We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Senin, 07 Januari 2019

Jagung Bose Lakoat.Kujawas



Terima kasih sudah membeli produk jagung bose dari kewirausahaan sosial kami di desa Taiftob. Untuk proses memasaknya untuk satu atau dua bungkus jagung (per bungkus 250 gram), silakan dimasak dengan air 3 gayung atau lebih. Berhubung jagung sangat keras. Bisa menggunakan periuk biasa atau panci presto akan lebih cepat masak (hanya butuh kurang dari satu jam). Jika memakai panci biasa maka lama memasak akan lebih dari sejam.

Jagung produksi kami sudah siap masak. Cuci bersih, tambahkan air dan rebus hingga jagungnya lunak dan kuahnya mengental. Jika jagung masih keras dan airnya sudah hampir habis, tambahkan air segayung lagi. Jika sudah lunak dan kuah mulai mengental, tinggal tambahkan sayuran atau santan kelapa atau susu sesuai selera. Di Lakoat.Kujawas kami biasanya memasak tanpa garam, tanpa santan atau susu. Sesekali jika ingin menikmati kuahnya, kami tambahkan kuah tulang babi yang sudah dimasak terpisah. Resepnya sederhana saja, tulang babi dimasak dengan sereh/lemongrass, bawang putih dan lada. Setelah matang, kuahnya bisa dicampur ke bose yang sudah mengental.

Tanpa sayuran sebenarnya sudah cukup enak sebab sudah ada 5 jenis kacang lokal dalam produk kami. Bisa juga menambahkan sayur bayam, wortel atau buncis sesuai selera. Di Mollo kami mencampurkannya dengan potongan labu siam, labu kuning (pumpkin),. termasuk pucuk labu kuning dan labu siap. Orang Mollo yang suka pahit sebagai penyeimbang ketika mereka makan dengan daging asap (sei) maka di bose biasanya dicampur juga dengan potongan buah pepaya muda, bunga pepaya atau daun pepaya muda.

Sebagai pelengkap, enak dimakan dengan sambal luat yang variannya bisa disimak di sini. 

Selamat mencoba.

Oya kalau dimasak dengan santan dan susu, tambah gula merah maka bisa jadi menu dessert yang enaaak.

Berbagai Jenis Sambal Lu'at Mollo

sambal luat original Lakoat.Kujawas
Sambal lu'at adalah salah satu sambal khas yang umum dijumpai di wilayah Timor dari Kupang hingga Atambua. Di wilayah Mollo sendiri, dalam sebuah riset kecil yang dilakukan oleh Dicky Senda, ditemukan lebih dari 12 jenis/varian sambal lu'at. Mengapa begitu kaya? Wilayah Mollo yang berada di ketinggian, di lereng gunung Mutis dengan kondisi alam yang subur dan tumbuh berbagai jenis tanaman rupanya ikut mempengaruhi daya cipta-daya kreasi orang Mollo menciptakan berbagai jenis sambal lu'at enak, lebih beragam dan kaya rasa dari sambal lu'at yang ada di restoran dan toko oleh-oleh di Kupang, misalnya, yang hanya mengandung cabai, bawang putih, garam, daun kemangi dan kulit/air jeruk nipis. Di Mollo ada sambal lu'at dari rebung bambu, usus dan hati babi/sapi, kulit jeruk lemon (ada banyak jenis lemon/jeruk di Mollo). Bawang putih dari lereng Mutis yang spesial itu juga membuat citarasa tersendiri bagi sambal asal Mollo. Orang-orang di pegunungan mencampur sarang lebah atau ulat/larva lebah menjadi sambal lezat (namun hati-hati bagi yang alergen protein, bisa gatal-gatal badannya).


sambal luat tomat cherry
Yang spesial, karena ada di dataran tinggi, banyak sekali tumbuh herbs atau daun-daun wangi sejenis kemangi, mint, ketumbar, parsley timor (sipa), ut manu, dan masih banyak jenisnya. Kemangi saja bisa ditemukan 3 jenis berbeda. Di desa Kualeu, orang-orang membuat sambal lu'at dan menaruhnya di tabung bambu dan menggantungnya di dalam rumah bulat (ume kbubu) dekat tungku perapian. Isinya cuma belimbing wuluh dan irisan pare/paria hutan, namun rasanya spesial mungkin karena disimpan dalam bambu dan melewati proses pengasapan di atas tungku hingga

tabung bambunya kecoklatan. Pedas asam dan sedikit pahit sangat nikmat disantap dengan jagung bose. Ada jenis apa lagi? Mampirlah ke komunitas Lakoat.Kujawas, Dicky Senda biasanya akan mengajak tamu pergi ke pasar atau ke kebun, atau ke hutan untuk memanen berbagai jenis bahan lokal yang biasanya dipakai untuk bikin sambal lu'at. Yang jauh dari Mollo, tenang saja, sejak dua tahun terakhir salah satu varian yakni sambal lu'at original dengan estra kulit jeruk, bawang putih Mutis dan daun sipa (parsley timor) sudah kami jual di Intagram @lkjws.co dan di Toko Sayur Sehat yang digagas komunitas Kupang Batanam di kantor Pikul Kupang. Sambal lu'at original itu bisa diaplikasikan ke berbagai menu.


Berikut resep rekomendasi dari Dicky untuk teman-teman yang sudah beli sambal luat produksi Lakoat.Kujawas dan bingung sambal ini bisa dikreasikan dengan bahan apa saja ya supaya tidak bosan? Semua variasi sambal lu'at bisa dinikmati dengan nasi putih, singkong rebus, pisang mentah yang dikupas kulitnya diiris tipis dan digoreng, ubi bakar, mie goreng, daging se'i/daging asap baik babi maupun sapi. Atau menu barbecue lainnya.

1. Sambal Luat Kembang Turi/Bunga Gala-Gala

Bersihkan kembang turi, rebus cepat saja di air mendidih selama 2 menit. Tiriskan. Iris kecil atau cabik-cabik kembang turi yang sudah dingin, campur dengan sambal lu'at Lakoat.Kujawas. Tambahkan sedikit air dan potongan jeruk purut, irisan bawang merah dan garam secukupnya.

2. Sambal lu'at terong bakar
Bakar terong di atas bara api 2-5 menit sampai matang merata. Kupas kulit tipisnya yang mungkin hangus atau menghitam. Iris tipis atau dipotong sesuai selera. Campur dengan sambal luat Lakoat.Kujawas. Tambah daun bawang merah, bawang merah, sedikit garam.

3. Sambal luat tomat cherry.
Iris tomat cerry, campur dengan sambal luat LakoatKujawas. Cocok dinikmati dengan singkong rebus. Sambal ini cocok dimakan dengan pizza. Di dapur Lakoat.Kujawas Dicky membuat pizza dari tepung sorgum dengan saus tomat yang dicampur banyak kemangi hutan, topingnya daging babi atau sapi yang telah diasap dengan daun kesambi/kosambi.

4. Sambal lu'at hati dan usus sapi/babi.
Bersihkan hati dan usus babi atau sapi. Iris tipis, beri air jeruk, sisihkan. Tambahkan sedikit garam, irisan bawang merah, sambal luat Lakoat.Kujawas. Jadi deh.

5. Sambal lu'at kuping tikus dan jamur maon ana.
Kuping tikus sudah umum. Di desa kami saat musim hujan dengan mudah akan ditemui di hutan dan kebun. jamur maon ana adalah jamur yang tumbuh bergerombol, kecil-kecil seperti anak ayam (maon ana) biasanya tumbuh di sela pohon kemiri, mangga, dadap. Kuping tikus dan maon ana mentah dirisi tipis langsung dicampur dengan air jeruk dan sambal luat Lakoat.Kujawas, surgaaaaa.


Ada banyak lagi variasi sambal luat. Bisa dicampur dengan pare yang sudah direbus dan diiris tipis. Cocok dimakan dengan daging berlemak seperti babi bakar atau sate babi. Ketika musim buah seperti mangga, nanas atau lakoat, sambal luat Lakoat.Kujawas juga bisa dicampur dengan irisan mangga, nanas dan lakoat/biwa/loquat. Rasanya pedas dan kecut segar. Selamat mencoba.

Untuk memesan sambal luat produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas silakan  kontak ke whatsapp 091338 037 075

Intip Agenda Kreatif di Komunitas Lakoat.Kujawas di Awal Tahun 2019

Sebagai komunitas dengan model warga aktif dan kewirausahaan sosial, salah satu yang kami kerjakan adalah menghidupkan kembali kebiasaan menenun yang hampir ditinggalkan karena kelesuan pasar. Kami coba yakinkan kembali para mama dengan memperkenalkan platoform penjualan online (via Instagram @lkjws.co). Pelan-pelan rasa percaya itu muncul. Initiatif untuk membuat lokakarya pewarnaan benang kemudian dilakukan secara swadaya melibatan mama-mama yang lain termasuk para orang muda desa. Dua tahun bertumbuh bersama, insiatif lain kemudian muncul yakni menyelenggarakan kelas memenun bagi beberapa remaja desa, berkolaborasi dengan salah satu sekolah yang ada di desa kami, SMPK Santo Yoseph Freinademetz Kapan (dengan memanfaatkan jam ekstrakurikuler sekolah di hari Sabtu). Sebagai komunitas dengan model social enterprise, kami mulai belajar bukan saja menggali kembali potensi pertanian dan seni budaya seperti tenun untuk dipasarkan. Keuntungan dari semua itu kami sisihkan 10-15 % untuk menghidupi komunitas dengan berbagai kegiatan kreatif dan pemberdayaan warga. Salah satunya kelas menenun bagi remaja desa.
Mama Mety dan Mama Nati
Senang sekali mama Mety menjadi inisiator kemudian mengajak mama Nati yang jago membuat tenun ikat juga mama Aser yang biasanya menenun dengan teknik lotis/sotis. Kolaborasi ketiganya sebagai pengajar kami harapkan bisa meneruskan berbagai pengetahuan kepada generasi muda desa Taiftob untuk belajar tenun, pewarnaan benang hingga ikat benang. 

Doakan semoga program ini berjalan lancar. Tahun 2019 ini ada beberapa program kreatif yang akan kami selenggarakan di komunitas kami. Kelas menulis kreatif masih dengan agenda workshop menulis puisi tentang batu dan menulis dongeng berkolaborasi dengan para orang tua. Ada juga workshop ilustrasi untuk melengkapi naskah buku puisi dengan cerita karya anak-anak. Ada beberapa relawan ilustrator yang akan datang mengajar secara sukarela mulai akhir pekan ini. 

Untuk donasi silakan kontak lakoatkujawas@gmail.com atau whatapp 081338037075. 

Mama Nati

Foto oleh Deztro/Armin Septiexan/SkolMus untuk Praktik Cerdas -Yayasan BaKTI

Sabtu, 05 Januari 2019

Lentera Indonesia - Generasi Mandiri Tanah Timor

Lakoat Kujawas adalah sebuah komunitas yang berjalan dalam tiga bidang yaitu kewirausahaan, literasi, dan kesenian. Pada awal merintis Lakoat Kujawas, Dicky memilih untuk membangun sebuah perpustakaan warga di desa Taiftob. "Karena orang yang banyak membaca pasti juga punya potensi untuk menulis. Saya juga coba ajak mereka untuk misalnya menulis tidak usah jauh-jauh menulis dulu dari sekitar," tambah Dicky. Dicky beranggapan jika menulis bisa menjadi salah satu sarana atau media bagi anak-anak untuk mengenal identitas dan budaya mereka sebagai orang timur. Tak hanya menulis, Dicky juga kerap mengajarkan anak-anak tentang kesenian. Salah satunya dengan membuat lokakarya teater. Disetiap kegiatannya dalam memajukan daerah, Dicky selalu melibatkan para generasi muda. Karena menurutnya, para generasi muda akan lebih mudah untuk membuat sebuah gerakan baru dan menularkannya kepada masyarakat lain. “Saya selalu di sini melibatkan orang muda. Karena ini kesempatan saya untuk menumbuhkan rasa solidaritas, rasa bahwa ini harus di lakukan swadaya oleh kita. Dan saya pikir dengan begitu gerakan baru akan muncul,” ungkapnya.

Lakoat.Kujawas: Dari Pendidikan Karakter ke Kewirausahaan Sosial

Artikel ini pernah dimuat di website BaKTI tanggal 27 November 2018

Kawasan Timur Indonesia, telah lama  hidup menyandang stigma miskin dan bodoh.
Lalu bagaimana bisa sebuah komunitas, jauh di tengah pulau Timor, berdiri dengan semangat yang tak pernah padam
 Untuk mencapai sekretariat Lakoat.Kujawas kita harus melalui jalan sempit dengan tikungan tajam. Pemandangan September yang memasuki musim kering menjadi sangat membosankan. Daun sedang gugur. Pohon sedang sekarat.
Tapi, pemandangan berbeda akan nampak jika Anda menyusurinya pada Januari hingga Juli, kawasan itu akan nampak hijau dan asri. Sungai Netmetan, yang lebar akan membawa arus kuat. Tidak seperti saat musim kering, bagian tengah badan sungai menumpuk batuan membentuk pulau.
Ratusan tahun silam, Mollo adalah negeri subur. Masyarakatnya hidup dengan rukun. Kawasan ini pula lah yang mendapat julukan The Heart of Timor – jantungnya pulau Timor. Puncak tertingginya adalah Gunung Mutis.
Mutis dengan ketinggian 2.427 meter di atas permukaan laut, ibarat ibu dari bukit-bukit di sekitarnya. Mengalirkan 12 sumber mata air, menuju kota Kupang hingga ke negara Timor Leste.
Di kawasan inilah, di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Lakoat.Kujawas berdiri bersama keceriaan dan kegembiraan anak-anak. Di antara tapak kaki warga yang kuat. Di dalam hangat rumah Ume Kbubu (rumah bulat). Dan tentu saja keriuhan canda.
Lakoat.Kujawas adalah sebuah komunitas yang berdiri 10 Juni 2016. Lima orang penginisiasinya tergerak untuk menemukan kembali cerita petualangan masa kecilnya. Pulang sekolah lalu, masuk ke hutan berburu buah Lakoat dan Kujawas. “Mungkin bagi banyak orang tua, buah itu tidak begitu penting, karena bukan jenis buah yang bernilai untuk bisa dijual. Tapi bagi anak-anak, dua buah ini menjadi salah satu memori paling penting dalam perjalanan,” kata Dicky Senda, salah seorang pendirinya.
Lakoat dalam bahasa indonesia adalah buah Biwa. Kujawas adalah jambu biji.
Dicky seorang sastrawan. Ia menulis buku tentang Timor, merekam resep kuliner, dan mengangkat hubungan sosial. Dia mencintai kampungnya, yang setiap orang tak bisa mengukurnya. “Saya sudah selesai dengan urusan diluar sana. Saya ingin menetap di Taiftob. Di desa ini,” katanya.
Gudang di rumah keluarga Dicky kemudian disulap menjadi sebuah perpustakaan. Rak buku ditempatkan di dalamnya menjadi rumah bagi beragam bacaan. Komik, novel, cerpen, hingga pelajaran umum. Setiap anak dapat membawa buku ke rumahnya. “Harus baca e. Ada buku yang hilang? Kaka Dicky tidak marah. Tapi harus melapor. Jadi besok, buku yang sudah di pinjam diletakkan di keranjang itu, lalu catat sendiri,”
“Ini sudah jam 5 (17.00), sudah. Ayo siap-siap pulang. Pulang langsung ke rumah e. Hati-hati,”
Anak-anak itu membubarkan diri. Beberapa dari mereka berasal dari desa tetangga. Jarak tempuh berjalan kaki bisa mencapai 30 menit hingga 1 jam. Di Lakoat-Kujawas akhirnya, tim BaKTI menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak di pelosok Indonesia, punya minat baca yang tinggi. Mereka hanya tak punya akses, tak ada fasilitas.
“Sejak ada Lakoas.Kujawas, setiap minggu saya pinjam buku. Kalau saya suka cerita bukunya, saya habiskan bacaan sekitar 200 halaman dalam tiga hari,” kata Yoneta Silfana Pantola, siswa Kelas 8 SMPK St. Yoseph Freinademetz.
Membangkitkan Rasa Percaya Diri
 Di Taiftob, ada dua Sekolah Dasar (SD), tiga Sekolah Tingkat Pertama (SMP), dan satu Sekolah Menengah (SMA).  Desa ini dihuni oleh sekitar 170 KK dan sekitar 1.000 jiwa.
Randiano Tamelan  adalah salah seorang relawan Lakoat.Kujawas. Seperti pemuda Timor lainnya, ia penuh kehangatan dan canda. Di Lakoat.Kujawas, ia mengajar anak-anak bahasa Inggris. Bagi Randi, sapaan akrabnya, anak-anak adalah bagian penting dari perkembangan wilayah.  “Pada awal kami membuat kelas, ada banyak anak-anak yang sangat pemalu. Atau bahkan ketakutan dan tak ingin bicara,” katanya.
“Saat disentuh atau dielus kepalanya, mereka bisa menangis. Saat dipanggil, mereka malah lari. Saya sedih dengan itu,” lanjutnya.
Menularkan Semangat Belajar
Tahun 1998, ketika kirisis moneter melanda Indonesia, menumbangkan Orde Baru, dampaknya hingga ke Tiaftob, banyak anak muda meninggalkan kampung. Seperti yang banyak terjadi di desa-desa di NTT,  kebanyakan anak muda memilih pergi ke Kalimantan dan Malaysia menjadi buruh demi mendapatkan fresh money.
Padahal, leluhur orang Timor, sejatinya bukan bangsa perantau. Leluhur Timor bertahan hidup mengelola alam dengan mengandalkan keuletan. Mereka tidak mengeluhkan kondisi kering gersang yang kerap dialami di musim kemaru. Bagi orang Timor, tanah yang mereka pijak adalah tanah yang memberi kedamaian.
Namun sore itu, ada keramaian di pekarangan rumah Om Willy – Richardus Willy Brodus Oematan. Di samping rumah, ada yang menumbuk, ada yang mencacah, dan mencampur. Orang-orang itu sedang praktek pembuatan pupuk organik. Mereka adalah para orangtua dari anak-anak yang menggabungkan diri ke dalam Komunitas Lakoat.Kujawas.
“Waktu dengar pertama kali Lakoat.Kujawas ini, saya acuh saja. Tapi saya ada dua anak yang selalu berkunjung ke sana. Kalau pulang selalu bawa buku. Saya tanya-tanya, lalu dia cerita dan anak saya gembira sekali,” kata Willy.
Akhirnya, berlalu waktu, dia melihat perubahan pada anaknya. Semakin rajin belajar dan suka membaca. Anak-anak desa juga sudah mulai berani tampil di sebuah pementasan desa. “Saya bangga sekali sekaligus haru,” katanya. Perubahaan-perubahan itu mendorong Willy untuk bergerak melihat Lakoat.Kujawas dan membangun diskusi, membangun mimpi bersama.
Merambah Kewirausahan Sosial
 Di tempat ini, di Timor secara umum, orang-orang menemukan resep dan adaptasi pangan dalam cuaca yang sangat eskstrim adalah bagian dari upaya bertahan hidup. “Ini adalah tradisi yang agung dan kami sedang beradu untuk menyelamatkan dan mengenalkannya kembali agar menjadi semangat,” kata Dicky.
Orang Timor sebagian besar hidup sebagai petani musiman, padi pada musim hujan dan jagung saat musim kering. “Pengetahuan-pengetahuan membaca alam. Merencanakan pertanian, acapkali dianggap hal yang tradisional, padahal ini lah yang menyelamatkan Timor sejak awal,” katanya.
Karena tuntutan ekonomi dan saringan informasi yang kurang baik, kebanyakan warga Taiftob merasa imperior terhadap warga kota. “Saya mendapati beberapa hal yang sangat menyedihkan. Jika ada tamu dari kota, warga menghidangkan mie instan, karena itu dianggap makanan dari kota. Ubi, singkong, jagung, sudah tidak. Ada ungkapan bilang begini, ‘malu hati kita kalau kasi tamu makanan orang kampung,” kata Dicky.
“padahal makanan, adalah identitas. Makanan adalah proses penemuan manusia.” , lanjut Dicky.
Di Lakoat.Kujawas anak-anak dan orang dewasa kembali mendalami akar budaya yang sempat menghilang dari kehidupan bermasyarakat di Taiftob.  Selain mempelajari kembali Natoni tradisi berbalas pantun saat menyambut atau melepas tamu, mereka kembali menekuni tenun dan anyaman bambu yang telah lama ditinggalkan karena dahulu dianggap sebagai aktivitas ekonomi yang terlalu lambat menghasilkan uang.
Bersama, mereka membuat Sambal Lu’at – sambal khas Timor. Sambal Lu’at produksi Lakoat.Kujawas adalah ketakjuban. Rasanya gurih, kecut, dan pedas. Sambal ini dapat bertahan lama, berminggu-minggu. Lembaga ini membuat sambal setiap 2 minggu sekali. Mereka mangambil pasokan cabe dari desa sekitar. Namun tetap mengutamakan hasil pertanian cabe dari desa Taiftob.
Rata-rata produksi Sambal Lu’at mencapai 15-20 kg per dua pekan. Lakoat.Kujawas menjualnya secara online lewat akun media sosial milik komunitas. Sambal Lu’at dikirim ke berbagai penjuru tanah air, dengan permintaan pasar paling tinggi dari Jakarta. Harganya bervariasi antara 15-25 ribu per botol.
Selain Sambal Lu’at mereka juga memproduksi dan menjual Jagung Bose dan kain tenun. Keuntungan bersih hasil penjualan akan dimasukkan ke lembaga sebesar 10 persen, untuk kepentingan bersama. Inilah yang mereka sebut sebagai skema kewirausahaan sosial.
Skema ini, menjadi tempat membangun hubungan sosial agar semua pelaku ekonomi saling terhubung. Prinsipnya, semua pilar kehidupan akan berjalan seiring dan saling mendukung. Semua potensi ekonomi saling terkait.
Taiftob kini menjadi desa yang aktif. Kekuatan bersama sedang bertumbuh. Ibarat petani yang giat bekerja di kebun, sore hari kembali ke rumah yang hangat, memetik viol dan bernyanyi.

Husa sele le,le le hao
Neno hena maeb, neno hena maeb
Ae bijo le natu sa’ne bae
Helem aela lo lo sai sa’
Sa’ ne bae
Saat senja hari,
selepas bekerja merasa lelah,
sambil menatap senja,
bangkitkan semangat
menyambut hari berikut.

Ana-Ana Desa Taiftob Ju Bisa

Artikel ini pernah dimuat di website Skolmus 23 Agustus 2017
Bangga rasanya melihat 15 remaja dari Desa Taiftob, Mollo, TImor Tengah Selatan berhasil memamerkan karya fotografi mereka.
Akhirnya, setelah mengikuti workshop fotografi bersama SekolahMUSA dan Gadgetgrapher NTT, 15 anak remaja dari Komunitas Lakoat Kujawas, desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan memamerkan karya mereka di Pameran Foto dan Arsip perpustakaan bergerak Komunitas Lakoat Kujawas, di Kantor Camat Mollo, 12 – 19 Agustus 2017. Dalam catatan, pameran ini dikunjungi 800 kali, untuk pameran selama 6 hari.
Pameran foto bertemakan “Pulang” ini juga bagian dari Festival warga desa Taiftob, Festival ‘Pau Kolo” yang diselenggarakan oleh Komunitas Lakoat Kujawas. Refleksi “Pulang” adalah melihat kembali sejarah Mollo, melihat kembali kampung halaman dengan segala potensinya.
Sebelumnya, anak-anak remaja ini belajar bersama SekolahMUSA tentang fotogarfi selama 4 kali workshop dan bersama warga desa mereka merekam aktivitas harian mereka ke dalam medium foto lalu memamerkannya. Peserta dipinjamkan kamera poket selama 2 minggu dan mereka bebas bercerita terkait diri mereka, keseharian dan lingkungan mereka melalui medium foto.
Selain workshop dan pameran foto jugda ada workshop tari, teater, kelas bahasa Inggris, workshop sains (membuat robot sederhana) hingga presentasi teater oleh anak-anak Komunitas Lakoat Kujawas. Festival ini juga adalah ajang kolaborasi antara komunitas di Kupang dan Kapan, TTS.
Komunitas Lakoat.Kujawas adalah komunitas yang menyediakan wadah bagi anak dan orang muda, relawan dari berbagai disiplin ilmu, kelompok perempuan dan para petani, yang mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan komunitas kesenian, perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan homestay di desa Taiftob, Mollo, Timor Tengah Selatan.  Informasi lain terkait Lakoat.Kujawas bisa diikuti di Instagram @lakoat.kujawas dan toko online kami di @lkjws.co
Foto-foto hasil karya 15 Anak ini dapat dilihat dibawah ini:
Karya Nesta Banfatin

Karya Rani Laka

Karya Resi Nati

Karya Santi Banoet

Karya Petra Sisilia Tafui

Karya Dino Sesfaot

Karya Elen Talan

Karya Endiko Tapatab

karya Findy Lengga
Karya Alma Gabe

Karya Angky Sanam

Karya Asry Banoet

Karya Calista Oematan


Membuai Ratu Lebah Demi Lestarinya Madu Mollo

pernah dipublikasi di laman tutur tanah air edisi 4 Juli 2017
Tautan antara hasil alam dan tradisi yang melebur, membuat sebotol madu dari Mollo menjadi istimewa. Bukan soal harga dan bagaimana rasanya, tetapi kisah memanen dan prosesnya yang membuat madu ini berharga.
Mollo, sebuah daerah berlokasi di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Selain tenun, biasanya traveler juga mencari madu di sini.
Dicky Senda namanya, ia seorang penggiat Komunitas Lakoat Kujawas. Komunitas ini digandrungi muda-mudi yang bersemangat membuka layar wisata di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka selalu memperkenalkan madu dari desa adat yang ada di kabupaten tersebut. Dicky menekankan, bukan madu yang dijual, tetapi kisah bagaimana pengambilan madu.
Tidak sembarang orang bisa mengambil madu. Meo Oni, seorang yang terpilih secara khusus untuk mengambil madu. Salah satu ritual yang Meo Oni lakukan ialah membuai Ratu Lebah dengan syair dan pujian. Ucapan ini ibarat doa yang memiliki kekuatan kuat. Seperti istri lain, kata Dicky Senda, proses panen madu ini dilakukan agar Meo Oni tidak diserang lebah.
“Orang membeli madu dari Mollo, karena cerita di balik proses pengambilan madu, yang di satu sisi madu ini masih sangat terjaga karena ini diambil dari hutan tanah-tanah Ulayat atau hutan adat,” tutur Dicky Senda.
Ternyata, Meo Oni yang terpilih perlu menjalani beberapa pantangan dan ketentuan adat istiadat wilayah setempat. Beberapa hari sebelum panen, ia tidak boleh memiliki pikiran negatif, salah satu caranya dengan bersemedi. Bila ada ritual yang terlewatkan, Meo Oni bisa jatuh, bisa meninggal, atau dia sakit.
Dicky Senda dan kawan-kawan selalu menerakan potongan cerita ini dan alamat pada kemasan madu yang dijual, sehingga konsumen tak hanya bisa membeli madu Mollo, tetapi juga bisa menelusuri kisah di balik madu yang direguknya.

Penulis: Manda Mandes | Eddy Prayitno