We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.
Tampilkan postingan dengan label ecotourism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ecotourism. Tampilkan semua postingan
Jumat, 17 Mei 2019
Mnahat Fe'u Heritage Trail #3: Mempertemukan Komunitas, Pangan dan Ekologi
Desa Taiftob, 6 Juni 2019
Selamat datang di Komunitas Lakoat.Kujawas. Hampir tiga tahun berjalan, kami menciptakan banyak kesempatan dan ruang-ruang kreatif. Kami melihat perubahan itu menyentuh anak-anak, orang muda, kelompok perempuan, para petani, sekolah, Gereja dan tokoh adat. Dengan semangat kerja kolaborasi dan kerja jaringan, kami senang dan bangga bisa terhubung dengan Anda sekalian. Terhubung untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi kreatif bagi warga desa, ruang dan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan diri mereka. Berkolaborasi dengan warga aktif desa Taiftob kami mengembangkan perpustakaan, komunitas kesenian, kewirausahaan sosial dan ruang arsip seni, budaya dan sejarah Mollo. Termasuk program heritage trail yang sedang Anda baca ini: Mnahat Fe’u, sebuah perayaan sepanjang musim panen tahun 2019. Mnahat Fe’u adalah salah satu jenis tarian bonet yang dirayakan ketika musim panen. Mnahat Fe’u kami berisi serangkaian lokakarya tarian bonet musim panen, lokakarya pengolahan buah menjadi selai, wine, liquor dan manisan. Heritage trail ini sekaligus sebagai upaya kami melakukan pengarsipan informasi sejarah, budaya dan kesenian serta merevitalisasi kampung kami. Semua yang menyenangkan ini terjadi di musim panen, terlebih bahwa inisiatif program ini datang dari warga sendiri.
Dampak
Sebagian besar keuntungan program ini kami investasikan untuk membiayai kegiatan pengembangan diri warga desa Taiftob khususnya kelas menulis kreatif dan kelas tenun bagi remaja. Pelatihan-pelatihan bagi kelompok orang muda dan kelompok petani perempuan. Anda sudah ikut mendukung komunitas Lakoat.Kujawas mengembangkan model kewirausahaan sosial warga aktif, mendorong ekonomi kreatif di desa Taiftob bertumbuh serta ikut menyadarkan warga Taiftob bahwa kekayaan alam dan sebi budaya yang mereka punyai penting untuk diapresiasi, dijaga dan dilestarikan. Program ini ikut mempromosikan dan meningkatkan kesadaran semua pihak terkait kelestarian lingkungan, misalnya dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pupuk kimia.
Jenis Kegiatan
Kami mengajak Anda untuk mengeksplor pasar tradisional di Kapan, berkunjung ke situs batu, hutan dan mata air. Mengikuti lokakarya seni tradisi bernama BONET khusus musim panen. Mencoba berbagai jenis pangan lokal sehat bebas MSG dan minyak sawit yang diolah dengan resep leluhur. Sharing pengalaman komunitas lakoat.kujawas membangun ekosistem warga aktif dengan pendekatan kewirausahaan sosial, untuk keberlanjutan berbagai program seni budaya dan pertanian di desa Taiftob.
Mnahat Fe’u Heritage Trail direncanakan berlangung pada hari Kamis, 6 Juni 2019, bertepatan dengan hari pasar tradisional di Kapan. Acara berlangsung mulai jam 7 pagi dan berakhir jam 4 sore. Untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini setiap peserta membeli paket seharga Rp. 250,000 /orang dewasa, sudah termasuk:
1. Pengalaman belajar bersama komunitas warga, belajar budaya dan sejarah desa Taiftob (terutama relasi orang Mollo dengan batu (fatu) dan air (oe), termasuk mendukung upaya revitalisasi kampung yang digagas oleh lakoat.kujawas. Eksplor pasar tradisional.
2. Satu kali makan siang pangan lokal sehat dari hasil pertanian organik warga.
3. Dua kali snack pangan lokal sehat.
4. Satu paket oleh-oleh produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas (produk spesial: manisan kulit jeruk, sagu dan kerupuk labu pempung/pumpkin).
5. Guide lokal.
Jika membawa sopir dan ingin ikut makan besar dan kudapan tanpa ikut agenda trail yang lain, dikenakan biaya Rp. 75,000/ orang.
Bagi peserta diharapkan untuk membawa botol minum/tumbler, obat-obatan pribadi, sepatu kets atau sandal gunung yang cocok untuk trekking. Lokasi kami ada di jalan Kampung Baru No. 2 desa Taiftob, Kapan, Mollo Utara. Kurang lebih 18 km ke utara kota SoE atau 130 ke arah timur kota Kupang. (google maps komunitas lakoat.kujawas). Kami menyediakan penginapan sederhana di rumah warga, kuota terbatas. Mohon reservasi terlebih dahulu. Jika membutuhkan jasa travel/sewa mobil dan ojek, silakan kontak ke Nando Ojek 081290528451 dan Hendrik Travel (mobil Avanza) 081210999432.
Info dan Pendaftaran
Info lebih lanjut dan pendaftaran silakan kontak email dickysenda@gmail.com atau whastapp 081338037075 (Dicky). Paling lambat Selasa, 4 Juni 2019. Terbatas hanya untuk 15 orang. No. Rekening BRI 473201013229535 an Christianto Senda.
Lampiran Agenda Lengkap
1. Jam 7 – 9: Eksplor pasar tradisional Kapan
2. Jam 9.30 – 10.30: Welcome ceremony: natoni, dilanjutkan sarapan pagi.
3. Jam 10.30 – 12.00: Trekking ke situs batu, hutan dan mata air di desa Taiftob. Mengenal lebih dekat project revitalisasi mata air. Tanam pohon di situs mata air Oelpuah
4. Jam 12.00 – 13.30: Makan siang pangan lokal dengan tatacara ala orang Mollo tempo dulu. Menu penutup spesial: es krim, laru dari nira pohon aren dan minuman farmentasi buah (liquor dan wine).
5. Jam 13.30 – 15.30: Workshop tari dan tradisi tutur khusus musim panen: bonet.
6. Jam 16.00: Ngopi sore menu pangan lokal, bagi-gai oleh-oleh produk lokal kewirausahaan sosial Lakaot.Kujawas
7. Jam 17.00: Sayonaraaa…
Kami sengaja mengumumkan kabar baik ini jauh hari bagi teman-teman di luar NTT. Heritage trail terakhir di musim panen tahun ini akan berlangsung tanggal 16 Agustus 2019. Highlightsnya: permainan tradisional Mollo, kere-kere, karnaval komunitas dan menu Cina Mollo peranakan. Catat tanggalnya, booking tiket pesawat sekarang, kami tunggu di Mollo.
Sabtu, 10 Maret 2018
Liburan, Harpitnas dan Lakoat.Kujawas
Ada berapa tanggal merah termasuk harpitnas (hari kejepit nasional) di tahun 2018 ini? Sialakan cari sendiri, kami juga belum tahu. Hahaha bercanda. Ada 21 hari libur nasional dan cuti bersama di tahun ini. Sementara untuk hari kejepit silakan dijepit-jepitkan sendiri.
Lalu apa hubungannya
liburan, harpitnas dan lakoat.kujawas?
Kami adalah komunitas
orang muda dari Timor Tengah Selatan yang sedikit berbeda dari komunitas
kebanyakan di Pulau Timor. Eksis sejak Juni 2016 dan telah melampaui berbagai
proses kerja kreatif di bidang kewirausahaan sosial, kesenian dan literasi,
dengan begitu banyak jaringan komunitas, volunteer
dan orang-orang spesial: seniman, mahasiswa, dosen, peneliti, aktivis, filmmaker, fotografer, dan masih banyak
lagi, termasuk traveler. Yes, traveler! Teman-teman yang tertarik
berkunjung ke Mollo, satu wilayah di lereng gunung Mutis, dataran tinggi sudah
pasti, 130 dari Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur. Ada banyak hal yang bisa
dieksplor di sini, ada banyak problem yang perlu ditanggulangi bersama. Untuk
itu, lahirlah komunitas Lakoat.Kujawas, yang namanya terinspirasi dari dua
jenis buah yang umum di Mollo, kujawas (guava,
jambu biji) dan lakoat (loquat,
biwa). Lakoat.Kujawas adalah mimpi generasi muda Mollo untuk hidup lebih baik
di tanahnya sendiri. Ia adalah sebuah gerakan swadaya warga bersama banyak
jaringan komunitas dan relawan. Ia menawarkan tradisi baru dalam berwisata:
pariwisata yang dikelola oleh komunitas warga secara mandiri (community based tourism), memakai
pendekatan kewirausahaan sosial dengan mengutamakan kerja kolabirasi,
solidaritas dan sharing economy bagi
warga. Ia memberi kesempatan spesial kepada traveler, turis, pelancong, tamu,
atau apapun sebutannya untuk berwisata yang ‘tidak sekadar berwisata’. Karena
ini adalah wisata berbasis komunitas warga, kami menawarkan ruang khusus bagi
tamu yang tidak hanya tinggal langsung di rumah warga, namun juga terlibat
langsung dalam berbagai rutinitas harian warga dan ikut berkontribusi langsung:
berkegiatan dengan warga, berdiksusi, melakukan kegiatan produktif bersama, bertukar
pengetahuan, dst. Kok susah ya? Kan maksudnya mau berwisata, buat senang-senang
kok malah ikut memikirkan diri orang lain?
Di sinilah keunikannya.
Kami menawarkan sesuatu yang sebenarnya bukan hal baru. Fenomena ini ada dan
kami menciptakan ruangnya, untuk saling mendukung, memberdayakan,
menginspirasi. Di Lakoat.Kujawas Anda bisa menikmati keunikan budaya, sejarah,
tradisi, alam, di berbagai lokasi menarik yang bisa disimak lengkap di sini. Sekaligus, bisa ikut berpartisipasi dalam
kerja-kerja kreatif dan kolaboratif di bidang kewirausahaan sosial, literasi
dan kesenian bersama warga Mollo, khususnya kelompok perempuan penenun, orang
muda, anak-anak dan kelompok petani. Untuk Anda para traveler, apapun latar
pendidikan/pekerjaan/minat, kami menyediakan ruang diskusi, lokakarya,
pelatihan, penyuluhan dan berbagai kegiatan pengembangan sumber daya manusia. Ruang
untuk saling transfer ilmu. Karena pada prinsipnya, tamu tidak saja mendapat
sesuatu dari warga dan alam lokal, namun juga sebaliknya, bisa berkontribusi
bagi manusia dan alam setempat.
Teman-teman yang
tertarik dengan tawaran kami ini bisa mengintip progress kami dua tahun
terakhir di Instagram @lakoat.kujawas,
toko online kami di Instagram @lkjws.co
dan blog kami bit.ly/lakoatkujawas.
Tertarik mendiskusikan
paket wisata, lokasi wisata, peluang kerja kolaborasi bersama warga,
transportasi dan akomodasi plus harganya, termasuk mendiskusikan rencana
program pengembangan SDM bersama warga di bidang kesenian, literasi,
kewirausahaan sosial, atau lainnya selama Anda berwisata di Mollo, silakan
kontak kami di Whatsapp 081338037075
atau email dickysenda@gmail.com.
Dengan senang hati kami akan membantu mengorganisirnya.
Salam
Dicky
Senda
Program
Director Komunitas Lakoat.Kujawas
![]() |
| workshop farmentasi buah bersama Geger dari LIFEPATCH Jogja |
![]() |
| sumbangan pisang dari warga setiap ada kegiatan di lkjws |
![]() |
| kelas menulis kreatif To The Lighthouse bersama anak-anak desa Taiftob |
![]() |
| workshop bonet bersama salah satu seniman lokal Mollo |
![]() |
| Shinta Febriany, sutradara teater asal Makassar bersama penenun Mollo |
![]() |
| Sinema Anak Mollo: acara nonton film bulanan ala anak desa Taiftob |
![]() |
| lokakarya teater bersama Shinta Febriany |
Rabu, 16 November 2016
Trekking and Team Building Activities with IOM Kupang in Mollo
Kami sangat bahagia ketika diminta oleh International Organization for Migration (IOM) Kupang untuk mengatur acara trekking dan team building bagi tim IOM Kupang yang berjumlah 13 orang di Mollo. Area yang dipilih dan dirasa sangat cocok untuk kegiatan ini antara lain sekitar danau Fatukoto, di Lopo Mutis Homestay Fatumnasi dan Hutan Lindung Mutis, Oenino hingga Leolfui di kaki gunung Mutis. Ini pengalaman pertama yang mengasyikan. Dicky Senda selaku fasilitator punya pengalaman tersendiri dengan kegiatan team building sebab ia pernah mempelajarinya ketika kuliah dulu di fakultas Psikologi (khusus mata kuliah psikologi pelatihan). Ilmu yang sudah lama mengendap itu akhirnya terpakai juga. Sebelumnya di Lakoat.Kujawas social enterprise kami sudah menawarkan beberapa paket wisata antara lain trekking ke hutan lindung Mutis atau ke lembah Mollo di Noebesi dan Manesat Anin, namun paket yang sebenarnya sungguh mengasyikan adalah kegiatan team building. Bagaimana lewat berbagai jenis permainan yang barangkali terlihat atau terkesan fun, mengundang gelak tawa, namun karena dilakukan bersama dalam tim, ada refleksi yang diharapkan bisa terjadi. Bagaimana seharusnya sebuah tim bekerja dan berkembang bersama. Terima kasih kepada kawan-kawan baru kami dari IOM Kupang. Semoga senang dengan pelayanan dan program team building yang sudah kita lakukan bersama. Tetap jadi tim yang hebat, keren, easy going (ini kesan pribadi saya. Sumpah ketemu pertama kali langsung akrab. Luar biasa!). Sampai ketemu di lain kesempatan. Terima kasih sudah support kewirausahaan sosial kami, sudah mengapresiasi kerja-kerja kreatif orang muda Mollo, termasuk juga sudah mau apresiasi budaya dan tradisi Mollo. Sungguh, kami belajar banyak hal dari kalian.
![]() |
| foto: Natalya Nainggolan/IOM Kupang |
Selasa, 20 September 2016
Suatu Hari Minggu di Mollo
Sherly Indrayanti
Pagi itu hari Minggu pertama di bulan September, bulan yang awalan katanya sama dengan nama saya. Bunyi ayam berkokok mendahului bunyi alarm hp yang sengaja saya pasang supaya saya tidak ketinggalan matahari terbit. Ayam pun berkokok bersahut-sahutan seperti bunyi alarm yang tidak bisa di snooze. Semesta memang selalu punya caranya sendiri untuk bersinergi dengan manusia.
Berjalan sedikit ke belakang rumah Dicky Senda tempat saya menginap, lalu kami nangkring untuk menyapa balik matahari yang setiap pagi tidak pernah absen menyapa kita (terkadang matahari mengalah pada awan dan hujan, bukan karena dia malas, tapi karena dia juga harus berbagi panggung).

Matahari pagi itu awalnya malu-malu tapi kemudian menyembul keluar dengan gagah berani. Seperti biasa, karena suka kurang preparasi dan mudah teralihkan, dengan batere kamera yang sekarat saya masih sibuk foto ini itu kayak anak norak (emang norak). Waktu matahari sedang gagah-gagahnya menampakan diri, batere kamera pun habis dan saya terpaksa untuk menggunakan kamera hp utk memotret momen yang ditunggu itu. Saat-saat seperti ini lah yang melatih kita untuk berdamai dengan diri sendiri termasuk memaafkan kebodohan sendiri.
Di desa ini, mayoritas warganya adalah Nasrani, sehingga di hari Minggu pagi sudah terdengar suara lonceng-lonceng gereja. Dicky ikut misa bersama Bapak dan saya ikut ibadah Minggu bersama Ibu di GMIT Ebenheizer, lima menit berjalan kaki dari rumah mereka. Ibadah berlangsung tertib dan hampir semua jemaat masih membawa Alkitab di tangannya, kecuali saya yang membawanya dalam bentuk aplikasi. Saya sangat menikmati suasana Ibadahnya dan merasa terberkati di tengah sebuah kesederhanaan.
Sepulang gereja, saya pun memulai petualangan bersama Dicky Senda, yang selain sebagai pemilik Lakoat.Kujawas, juga menjadi guide di hari itu. Kami jalan menyusuri sungai Sebau menuju Kampung Noebesi dan Manesat Anin, untuk bertemu dengan para mama penenun dan panen hasil kebun bersama warga.
Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 2 jam dengan diselingi sesi berfoto di beberapa spot dan makan siang di tepi sungai. Dicky ternyata masih sempat memasak pagi itu dan membawa bekal utk makan siang kami. Makan nasi dengan lauk pauk sederhana dan sambal luat, di bawah langit biru sambil diiringi suara aliran sungai. Inilah yang disebut sebagai kemewahan dalam hidup.
![]() |
| Belajar tenun |
Dari Noebesi kami lanjut ke Manesat Anin ditemani Mama Via, Mama Mina, dan anak-anak (saya sudah tanya satu per satu namanya tapi belum hafal semua) Di sana, kami dijamu dengan singkong kapok dan jagung bose yang dipanen langsung dari kebun warga setempat. Lalu siang yang mulai terik itu pun dilengkapi dengan sejuknya air kelapa yang dipetik langsung dari pohon. Jefry adalah jagoan kami hari itu, karena dia yang menyodorkan diri untuk memanjat pohon kelapa.
Menjelang sore, kami pamit untuk kembali ke Taeftob sebelum gelap menjemput kami di perjalanan. Tetiba saya membayangkan perjalanan menyusur sungai dengan jalan berbatu yang tadi kami lewati dan meragukan diri sendiri apakah masih sanggup menempuh jalan pulang. "Andai ada jalan pintas atau ada kendaraan yang menjemput ke sini", begitu gumam saya dalam hati. Sayangnya, tidak ada pilihan lain. Berani berangkat ya harus siap pulang. "Semua hal dalam hidup ini ada ongkosnya, toh? Termasuk kebahagiaan!"
![]() |
| Panen ubi kapok bersama mama Via |
Perjalanan pulang yang awalnya saya pikir akan terasa lebih lambat dan menghabiskan energi, ternyata terlalui dengan lebih singkat. Keceriaan, kepekaan, dan ketulusan anak-anak Noebesi dan Maesat Anin menyisakan kehangatan yang teramat dalam di hati saya.
Saya berharap mereka semua bisa sekolah sampai tinggi dan bisa membangun desa nya. Saya justru tidak berharap mereka buru-buru mengenal internet. Biarlah mereka tumbuh alami tanpa percepatan, bermain dengan alam nyata sehari-hari yang bukan virtual. Ya Tuhan, jagalah mereka dalam tangan Mu.
***
![]() |
| bersama Keluarga Senda |
Berbeda dari Kota Kupang yang terik dan berdebu, Mollo merupakan daerah pegunungan yang sejuk dan asri. Tingkat polusi nya sangat rendah karena selain letaknya di pegunungan, alamnya hijau, sangat sedikit juga kendaraan yang lalu lalang sehari-hari. Air untuk mandi juga terasa sejuk di kulit. Setiba di sini, kepenatan (setelah hanya tidur 3 jam di malam sebelumnya, penerbangan 5 jam dari Jakarta, dan perjalanan 3.5 jam dari Kupang-Kapan dengan AC alam) seketika hilang.
Selama menginap, saya berkesempatan menikmati masakan rumah yang disiapkan langsung oleh Dicky Senda dan Mama Rika. Menu yang terhidang tidak pernah luput dari sayuran segar dan sambal lu'at. Campuran jeruk di setiap hidangan memberikan sensasi kesegaran tersendiri di lidah yang membuat saya selalu nambah dan lupa pada kata diet. Pilihan karbohidrat yang tersedia cukup bervariasi mulai dari beras merah, ubi atau singkong rebus, dan jagung bose kupas yang direbus bersama kacang-kacangan. Lauk yang cukup khas adalah lawar jantung pisang. Kebetulan Dicky senang berkreasi dengan bahan pangan lokal dan hasil olahannya selalu pas di lidah.
Mama Rika selalu bangun pagi-pagi dan langsung sibuk di dapur, sehingga begitu saya keluar kamar, di meja makan pasti sudah tersedia camilan ringan yang sangat pas untuk sarapan. Pisang goreng, kue cucur, sukun goreng, dan roti isi kelapa gula merah adalah aneka kreasi camilan buatan Mama Rika yang sempat saya nikmati. Selain pada bahan-bahan yang segar dan alami, kenikmatan makan di sini terletak pada sentuhan tangan Ibu yang membuat saya berasa di rumah.
Keramahan penduduk lokal juga merupakan salah satu faktor yang membuat saya betah di sini. Bukan sekedar ramah dan murah senyum, penduduk di sini selalu bertegur sapa satu sama lain ketika bertemu di jalan meskipun belum tentu hafal nama. "Mama! Bapa! Kakak!" Begitu kira-kira cara mereka saling menyapa. Cara bercakap-cakap dengan orang baru pun jauh dari kesan basa-basi sehingga menghadirkan keakraban tersendiri.
![]() |
| Ume Kbubu, rumah tradisional suku Dawan |
Sebuah hari Minggu penuh makna, sebuah kado yang datang lebih awal di tahun ini. Terima kasih, Dicky Senda yang sudah memperkenalkan petualangan kecil ini. Dicky Senda, kawan baru saya ini, adalah seorang penggiat seni kelahiran Mollo yang memilih untuk pulang ke desanya untuk merintis kewirausahaan sosial di sana.
Penulis tinggal di Jakarta dan bekerja di UNDP
![]() |
| Mama Martha dari Noebesi |
![]() |
| Anak-anak Kampung Noebesi |
![]() |
| Belajar Makan Sirih Pinang |
![]() |
| Anak-anak lembah Mollo |
![]() |
| Bersama warga kampung Manesat Anin |
Kamis, 15 September 2016
Knowing More Than Just Mollo
Lakoat.Kujawas Homestay is located on Jalan Kampung
Baru, No. 2 Taeftob Village North Mollo, Southern Central Timor, East Nusa
Tenggara. It is located 130 km away from Kupang or 18 km north of SoE City, lakoat.kujawas offers more than just a
house to stay, enjoying the typical fresh air of the mountains, a wealth of
history and tradition, the hospitality of Mollo people, cooking and enjoying a
variety of local food directly from the community houses. Managed by Christian
Dicky Senda, a short story writer who has a great interest in arts and culture
of Mollo with his farmer parents and have a great interest in the culinary
world. Dicky is currently researching the diversity of Mollo local food along
with its processing recipes for the purposes of writing literature. (Mollo, Selayang Pandang, can be readhere)
![]() |
| the host: Dicky, Mama Rika and Bapa Senda |
We offer a number
of special activities. If you're in lakoat.kujawas on Thursday, you will be
invited by Dicky to explore traditional markets in Kapan, the capital district
of Northern Mollo. There, you will find vast organic agricultural products from
the community, including food ingredients that are rarely found in markets. You
can shop and cook them together with Dicky and Mama Rika in lakoat.kujawas
kitchen. Another excitement that we offer is trekking to several villages surrounding
Tafetob Village, meeting with the weavers and eating local food in Bosen Village (weaving class with Mama Yakobeth and friends is a special offer for you), interacting with oranges
and betel farmers in Lelokasen. Or, you can choose to do the trekking, further and
more challenging to Manesat Anin and Noebesi village as far as 8 km, round trip on crystal
clear Sebau River from Mutis Mount, heading to the south coast of Timor. In Noebesi and Manesat Anin, you can visit the weaver and community garden, harvesting sweet potatoes and
vegetables, learning to make bose corn and cooking with local residents. There
are several special menus, such as bose corn, boiled yellow cassava and roasted
sweet potatoes, all of which can be enjoyed with grilled chicken and gala-gala (turi)
flowers lu'at chutney.Don't forget to bring books or make some fun activities with children there.
![]() |
| Kapan traditional Market |
Lakoat.Kujawas
Homestay is integrated into social entrepreneurship project tried to be
developed by Dicky Senda tried together with his native Mollo friends with the
mission of ecotourism development in Mollo. Those integrated include co-working
space with library and discussion room as a platform for various employment
opportunities in achieving and collaboration work with Mollo community in arts,
literacy, culture, agriculture and creative economy. Lakoat.Kujawas is also pioneering an online store on Instagram,
selling several typical products of Mollo, such as typical organic lu'at
chutney of Mollo, Mollo homemade coffee, organic corn bose, Mollo honey forest and woven fabrics of Mollo. So when visiting Mollo, you will
not only stay and enjoy the richness of nature and culture of Mollo, but you
can also try a brand new experience in interacting and exchanging experiences
with the locals, learning local wisdom and contributing anything, moral and
material for the development of local resources. (See also 5+1 Things You Needto Know about Mollo).
Below are several
other tourist destinations that you can visit while staying at Lakoat.Kujawas.
1. Oehala Waterfall,
located in the region of Central Mollo. It takes about 20 minutes by private
vehicles leased from local people to reach this cascading waterfall. You can
enjoy sunset with a view Mollo Mount and Noelmina Valley from Bolaplelo altitude,
stopping by orange and vegetable plantations Oelbubuk and Netpala. Netpala Village
itself is one of the oldest indigenous villages in Mollo.
![]() |
| Oehala waterfall |
2. Fatumnasi, it has natural forests and rivers. It is one of the entrances to Mutis Mount, which is considered sacred by people Mollo. In protected forest near Fatumnasi, you can see Ampupu trees, a type of flourishing eucalyptus, even a part of forest had been dwarfed, and forming a natural bonsai. In Fatumnasi, you can stay at Lopo Mutis Homestay, run by Anin family. The host, Father Matheos Anin is friendly figure and is one of the elders of Fatumnasi. Staying in Lopo Mutis in the form of ume kbubu, a traditional house of Dawan tribe, that will provide an amazing experience. For you who are interested in learning the culture and history of Mollo people, Father Anin is one of proper speakers. If you come to Fatumnasi on Monday, you can go to traditional markets and shop for local food ingredients to be cooked with family of Father Anin. In the afternoon, it can be an opportunity for trekking to the carrot, potato, leek and garlic plantation owned by community or bathing in the river of which springs originated from the slopes of Mount Mutis. Do not forget to buy woven fabrics created by women in Fatumnasi as souvenirs. On the way to and from Fatumnasi, there are several attractive points that you can visit, including Fatukoto Lake, and drop by to one of the important sites of Mollo people, namely Fatunaususu which has become a symbol of opposition of the residents who refused marble mining, a dozen years ago.
![]() |
| Netpala Village |
4. Kote Fortress in Sebau,
was one of the royal bastions in Mollo once upon a time. Currently, the ruins
of the bastion and traditional houses are in preservation efforts by the next
generation. Nearby the castle, there is a river flowing throughout the year, crystal
clear water flowing from Mutis Mount towards the south beach. There are several
points of camping on the riverbank that can be your choice to spend the night
and enjoy the cool air of Mollo Valley.
For more information, you
can contact us:
Telephone: 081338037075 (Dicky Senda)
Or see our profile on Instagram @lakoat.kujawas, Twitter
@lakoatkujawas, blog www.lakoatkujawas.blogpspot.co.id and Page www.facebook.com/lakoat.kujawas
NB: Currently, lakoat.kujawas provides 2 bedrooms with
a capacity of 2 people per room, and we are currently building two units of ume kbubu (traditional house of Dawan
tribe) with a capacity of 3 people per ume
kbubu in Taeftob Village. In the near future, lakoat.kujawas will also be integrated with other homestays run by residents
in Taeftob Village and in other villages in the region of Mollo. The tariff per
room is IDR 75,000/night, including breakfast. The price is not included lunch
and dinner, public transportation (taxibikes or shuttle) to several location
points and local tourist guide services.
How
to reach Lakoat.Kujawas?
Our location in on
Jalan Kampung Baru, No. 2, Taeftob Village, North Mollo, TTS, NTT.
From Kupang:
1.
Take Kupang - Kapan travel service. Depart from Kupang
between 1-3 pm. It takes around 3 hours. Phone Number of Travel Service
081210999432 (Hendrik Travel). The tariff is IDR 50,000 / person (shuttle).
2.
Take busses from Kupang-SoE or Kupang-Kefa or Atambua-Kupang
from Oesapa Kupang. Get off in Kapan branch. Bus fares IDR 30,000/ person. In Kapan branch, take a taxibike to Ibu dan Anak
Hospital, it costs IDR 5,000. Take yellow public transportation from the
junction next to Ibu dan Anak Hospital Nonohonis, it costs 15,000/ person.
How to reach Lopo Mutis homestay in Fatumnasi (if you want to go to Mount Mutis or Mutis forest) from Lakoat Kujawas:
. Use ojek, it costs IDR 35,000, or use public trasportation (kind of pick up car) it costs IDR 20,000. You can also rent a pick up, it costs IDR 200,000 for one way.
Souvenirs from Mollo:
Lakoat.Kujawas produces lu'at organic chutney
(original and beef liver), Mollo homemade coffee, jagung bose, and Mollo forest honey and sells woven fabric produced by weaver group of
Noebesi. They can be ordered
via Instagram
@lakoat.kujawas.
Mollo typical woven fabric can also be found in Kapan
traditional market (every Thursday), Fatumnasi traditional market (every
Monday) and Tobu traditional market (every Saturday).
Minggu, 11 September 2016
A Proud Atoin Meto
![]() |
| https://www.facebook.com/ThomasBenmetan |
I
was asked to write something about Timor based of my point view as an Atoin Meto who grew up in Timor Tengah
Selatan, especially in Kapan, North Mollo. It is a very big pleasure of me to
share about how proud I am to be born as
a Timorese. Many things to explain, but I will make it short why I and all the
Timorese people should be proud for our homeland.
Firstly,
I would talk about the land. Everything is still natural in Mollo, where you can
easily breathe and feel the cold air without any doubt about how many poison
that already filled your lungs. You may consider it as something exaggerate.
But yeah, it’s true, even though it is still hard to find a good signal for
your gadget, proper transportation and some other things that related to modern
life.
| Ume Kbubu |
When
I was a kid, I spent many time playing in the forest with friends. We made toys
from what items that is available on us like newspaper, rubber band, trees,
leaves, woods, can, bottle, rind and et cetera. And it was so amazing that I
have ever experience that kind of childhood things. What I learn from my
childhood is the importance of being connected with the nature. It taught us be
more creative, to utilize everything around us for our own goods.
The
second thing is how I perceive Timorese people, which in Dawanese language we called “Atoin
Meto.” Some people may consider that Timorese people are lazy, because when
they woke up in the morning, the first thing that they do is sitting inside “Ume Kbubu” to warmth their body. Yeah, true, but that is not what I want to
talk about. The point is, Timorese people are very open with new things.
Hundred years ago, many Chinese, Savunese, Bugis people, Muslims, Catholic,
Rotenese and Flores people came to this island as merchants. Timorese people
accepted them with an open hand and since that time they are peacefully living
alongside one and another. Some of them married with Timorese, making families
and having a good relation one and another without taking the diversity as a
disaster. The proof of good assimilation and acculturation in Timor can be seen
in Mollonese Monarchy where some of them are Chinese descent.
Want
to know another example? Just come to Kapan, a small town in North Mollo during
the time of Easter or Christmas celebration. You will see many Muslims (where
most of them are Bugis descents from South Celebes) who participate in some of
the celebration. They join the parade of Easter, they attend to many
competition and blend with the atmosphere of Christmas or Easter. They
celebrate it also without worrying to lose their faith.
Not
only that. You may consider to attend
wedding party in Kapan. You will find that there will be a special dining table
for Muslims, for they are prohibited to eat pork. The dining table for Muslims
are served with dishes that contains halal food, which means that there will be
no pork in their food. Isn’t amazing? Diversity proves peace.
Last
but not least, the third thing that I want to share is I am so proud with the
culture of Timorese people that is still preserve until this era. One of the Timorese
philosophy is about how we regards the earth as like as we regards human body.
It says that:
“Nasi Fani on Nafus, Fatu Fani on Nuif, Afu
Fani on Nesa, Oel Fani on Na’”
Which
means: “The forest is our hair, the stone is our bone, the land is our flesh
and the water is our blood.” This
philosophy proves how deep and how strong the relationship between human and
Mother Nature. For Timorese people, earth is a mother, and they are her
children. What they do is to protect their mother who is giving them life and
provide everything that they need. Timorese people respect the earth as like as
they respect their body, and if one part of them is taken away, they are
paralyzed. Nature and human cannot be separated. We life alongside, also
depending on one and another.
Living in a small town called Kapan taught me to
be someone with a strong will who is not easy to give up. My parents once told
me to believe that it doesn’t matter where I came from, I have to prove that
even I am from a small town that is lack on many things, I can stand as high as
people who is living with prosperity. It motivates me to pursue my dream, yet I
am not forgotten where I came from. Since high school I left my hometown, but I
still remember what they said to me and what should I do for my hometown after
I got the dream in my hand. Because wherever I go, I am still bringing my title
as a Timorese, as an Atoin Meto who
were born in a small town, near the river down the mountain. Mollo has taught
me to dreams without limits.
For
those who has never been in Mollo, I do hope that my reflection could be a
picture to you, to understand and to know more about Mollo. And for Atoin Meto who read this, be proud of
who we are, and perceive everything in our motherland as a gift from God that
we should responsible to keep it, to develop it while not leaving its roots. And
do remember that“you can take a Timorese out of Timor, but you cannot take
Timor out of a Timorese.”
Sincerely,
Aneka Produk Pangan Organik dan Tenun Khas Mollo di Toko Online Lakoat.Kujawas
Beberapa produk oleholeh khas Mollo, Timor Tengah Selatan yang jadi unggulan desa Taiftob di proyek kewirausahaan sosial @lakoat.kujawas segera bisa dibeli. Kain tenun karya artisan tenun Mollo, madu hutan Mollo, jagung bose organik dari kampung Manesat Anin, sambal lu'at organik khas Mollo dan satu lagi yang sedang dalam proses pengepakan yakni kopi Mollo. Silakan mampir ke Instagram @lakoat.kujawas untuk beli beberapa produk kami sekaligus support petani dan penenun lokal di Mollo. #kerjabarengwarga #kerjakolaborasi#mollo #timor #LKJWS #lakoatkujawas #community#coworkingspace #ecotourism #homestay #library#socialenterprise #creativeeconomy #kainmollo#tenunmollo www.lakoatkujawas.blogspot .co.id
![]() |
| Untuk pembelian produk organik khas Mollo, silakan via Instagram/lakoat.kujawas atau WA 081338037075 |
Langganan:
Postingan (Atom)












































