We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label masyarakat adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masyarakat adat. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Lakoat.Kujawas Selenggarakan ‘Workshop Being and Becoming Indigenous’



TAIFTOB-Komunitas Lakoat.Kujawas berkolaborasi dengan RMI, AFA, dan Pakisama serta didukung VOICE menyelenggarakan "Workshop Being and Becoming Indigenous" di tengah Pandemi Covid-19 di Perpustakaan Komunitas Lakoat.Kujawas di Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 25 Juli 2020.

Workshop bertujuan memperkenalkan kembali adat dan budaya Mollo kepada kaum muda. Kegiatan tersebut diikuti kaum muda dari Komunitas Lakoat.Kujawas, Perkumpulan PIKUL, Forum Sejarah dan Budaya, Forum Soe Peduli, dan beberapa warga Desa Taiftob. 

Panitia pelaksana workshop Anna Maria mengatakan dalam kegiatan tersebut peserta diajak berbagi cerita dan membahas bersama indentitas diri, adat-budaya, serta modernitas secara kritis, namun tetap santun.

Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing kelompok diminta menciptakan sesuatu yang merupakan ciri khas dari Mollo.

“Hebatnya pada saat itu anak-anak dari Kelas Menulis Komunitas Lakoat.Kujawas langsung menghasilkan sebuah puisi berantai yang berjudul Mutis,” kata Anna.

Mutis adalah nama gunung tertinggi di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang berada di Mollo. Mutis merupakan yang artinya ‘genap’ juga ‘batu marga’ dari orang asli Mollo. Dari Gunung Mutis mengalir empat mata air sungai yang kini masih dinikmati masyarakat Mollo.

Panitia pelaksana lainnya, Tonny Oematan mengatakan, meski di tengah pandemi Covid-19 peserta tetap bersemangat memperlajari Kanaf (Marga), Kanfatu (Batu Marga), dan Otes (Nama Kampung) dari peserta yang lain.


“Peserta juga mempelajari arti dan cerita dari nama-nama kampung yang ada di Mollo,” ujarnya.

Tonny mengatakan Komunitas Lakoat.Kujawas menyelenggarakan workshop tersebut dengan harapan agar generasi muda saat ini tetap mencintai adat dan budaya Mollo.

Selama acara berlangsung panitia dan peserta tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 dengan memakai masker, menjaga jarak, mecuci tangan, dan memakai ‘hand sanitizer’.  (Erlis Marlina Talan/ Lakoat.Kujawas, NTT)


***

Erlis adalah pemuda Mollo yang bergiat di komunitas Lakoat.Kujawas, bersama Dicky Senda dan kawan-kawannya mereka mengagas program ekowisata minat khusus bertema pangan lokal, Mnahat Fe'u Heritage Trail.