We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label active citizens. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label active citizens. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Januari 2024

Penggalangan Dana Publik Untuk Program Lakoat.Kujawas Sepanjang Tahun 2026





Komunitas Lakoat.Kujawas selalu hadir dengan semangat yang sama mengaktifkan ruang-ruang kreatif dan swadaya berbasis warga di desa Taiftob di pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan. 

Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas warga yang bergerak sejak tahun 2016 melakukan kerja pengarsipan dan pendokumentasian pengetahuan lokal dan mereproduksinya ke dalam beberapa program regular antara lain sekolah budaya, perpustakaan warga, kelas menulis, food lab, penerbitan buku, tur gastronomi dan pameran arsip warga. Kami bergerak secara swadaya dengan semangat warga bantu warga, untuk membangun kesadaran dan kekuatan kolektif sipil. Aktivitas dan ruang-ruang kreatif kami banyak didukung oleh warga net dan warga kampung. 

Tahun 2026 nanti kami masih dengan semangat mengaktifkan:  

1. Sekolah Budaya, Skol Tamolok. Model pendidikan kontekstual kami, sekolah budaya Skol Tamolok 1x sebulan dengan mengundang 1 seniman/budayawan lokal sebagai narasumber. Kebutuhan operasional: biaya transportasi dan honor narasumber lokal, konsumsi peserta dan narsum

2. Perpustakaan Warga. Kami membuka perpustakaan warga dan kelas menulis untuk anak secara regular 2x seminggu. Kebutuhan operasional: belanja buku bacaan anak, langganan majalah Bobo, berlangganan internet dan listrik, tabungan koperasi bagi orang muda kampung yang magang sebagai pengelola perpustakaan dan kelas menulis. 

3. Ekperimen di Foodlab Ume Fatumfaun. Melakukan eksperimen di foodlab bersama anak dan orang muda 2x sebulan. Kebutuhan operasional: pembelian alat dan bahan untuk eksperimen merespons potensi pertanian dan pangan lokal. 

4. Makanan Lokal Sehat Untuk Semua. Kami membagi makanan sehat dari pangan lokal kepada lebih dari 80 anak di foodlab Ume Fatumfaun 2x sebulan. Biaya operasional: pemberian makanan tambahan dari bahan pangan lokal untuk anak-anak yang mengakses perpustakaan. tabuangan koperasi bagi para mama dan orang muda yang memasak pangan lokal untuk dibagikan gratis ke anak-anak. 

5. Residensi Seni Apinat-Aklahat. Kami menyelenggarakan residensi bagi seniman dan peneliti sebanyak 4 orang (terdiri dari fotografer, videografer, filmmaker, seniman teater dan aktivis pangan lokal). Periode residensi adalah Januari - April 2024. Kebutuhan operasional: konsumsi seniman/peneliti, transportasi lokal seniman/peneliti, biaya lokakarya dan training bersama warga lokal. 

6. Unit Usaha Sosial. Mengaktifkan unit usaha sosial kami yang terintegrasi dengan foodlab Ume Fatumfaun, yakni model tur gastronomi, kelas-kelas pangan lokal dsb. Biaya operasional: mengadakan beberapa alat seperti alat pengering buah dan sayur, freezer untuk menaruh produk beku dan alat/mesin pembuat kopi sederhana. Mengadakan kasur, bantal dan perkap untuk kamar residensi yang baru saja kami bangun yang bisa dipakai oleh para tamu residen di lakoat.kujawas. 

7. Riset Warga. Riset pangan dan pengetahuan lokal. Riset partisipatif warga Mollo dan seniman/peneliti tamu sepanjang tahun 2025 yang hasilnya akan dibukukan dan dibuat pameran/pertunjukan seni warga di tingkat komunitas, kampung dan luar Mollo. Kebutuhan operasional: riset kampung, penerbitan buku dan zine, transportasi dan konsumsi selama periode riset. Reproduksi karya dari hasil riset. 

8. Presentasi Publik. Presentasi publik, festival musim tanam, festival musim panen dan pameran arsip warga, yang akan dilakukan di bulan Mei, Agustus dan Oktober 2026. 

9. Beasiswa dan Koperasi Pendidikan. Ada sejumlah pelajar SMA dan orang muda desa yang magang di komunitas kami. Tabungan pendidikan dan kesehatan bisa dipakai untuk membayar SPP di sekolah maupun UKT untuk beberapa kader kami yang sedang kuliah di Universitas Terbuka.  

10. Penerbitan Buku. Sebagai komunitas yang aktif melakukan riset dan kajian budaya Mollo, mengarsip dan mendokumentasikan pengetahuan lokal, kami sedang mengerjakan sebuah proyek penerbitan buku kumpulan resep dan cerita di baliknya. 


Rekening BRI 4732 01034120 53 6 

atas nama

 Perkumpulan Lakoat.Kujawas


Donasi dan dukungan kalian akan sangat membantu terselenggaranya program swadaya kami sepanjang tahun 2026. Catatan: kami berupaya untuk tidak terhubung dengan donor/sponsor dari partai politik, industri ekstraktif dan rokok. 

Informasi dan dukungan silakan kontak email kami lakoat.kujawas@gmail.com.

 Terima kasih. 


Baca Juga: Residensi Apinat-Aklahat 2025 

Sabtu, 03 Juni 2023

Crowd Funding: Beli Buku Surat-Surat dari Mollo, Dukung Pengembangan Rumah Residensi dan Cafe Pangan Lokal di Desa Taiftob

Buku Surat-Surat dari Mollo adalah buku kumpulan cerita dan resep makanan hasil riset warga aktif di komunitas Lakoat.Kujawas sejak tahun 2016. Proses penulisan buku ini sendiri dimulai saat pandemi di awal tahun 2020 dan berakhir di pertengahan tahun 2023, setelah melewati berbagai proses riset, menulis, edit, menulis lagi, mengedit lagi, pengerjaan sampul, eksperimen/ujicoba resep, pengerjaan tata letak hingga akhirnya dicetak. 

Cafe, Ruang Arsip dan Rumah Residensi adalah ruang baru yang akan ada di komunitas setelah perspustakaan dan food lab. Ini akan menjadi ruang ekonomi kreatif dengan pendekatan kewirausahaan sosial yang akan menjadi salah satu lini usaha kreatif warga desa yang bergiat aktif di komunitas. Ruang ini juga akan menjadi tempat diskusi, residensi seni, dan pameran arsip kampung. 

Untuk donasi silakan kontak +6281338037075 atau email ke lakoat.kujawas@gmail.com








Rabu, 30 Maret 2022

Warga Aktif Desa Taiftob: Iren Tapatab



Hai, perkenalkan beta pu nama lengkap Laurensius Tapatab. Biasa beta dipanggil Iren. Saat ini beta duduk di bangku SMA kelas XI.
Beta bergabung di Lakoat.Kujawas sejak tahun 2017 pada saat kelas VII SMP. Kala itu beta dengar di Lakoat.Kujawas ada banyak sekali kegiatan positif. Mendengar hal itu beta sangat senang karena bagi beta bergabung di Lakoat bisa mendatangkan banyak pengalaman baru. Awalnya beta ikut kelas menulis di SMPK St.Yoseph Freibademetz yang berkolaborasi dengan Lakoat.
Pada saat ikut kelas menulis, beta merasa sangat senang karena di kelas kami belajar menulis puisi, cerpen, opini masih banyak lai. Beta juga senang karena tulisan kami dibukukan juga. Banyak pengalaman baru akhirnya memang beta dapat. Kelas menulis kami kedatangan banyak sekali tamu, baik penulis, aktivis dan seniman. Kelas menulis kami juga pernah berkeliling ke Kupang membicarakan buku cerpen kami Dongeng dari Kap Na'm To Fen.
Beta merasa semenjak ikut Lakoat.Kujawas beta mengalami banyak perubahan. Beta jadi lebih percaya diri, wawasan beta juga terbuka dan jadi luas. Beberapa buku yang didalamnya ada karya-karya beta antara lain Dongeng dari Kap Na'm, Dongeng dari Nunuh Haumeni dan Tubuhku Batu Rumahku Bulan.

Senin, 21 Maret 2022

Mengenal Konsep Warga Aktif A la Lakoat.Kujawas




Selamat datang di komunitas Lakoat.Kujawas. Sebuah inisiatif warga yang lahir tahun 2016 dari sekumpulan orang muda yang setelah pergi merantau menemukan bahwa kampung mereka tidak mengalami banyak perkembangan, bahkan cenderung stagnan. 

Adalah Dicky Senda yang bertemu dengan beberapa kawan di Dusun Flobamora, Forum SoE Peduli, Komunitas Blogger NTT dan Kupang Bagarak, dan merasa bahwa munculnya banyak gerakan orang muda di perkotaan di NTT pada dekade 2010an harusnya terjadi juga di wilayah pedesaan atau perkampungan. Memang fakta berkata demikian bahwa banyak orang muda usia produktif memilih untuk merantau ke kota. Sedikit yang merantau karena bersekolah, banyak yang merantau karena harus bekerja di usia muda belia. Pada saat itu isu putus sekolah, human trafficking dan malnutrisi sedang meningkat tajam di wilayah NTT, khususnya di Timor. 

Di sisi lain, pengalaman berkarya dan bekerja kolektif di perkotaan berhasil menumbuhkan rasa solidaritas sehingga tercipta jaringan yang kuat. Jaringan atau modal sosial yang pada akhirnya menjadi bensin bagi gerakan-gerakan swadaya dari orang muda hingga hari ini. 


Bagaimana bisa mewujudkan mimpi itu? 

Pulang ke kampung sendiri tentu akan terasa lebih mudah sebab tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengenal orang-orang di kampung. Tantangan lain tentu ada. Nilai hidup masyarakat kita memang sudah banyak berubah. Sebagai wilayah yang kata kak Ben Laksana, kota tengah, mau dibilang kota dan modern banget juga tidak. Mau dibilang kampung tradisional yang kental dengan sistem adat juga tidak. Nilai yang dimaksud adalah soal gotong royong atau semangat kerelawanan. Kami merasa sulit membangun jaringan dan gerakan di awal sebab paradigma orang-orang di kampung, kalau ada kegiatan sosial seperti ini, yang mereka pikirkan adalah LSM dan bicara tentang LSM, berarti ada dananya. Ada uang!

Jika dulu orang kebanyakan bisa bekerja bersama bersihkan kebun dan menanam, saat ini polanya sudah bergeser, harus mampu bayar orang untuk bekerja di kebun. Uang memang menjadi prioritas dan kebutuhan utama, meninggalkan nilai kolektif a la masyarakat adat, a la masyarakat desa/kampung. 

"Kegiatan di Lakoat ada uang duduk tidak?"

"Berapa isi amplop pengganti transportasi kalau kita bergiat di Lakoat?"

"Dapat dana dari mana bisa bikin perpustakaan dan kegiatan literasi setiap akhir pekan?"

"Itu kakak-kakak yang mengajar bahasa Inggris dan kesenian digaji berapa sama Lakoat?"

"Masuk jadi anggota Lakoat.Kujawas bayar pendaftaran berapa? Ikut kelas Bahasa Inggris bayar berapa?"

Terlalu banyak pertanyaan yang datang ke kami di tahun awal berdiri. Kami berefleksi, kami berpikir keras. Mengapa masyarakat kita berubah menjadi sesgala sesuatu diukur dengan uang? Kami merantau dan tanpa sadar kampung kami sudah berubah begitu cepatnya. 

Memang sulit di tahun awal tapi ketika dijalani dengan serius dan penuh komitmen, selalu saja ketemu banyak orang baik yang mau membantu kami. Ternyata modal sosial itu sangat penting, membantu kami yang bergerak dengan modal semangat, punya kawan dan jaringan, punya pengalaman, uang mah nol hehe. 

Tapi di tahun pertama kami belajar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk untuk menyentuh hati para orang tua. Setahun melangkah dengan tekun dan konsisten, kami bertemu orang-orang yang awalnya apatis, yang awalnya bertanya-tanya dan mengukur kami dengan segala materi. Mereka adalah orang tua dan para guru di sekolah yang kemudian memberi testimoni karena dengan sendiri melihat ada banyak perubahan pada diri anak-anak dan siswa mereka. 

"Anak yang berada di Lakoat berbeda dengan yang tidak bergabung di Lakoat," cerita mama Mety, orang tua pertama yang join di komunitas kami. Mereka jauh lebih percaya diri dan berani. Itu adalah kunci dasar untuk bertumbuh dan berkembang. Sikap, karakter dan cara membawa diri, cara berbicara, bagaimana hormat dan respek pada orang lain, ternyata terbentuk dengan begitu alamiah. Kok bisa? Di Lakoat, kami membiarkan setiap anak menjadi dirinya sendiri. Mereka boleh memilih dan berbicara apa saja tanpa harus takut salah, takut dicela, takut dimarahi. Di Lakoat, kami hanya membangun ruang bermain dan belajar, ruang setiap anak menjadi diri mereka sendiri. Mungkin yang membuatnya berbeda dan menarik hanya karena kami desain dengan gaya yang lebih santai. Lewat aktivitas menari, berpuisi, menulis, bermain, nonton, diskusi, main ke hutan, makan bersama, gitaran bersama, karaoke dan banyak lagi. 

Pada titik ini kami sadar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk sekaligus kunci yang baik. Mereka membawa banyak perubahan bagi Lakoat dan orang tua, mereka menghubungkan komunikasi orang-orang dewasa yang cenderung kaku dan serius. Mereka mengajari kami bahwa bikin perubahan dan gerakan besar, bisa juga dilakukan dengan cara fun, bersama mereka anak-anak. 

Kami akhirnya sampai pada titik bahwa ekosistem yang mulai terbangun ini harus menempatkan anak sebagai titik tengah dari gerakan. Di sekeliling anak ada lapisan-lapisan: orang tua, keluarga, guru, sekolah, gereja, pemerintah desa, tokoh adat, perempuan penenun, petani, orang muda, dst. 

Di tahun pertama, kami sudah bisa menggandeng guru, sekolah dan gereja. Kami senang bertemu dengan pastor dan pendeta muda yang progresif. Kami bertemu guru dan orang tua yang antusias karena melihat sendiri banyak perubahan pada diri anak-anak mereka. Lantas bagaimana dengan pemerintah desa? Kami mengalami pasang surut hubungan yang lumayan panjang bahkan hingga beberapa bulan terakhir, ketika semuanya membaik karena salah satu kader dan aktivis dari komunitas kami terpilih menjadi kepala desa. 

Bersama sekolah kami punya semacam MoU untuk program kolaborasi komunitas dan sekolah. Pilot projectnya adalah menyelenggarakan kelas menulis kreatif yang terintegrasi dengan perpustakaan komunitas dan kelas ekstrakurikuler di sekolah. Kami bertemu tokoh adat dan beberapa orang tua yang rindu akan ruang-ruang seni budaya di kampung yang pernah ada di masa kecil atau masa muda mereka dulu. Ruang ketika segala lapisan umur dan gender bisa duduk setara untuk saling berbagi hal baik lewat acara kesenian dan ritual kampung. 

Kami akhirnya bersepakat untuk selain bergiat bersama anak-anak, kami memakai medium seni budaya untuk masuk dan menggandeng lebih banyak orang untuk bikin perubahan. Mengapa? Ya sederhana saja karena ruang seni budaya itu pernah eksis, bukan hal yang asing dalam memori kolektif warga. Dan itu pernah dianggap punya peran dan pengaruh dalam kehidupan mereka. Kami optimis. 

Memasuki tahun ke-6, ekosistem itu berhasil kami bangun. Ekosistem yang kami sebut, ekosistem warga aktif. Bahwa seluruh lapisan masyarakat di kampung, baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, anak dan remaja, semua punya kesempatan yang sama dan setara untuk mempelajari pengetahuan adat, pengetahuan lokal. Warga aktif artinya setiap kita punya peran penting untuk mendorong perubahan di kampung. Ibarat mesin, satu roda berputar akan mempengaruhi roda-roda lainnya. 

Ketika pandemi melanda, kami terputus hubungan dengan para relawan, seniman residensi atau tamu yang kerap mengikuti program heritage trail kami. Kami akhirnya menyelenggarakan model pendidikan adat, pendidikan kritis dan kontekstual, namanya Skol Tamolok. Melengkapi pendidikan formal yang didapat di bangku sekolah. 

Program ini semakin menegaskan posisi dan visi kami dalam gerakan warga aktif. Mengangkat semangat kolaborasi dan solidaritas, menggantikan individualisme kembali kepada kolektivisme yang sejak lama menjadi roh gerakan masyarakat adat. 

Kini kami fokus ke isu pangan lokal selain terus mengarsip pengetahuan adat. Pangan menjadi potensi dan kekuatan tanah dan manusia Mollo sejak lama. Pangan lokal harusnya bisa menjadi solusi dasar dan sentral bagi segala persoalan ekonomi, pendidikan, politik maupun sosial. Pangan lokal yang erat kaitannya dengan nilai dan semangat ekologi orang Mollo dalam berelasi  dengan alam dan merawatnya. Tentu bahwa ekologi juga menjadi isu penting hari ini ketika iklim berubah dan bencana terkait perubahan iklim itu juga menyentuh kita semua, termasuk yang tinggal di kampung. 

Sudah saatnya lewat konsep warga aktif ini, kesadaran dan nilai kolektif tentang keberlanjutan manusia dan sumber daya alam bisa terus tumbuh. Sumbernya tidak jauh, ada dan kuat di dalam pengetahuan adat kita. Kami yakin bahwa pengetahuan adat bisa menjadi solusi, daya resiliensi, daya adaptasi warga aktif di kampung. Minimal untuk menjawab tantangan lokal, problem di tingkat kampung. 

Untuk warga desa yang aktif dan mandiri, untuk kampung yang lebih baik, Kampung Katong.

#kampungkatong

Profil Warga Aktif: Mama Fun



Beta Marlinda Nau. Sering di panggil mama Fun. Beta bergabung di Lakoat.Kujawas dari tahun 2017. Beta tertarik bergabung di Lakoat saat itu karena terinspirasi dari anak beta, Fun, yang juga bergabung di Lakoat sejak awal Lakoat berdiri. Beta sering dengar cerita dari Fun kalau mereka sering kedatangan relawan-relawan dari Soe dan Kupang. Bahkan dari Jakarta, Bandung, Makassar dan luar negeri.

Fun mulai tumbuh sebagai anak yang penuh percaya diri dengan teman teman baru dan kakak relawan yang berkunjung di Lakoat. Beta melihat banyak sekali perubahan pada diri Fun dan anak anak lain di Taiftob dan sekitarnya yang bergabung di Lakoat.Kujawas.

Waktu itu beta tertarik juga dengan beberapa produk yang di jual di Lakoat. Seperti sambal luat, jagung bose dan kopi Mollo. Beta berpikir bahwa ada peluang dan kesempatan untuk beta bisa bekerja sama dengan Lakoat.

Akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba. Pada saat itu di bulan Juni 2017 beta bersama beberapa teman mengikuti kegiatan pelatihan pertananian di Paroki Kapan. Setelah itu kami langsung membentuk 1 kelompok kecil yaitu kelompok tani perempuan dengan beranggotakan 10 orang.

Akhirnya kami juga sepakat untuk ketemu kak Dicky dan meminta untuk bergabung dengan Lakoat. Dengan senang hati kak Dicky menerima kami. Dan setelah itu kami mulai berproses. Dengan berjalannya waktu dan teman teman yang lain sudah mempunyai kesibukan masing masing akhirnya kami pun berkurang dan berkurang hingga saat ini kelompok tani kami sudah bubar.

Beta masih tetap berharap akan ada hal baik yang beta dapat di Lakoat. Akhirnya pada tanggal 23 Oktober 2018 beta salah satu yg diutus mewakili teman kelompok ikut dalam Festival Kawasan Timur Indonesia di makasar. Dan itu semacam langkah awal dan penting dalam hidup beta. Beta mulai berproses dan bertumbuh bersama Lakoat.

Beta berusaha untuk bisa bicara di depan banyak orang walaupun beta gugup dan kadang merasa tidak percaya dengan keterbatasan SDM yang beta miliki. Sering merasa, siapa beta? Beta kan sonde sekolah tinggi.

Tapi beta tetap belajar dengan motivasi dan dorongan dari kak Dicky yang selalu memberi kesempatan kepada beta untuk tetap belajar.

Awal tahun 2019 kami mulai memulai dengan kegiatan heritage trail Mnahat Fe'u. Beta diberi satu kesempatan lagi untuk bersama teman teman mengurus bagian makanan dengan memasak pangan lokal.

Kami mulai dengan berinovasi dan bereksperimen dengan bahan lokal yang ada untuk membuat makanan enak dan berbagai resep. Bukan soal makanan enak saja yang kamu buat, kami juga berusaha untuk mencari tahu narasi atau cerita di balik setiap bahan makanan atau resep makanan itu sendiri. Atau jika ia adalah resep baru yang kami ciptakan, kami belajar untuk memberi narasi kepada resep baru itu. Menurut saya makanan itu harus punya cerita, karakter dan ciri khasnya.

Kami bikin heritage trail sebulan sekali. Dalam proses ini kami merasa bahwa bahan pangan lokal sebenarnya banyak sekali namun susah untuk kami dapat. Ada banyak faktor. Hutan dan tanah ulayat sebagai sumber pangan semakin sempit karena penduduk semakin padat atau alih fungsi lahan meluas. Benih-benih lokal juga hilang berganti benih dari toko. Orang enggan bahkan malu makan pangan lokal karena dianggap rendah, miskin, tidak berkelas.

Akhirnya masuk tahun 2020 kami sepakat untuk mulai menulis resep dari pangan lokal, mengidentifikasi, bereksperimen dan berinovasi dengan bahan pangan lokal dan beta diberi satu kesempatan lagi untuk mengkoordinir kegiatan ini.

Tahun 2020-2021 beta juga terlibat dalam program Being and Becoming Indigenous. Sebuah program yang mendorong orang muda adat membincangkan kembali identitas adat mereka di arus modernitas saat ini. Kami belajar bersama dua komunitas di Banten (Kasepuhan Pasir Eurih) dan Filipina (masyarakat adat Dumagat Remontado).

Isu pangan menjadi salah satu fokus dalam program itu. Program ini berlanjut dengan nama Kampung Katong, berkolaborasi dengan Simpasio Institute (Larantuka) dan Kolektif Videoge (Labuan Bajo). Masih didukung RMI dan Voice Global.

Di tahun 2021 beta terpilih mewakili komunitas untuk melakukan residensi seni di Jogja selama 14 hari. Awalnya beta bingung, apa itu residensi? Beta mulai membuka Google dan mencari tahu tentang residensi. Beta akhirnya melewati pengalaman itu dengan sangat baik. Mendapat banyak pengalaman dan kawan baru selama di Jogja. Berjejaring dengan banyak aktivis, seniman dan pegiat pangan. Beta mendapat kesempatan berkunjung dan belajar ke Murakabi, Bumi Langit, Sekolah Pagesangan, Panen Apa Hari Ini, Bakudapan, Papermoon dan Kalanari.

Beta beruntung bahwa beta dikelilingi banyak sekali orang yang mendukung dan memberi kesempatan kepada beta, perempuan dan ibu rumah tangga untuk meraih Beta pung mimpi. Termasuk didukung suami (bapa Fun) dan anak-anak. Beta belajar, semua orang harus memperoleh hak dan kesempatan. Siapapun dia, laki-laki dan perempuan tua atau muda, atau anak-anak, kita semua layak untuk maju dan setara. Sonde ada yang tertinggal di belakang.

Sampai hari ini beta tetap yakin dan percaya bahwa segala sesuatu yang ketong lakukan dengan hati yang ikhlas dan hati senang akan memperoleh hasil yang baik pula. Tantangan bukan penghalang untuk beta tetap berproses. Yang penting mau mencoba dan mau belajar. Kalau ada kegagalan, jangan menyerah. Bangkit dan perbaiki, coba lagi. O ya, kesempatan sonde datang dua kali. Kalau ada kesempatan, ambil dan lakukan dengan riang gembira.

Mama Fun tinggal di desa Taiftob, aktif di program pangan lokal komunitas.

Jumat, 18 Maret 2022

Profil Warga Aktif: Erlis Talan


Pertama kali beta bergabung di Komunitas Lakoat.Kujawas pada tanggal 15 Agustus 2019. Saat itu beta diajak oleh salah satu anggota komunitas Lakoat.Kujawas untuk ikut nonton pameran foto "Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu" karya anak-anak Lakoat.kujawas berkolaborasi dengan Skol Mus dan SMPK St.Yoseph Freinademetz Kapan yang bertepatan dengan acara peluncuran Buku Puisi mereka yang berjudul "Tubuhku Batu, Rumahku Bulan".
Besoknya beta diajak lagi untuk ikut program Mnahat Fe'u Heritage trail yang merupakan salah satu program ekowisata atau wisata minat khusus yang mempertemukan budaya, pangan dan ekologi, yang digerakan oleh warga Desa Taiftob yang bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawas dengan model kewirausahaan sosial. Sorenya beta bergabung dengan Lakoat.kujawas ikut Pawai 17-an tingkat Kecamatan. Dari situ akhirnya beta mulai aktif berkegiatan di Komunitas Lakoat.Kujawas sampai saat ini.
Beta memilih bergabung di Komunitas Lakoat.Kujawas karena beta merasa hidup beta kosong. Beta sudah pernah bekerja dan bepergian ke beberapa tempat, yang menurut orang lain beta sudah punya banyak pengalaman di luar, meskipun begitu rasanya hidup beta tetap kosong, mungkinkah karena beta memang kehilangan identitas sebagai orang Timor?
Dari program Skol Tamolok, sekolah budaya sebagai model pendidikan kritis dan kontekstual warga, beta banyak belajar tentang adat dan budaya Timor, beta juga lebih mengenal identitas beta sebagai orang Timor yang dari zaman dahulu sudah memiliki relasi yang baik dan kuat dengan alam.
Program di food Lab Ume Fatumfaun dan Mnahat Fe'u heritage trail atau gastronomi tour membuat beta lebih tau tentang pangan lokal yang ada di daerah beta, lengkap dengan nilai dan narasinya. Beta banyak tau makanan-makanan orang Timor dengan narasi yang berbeda beta juga punya kesempatan makan makanan khas orang Timor yang beta yakin sonde akan beta makan di tempat lain pada zaman modern ini. Banyak eksperimen menggunakan bahan pangan lokal yang sudah katong lakukan bersama yang tentunya membuat beta semakin punya pengetahuan tentang pangan lokal.
Beta juga bergabung dalam program Kelas Menulis To the Lighthouse yang biasanya dilakukan seminggu sekali diakhir pekan. Jujur beta sonde ada pengalaman sebelumnya tentang menulis, baik itu menulis artikel, esay, puisi, cerpen, ataupun dongeng. Di kelas menulis beta mulai belajar menulis, meskipun awalnya beta sangat kesulitan merangkai kata, tapi Puji Tuhan saat ini sudah mulai bisa. Yang paling berkesan untuk beta di kelas menulis adalah saat beta diberi kesempatan menulis kembali kenangan indah masa kecil beta dengan keluarga.
Di Lakoat.Kujawas beta bertemu banyak orang yang selalu menyebarkan hal baik, beta lebih dewasa, tenang dan sabar menghadapi masalah, lebih kritis dalam berpikir dan berbicara (terlebih kritis melihat ketimpangan dan ketidakadilan di sekitar), tahu cara menghargai orang lain, lebih mencintai diri sendiri, juga mencintai dan menjaga adat dan budaya sendiri. Singkatnya di Lakoat.Kujawas beta mengalami banyak perubahan yang membuat beta semakin baik dari sebelumnya.
Dua kata untuk menggambarkan Lakoat.Kujawas "Rumah dan Keluarga".


Erlis Marlina Talan, bergiat di Lakoat.Kujawas sebagai bendahara program Kampung KatongKatong kolaborasi Lakoat.Kujawas dengan Simpasio Institute dan Kolektif Videoge, didukung RMI dan Voice Global.

Senin, 14 Maret 2022

Profil Warga Aktif: Any Naben





Saya @anynaben. Saya salah satu orang muda yang bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawass di waktu luang. Sehari-hari saya bekerja sebagai perawat di Puskesmas Kapan. Saya bergabung di Lakoat.Kujawas mulai tahun 2019. Waktu itu saya ikut dalam program Mnahat Fe'u Heritage Trail, sebuah program ekowisata yang menghubungkan pangan lokal, seni budaya dan ekologi. Sejak saat itu saya selalu ikut dalam setiap kegiatan komunitas. Tahun 2020-2021 saya terlibat dalam program Being and Becoming Indigenous @bnbindigenous kolaborasi Lakoat.Kujawas dengan @rmi.id dan @kompak_pasireurih juga @asianfarmers.afa @pakisamaofficial. Saya belajar membuat program, menjadi pengelola program, berkolaborasi dengan orang muda di desa mengerjakan isu-isu orang muda, modernitas dan masyarakat adat.

Dulu saya biasanya tidak berani untuk berbicara apalagi berbicara depan banyak orang. Selalu saja ada rasa gugup dan takut salah bicara. Ketika ada tamu yang datang residensi di Lakoat, saya selalu ambil bagian, tetapi untuk memberi kata sambutan atau sekadar mengobrol dengan tamu residen, saya tidak berani.

Bulan lalu saya dipercaya mewakili komunitas untuk menjadi pembicara Festival Sastra Santarang komunitas Dusun Flobamora di sesi yang berbicara tentang gerakan komunitas. Itu kali perdana saya berbicara di event yang serius dan besar. Meski saya tidak tampil maksimal di situ namun saya merasa bangga bisa mengambil kesempatan itu.

Berangkat dari pengalaman itu kami berinisiatif dan meminta kak @dicky.senda untuk mengadakan workshop bagaimana cara presentasi yang baik, bagaimana teknik dan seni berbicara di depan umum, bagaimana menyusun materi presentasi yang menarik. Menurut saya ini kesempatan yang baik untuk terus belajar. Dengan berkomunitas saya bisa mengembangkan diri saya, mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang saya punya.



Jumat, 19 November 2021

tfua pah mencari ilustrator dan penerjemah

 


tfua pah hadir di lakoat.kujawas merespons musim tanam yang sedang berlangsung di desa taiftob. tfua pah sendiri adalah serangkaian ritual yang biasanya dilakukan dimulai dari menyiapkan lahan dan bibit hingga tanam dengan meminta restu uis pah, penguasa tanah. ritual ini berangsur hilang sejak masa kolonialisme hingga sekarang dengan berbagai faktor seperti agama, revolusi hijau, sistem dan kebijakan pangan/pertanian dan modernitas. tfua pah mengajarkan tentang relasi dan keseimbangan antara manusia dan alam, hal-hal yang kerap diperbincangkan manusia modern hari ini ketika dihadang berbagai isu krisis iklim, pangan dan malnutrisi. padahal praktik dan nilai itu sudah eksis sejak lama namun dipaksa untuk hilang. 

tfua pah menjadi asing bagi generasi muda hari ini yang tak bisa dipungkiri lebih banyak mengenal dunia luar. sistem pendidikan kita masih saja mengajarkan orang-orang di desa/kampung untuk pergi bukannya untuk tinggal. menghadirkan kembali konsep ini, memperbincangkan, mengarsip tuturnya, mereka ulang beberapa bagiannya sembari dirayakan dengan lokakarya fotografi, teater, penerjemahan dongeng, ilustrasi kuliner, pidato kebudayaan hingga menenun dan musikalisasi puisi. sebagai komunitas yang sedang giat mendokumentasikan pengetahuan lokal, tfua pah kami rakayakan dengan serangkaian lokakarya hingga pentas virtual. ada buku kumpulan cerpen dan resep pangan lokal, juga buku kumpulan dongeng dalam tiga bahasa (mollo, indonesia dan inggris) yang juga sedang kami persiapkan. seperti ritual tfua pah yang mengiringi musim tanam, serangkaian lokakarya dan pentas virtual ini juga ingin mengiringi semangat mengarsip pengetahuan adat di desa taiftob. 

kalian semua diundang untuk terlibat dalam lokakarya (para ilustrator dan penerjemah) juga membeli buku-buku terbitan kami sembari menonton pertunjukan mollo: perempuan dari gunung (info ini bisa kalian simak di media sosial patjar merah). 

untuk teman-teman ilustrator dan penerjemah yang ingin terlibat bersama warga desa taiftob khususnya para army cabang mollo untuk kerja pengarsipan pengetahuan adat, silakan kontak wa 081338037075 atau email lakoat.kujawas@gmail.com. 

Senin, 10 Mei 2021

Urun Dana Pembangunan Food Lab dan Ruang Arsip Benih Komunitas Lakoat.Kujawas

Lakoat.Kujawas adalah komunitas warga di desa Taiftob, pegunungan Mollo, Timor, yang mengembangkan perpustakaan warga, kelas menulis kreatif dan ruang arsip seni budaya masyarakat adat Mollo sejak tahun 2016. Dari kerja pengarsipan pengetahuan lokal itu kemudian lahir Skol Tamolok, sekolah budaya dan Mnahat Fe’u Heritage Trail, sebuah model ekonomi kreatif yang inklusif dengan fokus pada pangan lokal dan ekologi. Komunitas ini juga aktif mengumpulkan benin-benih lokal, mempromosikan kuliner Mollo, mengarsip resep dan narasi tutur tentang makanan. 


Tahun 2021 ini Lakoat.Kujawas ingin mewujudkan mimpi membangun food lab, sebuah ruang arsip benih lokal sekaligus dapur tradisional tempat meramu dan merawat pengetahuan pangan masyarakat adat Mollo. Ini juga akan jadi cafe kecil untuk mendukung program ekonomi kreatif yang inklusif bersama kelompok orang muda, petani perempuan dan keluarga disabilitas. Ini akan menjadi ruang belajar warga Taiftob dan Mollo dalam menghidupkan pengetahuan preservasi pangan dan kekayaan biodiversitas sekaligus menjawab tantangan dan persoalan krisis pangan dan iklim, malnutrisi dan pendidikan yang tidak kontekstual. 


Untuk mewujudkan semua itu kami ingin melakukan pengumpulan dana publik dengan target Rp. 30,000,000 (TIGA PULUH JUTA RUPIAH). Donasi dibuka mulai tanggal 10 Mei 2021 dan akan berakhir tanggal 10 Juni 2021.  Info rekening BRI 0277 01010910 50 5 an CHRISTIANTO SENDA. Konfirmasi transfer bisa via whatsapp 081338037075 atau email lakoat.kujawas@gmail.com


Donasi di atas 1,000,000 akan mendapatkan buku kumpulan cerpen Dongeng dari Nunuh Haumeni dan buku Surat-Surat dari Mollo, sekumpulan cerpen dan resep kuliner Mollo. Keduanya adalah karya warga desa Taiftob yang begrint di Lakoat.Kujawas. 

Kamis, 28 Januari 2021

Januari di Lakoat.Kujawas

Komunitas Lakoat.Kujawas lahir dengan alasan kuat bahwa sebagai generasi muda masyarakat adat Mollo sulit sekali mengakses pengetahuan lokal. Selain karena sekolah formal tidak menyediakan akses ke pengetahuan sejarah dan kebudayaan lokal, banyak sekali arsip atau dokumentasi sebuah kebudayaan justru tersimpan di tempat yang lain. Atau tidak ada lagi ruang-ruang seni budaya di masyarakat seperti pesta adat atau festival yang bagi masyarakat bertutur momen atau peristiwa tersebut sangat menunjang sebuah kebudayaan terpelihara dan terwariskan. Berbagai faktor di atas yang membuat generasi muda yang punya keinginan untuk mempelajari kebudayaanya akan merasa sulit. Kerja-kerja pengarsipan yang diambil oleh komunitas Lakoat.Kujawas pada akhirnya bisa menjawab tantangan sosial yang berkembang di masyarakat adat.

Ciri khas yang unik di setiap wilayah ini adalah sebagai warisan budaya yang mempunyai nilai luhur. Warisan budaya yang berbeda-beda ini, menjadi hal yang krusial tatkala memiliki kandungan peristiwa yang penting. Dalam hal ini peran kearsipan dibutuhkan dalam hal menjembatani sejarah dengan masa sekarang dan masa depan. Kearsipan yang mengelola dokumen/arsip yang mempunyai nilai-nilai peristiwa yang menunjukkan keberadaan yang luhur, sehingga dengan adanya bukti arsip akan peristiwa tersebut akan menjadi sebuah eksistensi nilai budaya.

Ada 5 fungsi kerja pengarsipan yang bisa dilakukan secara mandiri dan kolektif oleh masyarakat. Pertama adalah fungsi pelestarian warisan budaya masyarakat, kedua dapat memberi rasa hormat terhadap masa lalu. Ketiga, mengizinkan masyarakat untuk memahami dengan jelas tentang hak-hak hukum mereka, dan yang terakhir adalah mengizinkan setiap individu untuk melihat dengan jelas tentang kejadian-kejadian tertentu yang menonjol dalam kebudayaannya.

Adapun fungsi pengarsipan bukan saja terkait upaya preservasi pengetahuan sejarah dan budaya lokal, juga punya fungsi edukasi dan ekonomi kreatif. Tiga poin terakhir ini yang sedang dikembangkan oleh Lakoat.Kujawas bersama masyarakat adat Mollo yang tinggal di desa Taiftob. Komunitas pada akhirnya bisa menjadi ruang arsip, ruang berbagi pengetahuan kontekstual dan kritis serta ruang di mana potensi arsip dan dokumentasi tersebut bisa menimbulkan model ekonomi kreatif model heritage trail atau ekowisata minat khusus.

Apa tujuan dari program kerja pengarsipan dan pendokumentasian di komunitas Lakoat.Kujawas?

Pertama, kami ingin mengajak warga yang bergiat di komunitas secara aktif ikut membangun pentingnya semangat kerja pengarsipan dan pendokumentasian pengetahuan lokal dan warisan kebudayaan masyarakat adat. Kedua, kami berpendapat bahwa kerja pengarsipan yang sudah dilakukan sejauh ini bisa dikembangkan dan diperdalam bukan saja untuk kepentingan preservasi kebudayaan namun juga kepentingan edukasi dan ekonomi kreatif. 

Apa saja agenda kerja di komunitas Lakoat.Kujawas sepanjang Januari 2021 ini?

1.      Membuat transkrip dan menerjemahkan hasil rekaman video dan suara saat program Skol Tamolok (community organizing bulan Desember 2020) yakni kelas membaca tenun, kelas membaca rumah adat dan kelas membaca langit yang terkait dengan tradisi pertanian orang Mollo. Hasil transkrip ini yang akan dikembangkan jadi narasi dalam buku panduan ekowisata dan peta jalur jelahag berbasis penceritaan.

2.      Terus melanjutkan model pendidikan kritis dan kontekstual, atau apa yang disebut warga desa Taiftob sebagai sekolah adat yang dikelola komunitas. Berkaca dari keberhasilan Skol Tamolok sebelumnya. Tema-tema yang diusulkan untuk diselenggarakan bulan Januari 2020 adalah: kelas membaca Bahasa simbol visual (tato, ukiran, patung, cap pada binatang, dll di luar motif tenun), kelas membaca Bahasa simbol verbal seperti tradisi koak (pekikan) hingga bunyi nafiri.

3.      Terus melakukan kerja pendokumentasian pangan lokal yang akan dipakai untuk buku seri pangan lokal dan Mnahat Fe’u Heritage Trail, program gastronomi tour tema pangan lokal.

4.      Merancang sebuah model virtual tour tema pangan dan ekologi, dari hasil belajar dan kerja pengarsipan pengetahuan lokal.

5.      Fundrising, advokasi dan sosialisasi pangan lokal dan benih lokal, perpustakaan benih dan dapur komunitas untuk program gastronomi tur Mnahat Fe’u.