We present a concept of social enterprise/social entrepreneurship based in Mollo, Timor and utilize the natural and cultural potential for economic improvement as well as the empowerment of local communities, particularly young people. Our focus includes literacy, art-culture and the creative economy. This project involves the youth community, village library as a center for arts and culture, homestay and creative economy. It is located in Jl. Kampung Baru, No. 2, Village of Taeftob, District of North Mollo, South Central Timor, East Nusa Tenggara, Indonesia 85552. Telp./Whatsapp 081338037075. E-mail: lakoat.kujawas@gmail.com.

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2020

Cerpen Takdir Karya Elen Angelin Talan


Beberapa waktu lalu Dicky Senda dan 12 remaja pegunungan Mollo melakukan sebuah workshop menulis cerita bertema pohon dengan menonton beberapa video pendek dari Greenpeace dan dokumenter pendek kehidupan petani madu di hutan gunung Mutis ini, Timor Tengah Selatan. Berikut hasil dari workshop menulis sehari itu. 

TAKDIR
Elen Angelin Talan

Takdir dan kemungkinannya adalah sebuah kelahiran baru yang ditentukan oleh sang khalik tanpa perlu ditakuti. Kami terlahir sebagai lebah liar, menetap di pohon ampupu di hutan Mutis. Rumah kami indah, berhiaskan kabut dan bunyi air mengalir. Jamur aneka ragam adalah hiasan-hiasan dari surga di halaman. Ada banyak hewan liar teman kami, teman manusia, para tetangga kami.

Hutan berbicara kepada kami bahwa hidup akan lebih lama, akan lebih baik. Hutan adalah obat, adalah paru-paru kami. Jati diri, katamu. Hutan adalah ibu kami. Kau punya ibu. Bagaimana rasanya hidup tanpa ibu? Bagaimana rasanya hidup tanpa hutan?

Kami tahu banyak dari kalian di kota, tidak ditakdirkan merasakan surga seperti kami di sini. Kami pernah ke kota, orang-orang di sana takut kepada kami. Sebaliknya, kehidupan mereka sungguh menakutkan bagi kami. Mereka seperti tak saling mengenal meski hidup bertetangga. Di hutan, di gunung-gunung, kami saling mengenal dan menghargai satu sama lain.

Ada saat-saat manusia pegunungan dan kawanan anjing datang kepada kami. Mempersembahkan doa dan natoni dalam bahasa adat, bahkan meminta kepada kami dengan cara yang adil. Dengan puja-puji dan hormat. Merekalah Meo Oni, para pengambil madu terbaik dari rumah-rumah kami di pucuk pepohonan.

Aku tahu mereka melakukan ini semua tanpa kekerasan, tanpa merusak. Mereka mengambil secukupnya, sesuai ukuran untuk piring makan mereka. Tidak berlebihan, tidak kurang. Kami tahu, kebahagiaan tidak dinilai dari seberapa banyak harta yang kau punya, seberapa besar hasil yang kau peroleh dari sebuah rampasan. Dari seberapa besarnya kebutuhan hidupmu. Kebahagiaan hanya lahir dari bagaimana kita menghargai dan mengartikan takdir yang sesungguhnya: belajar mencintai apa yang kita miliki. Sebab yang manis lahir dari sesuatu yang tidak kita takutkan dan khawatirkan. Sebab yang manis lahir dari hati yang murni.

Takdir. Takdirmu itu tidak seperti ketika kamu takut digigit kawanan lebah. Takdirmu adalah seperti mencicipi manisnya madu dari seekor lebah yang kau takuti.