makan Sirih Pinang
Anak-anak lembah Mollo

Bersama warga kampung Manesat Anin

Kamis, 15 September 2016

Knowing More Than Just Mollo


Lakoat.Kujawas Homestay is located on Jalan Kampung Baru, No. 2 Taeftob Village North Mollo, Southern Central Timor, East Nusa Tenggara. It is located 130 km away from Kupang or 18 km north of SoE City, lakoat.kujawas offers more than just a house to stay, enjoying the typical fresh air of the mountains, a wealth of history and tradition, the hospitality of Mollo people, cooking and enjoying a variety of local food directly from the community houses. Managed by Christian Dicky Senda, a short story writer who has a great interest in arts and culture of Mollo with his farmer parents and have a great interest in the culinary world. Dicky is currently researching the diversity of Mollo local food along with its processing recipes for the purposes of writing literature. (Mollo, Selayang Pandang, can be readhere)
the host: Dicky, Mama Rika and Bapa Senda

We offer a number of special activities. If you're in lakoat.kujawas on Thursday, you will be invited by Dicky to explore traditional markets in Kapan, the capital district of Northern Mollo. There, you will find vast organic agricultural products from the community, including food ingredients that are rarely found in markets. You can shop and cook them together with Dicky and Mama Rika in lakoat.kujawas kitchen. Another excitement that we offer is trekking to several villages surrounding Tafetob Village, meeting with the weavers and eating local food in Bosen Village (weaving class with Mama Yakobeth and friends is a special offer for you), interacting with oranges and betel farmers in Lelokasen. Or, you can choose to do the trekking, further and more challenging to Manesat Anin and Noebesi village as far as 8 km, round trip on crystal clear Sebau River from Mutis Mount, heading to the south coast of Timor. In Noebesi and Manesat Anin, you can visit the weaver and community garden, harvesting sweet potatoes and vegetables, learning to make bose corn and cooking with local residents. There are several special menus, such as bose corn, boiled yellow cassava and roasted sweet potatoes, all of which can be enjoyed with grilled chicken and gala-gala (turi) flowers lu'at chutney.Don't forget to bring books or make some fun activities with children there. 
Kapan traditional Market

Lakoat.Kujawas Homestay is integrated into social entrepreneurship project tried to be developed by Dicky Senda tried together with his native Mollo friends with the mission of ecotourism development in Mollo. Those integrated include co-working space with library and discussion room as a platform for various employment opportunities in achieving and collaboration work with Mollo community in arts, literacy, culture, agriculture and creative economy. Lakoat.Kujawas is also pioneering an online store on Instagram, selling several typical products of Mollo, such as typical organic lu'at chutney of Mollo, Mollo homemade coffee, organic corn bose, Mollo honey forest and woven fabrics of Mollo. So when visiting Mollo, you will not only stay and enjoy the richness of nature and culture of Mollo, but you can also try a brand new experience in interacting and exchanging experiences with the locals, learning local wisdom and contributing anything, moral and material for the development of local resources. (See also 5+1 Things You Needto Know about Mollo).

Below are several other tourist destinations that you can visit while staying at Lakoat.Kujawas.

1.      Oehala Waterfall, located in the region of Central Mollo. It takes about 20 minutes by private vehicles leased from local people to reach this cascading waterfall. You can enjoy sunset with a view Mollo Mount and Noelmina Valley from Bolaplelo altitude, stopping by orange and vegetable plantations Oelbubuk and Netpala. Netpala Village itself is one of the oldest indigenous villages in Mollo.
Oehala waterfall

2.      Fatumnasi, it has natural forests and rivers. It is one of the entrances to Mutis Mount, which is considered sacred by people Mollo. In protected forest near Fatumnasi, you can see Ampupu trees, a type of flourishing eucalyptus, even a part of forest had been dwarfed, and forming a natural bonsai. In Fatumnasi, you can stay at Lopo Mutis Homestay, run by Anin family. The host, Father Matheos Anin is friendly figure and is one of the elders of Fatumnasi. Staying in Lopo Mutis in the form of ume kbubu, a traditional house of Dawan tribe, that will provide an amazing experience. For you who are interested in learning the culture and history of Mollo people, Father Anin is one of proper speakers. If you come to Fatumnasi on Monday, you can go to traditional markets and shop for local food ingredients to be cooked with family of Father Anin. In the afternoon, it can be an opportunity for trekking to the carrot, potato, leek and garlic plantation owned by community or bathing in the river of which springs originated from the slopes of Mount Mutis. Do not forget to buy woven fabrics created by women in Fatumnasi as souvenirs. On the way to and from Fatumnasi, there are several attractive points that you can visit, including Fatukoto Lake, and drop by to one of the important sites of Mollo people, namely Fatunaususu which has become a symbol of opposition of the residents who refused marble mining, a dozen years ago. 
Netpala Village
3.      Promenade in Kapan Town, the capital district of North Mollo. It is one of the old towns in Timor, built by the Dutch when they desired control over the sandalwood trade route in Timor, reportedly it was once called Midden Timor, for it became a halfway point in the territory controlled by the Dutch, before being moved to SoE, into Zuid Midden Timor, a level equals to regency and remains until today. Prior to the Dutch entry, Kapan itself was still a part of Oenam kingdom, led by King Sonbai, and there were many Chinese who came to trade and married to local residents. The traces of Chinese descents in Mollo can still be found today in Chinatown, O'besi Village to remote areas in mountain slopes of Mollo. Since the 1950s, the people from Bugis and Sabu also entered Kapan, from initially traded every day in markets, to finally settle down and form its own community. Bugis Village in the old market areas (nearby Embun Mollo VIllage and Chinatown) and the village settlement of Sabu people in new markets. In Embun Mollo Village, Rest house was once built, and is highly popular as a guest house for important officials and guests visiting Timor, including General Nasution. Unfortunately, the historic building was torn down and rebuilt for a new structure, thus losing its historical value. In Kapan, if you are interested in learning the art and culture, you can meet two key figures, some kinds of physicians who master various Mollo traditional treatments, and one the other one is speaker of indigenous languages, especially in the field of marriage which is increasingly rare to encounter. Of course, in Kapan, there is also a platform for creative economy or social entrepreneurship called Lakoat.Kujawas which is seeking to collect local potentials into a new force in the hope of being managed by community for common interest.
4.      Kote Fortress in Sebau, was one of the royal bastions in Mollo once upon a time. Currently, the ruins of the bastion and traditional houses are in preservation efforts by the next generation. Nearby the castle, there is a river flowing throughout the year, crystal clear water flowing from Mutis Mount towards the south beach. There are several points of camping on the riverbank that can be your choice to spend the night and enjoy the cool air of Mollo Valley.
Fatumnasi
For more information, you can contact us:
Telephone: 081338037075 (Dicky Senda)
Or see our profile on Instagram @lakoat.kujawas, Twitter @lakoatkujawas, blog www.lakoatkujawas.blogpspot.co.id and Page www.facebook.com/lakoat.kujawas

NB: Currently, lakoat.kujawas provides 2 bedrooms with a capacity of 2 people per room, and we are currently building two units of ume kbubu (traditional house of Dawan tribe) with a capacity of 3 people per ume kbubu in Taeftob Village. In the near future, lakoat.kujawas will also be integrated with other homestays run by residents in Taeftob Village and in other villages in the region of Mollo. The tariff per room is IDR 75,000/night, including breakfast. The price is not included lunch and dinner, public transportation (taxibikes or shuttle) to several location points and local tourist guide services.
the Hill in Netpala Village
How to reach Lakoat.Kujawas?
Our location in on Jalan Kampung Baru, No. 2, Taeftob Village, North Mollo, TTS, NTT.
From Kupang:
1.      Take Kupang - Kapan travel service. Depart from Kupang between 1-3 pm. It takes around 3 hours. Phone Number of Travel Service 081210999432 (Hendrik Travel). The tariff is IDR 50,000 / person (shuttle).
2.      Take busses from Kupang-SoE or Kupang-Kefa or Atambua-Kupang from Oesapa Kupang. Get off in Kapan branch. Bus fares IDR 30,000/ person. In  Kapan branch, take a taxibike to Ibu dan Anak Hospital, it costs IDR 5,000. Take yellow public transportation from the junction next to Ibu dan Anak Hospital Nonohonis, it costs 15,000/ person.
Mama Mina, the weaver, our parner di LKJWS
 How to reach Lopo Mutis homestay in Fatumnasi (if you want to go to Mount Mutis or Mutis forest) from Lakoat Kujawas:
. Use ojek, it costs IDR 35,000, or use public trasportation (kind of pick up car) it costs IDR 20,000. You can also rent a pick up, it costs IDR 200,000 for one way.  

Souvenirs from Mollo:
Lakoat.Kujawas produces lu'at organic chutney (original and beef liver), Mollo homemade coffee, jagung bose, and Mollo forest honey and sells woven fabric produced by weaver group of Noebesi. They can be ordered via Instagram @lakoat.kujawas.

Mollo typical woven fabric can also be found in Kapan traditional market (every Thursday), Fatumnasi traditional market (every Monday) and Tobu traditional market (every Saturday).

Translated by Yustin Liarian
Lakoat.Kujawas Homestay


Organic Mollo Coffee

Minggu, 11 September 2016

A Proud Atoin Meto

https://www.facebook.com/ThomasBenmetan
I was asked to write something about Timor based of my point view as an Atoin Meto who grew up in Timor Tengah Selatan, especially in Kapan, North Mollo. It is a very big pleasure of me to share about how proud  I am to be born as a Timorese. Many things to explain, but I will make it short why I and all the Timorese people should be proud for our homeland.
Firstly, I would talk about the land. Everything is still natural in Mollo, where you can easily breathe and feel the cold air without any doubt about how many poison that already filled your lungs. You may consider it as something exaggerate. But yeah, it’s true, even though it is still hard to find a good signal for your gadget, proper transportation and some other things that related to modern life.
Ume Kbubu
When I was a kid, I spent many time playing in the forest with friends. We made toys from what items that is available on us like newspaper, rubber band, trees, leaves, woods, can, bottle, rind and et cetera. And it was so amazing that I have ever experience that kind of childhood things. What I learn from my childhood is the importance of being connected with the nature. It taught us be more creative, to utilize everything around us for our own goods. 
The second thing is how I perceive Timorese people, which in Dawanese language we called “Atoin Meto.” Some people may consider that Timorese people are lazy, because when they woke up in the morning, the first thing that they do is sitting inside “Ume Kbubu” to warmth their body.  Yeah, true, but that is not what I want to talk about. The point is, Timorese people are very open with new things. Hundred years ago, many Chinese, Savunese, Bugis people, Muslims, Catholic, Rotenese and Flores people came to this island as merchants. Timorese people accepted them with an open hand and since that time they are peacefully living alongside one and another. Some of them married with Timorese, making families and having a good relation one and another without taking the diversity as a disaster. The proof of good assimilation and acculturation in Timor can be seen in Mollonese Monarchy where some of them are Chinese descent.
Want to know another example? Just come to Kapan, a small town in North Mollo during the time of Easter or Christmas celebration. You will see many Muslims (where most of them are Bugis descents from South Celebes) who participate in some of the celebration. They join the parade of Easter, they attend to many competition and blend with the atmosphere of Christmas or Easter. They celebrate it also without worrying to lose their faith.
Not only that.  You may consider to attend wedding party in Kapan. You will find that there will be a special dining table for Muslims, for they are prohibited to eat pork. The dining table for Muslims are served with dishes that contains halal food, which means that there will be no pork in their food. Isn’t amazing? Diversity proves peace.
Last but not least, the third thing that I want to share is I am so proud with the culture of Timorese people that is still preserve until this era. One of the Timorese philosophy is about how we regards the earth as like as we regards human body. It says that:
 “Nasi Fani on Nafus, Fatu Fani on Nuif, Afu Fani on Nesa, Oel Fani on Na’”
Which means: “The forest is our hair, the stone is our bone, the land is our flesh and the water is our blood.”  This philosophy proves how deep and how strong the relationship between human and Mother Nature. For Timorese people, earth is a mother, and they are her children. What they do is to protect their mother who is giving them life and provide everything that they need.   Timorese people respect the earth as like as they respect their body, and if one part of them is taken away, they are paralyzed. Nature and human cannot be separated. We life alongside, also depending on one and another.
Living in a small town called Kapan taught me to be someone with a strong will who is not easy to give up. My parents once told me to believe that it doesn’t matter where I came from, I have to prove that even I am from a small town that is lack on many things, I can stand as high as people who is living with prosperity. It motivates me to pursue my dream, yet I am not forgotten where I came from. Since high school I left my hometown, but I still remember what they said to me and what should I do for my hometown after I got the dream in my hand. Because wherever I go, I am still bringing my title as a Timorese, as an Atoin Meto who were born in a small town, near the river down the mountain. Mollo has taught me to dreams without limits. 
For those who has never been in Mollo, I do hope that my reflection could be a picture to you, to understand and to know more about Mollo. And for Atoin Meto who read this, be proud of who we are, and perceive everything in our motherland as a gift from God that we should responsible to keep it, to develop it while not leaving its roots. And do remember that“you can take a Timorese out of Timor, but you cannot take Timor out of a Timorese.”

Sincerely,



Thomas Benmetan


Aneka Produk Pangan Organik dan Tenun Khas Mollo di Toko Online Lakoat.Kujawas

Beberapa produk oleholeh khas Mollo, Timor Tengah Selatan yang jadi unggulan desa Taiftob di proyek kewirausahaan sosial @lakoat.kujawas segera bisa dibeli. Kain tenun karya artisan tenun Mollo, madu hutan Mollo, jagung bose organik dari kampung Manesat Anin, sambal lu'at organik khas Mollo dan satu lagi yang sedang dalam proses pengepakan yakni kopi Mollo. Silakan mampir ke Instagram @lakoat.kujawas untuk beli beberapa produk kami sekaligus support petani dan penenun lokal di Mollo. #kerjabarengwarga #kerjakolaborasi#mollo #timor #LKJWS #lakoatkujawas #community#coworkingspace #ecotourism #homestay #library#socialenterprise #creativeeconomy #kainmollo#tenunmollo www.lakoatkujawas.blogspot.co.id

Untuk pembelian produk organik khas Mollo, silakan via Instagram/lakoat.kujawas atau WA 081338037075