We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label antologi cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label antologi cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juni 2023

Crowd Funding: Beli Buku Surat-Surat dari Mollo, Dukung Pengembangan Rumah Residensi dan Cafe Pangan Lokal di Desa Taiftob

Buku Surat-Surat dari Mollo adalah buku kumpulan cerita dan resep makanan hasil riset warga aktif di komunitas Lakoat.Kujawas sejak tahun 2016. Proses penulisan buku ini sendiri dimulai saat pandemi di awal tahun 2020 dan berakhir di pertengahan tahun 2023, setelah melewati berbagai proses riset, menulis, edit, menulis lagi, mengedit lagi, pengerjaan sampul, eksperimen/ujicoba resep, pengerjaan tata letak hingga akhirnya dicetak. 

Cafe, Ruang Arsip dan Rumah Residensi adalah ruang baru yang akan ada di komunitas setelah perspustakaan dan food lab. Ini akan menjadi ruang ekonomi kreatif dengan pendekatan kewirausahaan sosial yang akan menjadi salah satu lini usaha kreatif warga desa yang bergiat aktif di komunitas. Ruang ini juga akan menjadi tempat diskusi, residensi seni, dan pameran arsip kampung. 

Untuk donasi silakan kontak +6281338037075 atau email ke lakoat.kujawas@gmail.com








Senin, 21 Maret 2022

Mengenal Konsep Warga Aktif A la Lakoat.Kujawas




Selamat datang di komunitas Lakoat.Kujawas. Sebuah inisiatif warga yang lahir tahun 2016 dari sekumpulan orang muda yang setelah pergi merantau menemukan bahwa kampung mereka tidak mengalami banyak perkembangan, bahkan cenderung stagnan. 

Adalah Dicky Senda yang bertemu dengan beberapa kawan di Dusun Flobamora, Forum SoE Peduli, Komunitas Blogger NTT dan Kupang Bagarak, dan merasa bahwa munculnya banyak gerakan orang muda di perkotaan di NTT pada dekade 2010an harusnya terjadi juga di wilayah pedesaan atau perkampungan. Memang fakta berkata demikian bahwa banyak orang muda usia produktif memilih untuk merantau ke kota. Sedikit yang merantau karena bersekolah, banyak yang merantau karena harus bekerja di usia muda belia. Pada saat itu isu putus sekolah, human trafficking dan malnutrisi sedang meningkat tajam di wilayah NTT, khususnya di Timor. 

Di sisi lain, pengalaman berkarya dan bekerja kolektif di perkotaan berhasil menumbuhkan rasa solidaritas sehingga tercipta jaringan yang kuat. Jaringan atau modal sosial yang pada akhirnya menjadi bensin bagi gerakan-gerakan swadaya dari orang muda hingga hari ini. 


Bagaimana bisa mewujudkan mimpi itu? 

Pulang ke kampung sendiri tentu akan terasa lebih mudah sebab tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengenal orang-orang di kampung. Tantangan lain tentu ada. Nilai hidup masyarakat kita memang sudah banyak berubah. Sebagai wilayah yang kata kak Ben Laksana, kota tengah, mau dibilang kota dan modern banget juga tidak. Mau dibilang kampung tradisional yang kental dengan sistem adat juga tidak. Nilai yang dimaksud adalah soal gotong royong atau semangat kerelawanan. Kami merasa sulit membangun jaringan dan gerakan di awal sebab paradigma orang-orang di kampung, kalau ada kegiatan sosial seperti ini, yang mereka pikirkan adalah LSM dan bicara tentang LSM, berarti ada dananya. Ada uang!

Jika dulu orang kebanyakan bisa bekerja bersama bersihkan kebun dan menanam, saat ini polanya sudah bergeser, harus mampu bayar orang untuk bekerja di kebun. Uang memang menjadi prioritas dan kebutuhan utama, meninggalkan nilai kolektif a la masyarakat adat, a la masyarakat desa/kampung. 

"Kegiatan di Lakoat ada uang duduk tidak?"

"Berapa isi amplop pengganti transportasi kalau kita bergiat di Lakoat?"

"Dapat dana dari mana bisa bikin perpustakaan dan kegiatan literasi setiap akhir pekan?"

"Itu kakak-kakak yang mengajar bahasa Inggris dan kesenian digaji berapa sama Lakoat?"

"Masuk jadi anggota Lakoat.Kujawas bayar pendaftaran berapa? Ikut kelas Bahasa Inggris bayar berapa?"

Terlalu banyak pertanyaan yang datang ke kami di tahun awal berdiri. Kami berefleksi, kami berpikir keras. Mengapa masyarakat kita berubah menjadi sesgala sesuatu diukur dengan uang? Kami merantau dan tanpa sadar kampung kami sudah berubah begitu cepatnya. 

Memang sulit di tahun awal tapi ketika dijalani dengan serius dan penuh komitmen, selalu saja ketemu banyak orang baik yang mau membantu kami. Ternyata modal sosial itu sangat penting, membantu kami yang bergerak dengan modal semangat, punya kawan dan jaringan, punya pengalaman, uang mah nol hehe. 

Tapi di tahun pertama kami belajar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk untuk menyentuh hati para orang tua. Setahun melangkah dengan tekun dan konsisten, kami bertemu orang-orang yang awalnya apatis, yang awalnya bertanya-tanya dan mengukur kami dengan segala materi. Mereka adalah orang tua dan para guru di sekolah yang kemudian memberi testimoni karena dengan sendiri melihat ada banyak perubahan pada diri anak-anak dan siswa mereka. 

"Anak yang berada di Lakoat berbeda dengan yang tidak bergabung di Lakoat," cerita mama Mety, orang tua pertama yang join di komunitas kami. Mereka jauh lebih percaya diri dan berani. Itu adalah kunci dasar untuk bertumbuh dan berkembang. Sikap, karakter dan cara membawa diri, cara berbicara, bagaimana hormat dan respek pada orang lain, ternyata terbentuk dengan begitu alamiah. Kok bisa? Di Lakoat, kami membiarkan setiap anak menjadi dirinya sendiri. Mereka boleh memilih dan berbicara apa saja tanpa harus takut salah, takut dicela, takut dimarahi. Di Lakoat, kami hanya membangun ruang bermain dan belajar, ruang setiap anak menjadi diri mereka sendiri. Mungkin yang membuatnya berbeda dan menarik hanya karena kami desain dengan gaya yang lebih santai. Lewat aktivitas menari, berpuisi, menulis, bermain, nonton, diskusi, main ke hutan, makan bersama, gitaran bersama, karaoke dan banyak lagi. 

Pada titik ini kami sadar bahwa anak bisa menjadi pintu masuk sekaligus kunci yang baik. Mereka membawa banyak perubahan bagi Lakoat dan orang tua, mereka menghubungkan komunikasi orang-orang dewasa yang cenderung kaku dan serius. Mereka mengajari kami bahwa bikin perubahan dan gerakan besar, bisa juga dilakukan dengan cara fun, bersama mereka anak-anak. 

Kami akhirnya sampai pada titik bahwa ekosistem yang mulai terbangun ini harus menempatkan anak sebagai titik tengah dari gerakan. Di sekeliling anak ada lapisan-lapisan: orang tua, keluarga, guru, sekolah, gereja, pemerintah desa, tokoh adat, perempuan penenun, petani, orang muda, dst. 

Di tahun pertama, kami sudah bisa menggandeng guru, sekolah dan gereja. Kami senang bertemu dengan pastor dan pendeta muda yang progresif. Kami bertemu guru dan orang tua yang antusias karena melihat sendiri banyak perubahan pada diri anak-anak mereka. Lantas bagaimana dengan pemerintah desa? Kami mengalami pasang surut hubungan yang lumayan panjang bahkan hingga beberapa bulan terakhir, ketika semuanya membaik karena salah satu kader dan aktivis dari komunitas kami terpilih menjadi kepala desa. 

Bersama sekolah kami punya semacam MoU untuk program kolaborasi komunitas dan sekolah. Pilot projectnya adalah menyelenggarakan kelas menulis kreatif yang terintegrasi dengan perpustakaan komunitas dan kelas ekstrakurikuler di sekolah. Kami bertemu tokoh adat dan beberapa orang tua yang rindu akan ruang-ruang seni budaya di kampung yang pernah ada di masa kecil atau masa muda mereka dulu. Ruang ketika segala lapisan umur dan gender bisa duduk setara untuk saling berbagi hal baik lewat acara kesenian dan ritual kampung. 

Kami akhirnya bersepakat untuk selain bergiat bersama anak-anak, kami memakai medium seni budaya untuk masuk dan menggandeng lebih banyak orang untuk bikin perubahan. Mengapa? Ya sederhana saja karena ruang seni budaya itu pernah eksis, bukan hal yang asing dalam memori kolektif warga. Dan itu pernah dianggap punya peran dan pengaruh dalam kehidupan mereka. Kami optimis. 

Memasuki tahun ke-6, ekosistem itu berhasil kami bangun. Ekosistem yang kami sebut, ekosistem warga aktif. Bahwa seluruh lapisan masyarakat di kampung, baik perempuan maupun laki-laki, tua maupun muda, anak dan remaja, semua punya kesempatan yang sama dan setara untuk mempelajari pengetahuan adat, pengetahuan lokal. Warga aktif artinya setiap kita punya peran penting untuk mendorong perubahan di kampung. Ibarat mesin, satu roda berputar akan mempengaruhi roda-roda lainnya. 

Ketika pandemi melanda, kami terputus hubungan dengan para relawan, seniman residensi atau tamu yang kerap mengikuti program heritage trail kami. Kami akhirnya menyelenggarakan model pendidikan adat, pendidikan kritis dan kontekstual, namanya Skol Tamolok. Melengkapi pendidikan formal yang didapat di bangku sekolah. 

Program ini semakin menegaskan posisi dan visi kami dalam gerakan warga aktif. Mengangkat semangat kolaborasi dan solidaritas, menggantikan individualisme kembali kepada kolektivisme yang sejak lama menjadi roh gerakan masyarakat adat. 

Kini kami fokus ke isu pangan lokal selain terus mengarsip pengetahuan adat. Pangan menjadi potensi dan kekuatan tanah dan manusia Mollo sejak lama. Pangan lokal harusnya bisa menjadi solusi dasar dan sentral bagi segala persoalan ekonomi, pendidikan, politik maupun sosial. Pangan lokal yang erat kaitannya dengan nilai dan semangat ekologi orang Mollo dalam berelasi  dengan alam dan merawatnya. Tentu bahwa ekologi juga menjadi isu penting hari ini ketika iklim berubah dan bencana terkait perubahan iklim itu juga menyentuh kita semua, termasuk yang tinggal di kampung. 

Sudah saatnya lewat konsep warga aktif ini, kesadaran dan nilai kolektif tentang keberlanjutan manusia dan sumber daya alam bisa terus tumbuh. Sumbernya tidak jauh, ada dan kuat di dalam pengetahuan adat kita. Kami yakin bahwa pengetahuan adat bisa menjadi solusi, daya resiliensi, daya adaptasi warga aktif di kampung. Minimal untuk menjawab tantangan lokal, problem di tingkat kampung. 

Untuk warga desa yang aktif dan mandiri, untuk kampung yang lebih baik, Kampung Katong.

#kampungkatong

Jumat, 16 Maret 2018

Wujudkan Dongeng dari Kap Na'm To Fena



Penggalangan Dana Publik

Untuk Penerbitan Buku ‘Dongeng dari Kap Na’m To Fena’

Antologi Cerita Kelas Menulis Kreatif To The Lighthouse

SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan


Desain oleh Leopold Adi Surya Indrawan

A.   Latar Belakang
To The Lighthouse adalah nama kelas menulis kreatif yang kami bentuk di SMPK St. Yoseph Freinademetz sejak tanggal 26 Agustus 2017. Lakoat.Kujawas sebagai komunitas warga desa Taiftob menyambut baik ide Romo Kepala Sekolah untuk membentuk sebuah ruang alternatif baru untuk siswa bisa berkreasi dan bereskpresi lewat tulisan. Hal ini sejalan dengan visi Komunitas lakoat.kujawas mewujudkan generasi baru Mollo yang percaya diri dan punya indentitas yang kuat. Kami percaya, lewat kesusastraan atau kesenian pada umumnya mampu mendukung kompetensi anak menjadi pribadi yang unggul.
Setelah melewati satu semester belajar bersama, terbentuklah naskah antologi bersama karya anak-anak dan fasilitator. Mereka banyak menulis cerita yang lahir dari pengalaman harian sebagai anak Mollo. Cerita-cerita yang ada di antologi cerpen ini banyak mengisahkan tentang dongeng lokal, legenda dan fabel. Tentu saja ini baik untuk terus merawat identitas diri mereka sebagai orang Mollo yang kenal betul tradisi bertutur warisan nenek moyangnya dan berupaya untuk menuliskan kembali.
Dengan semangat kerja kolaborasi dan solidaritas, kelas menulis ini lahir dan bertumbuh. Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan bagi proyek kecil ini, muncul rencana penggalangan dana publik (crowdfunding) di media sosial (blog, facebook dan instagram) maupun offline untuk mendukung penerbitan buku ini. Penerbitan naskah kumpulan cerita pendek berujudul Dongeng dari Kap Na’m To Fena ini juga sekaligus sebagai media promosi SMPK St. Yoseph Freinademetz ke publik, sebagai sekolah yang sangat mendukung penuh minat dan kreativitas siswa dalam berkesenian.    

B.   Model/Sistem Penggalangan Dana Publik
1.     Membuat proposal kreatif di media sosial seperti blog, instagram, facebook dan twitter, selain mengedarkannya dalam bentuk cetakan proposal ke beberapa pihak terdekat.
2.     Mencetak kaos Dongeng dari Kap Na’m To Fena dan menjualnya di media sosial.  
3.     Berkolaborasi dengan toko online warga desa Taiftob di Instagram @lkjws.co. Setiap pembelian satu produk warga Mollo, sebanyak Rp. 5000 akan didonasikan untuk mendukung penerbitan buku antologi ini.

C.  Target
Jaringan relawan, simpatisan dan donatur Komunitas lakoat.kujawas. Masyarakat umum, pembaca karya sastra dan budaya, tokoh umat, pemerhati pendidikan anak, pemerintah, alumni dan orang tua murid.

D.  Pilihan Donasi
1.      Donasi minimal Rp. 100,000, akan mendapatkan 1 eks buku antologi Dongeng dari Kap Na’m To Fena (sudah termasuk ongkos kirim jika donatur berada di luar Mollo).
2.      Donasi sebesar Rp. 250,000, akan mendapatkan 2 eks buku antologi (plus ongkir kalau di luar Mollo), plus paket produk lakoat.kujawas (kopi Arabika Kartika Mollo atau sambal lu’at organik).
3.      Donasi sebesar Rp. 500,000 – 1,000,000, akan mendapatkan 5 - 10 eks buku antologi Dongeng dari Kap Na’m To Fena, produk kopi Arabika Kartika Mollo dan selendang tenun Mollo atau kaos Dongeng dari Kap Na’m To Fena.
4.      Donasi juga bisa dalam bentuk lain, yakni pembelian kaos/t-shirt Dongeng dari Kap Na’m To Fena seharga Rp. 150,000 (belum termasuk ongkos kirim untuk luar Mollo).


E.   Waktu
1.      Proses penggalangan dana publik (crowdfunding): 17 Maret – 17 Mei 2018
2.      Cetak buku direncanakan akhir Mei 2018
3.      Peluncuran buku direncanakan saat Minggu kedua Juni 2018, saat penerimaan raport siswa SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan

F.   Biaya yang Dibutuhkan
Untuk mencetak 500 eksemplar buku berukuran 13,5x20 cm dengan tebal 124-150 halaman (on progress) dibutuhkan biaya sebagai berikut:
1.      Dengan estimasi harga cetak per buku maksimal Rp.12,000 maka dibutuhkan Rp. 6,000,000 (Enam Juta Rupiah)
2.      Biaya lain berupa pembuatan ISBN (Katalog Perpusnas) sebesar Rp. 50,000 (Lima Puluh Ribu Rupiah)
3.      Biaya lain berupa ongkos pengiriman buku dari percetakan di Jogja menuju Timor dengan kargo pesawat, estimasi Rp. 750,000 (Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah)
4.      Biaya lain berupa cetak kaos sebagi hadiah (reward) untuk 15 siswa kelas menulis To The Lighthouse, Rp. 1,200,000 (Satu juta dua ratus ribu rupiah)
5.      Biaya lain yang tak terduga Rp. 250,000 (Dua ratus lima puluh ribu rupiah)
6.      Total biaya yang dibutuhkan: Rp. 7,500,000 (Tujuh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)

G.  Cara Berdonasi
Untuk mendukung terbitnya antologi cerita pertama anak-anak Mollo ini dengan transfer ke No. Rekening BRI 4732-01-014050-53-1 an Jeremias Sora Kewohon (Romo Kepala Sekolah SMPK St. Yoseph Freinademetz Kapan). Lalu mengirim SMS atau Whatsapp konfirmasi ke nomor 081338037075.
Untuk pembelian marchadise berupa kaos Dongeng dari Kap Na’m To Fena, silakan mengirim whastapp ke 081338037075 atau email lakoatkujawas@gmail.com

H.  Informasi
Jika masih bingung dan membutuhkan informasi lebih detail silakan mengontak ke:
Romo Jimmy Kewohon Pr: 085337514110 atau 
Dicky Senda: 081338037075 atau 
email ke lakoatkujawas@gmail.com