We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Senin, 26 Agustus 2019


SIARAN PERS
14 Agustus 2019
Untuk Dirilis Segera
Pameran Foto dan Peluncuran Buku Puisi Karya Anak-Anak Komunitas Lakoat.Kujawas

Kapan, Mollo Utara
Tiga tahun sudah kami membangun inisiatif bersama warga Mollo khususnya yang tinggal di desa Taiftob. Komunitas ini mengawali gerakannya dengan merintis perpustakaan warga di bulan Agustus 2016, menjadikannya sebagai ruang alternatif baru baru anak-anak desa yang masih sulit mendapatkan akses ke buku bacaan berkualitas. Sayap komunitas ini terus melebar hingga menjaring puluhan relawan muda dari Kapan, SoE dan Kupang, menginisiasi berbagai program kreatif lainnya yakni kelas menulis, tenun, bahasa Inggris, tari, teater dan musik. Dalam semangat kerja kolaborasi dan solidaritas. Orang tua adalah pihak berikutnya yang kemudian tergerak untuk bergabung karena selain sudah melihat manfaat yang diperoleh anak-anak mereka, ada kerinduan yang sama pada diri orang tua untuk mengakses ruang kreatif bersama yang menjadi tempat berkumpul, belajar, berbagi pengalaman dan berkreativitas. Hal yang selama ini kurang mendapat perhatian oleh pemerintah kita.
Yang kami lakukan sejauh ini adalah membangun ekosistem warga aktif. Kami merasa untuk melakukan perubahan, kami tidak bisa melakukannya sendirian. Kami mulai membangun komitmen dengan para pemangku kebijakan, baik pemimpin gereja, sekolah, tokoh adat maupun pemerintah desa. Anak adalah titik tengah dari ekosistem yang sedang kami wujudkan bersama ini.
Salah satu inisiatif besar yang mulai kami garap adalah membuat sebuah ruang arsip, tempat segala informasi sejarah, budaya, kesenian dan religi terkait Mollo tersimpan dan bisa menjadi rujukan bersama. Menjadi sekolah alternatif bagi siapapun yang ingin mempelajari Mollo. Tentu saja menjadi ruang bagi generasi muda Mollo. Itu semua adalah identitas.


Pameran Foto
Pameran foto ‘Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu’ dan peluncuran buku puisi ‘Tubuhku Batu, Rumahku Bulan’ adalah hasil akhir dari sebuah proses kreatif yang cukup panjang melibatkan anak dan remaja desa Taiftob yang bergiat di Lakoat.Kujawas. Lokakarya fotografi bersama teman-teman SkolMus dari Kupang dilewati sebulan terakhir. Ini adalah kolaborasi kedua kami, setelah sebelumnya di bulan Agustus 2017 kami menyelenggarakan pameran foto “Pulang”.
“Bagi kami workshop fotografi di Taiftob untuk anak-anak adalah satu proses belajar hal-hal baru terkait bagaimana melihat perpektif anak-anak dalam membingkai cerita-cerita di Taiftob lewat visual foto.” Ungkap Armin Septiexan, salah satu mentor dari SkolMus.
Menurut Armin, insting dan feel dalam memproduksi karya yang dihasilkan oleh anak-anak Taiftob tentu akan berbeda dengan ‘orang asing’ yang sehari-hari atau kebetulan lewat dan memotret Taiftob. Anak-anak akan lebih bebas membuat karya karena tidak dibebani dengan teori atau pakem fotografi yang mainstream.
Sebagai sesama kewirausahaan sosial, misi SkolMus adalah Terus Berbagai Cahaya sejalan dengan misi Lakoat.Kujawas dalam semangat memperkuat identitas sebagai orang Mollo.  “Kolaborasi bersama Lakoat.Kujawas ini kami ingin anak-anak menceritakan kampung mereka tentang konsep konservasi alam dan budaya dengan ‘bahasa’ mereka bukan bahasa lain yang datang dari luar Taiftob”, lanjut Armin. Kehidupan orang Mollo tidak terlepas dari elemen air, hutan dan batu. Ketiganya tidak terpisahkan, bahkan dianggap sebagai tubuh manusia itu sendiri.
Lokakarya fotografi dan pameran foto ini dibiayai dari keuntungan kewirausahaan sosial di Lakoat.Kujawas dan SkolMus

Peluncuran Buku
Sejak September 2018 kelas menulis kreatif To The Lighthouse yang merupakan kerja kolaborasi Lakoat.Kujawas dengan salah satu sekolah yang ada di desa Taiftob, SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan rutin menyelenggarakan lokakarya menulis puisi dengan sumber inspirasi utama batu dan hutan. Delapan bulan kemudian lahirlah naskah ‘Tubuhku Batu, Rumahku Bulan’ berisi 114 puisi pendek yang ditulis oleh 25 remaja. Cukup unik memang hasilnya sebab di luar dugaan mereka mengungkapkan apa yang mereka lihat, pahami dan dengar, dengan sangat jujur dan orisinil. Buku ini melahirkan cara pandang baru generasi muda Mollo akan tanah kelahiran mereka.
Tubuhku Batu, Rumahku Bulan adalah buku kedua yang terbit dari kelas menulis kreatif ini. Sebelumnya di bulan Juni 2018 mereka telah menerbitkan satu buku cerpen berjudul Dongeng dari Kap Na’m To Fena. Berisi cerita-cerita pendek yang terinspirasi dari dongeng masa kecil atau pengalaman langsung di rumah.
Ekspresi diri lewat tulisan tidak bisa dianggap sepele. Dicky Senda selaku mentor di kelas menulis kreaitf ini berpendapat bahwa yang mereka lalukan sejalan dengan misi komunitas. “Buku ini penting, barangkali akan jadi sejarah kecil di desa Taiftob atau Mollo, kelak. Ada imajinasi yang dirawat, ada identitas sebagai anak Mollo yang patut diperkuat. Ada rasa percaya diri yang meski dirawat terus.” Ungkap penulis buku Kanuku Leon dan Sai Rai.
“Pada momen ini, saya harus jujur mengakui bahwa anak-anak di kelas menulis kreatif ini telah berhasil menjadi seniman kata,” ujar Romo Jimmy Kewohon, Pr, selaku kepala sekolah SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan. Baginya, perjalanan menjadi sastrawan atau penulis profesional masih amatlah jauh, namun ketika anak-anak ini telah berhasil mengungkapkan suatu realitas di sekeliling mereka dengan nada puitis dan jujur, diksi yang dalam dan indah, merekalah seniman kata. Sebagai kepala sekolah dan tokoh agama, Romo Jimmy sangat mendukung penuh perjalanan Lakoat.Kujawas.
“Tokoh agama maupun tokoh adat punya kekuatan, suara mereka didengar banyak orang. Menggandeng mereka untuk sebuah perubahan di masyarakat tentu baik. Itulah ekosistem warga aktif. Semua pihak punya peran.” Jelas Dicky.
Findy Lengga, salah satu penulis di buku Tubuhku Batu, Rumahku Bulan, mengungkapkan pendapatnya tentang betapa penting merawat alam. “Kita perlu merawat dan melestarikan hutan, mata air dan batu. Karena ketiganya kita dapat menghirup udara segar setiap hari. Tanaman yang kita tanam bisa tumbuh subur. Alam indah, kita bahagia. Semua yang diwariskan para leluhur perlu dirawat.”
Pada akhirnya semoga pameran foto dan buku puisi yang sama-sama bicara tentang hubungan manusia dengan alam semesta dari kaca mata anak-anak akan membuka mata dan hati kita untuk lebih bertanggungjawab dan peduli pada pihak lain di luar diri kita. Merawat dengan sukacita atau malah mengalami bencana, seperti yang dikhawatirkan Edo Sesfaot, salah satu peserta lokakarya fotografi. “Tidak merawat hutan, mata air dan batu maka di masa depan banyak hal yang buruk akan mendatangi kita!”

***
Komunitas Lakoat.Kujawas adalah sebuah inisiatif yang lahir dari warga aktif desa Taiftob di Mollo Utara, TTS. Mengintegrasikan kewirausahaan sosial dengan perpustakaan warga, ruang kerja kolaborasi, ruang arsip dan ruang pengolahan hasil pertanian dan perkebunan. Lahir tanggal 10 Juni 2019. Sudah menerbitkan tiga buku yakni buku sejarah kecil Gereja Katolik di Mollo, “Berawal dari Tanda Salib di Rumah Sang Klerek”, buku cerpen Dongeng dari Kap Na’m To Fena dan buku puisi Tubuhku Batu, Rumahku Bulan. Pernah terpilih menjadi komunitas dengan Praktik Cerdas oleh BaKTI di Festival Forum Kawasan Timur Indonesia tahun 2019. Sejak awal tahun 2019 mulai mengagas model heritage trail bernama Mnahat Fe’u yakni sebuah model wisata minat khusus (sejarah, budaya, kesenian dan religi) yang mempertemukan komunitas dengan pangan dan isu ekologi.
SkolMus adalah sebuah kewirausahaan sosial dan komunitas yang ada di Kupang. SkolMus fokus pada multimedia (foto, film, video, dll).
SMPK St. Yoseph Freinademetz adalah sekolah milik Yayasan Swastisari. Terletak di desa Taiftob, Kapan.

No. Kontak untuk informasi lebih lanjut
1. Dicky Senda (Direktur Program Lakoat Kujawas) 081338037075,
2. Romo Jimmy Kewohon (Kepsek SMPK St. Yoseph Kapan) 085337514110
3. Armin  Septiexan (SkolMus) 081239985907.

Rabu, 17 Juli 2019

Mnahat Fe’u Heritage Trail: Dari Makan Siang di Napjam Berakhir Dengan Main Kere-Kere di Ajaobtomas


Ini adalah babak akhir dari perayaan musim panen di komunitas Lakoat.Kujawas desa Taiftob, Mollo, Timor Barat tahun ini. Kami menyebut acara ini Mnahat Fe’u yang artinya makanan baru. Sebutan bagi semua jenis bahan makanan yang baru saja dipanen sebelum nantinya melewati berbagai proses baik pengeringan di atas api di dalam rumah bulat (ume kbubu), dikeringkan di bawah sinar matahari, difarmentasi dan berbagai teknik pengawetan bahan makanan lainnya. Mnahat Fe’u bisa juga berarti menari bonet sambil berbalas syair yang terkait dengan proses membuka kebun, menanam benih hingga panen. Mnahat Fe’u adalah ungkapan sukacita sekaligus syukur kepada alam semesta dan penciptanya yang memberi banyak kebaikan sepanjang musim tanam kemarin. Mnahat Fe’u adalah sebuah perayaan yang mempertemukan seni budaya, pangan dan ekologi.
Dalam perjalanan melakukan riset, pemetaan dan berbagai kerja pengarsipan atau pendokumentasian di komunitas Lakoat.Kujawas kami menemukan sebuah semangat untuk merevitalisasi kampung kami. Ada banyak hal menarik dari masa lalu yang rasanya penting untuk dibangkitkan kembali sebagai identitas dan kekuatan kampung. Berbagai peristiwa budaya terkait keseharian orang Mollo yang dirindukan atau memang akan hilang dari memori kolektif. Ini proses yang menarik. Mengajak warga desa Taiftob percaya kepada kekuatan diri dan potensinya sembari mengumpulkan yang tercecer untuk bekal generasi sekarang dan yang akan datang. Sebagai ruang arsip, kami akhirnya sadar bahwa banyak hal yang sudah dan sedang kami lalukan punya dampak yang luas, termasuk peluang ekonomi kreatif atau kewirausahaan sosial lewat aktivitas wisata minat khusus seni budaya dan sejarah dengan model community based tourism. Warga dan komunitas yang menjadi pelaku penting dan utama dalam semua proses ini.
Ini adalah heritage trail yang kami selenggarakan untuk keempat kalinya di tahun 2019 ini. Sekalipun dengan semangat mempertemukan seni budaya, pangan dan ekologi sebagai benang merah besarnya, plus jalur trail yang hampir tidak berubah, namun di tiap trail kami mencoba memberi highlight spesial. Menyesuaikan dengan musim tanaman di bulan tersebut. Misalnya di heritage trail pertama memperkenalkan buah lakoat dan aktivitas panen jamur hutan yang kami tonjolkan. Trail kedua lebih menonjolkan narasi budaya terkait proses mengolah padi ladang. Yang ketiga kami mencoba menampilkan tarian bonet khusus musim panen lengkap dengan tatacara makan ala orang Mollo di zaman dulu.
Lalu apa yang spesial di heritage trail kali ini? Kami masih akan mengajak peserta trekking menuju hutan, mata air dan batu Napi, salah satu situs penting di Mollo yang kebetulan ada di desa kami. Napi atau Napjam selalu ada dalam setiap tradisi tutur natoni yang dilakukan di wilayah Mollo. Ia semacam batu penjuru sekaligus batu sacral yang merujuk ke marga Oematan (selain batu Tunbes). Orang tua menyebut Napi sebagai saudara laki-laki (pihak maskulin) sementara Tunbes adalah representasi dari saudara perempuan marga Oematan. Seperti kita ketahui batu bagi orang Mollo adalah elemen penting selain hutan, mata air dan tanah.
Setelah menelusuri hutan, mata air lalu mendaki ke puncak Napi (tempat dulu para utusan raja Oematan mengirim kabar ke kampung tetangga dengan meniup tanduk kerbau dari atas puncak Bapi/Napjam), peserta akan diajak menikmati momen “makan siang di kebun” dengan menu dan cara makan orang Mollo ketika sedang berkebun. Heritage trail ini akan ditutup dengan menyaksikan pameran arsip sejarah budaya komunitas dan mencoba permainan kere-kere yang muncul setahun sekali saat momen 17 Agustusan di Mollo. Salah satu permainan yang mendapat pengaruh dari orang-orang Cina Mollo. Semuanya akan terjadi di lapangan umum/alun-alun kota kecamatan Mollo Utara.
Menu spesial: se’i sapi, oin mauf (sambal sarang lebah), kotpesi (kacang arbila beracun setelah proses perebusan hingga 12 kali mendidik dan sudah hilang racunnya), sayur asin dan ut nunu (sayur pucuk daun beringin).
Beberapa info penting:
1. Paket heritage trail ini akan berlangsung hari Jumat 16 Agustus 2019 jam 9 pagi hingga jam 4 sore. Harga paket Rp. 250,000 sudah termasuk snack pangan lokal sehat, makan siang komplit dan workshops. Belum termasuk penginapan sederhana di rumah warga. Tersedia penginapan di rumah warga, jumlah terbatas jadi harus konfirmasi dulu ya. Tarif per orang per malam Rp. 75,000 (sharing room, sudah termasuk sarapan dan makan malam). Batas akhir reservasi dan pembayaran tanggal 14 Agustus 2019.
2. No Rekening BRI 4732 01013229535 an CHRISTIANTO SENDA
3. Tersedia jasa mobil travel dan ojek dari warga desa Taiftob. Mobil travel bisa sewa harian atau ikut jadwal reguler (Kupang-Kapan PP tariff Rp. 50,000 per penumpang, berangkat dari Kupang tiap jam 13 siang dan dari Kapan ke Kupang tiap jam 8 pagi). Info lengkap silakan kontak Hendrik Travel 081210 999432. Ojek Kapan-SoE PP silakan kontak Les OJEK 085237887919.

Untuk informasi lebih lanjut silakan kontak WA 081338037075 (Dicky Senda)













Senin, 01 Juli 2019

Beli T-Shirt Lakoat.Kujawas Untuk Dukung Pameran Arsip #Paukolo di Kapan


Sahabat-sahabat sekalian. Terima kasih sudah selalu dukung perkembangan komunitas ini sejak lahir 10 Juni 2019.

Untuk mendorong perubahan terjadi lebih luas dan besar memang membutuhkan campur tangan banyak pihak. Kami bukan manusia super untuk mewujudkan apa yang kami cita-citakan: kampung sebagai tempat tinggal yang penuh daya kreativitas dan inovasi dengan berbagai kegiatan seni budaya dan ekonomi kreatif. Mengembalikan kampung kepada banyak hal baik dari masa lalu yang rasanya tetap penting di masa kini dengan semangat solidaritas dan kerja kolaborasi.
Kami senang ikut bertumbuh bersama ratusan anak dan remaja, para orang muda dan dan orang tua.
Tahun ini kami punya beberapa agenda penting yang pertama adalah penyelenggaraan pameran arsip #Paukolo x #RevitalisasiKampung:  Anak di Antara Hutan, Mata Air dan Batu di Kapan bulan Agustus 2019. Sebuah inisiatif untuk revitalisasi kampung dengan pendekatan kontekstual dan kerja-kerja pengarsipan seni budaya dan sejarah. Kedua, kami juga berencana melakukan pembangunan perpustakaan di tahap awal dan pembangunan art centre di tahap berikutnya. Menjual marchandise berupa t-shirt ini adalah langkah awal untuk kedua agenda penting di komunitas kami.
Dukung kami dengan membeli T-shirt komunitas berwarna hitam ini. Dengan membeli seharga 150K teman-teman sudah ikut berdonasi. Harga ini belum termasuk ongkos kirim barang dari Mollo.  Periode pertama pemesanan 1 - 20 Juli 2019. T-shirt hanya akan diproduksi jika sudah melakukan pembayaran.
Info lengkap silakan kontak WA 081338037075.

Norek untuk pembelian sekalian donasi di bank NTT 04702020020191 an CHRISTIANTO SENDA. Konfirmasi pembayaran via nomor hape di atas.




Kamis, 13 Juni 2019

Paukolo X Revitalisasi Kampung: ‘Anak di Antara Mata Air, Hutan dan Batu’


Andakah seniman musik, tari, teater, foto dan film yang mungkin tertarik untuk terlibat dalam project swadaya komunitas warga dalam merevitalisasi kampung di Mollo? Paukolo adalah sejenis motif kain tenun khas Mollo. Ia adalah burung elang yang terbang tinggi, sumber inspirasi dan semangat kerja bersama. Ia menerbangkan mimpi orang-orang yang ingin hidup lebih baik di kampung.

***

Sonde terasa sudah 3 tahun komunitas Lakoat.Kujawas bertumbuh bersama banyak sekali teman, sahabat dan keluarga, yang dekat di desa Taiftob maupun yang jauh. Tiga tahun diisi dengan banyak hal menyenangkan. Kedatangan seniman dari Makassar dan Jogja di program residensi kesenian Apinat-Aklahat. Menerbitkan tiga buku, satunya sejarah Gereja Katolik di Mollo, satunya buku cerpen dan yang terakhir buku kumpulan puisi yang terinspirasi dari keseharian anak-anak Mollo. Terakhir kami bikin workshop ilustrasi buku bersama teman-teman dari Timor Art Creative, musikalisasi puisi bersama Forum SoE Peduli dan workshop menari dan tutur bonet khusus musim panen bersama bapa Okto Sunbanu, budayawan desa kami.

Di momen ulang tahun ketiga dalam semangat merevitalisasi desa Taiftob sebagai tempat yang hidup dan kreatif, kami baru menerbitkan buku puisi Tubuhku Batu, Rumahku Bulan yang ditulis oleh 25 remaja desa. Menyambung dengan program-program sebelumnya (jika ingin melihat semangat keberlanjutan dari warga yang bergiat di komunitas), baik itu kelas teater hingga produksi pementasan teater, workshop fotografi, tari, menulis cerita dan puisi yang semuanya terinspirasi dari lingkungan sekitar, kami berniat untuk kembali mengadakan beberapa workshop multimedia-multidisiplin seni. Dan berencana, hasil akhirnya akan dipamerkan atau dipentaskan di bulan Agustus 2019, bertepatan dengan momen festival budaya dan 17 Agustusan di kota kecamatan di Kapan.

Delapan bulan terakhir sebanyak 25 remaja Mollo melakukan workshop penulisan puisi bertema batu, hutan dan mata air. Sebelumnya mereka melewati workshop setahun menuliskan cerita-cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan harian mereka dan dongeng-dongeng yang datang dari masa kecil. Buku Dongeng dari Kap Na’m To Fena dan buku puisi Tubuhku Batu Rumahku Bulan sudah terbit. Menurut kami, itu dua karya yang sangat spesial yang ditulis anak-anak melibatkan orang tua mereka. Dua buku yang memotret cara pandang mereka terhadap kampung halaman. Sejak dulu orang Mollo mendapat tugas merawat hutan, gunung dan mataair.
Dua karya yang kemudian menginspirasi dan melahirkan ide agar kedua buku tersebut boleh dieksplorasi lebih lanjut, jauh dan dalam, melibatkan anak-anak desa Taiftob ke dalam medium-medium baru: musikalisasi puisi dan cerpen, adaptasi puisi atau dongeng ke dalam tarian dan teater, membuat photo story atau film pendek menggunakan gadget dari proses penelusuran dan pendalaman narasi dan mitos/dongeng terkait kampung, mata air dan hutan, dan berbagai media kreasi baru lainnya.

Kami senang jika salah Anda adalah seniman terkait yang peduli pada gerakan komunitas warga di desa/kampung dan berkenan terlibat dalam program ini. Terbuka ruang diskusi dan penjajakan untuk membahas peluang atau kemungkinan kerja kolaborasi seperti apa yang terbaik. Tema besar dari PAUKOLO x  Revitalisasi Kampung adalah “Anak di Antara Mata Air, Hutan dan Batu”. Bagaimana narasi atau mitos tentang kampung, seni budaya dan ekologi bertumbuh dalam ruang imajinasi anak-anak Mollo. Hasil akhirnya kami ingin memamerkan, memutar dan memetaskannya di kota kecamatan saat momen 17 Agustus. Dan melengkapinya di ruang arsip komunitas yang kelak bisa dipakai sebagai sumber pengetahuan warga dan kajian-kajian selanjutnya.
Workshop berlangsung di bulan Juni dan Juli (menyesuaikan waktu teman-teman relawan seniman), bisa setiap weekend atau hari biasa mengingat sedang musim liburan sekolah. Durasi workshop 2 - 4 kali pertemuan. Model workshop adalah partisipatif dan kerjakolaborasi antara seniman tamu dan anak/remaja Mollo yang bergiat di Lakoat.Kujawas.

PS: Tahun 2017 Komunitas Lakoat.Kujawas pernah menyelenggarakan pameran foto dan arsip Mollo Panggil Pulang di kecamatan setelah workshop fotografi bersama Sekolah Musa selama sebulan.

PSS: Puisi-puisi bertema pohon/ hutan, batu, mata air bisa diakses di blog https://smpksanjosekapan.blogspot.com/2019/06/puisi-puisi-peserta-workshop-anak-di.html?m=1

PSSS: Program ini menjadi bagian dari program residensi kesenian Apinat-Aklahat 2019 (simak info lengkap di bit.ly/kelakoat). Komunitas menyediakan tempat menginap dan konsumsi bagi seniman selama tinggal di desa Taiftob. Minimal 3 hari maksimal 1 pekan residensi. Komunitas tidak mengganti biaya transportasi dari dan ke Mollo, juga biaya perdiem.

PSSSS:Sebagai komunitas yang bergiat dengan anak dan remaja, kami berkomitmen untuk menghargai dan menghormati hak-hak anak dan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketiga bergiat di Lakoat.Kujawas. Simak infonya di sini

Rabu, 12 Juni 2019

Donasi Tas Sekolah Untuk Anak-Anak Taiftob Yang Bergiat di Komunitas Lakoat.Kujawas


Tiga tahun sudah kami bertumbuh bersama warga desa Taiftob di Mollo dan melihat banyak perubahan, terutama pada diri 120an lebih anak dan remaja yang aktif bergiat di komunitas kami, bersama dengan belasan orang muda dan bapa mama anggota kelompok tani dan tenun menghidupkan komunitas ini dengan pendekatan kewirausahaan sosial. Kami optimis bahwa komunitas ini telah melalui jalur yang dibayangkan sejak lahir tanggal 10 Juni 2016; menjadikan desa atau kampung sebagai tempat tinggal yang nyaman dengan merevitalisasi ruang-ruang kreatif ekonomi dan seni budaya, sosial dan edukasi. Tempat yang nyaman bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak, remaja, orang muda dan orang tua. Kami berupaya mendorong lebih banyak ruang dan aktivitas-aktivitas produkti warga desa dengan harapan akan muncul kembali rasa percaya diri dan menguat kembali identitas sebagai orang Mollo. Mengajak warga secara positif melihat kembali kekuatan diri mereka, potensi kampung dan dan segala hal yang baik yang bisa dikembangkan untuk kepentingan bersama, dalam semangat solidaritas dan kerja kolaborasi.

Tiga tahun sudah kami membangun perpustakaan, kelas menenun dan menulis kreatif yang telah menerbitkan dua buku, ruang arsip dengan berbagai dokumen buku, video, foto sejarah budaya Mollo, memproduksi berbagai barang hasil pertanian dan tenunan, termasuk produk jasa ekowisata beruapa heritage trail. Berbagai lokakarya kolektif bersama warga telah berlangsung mulai dari menari bonet hingga farmentasi buah-buah lokal. Tahun ini anak-anak Lakoat.Kujawas menunjukkan prestasi yang gemilang. Semua anak-anak kelas menulis kreatif mendapat nilai Bahasa Indonesia yang bagus di ujian Nasional, beberapa karya mereka bahkan sedang ikut dalam program penerjemahan oleh penyair Khairani Barokka bersama Modern Poetry in Translation (MPT) di London, UK. Senang dan bangga sekaligus.

Terima kasih kepada banyak tangan yang selalu menolong komunitas ini. Pihak-pihak yang selalu ada bersama di sisi kiri dan kanan kami, melangkah bersama kami, memuji tanpa membuat kami besar kepala.
Tiga tahun sudah dan perjalanan ini masih akan sangat panjang. Kami terus membuka diri dan belajar. Kami selalu menunggu kawan-kawan baru untuk berbagai peluang kerja kolaborasi. Kami senang terhubung dengan Anda semua yang punya perhatian pada isu revitalisasi kampung/desa, pendidikan kontekstual, komunitas yang inklusif.

Sebagai hadiah atau reward bagi perjalanan kreatif dan inovatif warga desa Taiftob yang bergiat di Lakoat.Kujawas khususnya anak dan remaja sekaligus kado untuk ulang tahun komunitas yang ketiga 10 Juni kemarin, kami berinisiatif untuk menggalang donasi tas sekolah bagi 120 anak, member aktif di perpustakaan komunitas, yang rajin pinjam dan baca buku setiap akhir pekan.


Caranya, teman-teman yang tertarik mendonasikan tas sekolah (bisa satu buah atau lebih) langsung mengirimkannya ke komunitas kami, di Jalan Kampung Baru No. 2 Desa Taiftob Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan 85552 NTT Indonesia Tlp. 081338037075 (Dicky).
Kriteria lainnya: tas ransel sekolah berwarna hitam atau warna lainnya yang bisa dipakai laki-laki maupun perempuan usia SD maupun SMP. Donasi dalam bentuk barang (tas), atau uang. Kisaran harga tas Rp.  75,000 - 100,000

Donasi dalam bentuk uang bisa ditransfer ke rekening bank NTT 04702020020191 an CHRISTIANTK SENDA.

Donasi berlangsung tanggal 13 Juni hingga 30 Agustus 2019. Info lebih lanjut bisa menghubungi Dicky di WA 081338037075.

Semoga dengan hadiah tas sekolah ini semakin memotivasi mereka untuk terus aktif bergiat bersama, belajar keras untuk wujudkan cita-cita.



Jumat, 17 Mei 2019

Mnahat Fe'u Heritage Trail #3: Mempertemukan Komunitas, Pangan dan Ekologi


Desa Taiftob, 6 Juni 2019

Selamat datang di Komunitas Lakoat.Kujawas. Hampir tiga tahun berjalan, kami menciptakan banyak kesempatan dan ruang-ruang kreatif. Kami melihat perubahan itu menyentuh anak-anak, orang muda, kelompok perempuan, para petani, sekolah, Gereja dan tokoh adat. Dengan semangat kerja kolaborasi dan kerja jaringan, kami senang dan bangga bisa terhubung dengan Anda sekalian. Terhubung untuk menciptakan lebih banyak peluang ekonomi kreatif bagi warga desa, ruang dan kesempatan bagi anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan diri mereka. Berkolaborasi dengan warga aktif desa Taiftob kami mengembangkan perpustakaan, komunitas kesenian, kewirausahaan sosial dan ruang arsip seni, budaya dan sejarah Mollo. Termasuk program heritage trail yang sedang Anda baca ini: Mnahat Fe’u, sebuah perayaan sepanjang musim panen tahun 2019. Mnahat Fe’u adalah salah satu jenis tarian bonet yang dirayakan ketika musim panen. Mnahat Fe’u kami berisi serangkaian lokakarya tarian bonet musim panen, lokakarya pengolahan buah menjadi selai, wine, liquor dan manisan. Heritage trail ini sekaligus sebagai upaya kami melakukan pengarsipan informasi sejarah, budaya dan kesenian serta merevitalisasi kampung kami. Semua yang menyenangkan ini terjadi di musim panen, terlebih bahwa inisiatif program ini datang dari warga sendiri.


Dampak

Sebagian besar keuntungan program ini kami investasikan untuk membiayai kegiatan pengembangan diri warga desa Taiftob khususnya kelas menulis kreatif dan kelas tenun bagi remaja. Pelatihan-pelatihan bagi kelompok orang muda dan kelompok petani perempuan. Anda sudah ikut mendukung komunitas Lakoat.Kujawas mengembangkan model kewirausahaan sosial warga aktif, mendorong ekonomi kreatif di desa Taiftob bertumbuh serta ikut menyadarkan warga Taiftob bahwa kekayaan alam dan sebi budaya yang mereka punyai penting untuk diapresiasi, dijaga dan dilestarikan. Program ini ikut mempromosikan dan meningkatkan kesadaran semua pihak terkait kelestarian lingkungan, misalnya dengan upaya pengurangan sampah plastik dan pupuk kimia.


Jenis Kegiatan

Kami mengajak Anda untuk mengeksplor pasar tradisional di Kapan, berkunjung ke situs batu, hutan dan mata air. Mengikuti lokakarya seni tradisi bernama BONET khusus musim panen. Mencoba berbagai jenis pangan lokal sehat bebas MSG dan minyak sawit yang diolah dengan resep leluhur. Sharing pengalaman komunitas lakoat.kujawas membangun ekosistem warga aktif dengan pendekatan kewirausahaan sosial, untuk keberlanjutan berbagai program seni budaya dan pertanian di desa Taiftob.

Mnahat Fe’u Heritage Trail direncanakan berlangung pada hari Kamis, 6 Juni 2019, bertepatan dengan hari pasar tradisional di Kapan. Acara berlangsung mulai jam 7 pagi dan berakhir jam 4 sore. Untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini setiap peserta membeli paket seharga Rp. 250,000 /orang dewasa, sudah termasuk:
1. Pengalaman belajar bersama komunitas warga, belajar budaya dan sejarah desa Taiftob (terutama relasi orang Mollo dengan batu (fatu) dan air (oe), termasuk mendukung upaya revitalisasi kampung yang digagas oleh lakoat.kujawas. Eksplor pasar tradisional.
2. Satu kali makan siang pangan lokal sehat dari hasil pertanian organik warga.
3. Dua kali snack pangan lokal sehat.
4. Satu paket oleh-oleh produksi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas (produk spesial: manisan kulit jeruk, sagu dan kerupuk labu pempung/pumpkin).
5. Guide lokal.

Jika membawa sopir dan ingin ikut makan besar dan kudapan tanpa ikut agenda trail yang lain, dikenakan biaya Rp. 75,000/ orang.

Bagi peserta diharapkan untuk membawa botol minum/tumbler, obat-obatan pribadi, sepatu kets atau sandal gunung yang cocok untuk trekking. Lokasi kami ada di jalan Kampung Baru No. 2 desa Taiftob, Kapan, Mollo Utara. Kurang lebih 18 km ke utara kota SoE atau 130 ke arah timur kota Kupang. (google maps komunitas lakoat.kujawas). Kami menyediakan penginapan sederhana di rumah warga, kuota terbatas. Mohon reservasi terlebih dahulu. Jika membutuhkan jasa travel/sewa mobil dan ojek, silakan kontak ke Nando Ojek 081290528451 dan Hendrik Travel (mobil Avanza) 081210999432.



Info dan Pendaftaran

Info lebih lanjut dan pendaftaran silakan kontak email dickysenda@gmail.com atau whastapp 081338037075 (Dicky). Paling lambat Selasa, 4 Juni 2019. Terbatas hanya untuk 15 orang. No. Rekening BRI 473201013229535 an Christianto Senda.

Lampiran Agenda Lengkap

1. Jam 7 – 9: Eksplor pasar tradisional Kapan
2. Jam 9.30 – 10.30: Welcome ceremony: natoni, dilanjutkan sarapan pagi.
3. Jam 10.30 – 12.00: Trekking ke situs batu, hutan dan mata air di desa Taiftob. Mengenal lebih dekat project revitalisasi mata air. Tanam pohon di situs mata air Oelpuah
4. Jam 12.00 – 13.30: Makan siang pangan lokal dengan tatacara ala orang Mollo tempo dulu. Menu penutup spesial: es krim, laru dari nira pohon aren dan minuman farmentasi buah (liquor dan wine).
5. Jam 13.30 – 15.30: Workshop tari dan tradisi tutur khusus musim panen: bonet.
6. Jam 16.00: Ngopi sore menu pangan lokal, bagi-gai oleh-oleh produk lokal kewirausahaan sosial Lakaot.Kujawas
7. Jam 17.00: Sayonaraaa…





Kami sengaja mengumumkan kabar baik ini jauh hari bagi teman-teman di luar NTT. Heritage trail terakhir di musim panen tahun ini akan berlangsung tanggal 16 Agustus 2019. Highlightsnya: permainan tradisional Mollo, kere-kere, karnaval komunitas dan menu Cina Mollo peranakan. Catat tanggalnya, booking tiket pesawat sekarang, kami tunggu di Mollo.











Kamis, 09 Mei 2019

Mnahat Fe'u Heritage Trail dan Keberlanjutan Kehidupan yang Berkualitas

Oleh Candra Dethan

Tanggal 1 Mei 2019 saya diberi kesempatan berkunjung ke Desa Taiftob, di Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.
Dari Kota Kupang, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai desa nan elok yang menjadi lokasi kewirausahaan sosial Lakoat.Kujawas. Hal pertama yang saya rasakan adalah UDARA yang SEJUK, hal kedua adalah pemandangan yang indah, dan hal ketiga adalah masyarakat yang ramah.
Kunjungan ini menjadi bagian dari ikut serta kami dalam Mnahatfeu Heritage Trail yang diselenggarakan oleh Lakoat.Kujawas dengan Topik LINGKUNGAN, PANGAN & KOMUNITAS.

Edisi pertama tulisan ini lebih fokus pada KULINER.
Hal terpenting adalah semua unsur menu dalam trip kali ini adalah LOKAL dan ALAMI. Kami mendapat kesempatan menikmati menu pangan lokal yang dihidangkan dalam media alami.
Snacks:
Pilihan minuman ada Kopi Mollo dan Teh Jahe. Ditemani buah Labu Kukus, Ubi Rebus, kacang tanah goreng kulit, Lakutobe, kacang nasi goreng, dll.

Menu makan Siang:
0. Jagung Katemak
1. Nasi kacang
2. Sayur Pucuk Labu Pampung
3. Sarundeng
4. Sub Ayam Kampung
5. Sayur pecel Bunga Gala2 dengan adonan pasta biji labu (favorite beta)
6. Sayur Daun Ubi,
7. Krupuk Labu Pampung, dll

Wine and Liquor
Momentum ini dilengkapi dengan presentasi pembuatan Wine dan Liquor dengan bahan dasar buah2an sekitar yang difermentasi dengan cara traditional.

Ice Cream
Berbagai buah asli Desa dimaksimalkan juga dengan menghasilkan Ice Cream aneka rasa. Ada ras Lakoat, Jeruk, Alpukat, dll.

Selai
Kelompok kreatif ini menampilkan selai segar dengan berbafai bahan buah2 yang ada di dalam desa. Teman Roti yang tentunya kaya rasa.

***
Budaya kekeluargaan ditunjukkan mama - mama berkain tenun ikat dengan tebaran lipstik merah merona sirih pinang menyambut kami di depan pintu rumah tua Bapak AFK Oematan yang merupakan orang pertama pembawa misi ajaran Katolik di Kapan, khususnya desa Taiftob.

Ucapan khas salam selamat datang disertai senyum dan tertawa kecil membuat kami merasa diterima dengan senang hati dan hangat di tengah cuaca dingin sejuknya Kapan, apalagi langsung disuguhi pangan lokal. Saya memilih teh jahe panas.... biar hangat badan, tentunya.
Ketik trail akan dimulai, kami terlebih dahulu disapa dengan sirih pinang oleh mama-mama.

Menjadikan rumah tua AFK Oematan sebagai meeting point menjadi penting karena route dan spots dari trail kali ini semuanya berkaitan dengan nama besar marga Oematan.  Dimulai dari cerita tentang awal ajaran Agama Katolik, sumber mata air OELPUAH yang berarti AIR PINANG. Konon, Oelpuah ini bukanlah mata air yang timbul dengan sendirinya, melainkan air yang dibawa dan ditanam dengan ritual yang tidak lazim, dimana membawa air harus dilakukan di malam hari dan yang membawa harus tanpa pakaian, alias telanjang. Entah benar arau tidak, tapi ini merupakan salah 1 cerita yang layak untuk terus diceritakan. Menariknya, salah 1 pembawa air tersebut adalah nenek Kaunan (Oematan).

Batu Napi merupakan situs yang memiliki sejarah indah bagi masyarakat setempat, konon merupakan tempat ritual. Nah, bagian ini yang saya lewati untuk menapakinya. Namun menariknya, Komunitas Lakoat mengikutkan anak-anak dalam komunitas untuk dapat menjaga cerita rakyat dan terus membagikan kepada masyaralat umum terutama pendatang dan pengunjung. Hal lainnya agar semua masyarakat mau melindungi dan menjaga aset mereka.

Guide yang mendampingi kami sangat luar biasa, kami diyakinkan tentang kebersamaan sebagai keluarga, dan kami dibawa seakan-akan sedang berada bersama para pendiri dan masyarakat setempat. Luar biasa.

Lalu, yang tidak kalah menarik adalah puisi dan anak-anak. Pada beberapa titik, kami diajak berhenti sejenak untuk bersosialisasi dengan peserta lain dan menikmati untaian puisi-puisi indah karya anak-anak yang dibacakan oleh mereka sendiri dan oleh peserta lainnya. Luar biasa imajinasi, penggunaan kata-kata dalam setiap puisi, dan makna dalam setiap baris puisi. Jempol pokoknya :), puisi-puiai ini sudah dibukukan juga :). Kereeeen

Jadi, Komunitas yang ada di Desa Taiftob ini, saya sangat bangga tidak saja untuk orang dewasa, anak-anak juga sangat luar biasa. Kelompok literasi yang super kekinian.

***

Dalam heritage trail ini, kami kembali diingatkan tentang korelasi indah sejarah, alam dan manusia untuk KEBERLANJUTAN KEHIDUPAN BERKUALITAS (Quality of Sustainability Life).
Anak-anak dan semua anggota komunitas mengumpulkan potongan-potongan baik dari tutur cerita orangtua, potongan-potongan peninggalan situs, hingga yang bisa terdokumentasikan dengan baik dalam foto atau cerita tertulis.

Dari satu spot ke spot lainnya kami diperkenalkan berbagai tanaman penghuni hutan yang bermanfaat untuk manusia. Misalnya pohon kabesak yang artinya tunduk, dimanfaatkan oleh orangtua dulu untuk memastikan anjing atau binatang pemburu lainnya untuk mengingat apa yang harus diburu. Atau papoo yang artinya mari berkumpul, untuk menjerat binatang. Kami juga akhirnya tahu beberapa herbal untul sakit ginjal (rumput putih jenis tertentu), obat sakit perut, dll. Bisa jadi tanaman yang sama semakin sulit didapat.  Berharap komunitas akan menanamnya kembali sehingga semakin mudah didapat tanpa harus menggunakan obat modern. Mungkin ya teman-teman Lakoat.Kujawas.

Selain tanaman obat, kami juga melewati hutan sirih dan pinang, banyak masyarakat yang sedang panen untuk dijual di pasar. Ada juga kearifan lokal yang menjadi perhatian kami, sabut kelapa diikat pada pohon buah. Ternyata tidak sembarang ikat, sabut kelapa tsb menunjukkan larangan mengambil dengan sengaja hasil tanaman dimaksud. Tentunya akan ada konsekuensi bagi mereka yang mengambilnya dengan sengaja. Menarik.

Hiburan lainnya adalah keindahan tanaman bahkan rumput-rumput memberi warna-warni cerah kepada kami. Tentunya kami berlomba mengabadikan tanaman-tanaman ini dalam kamera kami :) yah... termasuk menyalurkan bakat terpendam ;).

Nah, dalam trail ini kami menikmati makanan dengan wadah batok kelapa sebagai piring dan Sendok. Sensasi yang berbeda berdampak pada menu yang juga tanpa MSG.

Menutup heritage trail ini, tidak salah untuk mengucapkan terimakasih kepada Keluarga Oematan, Umat Katolik, dan Komunitas Lakoat.kujawas. Biarlah alam semakin indah dengan alamiah, masyarakat sekitar semakin menjadi contoh menghargai alam dan kehidupan. Dan masyarakat pendatang serta pengunjung semakin disadarkan untuk mencintai sesama dan membuat kehidupan semakin berkelanjutan.


#KapanKeKapan
#mnahatfeuheritagetrail