We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label residency program. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label residency program. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Januari 2024

Residensi Apinat-Aklahat 2024




Selamat datang di program Residensi Apinat-Aklahat di komunitas Lakoat.Kujawas. Nama Apinat-Aklahat artinya yang menyala dan bercahaya. Program ini seperti api, matahari, bintang, lilin, pelita, kunang-kunang atau apapun yang menyala dan bercahaya, untuk berbuat sesuatu yang bisa menyala dan bercahaya. Bisa memberi terang bagi kehidupan di Mollo, bisa memberi cahaya bagi kehidupan di luar Mollo. 

Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas warga yang bergerak sejak tahun 2016 melakukan kerja pengarsipan dan pendokumentasian pengetahuan lokal dan mereproduksinya ke dalam beberapa program regular antara lain sekolah budaya, perpustakaan warga, kelas menulis, food lab, penerbitan buku, tur gastronomi dan pameran arsip warga. Kami bergerak secara swadaya dengan semangat warga bantu warga, untuk membangun kesadaran dan kekuatan kolektif sipil. Aktivitas dan ruang-ruang kreatif kami banyak didukung oleh warga net dan warga kampung. 

 

Program ini diselenggarakan dan dikelola secara swadaya oleh warga aktif Desa Taiftob yang bergiat di komunitas Lakoat.Kujawas. Maka seperti belasan residensi yang sudah pernah terjadi, Apinat-Aklahat adalah bentuk kolaborasi antara seniman dan peneliti yang datang dengan biaya sendiri, didukung oleh akomodasi oleh warga desa Taiftobuntuk sebuah kerja kolaborasi yang berguna bagi kedua belah pihak dan kehidupan secara universal. Yang akan menjadi pengetahuan yang bisa diakses oleh publik yang lebih luas. 

 

Kami membayangkan Apinat-Aklahat adalah bentuk kolaborasi dan dialog yang setara dan saling melengkapi pengetahuan dan pengalaman antara seniman/peneliti tamu, dengan warga lokal (pegiat komunitas Lakoat.Kujawas, seniman dan budayawan di Mollo), untuk mewujudkan visi dan tema yang dibangun Lakoat.Kujawas yang mungkin sejalan dengan visi dan tema yang sedang dikerjakan oleh seniman/peneliti tamu. 

 

Tahun 2024 ini kami fokus ke isu pangan lokal, literasi/sastra, seni budaya dan lingkungan, termasuk di dalamnya mereproduksi ulang pengetahuan lokal yang sudah dikumpulkan/diarsipkan sejauh ini lewat berbagai medium/wahana antara lain fotografi, videografi, film dan teater. Kami ingin merespons berbagai hal yang 8 tahun terakhir kami dokumentasikan lewat program regular kami di perpustakaan, kelas menulis kreatif, penerbitan buku, foodlab, sekolah budaya dan pameran arsip warga. 

 

Untuk itu, sepanjang periode Januari - April 2024, kami memberi kesempatan bagi 1 orang videografer/filmaker, 1 orang fotografer, 1 orang aktivis pangan, 1 orang ilustrator dan 1 orang seniman teater untuk datang dan tinggal bersama kami selama 7 -12 hari. 

 

Adapun transportasi dari tempat tinggal seniman/peneliti ke Mollo ditanggung oleh yang bersangkutan. Komunitas Lakoat.Kujawas dan warga desa Taiftob berkontribusi untuk menanggung akomodasi (tempat tinggal dan konsumsi) selama tinggal di komunitas kami, termasuk juga transportasi lokal selama residensi. Kami terbuka jika seniman/peneliti datang dengan sponsor/donor dari pihak lain. Sejauh sponsornya bukan partai politik, tambang dan rokok, kami oke-oke saja, hehe. 

 

Silakan kirim profil, CV atau portofolio kalian dan ide apa yang ingin kalian kerjakan bersama kami. Kami sangat terbuka untuk membangun diskusi ide dan gagasan bersama untuk residensi ini. Kami juga akan menyeleksi portofolio dan ide yang kiranya sejalan dengan visi Lakoat. Karena periode Januari - April ini hanya terbatas untuk 5 seniman/peneliti, maka kandidat lain yang potensial akan tetap diupayakan untuk diatur residensinya setelah April 2024. 


Kalian juga bisa terlibat sebagai donatur/sponsor untuk mendukung residensi ini. 

 

Jika ada pertanyaan lain atau ingin berdonasi, silakan bersurat ke lakoat.kujawas@gmail.com

 

Salam hormat

Lakoat.Kujawas



Baca Juga: Penggalangan Dana Publik untuk Operasional Lakoat.Kujawas 2024





Senin, 06 Juli 2020

Lakoat.Kujawas: Budaya adalah Kekuatan Ekonomi




Artikel dari Koalisi Seni
Tidak banyak orang yang tahu tentang Taiftob. Kalaupun Anda mencari informasi tentang Taiftob lewat Google, sebagian besar hasil yang akan Anda temukan berkaitan dengan Lakoat.Kujawas.

Taiftob adalah nama suatu desa di Kecamatan Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Di sana, sastrawan Dicky Senda menggagas Lakoat.Kujawas, kewiraswastaan sosial yang menghubungkan seni dan literasi dengan ruang-ruang produksi khas Mollo.
Mulanya, kepulangan Dicky ke Taiftob hanya untuk melakukan riset. Saat itu ia masih bekerja di Kupang sebagai konselor pendidikan. Ternyata banyak yang ia temukan dalam proses riset itu. Dicky melihat bagaimana kampungnya, dan kampung-kampung lain di Timor, ditinggal pergi oleh orang-orang mudanya. Mereka putus sekolah kemudian merantau mencari penghidupan. Ada yang ke luar daerah, bahkan tak sedikit yang menjadi buruh migran ke Malaysia. Ia juga mendengar banyak dari mereka menjadi korban trafficking atau pulang dalam kondisi terjangkit HIV.
Akhirnya, Dicky malah membulatkan tekad untuk melepas pekerjaannya dan pulang kampung ke Taiftob. Di hatinya, ada satu niat: membuat masyarakat Mollo, terutama orang mudanya, berdaulat atas alam dan budayanya sendiri. Bersama kawan-kawannya di Taiftob, Dicky mendirikan Lakoat.Kujawas pada 10 Juni 2016. Lakoat (biwa) dan kujawas (jambu biji) ialah dua buah yang akrab dengan kehidupan anak-anak Mollo. Keduanya menggambarkan keceriaan, potensi, dan harapan yang tumbuh dari kampung-kampung di Mollo.
Jejak Akar dan Tradisi pada Batu
Ketika Dicky dan kawan-kawannya kembali ke Desa Taiftob, mereka melihat putusnya rantai budaya antar-generasi. Fenomena ini membuat mereka, yang aktif berkegiatan di bidang seni, gelisah. Keputusan orang-orang muda meninggalkan desanya untuk bekerja ke luar daerah membuat seni dan budaya Mollo hanya dijalankan oleh orang-orang tua.
“Jika kami harus membuat orang muda bertahan di Mollo, maka kami harus memberi argumen bahwa seni budaya bisa menjadi perolehan ekonomi mereka,” begitu menurut Dicky. Salah satu dari seni lokal yang meluntur adalah tradisi bertutur. Mereka pun bergerak dari sana.
Enam kecamatan dalam wilayah adat Mollo dan Taiftob dipilih sebagai lokasi utama kegiatan Lakoat Kujawas. Namun, untuk kepentingan riset, mereka juga menjangkau desa-desa lain di sekitarnya. Mereka menggali cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Mollo dalam bentuk mitos, dongeng, dan sejarah. Keterikatan yang kuat antara masyarakat Mollo dengan alamnya menghasilkan beragam cerita yang hebat. Cerita-cerita ini menjadi kekuatan budaya sekaligus kunci untuk hidup damai berdampingan dengan alam.
Di sebidang tanah pinjaman dari warga desa, Lakoat.Kujawas mendirikan sebuah perpustakaan. Buku-bukunya diambil dari koleksi pribadi relawan, juga dari bantuan Komunitas Pustaka Bergerak, jaringan relawan yang misinya adalah menyebarkan bacaan bermutu ke seluruh penjuru Indonesia. Lakoat.Kujawas diuntungkan dengan hari pengiriman buku gratis yang ditetapkan pemerintah pusat setiap bulan pada tanggal 17. Dicky percaya bahwa mereka yang membaca akan dekat dengan menulis. Lewat menulis, anak-anak dapat diajak untuk mengenal budaya dan identitas mereka sendiri. Contohnya, dengan mengajak anak-anak desa menuliskan cerita tentang sejarah batu-batu.
Bebatuan alam memang menjadi ciri khas lanskap Mollo dan merupakan bagian dari keseharian warganya. Marga dan nama-nama tempat dinamai berdasarkan nama batu. Menggali sejarah tentang batu diharapkan bisa menyadarkan masyarakat akan potensi besar yang terkandung di tanah kampung halaman mereka sendiri dan bagaimana melindunginya. Ini sekaligus pendekatan yang tepat untuk mengangkat isu besar yang kini dihadapi masyarakat Mollo Utara: penambangan liar dan eksploitasi marmer.
Pengetahuan akan masakan dan cita rasa lokal menjadi cara yang juga dipilih Lakoat.Kujawas untuk mengajak warga mengenali kembali akarnya sendiri. Resep-resep khas Mollo, warisan turun-temurun dari leluhur, dikumpulkan. Dalam perjalanannya, ditemukan adanya pengaruh Tiongkok dan Belanda dalam resep-resep itu. Ibukota Mollo Utara, Kapan, adalah kota pertama yang dibangun kolonialis Belanda di Timor Tengah. Maka, tak heran jika pengaruhnya terlihat pada masakan-masakan Mollo yang dipanggang. Para perantau Bugis yang menyebar di Mollo sejak tahun 1950-an juga turut meyumbangkan pengaruhnya pada cita rasa lokal.
Revitalisasi seni dan budaya yang dilakukan para relawan Lakoat.Kujawas disambut hangat oleh warga desa. Seni adalah hal yang telah lekat dengan masyarakat Mollo sejak dulu. Mereka dengan antusias mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh Lakoat.Kujawas–kelas menulis, kelas teater dan tari, misalnya–juga ramai-ramai hadir pada acara pementasan teater atau pemutaran film. Dalam kesempatan seperti itu, tanpa diminta, beberapa warga tergerak menyumbangkan makanan untuk yang hadir. “Ini semacam kerinduan akan kegiatan seni zaman dulu, terutama ketika setiap panen ada perayaan, berbalas pantun, dan lain-lain,” jelas Dicky.
Berdaulat dalam Budaya, Berdaulat dalam Ekonomi
Lakoat.Kujawas memiliki satu blog, satu akun Twitter, satu laman Facebook, dan dua akun Instagram. Beragam kegiatan yang sedang berlangsung di sana dikabarkan lewat berbagai platform media sosial itu. Tapi bukan itu saja. Laman Facebook dan akun Instagram @lkjws.co mereka jadikan etalase untuk memamerkan produk-produk olahan warga Mollo.
Produk-produk itu dikemas dengan cantik, menyesuaikan diri dengan pasar generasi milenial dan pasca-milenial yang piawai bermedia-sosial. Lihat saja produk Kopi Mollo, yang dikemas dalam kantong karton berklip (bisa ditutup kembali) warna cokelat. Kemasan itu ditempeli label stiker bergambar buah lakoat berwarna oranye yang menarik mata. Lakoat.Kujawas juga menjual jagung bose siap masak. Jagung bose adalah panganan kaya serat khas Mollo yang berbahan dasar jagung, kacang merah, dan labu kuning. Produk ini dikemas dalam plastik transparan, menampilkan warna-warni cantik bahan dasarnya yang mengingatkan akan tampilan sebungkus granola.
Sejak awal menggagas Lakoat.Kujawas, Dicky sadar bahwa kemandirian ekonomi krusial bagi warga Mollo. Kesulitan mencari dan menciptakan lapangan kerja, yang menggiring orang-orang muda keluar dari desanya, menyisakan anak-anak dan orang-orang tua di luar usia produktif. Maka, gagasan seputar membangkitkan budaya dan tradisi lokal harus terlihat hasil praktisnya, bukan hanya dalam konteks ideal, agar naik daya tawarnya di mata orang-orang muda.
Selain masakan dan hasil pertanian, tenun menjadi komoditas unggulan warga Mollo. Lakoat.Kujawas merangkul para perempuan penenun untuk membagikan pengetahuan mereka lewat program lokakarya. Diakui Dicky, lokakarya ini lahir dari inisiatif warga. Ini artinya sudah muncul desakan dari warga untuk melahirkan generasi baru penenun Mollo.
Hasil tenun, berdampingan dengan produk lainnya, mereka pasarkan lewat media sosial. Produk-produk warga juga dititipjualkan di toko-toko online dan LSM Kupang Batanam. Hasilnya dikembalikan ke perajin dan digunakan oleh Lakoat.Kujawas untuk mendanai kegiatan mereka. Setelah berjalan dua tahun, mereka mulai mempertimbangkan untuk membuat toko fisik di Taiftob dan mendistribusikan produk-produk Mollo ke Pulau Jawa.
Berkat prakarsa dan upaya mereka, Lakoat.Kujawas diundang oleh British Council untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan di Bali dan di Inggris. Pengalamannya menjalani pelatihan di Inggris menguatkan pandangan Dicky bahwa kewirausahaan sosial bisa menggerakkan banyak kebaikan di masyarakat sambil tetap menghasilkan keuntungan yang layak untuk hidup. Salah satu materi yang menurut Dicky dapat diterapkan di Mollo adalah active citizen. Dialog antar-budaya dan pembangunan sosial yang digerakkan komunitas, yang menjadi titik tumpu materi ini, menurut Dicky, cocok untuk diterapkan oleh generasi milenial di Mollo.
Satu lagi komoditas lokal yang sedang dimatangkan konsepnya oleh Dicky dan kawan-kawan adalah paket wisata jejak pusaka (heritage trails). Paket ini ditawarkan kepada wisatawan yang tertarik untuk mengeksplorasi seni, budaya, dan religi masyarakat Mollo. Salah satu unsur sejarah yang akan diangkat adalah kayu cendana. Ternyata dahulu orang-orang Eropa dan Tiongkok datang ke Mollo untuk mencari kayu cendana.
Untuk mengembangkan wisata jejak pusaka, Lakoat.Kujawas sempat berdiskusi dengan pihak Kementerian Pariwisata, tepatnya dengan Deputi Bidang Budaya, Sejarah, Religi, dan Wisata. Kementerian Pariwisata sudah menunjukkan ketertarikan akan konsep tersebut. Pihak lain yang digandeng untuk mewujudkan rencana ini adalah Komunitas Kesengsem Lasem dari Jawa Tengah. British Council pun membantu dengan mempertemukan Lakoat.Kujawas dengan pengelola Pasar Papringan, yang telah berhasil melakukan revitalisasi wilayah kumuh menjadi atraksi wisata ramah lingkungan di Temanggung.
Dicky mengakui bahwa kontak Lakoat.Kujawas dengan pemerintah daerah masih terbatas. Pemerintah desa sendiri sudah mulai mengajak mereka untuk terlibat dalam musrembang dan penyusunan anggaran desa. Namun, belum terbentuknya pemahaman akan potensi seni dan budaya membuat pemerintah daerah belum responsif terhadap program-program yang mereka gagas.
Sebaliknya, Dicky menilai respons pihak-pihak di luar pemerintah justru jauh lebih baik. Hal ini terbukti dengan terjalinnya kerja sama dengan British Council, LSM Kupang Batanam, juga terwujudnya program residensi seni yang didukung oleh SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan dan Koalisi Seni Indonesia.
Segala usaha yang dilakukan para relawan Lakoat.Kujawas membuktikan bahwa seni dan budaya terkait erat dengan sandaran ekonomi bagi masyarakat Mollo. Keunikan makanan, hasil kriya, dan cerita-cerita sejarah yang telah lama dimiliki warga menyimpan potensi yang tidak kecil. Warga Mollo kini mulai jeli mengamati potensinya dan mampu mengemasnya agar relevan dengan zaman. Selain itu, dengan lebih mengenal budaya mereka sendiri, warga bisa menjadi lebih kuat mempertahankan kehidupan sehingga tidak tergoda jebakan eksploitasi yang dapat merugikan mereka.

*Artikel “Budaya adalah Kekuatan Ekonomi” merupakan bagian dari buku Dampak Seni di Masyarakat terbitan Koalisi Seni Indonesia. Buku bisa dibeli dengan mengirimkan surel ke sekretariat@koalisiseni.or.id.

Senin, 06 Januari 2020

Program Mnahat Fe’u Heritage Trail 2020 Telah Dibuka


Mnahat Fe’u Heritage Trail kembali hadir di bulan Januari hingga Agustus 2020. Heritage Trail yang mempertemukan seni budaya dengan ekologi dengan pangan/kuliner sebagai titik tengahnya. Untuk trail kami hanya batasi untuk 15 orang per trail. Berikut agendanya:
1. Mnahat Fe’u Heritage Trail the Beginning, desa Taiftob, 18 Januari 2020 (full booked)
2. Mnahat Fe’u Heritage Trail Pu’u, desa Taiftob 29 Februari 2020 (pendaftaran dibuka)
3. Mnahat Feu Heritage Tral Lakoat, desa Taiftob, 25 Maret 2020 (pendaftaran dibuka)
Info lengkap dan pendaftaran silakan kontak ke WA 081338037075.

NB: untuk trail bulan April-Agustus tanggalnya akan kami rilis kemudian.




Kamis, 13 Juni 2019

Paukolo X Revitalisasi Kampung: ‘Anak di Antara Mata Air, Hutan dan Batu’


Andakah seniman musik, tari, teater, foto dan film yang mungkin tertarik untuk terlibat dalam project swadaya komunitas warga dalam merevitalisasi kampung di Mollo? Paukolo adalah sejenis motif kain tenun khas Mollo. Ia adalah burung elang yang terbang tinggi, sumber inspirasi dan semangat kerja bersama. Ia menerbangkan mimpi orang-orang yang ingin hidup lebih baik di kampung.

***

Sonde terasa sudah 3 tahun komunitas Lakoat.Kujawas bertumbuh bersama banyak sekali teman, sahabat dan keluarga, yang dekat di desa Taiftob maupun yang jauh. Tiga tahun diisi dengan banyak hal menyenangkan. Kedatangan seniman dari Makassar dan Jogja di program residensi kesenian Apinat-Aklahat. Menerbitkan tiga buku, satunya sejarah Gereja Katolik di Mollo, satunya buku cerpen dan yang terakhir buku kumpulan puisi yang terinspirasi dari keseharian anak-anak Mollo. Terakhir kami bikin workshop ilustrasi buku bersama teman-teman dari Timor Art Creative, musikalisasi puisi bersama Forum SoE Peduli dan workshop menari dan tutur bonet khusus musim panen bersama bapa Okto Sunbanu, budayawan desa kami.

Di momen ulang tahun ketiga dalam semangat merevitalisasi desa Taiftob sebagai tempat yang hidup dan kreatif, kami baru menerbitkan buku puisi Tubuhku Batu, Rumahku Bulan yang ditulis oleh 25 remaja desa. Menyambung dengan program-program sebelumnya (jika ingin melihat semangat keberlanjutan dari warga yang bergiat di komunitas), baik itu kelas teater hingga produksi pementasan teater, workshop fotografi, tari, menulis cerita dan puisi yang semuanya terinspirasi dari lingkungan sekitar, kami berniat untuk kembali mengadakan beberapa workshop multimedia-multidisiplin seni. Dan berencana, hasil akhirnya akan dipamerkan atau dipentaskan di bulan Agustus 2019, bertepatan dengan momen festival budaya dan 17 Agustusan di kota kecamatan di Kapan.

Delapan bulan terakhir sebanyak 25 remaja Mollo melakukan workshop penulisan puisi bertema batu, hutan dan mata air. Sebelumnya mereka melewati workshop setahun menuliskan cerita-cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan harian mereka dan dongeng-dongeng yang datang dari masa kecil. Buku Dongeng dari Kap Na’m To Fena dan buku puisi Tubuhku Batu Rumahku Bulan sudah terbit. Menurut kami, itu dua karya yang sangat spesial yang ditulis anak-anak melibatkan orang tua mereka. Dua buku yang memotret cara pandang mereka terhadap kampung halaman. Sejak dulu orang Mollo mendapat tugas merawat hutan, gunung dan mataair.
Dua karya yang kemudian menginspirasi dan melahirkan ide agar kedua buku tersebut boleh dieksplorasi lebih lanjut, jauh dan dalam, melibatkan anak-anak desa Taiftob ke dalam medium-medium baru: musikalisasi puisi dan cerpen, adaptasi puisi atau dongeng ke dalam tarian dan teater, membuat photo story atau film pendek menggunakan gadget dari proses penelusuran dan pendalaman narasi dan mitos/dongeng terkait kampung, mata air dan hutan, dan berbagai media kreasi baru lainnya.

Kami senang jika salah Anda adalah seniman terkait yang peduli pada gerakan komunitas warga di desa/kampung dan berkenan terlibat dalam program ini. Terbuka ruang diskusi dan penjajakan untuk membahas peluang atau kemungkinan kerja kolaborasi seperti apa yang terbaik. Tema besar dari PAUKOLO x  Revitalisasi Kampung adalah “Anak di Antara Mata Air, Hutan dan Batu”. Bagaimana narasi atau mitos tentang kampung, seni budaya dan ekologi bertumbuh dalam ruang imajinasi anak-anak Mollo. Hasil akhirnya kami ingin memamerkan, memutar dan memetaskannya di kota kecamatan saat momen 17 Agustus. Dan melengkapinya di ruang arsip komunitas yang kelak bisa dipakai sebagai sumber pengetahuan warga dan kajian-kajian selanjutnya.
Workshop berlangsung di bulan Juni dan Juli (menyesuaikan waktu teman-teman relawan seniman), bisa setiap weekend atau hari biasa mengingat sedang musim liburan sekolah. Durasi workshop 2 - 4 kali pertemuan. Model workshop adalah partisipatif dan kerjakolaborasi antara seniman tamu dan anak/remaja Mollo yang bergiat di Lakoat.Kujawas.

PS: Tahun 2017 Komunitas Lakoat.Kujawas pernah menyelenggarakan pameran foto dan arsip Mollo Panggil Pulang di kecamatan setelah workshop fotografi bersama Sekolah Musa selama sebulan.

PSS: Puisi-puisi bertema pohon/ hutan, batu, mata air bisa diakses di blog https://smpksanjosekapan.blogspot.com/2019/06/puisi-puisi-peserta-workshop-anak-di.html?m=1

PSSS: Program ini menjadi bagian dari program residensi kesenian Apinat-Aklahat 2019 (simak info lengkap di bit.ly/kelakoat). Komunitas menyediakan tempat menginap dan konsumsi bagi seniman selama tinggal di desa Taiftob. Minimal 3 hari maksimal 1 pekan residensi. Komunitas tidak mengganti biaya transportasi dari dan ke Mollo, juga biaya perdiem.

PSSSS:Sebagai komunitas yang bergiat dengan anak dan remaja, kami berkomitmen untuk menghargai dan menghormati hak-hak anak dan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketiga bergiat di Lakoat.Kujawas. Simak infonya di sini

Kamis, 04 Oktober 2018

Residensi Kesenian Apinat-Aklahat 03

Salah satu kegiatan swadaya kami di komunitas adalah residensi kesenian apinat-aklahat. Setelah kak Shinta Febriany (Makassar) dan Jameela Khan (Birmingham), bulan depan ada Dina (Jogja) dan Anne (Jakarta). Sebagai ruang belajar warga, #lakoatkujawas berusaha untuk selalu mempertemukan ide, gagasan, kreativitas dari seniman tamu maupun warga. Ada proses diskusi, belajar dan tukar pikiran. Ada kesempatan kolaborasi dengan semangat solidaritas. Dari desa harus berkembang pemikiran dan gagasan baru. Desa yang mandiri dan berdaya. Terbuka kesempatan residensi ini bagi teman-teman seniman tari, teater, film dan penulis. Info dan proposal via e-mail dickysenda@gmai.com


Sabtu, 10 Maret 2018

Lakoat.Kujawas Dalam Jejak Langkah

Apa saja program kreatif yang sudah, sedang dan akan terus kami jalankan di Komunitas Lakoat.Kujawas desa Taiftob?
Tahun 2017 adalah tahun yang hebat dan di tahun 2018 ini kami punya segudang mimpi untuk diwujudkan bersama banyak sekali orang yang peduli pada kegiatan pemberdayaan warga, khususnya anak, remaja, kaum muda dan kelompok perempuan. Para relawan, teman-teman aktivis, para donatur/sponsor yang ikut membantu berbagai terwujudnya berbagai ide.
Kami memulai tahun 2017 dengan mengadakan Festival Elaf Dame, yang didukung oleh kakak-kakak mahasiswa Indonesia yang ada di Australia. Lalu untuk pertama kalinya kami menyelenggarakan Festival Panen Mnahat Fe'u dengan festival pangan lokal dan pementasan teater. Tahun ini Mnahat Fe'u juga sukses kami selenggarakan untuk menyambut awal musim panen di Mollo dengan agenda antara lain: lokakarya farmentasi wine dari buah lakoat, lokakarya selai dari lakoat, kelas menulis kreatif, diskusi, nonton film dan masih banyak lagi agenda kreatif yang digagas secara swadaya bersama warga dan kawankawan relawan.
Pertengahan tahun lalu, kami juga menyelenggarakan lokakarya fotografi: KETONG BISA, didukung temanteman SekolahMUSA dan GadgetGrapher Kupang. Lokakarya selama sebulan menghasilkan fotofoto karya 15 anak desa Taiftob yang kami pamerkan di tingkat kecamatan bersama dengan berbagai arsip foto sejarah Mollo yang berhasil dikurasi oleh beberapa teman relawan dan simpatisan: kak Almascatie, Sarlota Sipa dan Matheos Viktor Messakh. Pameran arsip foto itu kami namakan Mollo Panggil Pulang, diselenggarakan di kantor camat lama Mollo Utara, bersamaan dengan perayaan Agustusan di Mollo Utara.
Bulan Oktober 2017, salah satu relawan kami, Dicky Senda berkesempatan memperkenalkan visi dan nilai Lakoat.Kujawas ke depan publik di Ubud Writers and Readers Festival, di program Festival Club @ Bar Luna.
Dua bulan kemudian,untuk pertama kalinya komunitas kami menyelenggarakan program residensi kesenian yang kami namakan Apinat-Aklahat. Seniman asal Makassar, Shinta Febriany berkesempatan tinggal selama dua pekan dan berkegiatan bersama kami di desa Taiftob. Kak Shinta berkesempatan mengunjungi kampung adat di Fatumnasi, berinterkasi dengan kelompok penenun Mollo, latihan teater bersama anak-anak, ikut lokakarya seni bertutur orang Mollo, natoni dan bonet. Di akhir program kak Shinta dan anak-anak berkesempatan menampilkan sebuah pentas teater berjudul Doa Orang Miskin, yang diadaptasi dari puisi WS Rendra.
Jelang akhir tahun, Lakoat.Kujawas terlibat juga dalam pameran arsip sejarah gereja Katolik di Mollo yang diberi judul Berawal dari Tanda Salib di Rumah Sang Klerek. Kami ikut meriset untuk buku sejarah kecil dengan judul yang sama dan membantu menyelenggarakan pameran arsip tersebut mulai tanggal 10 Desember dan berakhir tanggal 18 Desember 2017.
Sungguh luar biasa pengalaman tahun 2017.

Lalu bagaimana dengan tahun 2018 ini? Kami percaya ini tahun yang hebat buat kami. Kami senang dinamika berkesenian di desa Taiftob semakin bertumbuh dengan baik. SMPK St. Yoseph Freinademetz yang selama ini berkolaborasi dengan kami, akhirnya dengan bangga dan sukses menyelenggarakan pentas seni pertama mereka Meraih Mimpi. Tentu saja Lakoat.Kujawas ikut senang dan bangga. Di waktu yang hampir bersamaan, para siswa di SMPK St. Yoseph Freinademetz juga berkolaborasi dengan kakak-kakak luar biasa dari Forum SoE Peduli yang hadir dengan proyek Sebaya mereka. Sebaya adalah sebuah program orang muda Soe yang didanai oleh Australia Global Alumni yang berfokus pada isu kesehatan reproduksi remaja dan kesetaraan gender. Program ini masih berjalan hingga kini karena dari 25 anak yang ikut diharapkan mereka bisa menjadi konselor sebaya untuk temanteman mereka.
Menutup tulisan ini, kami mau bilang sekali lagi bahwa tahun ini untuk kedua kalinya Festival Mnahat Fe'u menyambut musim panen di Mollo berjalan baik. Salah satu pencapaiannya adalah kami berhasil mengangkat kembali pamor buah lakoat yang semakin dilupakan orang Mollo, untuk didiskusikan kembali, diolah menjadi berbagai produk seperti wine, selai, sambal dan aneka kue. Kami berharap komunitas ini bisa mendorong lebih banyak warga untuk kembali memelihara pohon lakoat sebab ia sangat bernilai ekonomis.
Oya, kami juga sudah mengumumkan satu kabar penting dan menarik terkait dengan kesuksesan penyelenggarakan program residensi kesenian Apinat-Aklahat, kami kami sudah membuka kesempatan luas kepada siapapun untuk mengajukan diri dan mimpinya, juga segala rencana kegiatan kreatif yang bisa dilakukan bersama kami dan warga Mollo di lakoat.kujawas. Silakan klik bit.ly/kelakoat sekarang juga untuk informasi lebih lengkap. Mungkin kamu orang berikutnya yang akan berkolaborasi dengan kami.

kelas menulis kreatif To The Lighthouse

15 remaja desa taiftob peserta workshop fotografi Ketong Bisa

karnaval tahunan warga Mollo setiap 16 Agustus

suasana pameran arsip lakoat.kujawas di kantor kecamatan mollo utara

Sarlin Seran, guru agama perempuan pertama di Mollo

AFK Oematan, salah satu tokoh umat katolik di desa Taiftob

gereja Santa Maria Immaculata desa Taiftob

orang-orang Mollo

Lakoat.Kujawas Call for Proposals 2022


(versi Bahasa Indonesia, silakan scrol ke bawah)



Welcome to Lakoat.Kujawas official blog! Since June, 2016, a group of young Timorese started to build this citizen based community. The name derived from two kind of fruits easily be founded in Mollo by which related to the childhood memory of the Mollonese, Lakoat (loquat) and Kujawas (guava), depicting dreams and spirit of the younger generation for better living in this hometown.


Lakoat.Kujawas, or in short, LKJWS, is a community that integrates social entrepreneurship, public library, homestay, collaborative workspace, archive space and arts. Located in Taiftob Village, Kapan, Mollo Utara sub-regency, 130 kilometers from Kupang. Kapan is a small old town built by the Dutch colonial along with Chinese traders as a central of sandalwood, honey and wax market as well as the central of Dutch government of Zuid Midden Timor (South Central Timor). As the former central of the Mollonese Monarchy consist of 8 amaf ( big clan, the landlord), Mollo is the land with many cultural and historical values. Located in the highland with enough amount of rainfall, the land is blessed with various agricultural potentials ranging from garlic, coffee beans, orange, vegetables and many more. Although with its tremendous potentials of natural resources, culture, history and tradition does not meant that Mollo has zero problem. Dropouts, gender-based violence, human trafficking – although there is no exact data – happened in the middle of society. Thus, the boomerang comes. If the natural, historical and cultural potential, is not supported by the good quality of human resources, these will detain many aspects of people’s life.


Basic Thought : The challenge and the solution 

Education is the important solution and is needed for Mollo today. Lakoat.Kujawas emerge as the alternative space for citizen that is slowly formed as new space for what is called “non – formal education,” or citizen-based education. Art, literacy, and social entrepreneurship are the three-main focus. These last two years, we have held several small events such as :Elaf Dame (Festival of Peace), The Harvest Festival of MnahatFeu, Paukolo Festival, Apinat – Aklahat Art Residency, KetongBisaPhotography Workshop, Archive Exhibition: Mollo Calls You Home, Archive Exhibition: Begins from The Cross in The House of The Clerk, Theater Perforance: The Poor’s Prayer, Discussion Programs, English Class, Music &Theater Class, Dance and Science Class. We even started to create a group of weavers, selling products from the farmers ranging from honey, coffee, enhancing the research about the variety of Sambal Lu’at from Mollo and mapping the village’s potential in Taiftob. 

Many dream has finally been achieved, as well as many actions that we are going to do together for tomorrow and the future. Lakoat.Kujawas is a creative space, public space where everyone meet : citizen, children, youngsters, the weavers group, farmers group, students, fresh graduates, lecturer, teacher, researcher, social worker, activists, artists, doctors, and etc. Here we bring the idea, vision, mission, value, dreams and commitment together to raise up the human resources started from the village, the town, and the people. All through art and literacy. (Read article: Libur, Harpitnas dan Lakoat.Kujawas)


What We Offer
By the end of 2017 we successfully held the very first art residency program in our community, Apinat-Aklahat Residency Program 2017. It was a self-funded residency program relied on the active participation from the citizen of Taiftob, a village where this community grows. The idea is simple:  the artists came and lived with us funded by personal/sponsors/donors, then do a collaborative work with the citizen based on the expertise of the artist combining with the resources in the neighborhood. Our main focus is the potential groups by which included as susceptible group : women, children, and young people. With a vision that the confidence level of them will be able to build through the art activities and event by which it could also strengthen the identity shaping as Mollonese. Thus in future, there will be many younger and prouder generation of Mollonese that will actively contribute themselves in developing the hometown. 

Apinat - Aklahat was successfully held in 2017 under the support of Koalisi Seni Indonesia. We held several important events such as theater workshop, theater performance, discussion, collaborative and knowledge sharing with local artists. We are confident, and believe that in 2019 we are going to catch this golden opportunity to hold the same event again. Still, with the same approaching model as like as the previous year, emphasizing the power of collaborative work and solidarity of the citizen (self-funded by locals).

Who can contribute? What is the requirement?

  1. This program is offered to be held in any time in 2022, in which have to be scheduled. We are very open about the schedule, as Lakoat.Kujawas has its own program. It will be great if the program could also collaborate with Lakoat.Kujawas’s regular program.
  2. We gladly give spaces and opportunity to interdisciplinary art workers: film, photography, videography,  theater, literature, crafts, music, dance, product designer, architec, and many more, from Indonesia and around the world, for those whom interested in developing children, youth and women. Now we also invite food activist, chef and farmer to join our residency program.
  3. The residential program is minimum for 3 (three) days and maximum for 14  days for one artist, with one art project. This means that in 2022, there will be more than 1 artist doing the residential program in Taiftob Village.
  4. During the residential program, artist will be facilitate with transportation and accommodation, supported by Lakoat.Kujawas and local people. Organizer does not provide perdiem (honorary fee).
  5. Travel expense to Lakoat.Kujawas in Taiftob Village is assured by the artist itself. We did not rule out that the funding could be supported by sponsor or donors. In 2017, an artist who did a residential program in Lakoat.Kujawas was fully funded by KoalisiSeni Indonesia. Lakoat.Kujawas and the artist can work can willingly collaborate in terms to find sponsor and donors. We gladly welcome anyone who wants to take a part in our program as donor/sponsor.
  6. The program director of Lakoat.Kujawas will be able to do the discussion and program planning with the artist on 14 days prior the residential program.
  7. Program that can be implemented in Lakoat.Kujawa: discussion, workshop, training, socialization, exhibition, performances, research, archiving/documentary, movie screening, etc. local people that is in our main focus are children, youth and women.
  8.  During the residential program, there are several location can be visited  by artist such as village government, traditional village, sonaf (monarch’s house), church, mosque, weavers group, monastery, traditional market, forestry and conservation, local farm, cultural sites and tourism spots. 

We are patiently waiting for the project proposal from every single art workers from Indonesia and all around the world.

For further info, you can contact us in :
- Dicky Senda (Whatsapp +6281338937075, email : dickysenda@gmail.com)

Translated by Thomas Benmetan


Komunitas Lakoat.Kujawas
Call for Proposals 2022

Selamat datang di blog Komunitas Lakoat.Kujawas. Sejak Juni 2016 sekelompok orang muda Timor, merintis sebuah komunitas warga ini. Terinspirasi dari dua jenis buah yang umum di Mollo, yang lekat dengan masa kecil anak-anak Mollo, lakoat (loquat, biwa) dan kujawas (jambu biji, guava), yang menggambarkan mimpi dan semangat generasi muda untuk hidup lebih baik di kampung sendiri.
Lakoat.Kujawas atau yang kami biasanya singkat LKJWS, mengintegrasikan kewirausahaan sosial, perpustakaan warga, homestay, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan komunitas kesenian. Terletak di desa Taiftob, di Kapan, kota kecamatan Mollo Utara, 130 km dari kota Kupang. Kapan sendiri adalah kota lama yang dibangun Belanda bersama para pedagang asal Cina, sebagai pusat perdagangan cendana, madu dan lilin sekaligus pusat pemerintahan Zuid Midden Timor (sekarang kabupaten Timor Tengah Selatan). Sebagai bekas pusat kerajaan Mollo, yang terdiri dari 8 amaf/marga besar/tuan tanah, Mollo sangat kaya akan nilai sejarah dan budaya. Ia terletak di dataran tinggi dengan curah hujan yang cukup, sehingga punya potensi pertanian seperti bawang putih, kopi, jeruk dan berbagai jenis sayuran yang cukup besar. Namun dengan kelimpahan kekayaan alam, budaya, sejarah dan tradisi, bukan juga bebas dari berbagai persoalan. Angka putus sekolah, kekerasan berbasis gender dan human trafficking meski tidak ada data pasti, namun ada dan terlihat di masyarakat. Potensi alam, sejarah dan budaya yang kaya jika tidak diimbangi dengan kualitas sumber manusianya, pada akhirnya akan menjadi bumerang tersendiri. Akan menghambat ke banyak sisi kehidupan warga.

Dasar Pemikiran: Tantangan Sekaligus Solusi
Pendidikan adalah sebuah solusi penting dan mutlak di Mollo saat ini. Komunitas Lakoat.Kujawas sebagai ruang alternatif warga telah menjadi ruang baru bagi apa yang kerap di sebut ‘pendidikan luar sekolah’, pendidikan berbasis komunitas warga. Dengan kesenian, literasi dan kewirausahaan sosial sebagai tonggak utama. Dua tahun berdiri kami telah menyelenggarakan beberapa even dalam skala kecil: Elaf Dame (Pesta Damai), Festival Panen Mnahat Fe’u, Festival Paukolo, Residensi Kesenian Apinat-Aklahat, lokakarya fotografi Ketong Bisa, pameran arsip Mollo Panggil Pulang, pameran arsip Berawal dari Tanda Salib di Rumah Sang Klerek, pentas teater Doa Orang Miskin, berbagai program diskusi, kelas bahasa Inggris, kelas musik dan teater, tari dan sains. Kami membentuk kelompok perempuan penenun, memasarkan produk madu hutan dan kopi kelompok petani, melakukan riset keanekaragaman sambal lu’at Mollo dan melakukan pemetaan potensi desa Taiftob.
Ada banyak mimpi yang pelan-pelan sudah mulai kami wujudkan, ada banyak aksi yang bisa kita kerjakan bersama besok dan kelak nanti. Lakoat.Kujawas adalah ruang kreatif, ruang bersama, yang mempertemukan kelompok warga baik anak-anak, kaum muda, kelompok perempuan petenun dan kelompok tani, dengan para mahasiswa, para fresh graduate, dosen, peneliti, pekerja LSM, seniman, dokter dan berbagai profesi. Mempertemukan ide, gagasan, visi dan nilai, mimpi juga komitmen bersama untuk membangun SDM dimulai dari desa, dari kampung, dari komunitas warga. Lewat kesenian dan literasi. Teman-teman traveler yang berkunjung ke Mollo untuk tujuan liburan, kami tawarkan dan fasilitasi, satu bentuk  wisata yang sedikit berbeda. Kami ajak dan libatkan dalam berbagai bentuk kegiatan kreatif dan pemberdayaan. Teman-teman traveler/turis bisa sekalian memberi kontribusi langsung bagi komunitas masyarakat lokal sesuai dengan kompetensinya. Baca juga: Liburan, Harpitnas danLakoat.Kujawas.

Tawaran
Akhir tahun 2017 kami akhirnya berhasil menyelenggarakan program residensi kesenian pertama di komunita kami, Program Residensi Kesenian Apinat-Aklahat 2017. Residensi yang dirancang swadaya, dengan mengandalkan kekuatan dan keterlibatan aktif warga desa Taiftob, tempat komunitas kami bertumbuh. Ide kami sederhana, seorang seniman datang dan tinggal bersama kami dengan biaya sendiri atau dibiayai sponsor/donatur, lalu melakukan kerja kolaborasi bersama warga sesuai dengan latar sang seniman dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada. Fokus utama kami adalah kelompok-kelompok potensial sekaligus rentan: anak, orang muda dan perempuan. Dengan visi bahwa lewat kegiatan kesenian, ada rasa percaya diri yang terbangun, identitas sebagai orang Mollo semakin kuat dan akan muncul generasi baru, warga yang aktif membangun kampungnya. Setelah Apinat-Aklahat berlangsung sukses di tahun 2017 berkat dukungan Koalisi Seni Indonesia dengan beberapa kegiatan penting seperti lokakarya teater, pentas teater, diskusi, kolaborasi dan transfer pengetahuan kesenian dengan seniman lokal, kami percaya diri untuk mengulangi kesempatan emas ini di tahun 2019. Masih dengan model dan pendekatan yang sama di tahun sebelumnya, kami mengutamakan kekuatan kerja kolaborasi dan solidaritas warga (modal swadaya warga).

Siapa Saja yang Bisa Terlibat dan Apa Saja Syaratnya?
  1.  Kegiatan ini ditawarkan untuk dilakukan kapan saja sepanjang tahun 2022. Sepanjang tidak bertabrakan dengan agenda lain yang sudah direncanakan di Lakoat.Kujawas. Sejauh itu bisa disesuaikan atau dikolaborasikan dengan agenda yang sudah ada, akan sangat baik sekali.
  2. Kami membuka ruang dan kesempatan kepada teman-teman seniman dari berbagai disiplin: film, fotografi, videografi, teater, sastra, seni rupa, musik, tari, petani, designer produk dan arsitek baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Seniman yang tertarik pada kegiatan pemberdayaan kelompok anak, orang muda dan perempuan. Kami juga mengundang food activist, petani dan chef untuk bergabung. 
  3.  Kami mengalokasikan waktu residensi minimal 3 hari, maksimal 14 hari untuk satu orang seniman dengan satu project kesenian. Artinya sepanjang tahun 2022 akan ada lebih dari 1 seniman yang tinggal di desa Taiftob, dengan project yang berbeda-beda.
  4. Tersedia kamar tidur di rumah warga selama proses residensi. Akomodasi dan transportasi selama di lokasi residensi ditanggung komunitas dan warga desa (swadaya). Penyelenggara tidak menanggung perdiem atau honor bagi seniman.
  5. Biaya perjalanan dari tempat tinggal seniman ke Komunitas Lakoat.Kujawas di desa Taiftob ditanggung oleh seniman. Tidak menutup kemungkinan biaya perjalanan dan perdiem didukung oleh pihak lain. (Tahun 2017, perjalanan dan perdiem seniman residensi Apinat-Aklahat didukung Koalisi Seni Indonesia). Lakoat.Kujawas dan seniman bisa saling bahu membahu mencari peluang sponsor/donatur. Kami sangat membuka lebar kesempatan bagi pihak yang ingin menjadi donatur/sponsor bagi terselenggaranya program ini.
  6. Direktur program komunitas akan melakukan diskusi dan penyusunan program bersama seniman, minimal 2 minggu sebelum program residensi berjalan.
  7. Jenis kegiatan bersama warga yang bisa diprogramkan: diskusi, lokakarya, training, sosialisasi, pementasan, seminar, riset, pengarsipan/pendokumentasian, pemutaran film, dll. Kelompok warga yang menjadi fokus utama: anak dan remaja, kaum muda, kelompok perempuan.
  8.  Lokasi-lokasi yang bisa dikunjungi selama program residensi: pemerintah desa, kampung adat, sonaf/rumah raja, gereja dan masjid, sekolah, kelompok penenun, komunitas biara, pasar tradisional, cagar alam dan hutan lindung, kebun warga, situs budaya dan beberapa lokasi wisata.

Kami sangat menantikan proposal dari para seniman Indonesia dan luar Indonesia.

Salam

N.B: Untuk informasi lebih lanjut bisa mengontak programmer kami:
* Dicky Senda (Whatsapp 081338037075, email: dickysenda@gmail.com)



lokakarya teater anak desa Taiftob bersama Shinta Febriany dari Kala Teater Makassar
Pameran arsip sejarah gereja Katolik Mollo di desa Taiftob

Pojok baca di perpustakaan Lakoat.Kujawas desa Taifob

sambal lu'at khas Mollo produksi kewirausahaan sosial lakoat.kujawas

selai nanas desa Taiftob

perpustakaan desa Taiftob

latihan teater di halaman perpustakaan lakoat.kujawas

futus makaif, kain tenun ikat karya kelompok tenun Lakoat.Kujawas